Nadine Lavena membatalkan pernikahannya tiga minggu sebelum hari H setelah membongkar perselingkuhan tunangannya, Heyden Ames, di depan diskusi formal dua keluarga besar. Pengkhianatan itu membangkitkan trauma masa kecil saat dibuang ibu kandungnya, membuat Nadine skeptis pada cinta dan hanya memercayai uang.
Seminggu kemudian, di sebuah restoran industrial, Nadine menyaksikan Kyle Ernest pewaris bisnis sedingin es disiram air oleh teman kencan butanya akibat klausul pernikahan kontrak yang teramat kaku. Senyum sinis Nadine memicu harga diri Kyle yang angkuh hingga melayangkan tantangan gila: pernikahan kontrak tiga tahun dengan gaji 100 juta per bulan dan denda pembatalan 30 miliar.
Nadine menerima tantangan itu demi uang, murni sebagai mitra kerja. Namun, Kyle tidak menduga bahwa di balik sikap acuh tak acuh Nadine, wanita itu menyimpan kecerdikan tajam untuk menghadapi badai fitnah dari Kinara Inka, masa lalu Kyle yang licik yang tiba-tiba kembali untuk merebut segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seeula, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22: Relokasi yang Merusak Batas Profesional
Proses pemindahan barang-barang pribadi milik Kyle Ernest ke kamar sayap barat berlangsung dengan sangat cepat di bawah pengawasan ketat dari pelayan senior rumah Menteng.
Beberapa setelan jas mewah, buku-buku analisis bisnis, hingga peralatan olahraga pribadi milik Kyle kini mulai mengisi sudut-sudut kamar Nadine yang sebelumnya hanya didominasi oleh barang-barang fungsional bernuansa monokrom.
Nadine berdiri di ambang pintu kamarnya sendiri dengan kedua tangan yang bersedekap di dada, menatap tumpukan barang baru tersebut dengan tatapan yang sangat tidak bersahabat.
Ia merasa wilayah kekuasaan pribadinya baru saja dijajah oleh kekuatan asing yang sangat menyebalkan.
(Bagaimana bisa lemari pakaianku yang rapi sekarang harus berbagi tempat dengan kemeja-kemeja mahal milik pria es itu?)
Nadine melangkah masuk ke dalam kamar, berniat untuk merapikan beberapa dokumen keuangan penting miliknya agar tidak tersentuh oleh Kyle yang terkenal sangat usil.
Karena fokusnya sepenuhnya tertuju pada tumpukan kertas di atas meja rias, Nadine tidak menyadari bahwa Kyle sedang melangkah masuk ke dalam kamar sambil membawa sebuah kotak penyimpanan kayu kecil.
Langkah kaki Nadine yang terburu-buru dan ceroboh kembali membuatnya tersandung oleh ujung kabel pengisi daya ponsel yang melintang di atas lantai marmer.
Tubuh Nadine terdorong ke depan dengan sangat cepat, mengarah langsung ke arah Kyle yang berada tepat di jalur jatuhnya.
Kyle yang memang sudah mengantisipasi kecerobohan alami Nadine segera menjatuhkan kotak kayu yang dipegangnya ke atas sofa terdekat.
Kedua tangan kokoh Kyle langsung menangkap tubuh Nadine, menariknya masuk ke dalam dekapan dadanya yang bidang dengan cengkeraman yang sangat kuat dan posesif.
Wajah Nadine menempel erat pada dada Kyle, merasakan detak jantung pria itu yang berdegup dengan ritme yang sangat tenang namun bertenaga di balik kemeja tipisnya.
"Nona Nadine, apakah menjatuhkan diri ke dalam pelukan saya sudah menjadi bagian dari rutinitas harian Anda sekarang?"
Suara Kyle terdengar sangat dekat di atas kepala Nadine, diiringi oleh getaran dada bidangnya yang terasa sangat nyata di permukaan pipi Nadine.
Nadine segera mengangkat kepalanya, menatap wajah tampan Kyle dari jarak yang sangat dekat dengan sepasang mata indah yang menyiratkan kejengkelan yang teramat sangat.
"Ini murni kecelakaan teknis akibat penataan kabel yang tidak ergonomis di kamar ini, jadi jangan mencoba membuat narasi romansa murahan dari situasi ini!"
Nadine mencoba mendorong dada Kyle untuk melepaskan diri, namun jemari tangan Kyle justru mencengkeram pinggang ramping Nadine dengan lebih erat, menolak untuk memberikan jarak fisik sedikit pun.
"Kamar ini sekarang adalah wilayah bersama kita, jadi setiap kecelakaan yang terjadi di sini adalah tanggung jawab saya sebagai pemilik rumah yang sah."
"Lepaskan saya, Pak Kyle, posisi ini sangat tidak nyaman dan sama sekali tidak produktif bagi kesehatan punggung saya."
Meskipun Nadine berkata dengan nada yang sangat tegas, ia tidak bisa menyembunyikan rona merah yang mulai menjalar di kedua pipinya akibat kehangatan tubuh Kyle yang terus mengalir menguasai kesadarannya.
Kyle yang menyadari reaksi fisik istrinya itu hanya tersenyum smirk dalam hati, merasa sangat puas karena berhasil membuat dinding pertahanan dingin Nadine sedikit goyah hari itu.
Pria beraura es itu akhirnya melonggarkan pelukannya perlahan, namun salah satu tangannya tetap memegang pergelangan tangan Nadine dengan sentuhan yang sangat protektif.
"Rapikan barang-barang Anda dengan benar, Nadine, saya tidak ingin istri kontrak saya mengalami cedera fisik hanya karena masalah kabel listrik."
"Saya bisa mengurus diri saya sendiri tanpa perlu bantuan dari pria tsundere yang suka mengatur seperti Anda."
Nadine menarik tangannya dengan sentakan cepat, lalu segera berbalik membelakangi Kyle demi menyembunyikan ekspresi wajahnya yang mendadak terasa sangat panas.
(Kenapa jantungku harus berdegup sekencang ini hanya karena sentuhan fisik sederhana dari pria itu? Ini pasti karena pengaruh adrenalin akibat hampir jatuh tadi, ya, murni karena faktor biologis biasa.)
Nadine terus mencoba meyakinkan dirinya sendiri dengan berbagai teori ilmiah yang rasional, menolak keras untuk mengakui bahwa pesona fisik Kyle mulai berhasil menembus celah-celah kecil di dinding es miliknya.
||||
Malam harinya, sekitar pukul sepuluh lewat lima belas menit, keheningan di dalam kamar sayap barat terasa sangat canggung saat mereka berdua harus berbagi ruang tidur yang sama untuk pertama kalinya.
Kyle tidur di atas sofa beludru panjang yang terletak di sudut kamar dengan selimut abu-abu tebal, sementara Nadine tidur di atas ranjang king size miliknya yang luas.
Meskipun jarak di antara mereka terpisah sejauh beberapa meter, keberadaan fisik masing-masing di dalam ruangan yang sama menciptakan ketegangan yang sangat tinggi di udara.
Nadine terus membalikkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan di atas kasur, merasa sangat kesulitan untuk memejamkan matanya karena terbiasa tidur sendirian tanpa gangguan visual apa pun.
Ia melirik ke arah sofa, melihat siluet tubuh tegap Kyle yang tampak tertidur dengan sangat tenang dalam posisi menyamping.
(Pria itu, bagaimana bisa dia tidur dengan sangat nyenyak di atas sofa yang keras setelah memaksa masuk ke dalam kamarku?)
Nadine mendengus kesal di dalam hatinya, merasa sangat tidak adil karena hanya dirinya yang mengalami gangguan pola tidur malam ini akibat perubahan situasi ini.
Tiba-tiba, bunyi getaran halus dari ponsel pintar milik Nadine yang diletakkan di atas meja nakas memecah kesunyian malam yang sunyi.
Nadine segera meraih ponselnya dengan gerakan cepat, khawatir bunyi tersebut akan membangunkan Kyle yang sedang tertidur di sudut kamar.
Layar digital ponselnya menampilkan sebuah pesan masuk dari nomor rahasia yang dikirimkan oleh tim forensik siber milik ayahnya.
@Pemberitahuan darurat: Terdeteksi upaya peretasan aktif terhadap akun keuangan Ernest Group dari server luar negeri yang berbasis di Singapura.@
Mata Nadine langsung melebar sempurna begitu membaca pesan darurat tersebut, seluruh rasa kantuknya lenyap seketika digantikan oleh insting predator keuangannya yang langsung menyala terang.
(Singapura? Ini pasti ulah Heyden yang sedang mencoba memindahkan sisa aset jaminannya sebelum pengadilan menyitanya secara resmi!)
Nadine segera mendudukkan tubuhnya di atas kasur, bersiap untuk melakukan tindakan pencegahan siber darurat demi menyelamatkan aset masa depannya yang berharga ratusan miliar rupiah tersebut.
Namun, sebelum jemari Nadine sempat mengetikkan perintah balasan pada layarnya, sebuah tangan hangat yang sangat besar mendadak menggenggam pergelangan tangannya dari arah belakang dengan sangat erat.
"Jangan bertindak gegabah sendirian di tengah malam seperti ini, Nona Nadine."
Suara berat Kyle terdengar sangat dekat di samping telinga Nadine, membuat wanita itu tersentak kaget hingga hampir menjatuhkan ponselnya ke atas kasur yang empuk.