NovelToon NovelToon
Mantan Istri Rahasia Sang CEO

Mantan Istri Rahasia Sang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Pertiwi Dian

​"Lima tahun lalu, dia diusir dalam keadaan hamil dan dianggap mandul. Kini, dia kembali bukan untuk mengemis cinta, melainkan untuk merebut apa yang menjadi miliknya."

​Elena kembali ke ibu kota sebagai desainer interior kelas dunia dengan satu misi rahasia: mengambil kembali anak perempuannya yang sempat tertinggal di keluarga mantan suaminya, Arthur Arkananta. Namun, takdir mempermainkannya. Klien besar pertama yang harus dia hadapi adalah Arthur sang CEO berdarah dingin yang dulu mencampakannya karena fitnah kejam.

​Di saat Elena mati-matian menyembunyikan putra kembarnya yang genius dari jangkauan Arthur, sebuah rahasia besar di masa lalu mulai terkuak satu per satu. Arthur yang mulai curiga kini berbalik mengejarnya, tetapi Elena bukan lagi wanita lemah yang bisa ditindas.

​Akankah Arthur menemukan kebenaran tentang anak kembar mereka sebelum Elena pergi membawa semuanya? Atau akankah penyesalan sang CEO datang terlambat saat Elena justru bersanding dengan pria lain?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pertiwi Dian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Badai di Klinik Kecantikan

Klinik kecantikan La Sante yang terletak di kawasan segitiga emas SCBD terkenal sebagai tempat bernaungnya para sosialita papan atas Jakarta untuk merawat diri. Suasana sore itu sangat tenang, diiringi alunan musik klasik yang lembut dan aroma terapi lavendel yang menenangkan.

​Di dalam salah satu ruang perawatan VIP yang mewah, Seline Wijaya sedang berbaring santai di atas ranjang empuk. Wajahnya tertutup oleh masker lumpur koloid premium berwarna putih, sementara sebuah mesin peremajaan kulit berbasis laser digital canggih sedang memancarkan sinar hangat di atas permukaan kulitnya.

​"Pastikan besok malam saat peluncuran proyek resor Bali, media hanya menyorotku," ucap Seline dengan nada angkuh kepada asisten pribadinya yang berdiri di dekat pintu. "Aku sudah membayar orang untuk mengacaukan gaun-gaun rancangan Eleanor Vance. Wanita jalang itu harus sadar diri bahwa dia tidak akan pernah bisa merebut Arthur kembali dariku."

​"Tentu saja, Nona Seline. Rencana Anda sangat sempurna," jawab sang asisten dengan nada menjilat.

​Namun, ketenangan fana itu tidak bertahan lama.

​Brak!

​Pintu kayu mahoni ruang VIP tersebut didorong terbuka dengan sentakan yang sangat keras hingga membentur dinding. Suara hantaman itu seketika merusak alunan musik klasik di dalam ruangan.

​Seline tersentak kaget, hampir saja melompat dari ranjang perawatannya. "Siapa yang berani lancang mengganggu ketenanganku?!" teriaknya ketus sembari mendudukkan tubuhnya dengan gusar.

​Dari balik pintu, melangkah masuk dua sosok yang memiliki aura intimidasi yang begitu pekat. Di depan berdiri Arthur Arkananta dengan setelan jas hitamnya yang rapi tanpa dasi, memancarkan pesona penguasa yang dingin dan mematikan. Dan di sampingnya, berjalan seorang bocah laki-laki berusia empat tahun dengan setelan kaus hitam, topi hitam yang bertengger manis, dan sebuah laptop berlogo peretas yang menyala di pelukannya. Leon Arkananta berjalan dengan langkah tegap, dagu terangkat, dan sepasang mata elang mini yang menatap Seline seolah wanita itu adalah tumpukan sampah digital.

​"A-Arthur...?" Seline terbata-bata, matanya membelalak kaget di balik lapisan masker putihnya. "Bagaimana bisa kamu ada di sini? Dan... siapa anak kecil yang kurang ajar ini?!"

​Arthur tidak menjawab. Dia berhenti tepat dua langkah di depan ranjang Seline, melipat kedua tangannya di depan dada, dan menatap mantan tunangannya itu dengan pandangan sedingin es di kutub utara.

​"Seline Wijaya," suara bariton Arthur bergema rendah, namun sarat akan ancaman yang membuat bulu kuduk meremang. "Aku datang untuk mengantarkan surat kematian bagi bisnis keluargamu."

​Sebelum Seline sempat mencerna ucapan Arthur, Leon melangkah maju satu langkah. Jemari mungilnya dengan lincah mengetuk tombol enter pada papan ketik laptopnya.

​Bzzz... Bzzz... Click!

​Tiba-tiba, sistem audio sentral yang terpasang di seluruh koridor dan ruang perawatan klinik La Sante berganti secara paksa. Alunan musik klasik berganti menjadi rekaman suara Seline yang sedang berbicara di telepon dengan nada licik beberapa jam yang lalu.

​“Pastikan besok malam saat peluncuran proyek resor Bali, media hanya menyorotku. Aku sudah membayar orang untuk mengacaukan gaun-gaun rancangan Eleanor Vance...”

​Suara Seline bergaung keras, tidak hanya di dalam ruang VIP itu, tetapi di seluruh penjuru klinik, membuat puluhan pasien sosialita dan staf klinik di luar sana langsung heboh dan berbisik-bisik panik.

​"K-Hentikan! Matikan suara sialan itu!" Seline berteriak histeris, wajahnya yang tertutup masker memerah padam karena rahasia busuknya dibongkar secara telanjang di depan publik. Dia menatap Leon dengan penuh kebencian. "Anak haram! Apa yang kamu lakukan pada sistem klinik ini?!"

​"Mulut Anda terlalu kotor untuk ukuran wanita yang mengaku berkelas, Tante Ular," balas Leon dengan nada datar dan dingin, sama sekali tidak gentar dengan bentakan Seline. "Dan sebagai catatan, aku bukan anak haram. Aku adalah Leon Arkananta, putra kandung sah dari pria tua di sebelahku ini. Meretas sistem murahan seperti ini bahkan tidak membutuhkan waktu sepuluh detik bagiku."

​Seline bagai dihantam gada tak kasat mata. Putra kandung Arthur?! Dia menatap wajah Leon dengan saksama, dan jantungnya seketika mencelos saat menyadari kemiripan mutlak antara bocah itu dan Arthur. Kebohongan yang dia bangun bersama Rosa selama lima tahun terakhir kini benar-benar runtuh berkeping-keping.

​Arthur maju selangkah, menghalangi pandangan Seline dari putranya. Aura membunuh terpancar kuat dari tubuh tegap sang CEO. "Evan sudah menyerahkan seluruh bukti transaksi keuangan gelapmu yang digunakan untuk menyabotase proyek Elena kepada pihak kepolisian. Sore ini juga, ayahmu akan menerima surat pemutusan hubungan kerja sama total dan penarikan seluruh investasi Grup Arkananta dari Grup Wijaya."

​"Arthur, tidak! Kamu tidak bisa melakukan ini padaku! Kita pernah bertunangan!" Seline menangis histeris, mencoba meraih lengan jas Arthur dengan tangan yang gemetar. "Aku melakukan ini semua karena aku mencintaimu! Wanita jalang itu tidak pantas untukmu!"

​"Sentuh aku, dan aku pastikan besok pagi Grup Wijaya dinyatakan bangkrut oleh pengadilan," desis Arthur dengan nada suara yang teramat tenang namun mematikan, membuat Seline langsung menarik kembali tangannya dengan ketakutan yang luar biasa.

​Sementara Arthur memberikan gertakan hukum, Leon yang berdiri di sampingnya tidak tinggal diam. Sudut bibir bocah genius itu terangkat, membentuk senyuman miring yang penuh dengan kenakalan tingkat tinggi.

​"Tuan Arthur, gertakan hukum Anda terlalu membosankan. Biarkan aku memberikan sedikit seni pada wajahnya," bisik Leon dengan suara lirih.

​Jemari Leon bergerak kilat di atas laptop, menembus protokol keamanan mesin perawatan laser digital yang masih terhubung di atas ranjang Seline. Leon mengubah frekuensi radiasi cahaya dan menyuntikkan perintah kode baru ke dalam tabung cairan nutrisi masker elektrik yang sedang digunakan wanita itu.

​Bip! Bip! Bip! Ssssshhh...

​Mesin laser itu tiba-tiba mengeluarkan bunyi aneh dan memancarkan cahaya hijau terang yang pekat tepat ke arah wajah Seline.

​"Aah! Apa ini?! Kenapa mesinnya terasa panas?!" jerit Seline panik. Dia segera mengambil cermin genggam di meja samping dan melihat pantulan wajahnya sendiri.

​Lapisan masker koloid putih yang melekat di kulitnya kini telah bereaksi kimia akibat radiasi laser hijau buatan Leon, berubah menjadi warna hijau tua yang sangat pekat, berkilau, dan melekat sangat keras bagai lem super. Wajah cantik Seline kini sepenuhnya menyerupai karakter monster Shrek dalam versi perempuan.

​"Wajahku!! Apa yang kalian lakukan pada wajahku?!" raung Seline histeris saat menyadari masker hijau itu tidak bisa dikelupas sama sekali dan mulai mengeluarkan bau seperti rumput laut busuk.

​"Itu adalah cairan polimer organik yang sudah aku modifikasi sistem pemanasnya, Tante Ular," ucap Leon santai, menutup laptopnya dengan bunyi klek yang memuaskan. "Warna hijau itu tidak akan hilang dari kulit Anda selama tiga hari ke depan, bahkan jika Anda mencucinya dengan cairan pemutih pakaian. Anggap saja itu sebagai hukuman karena sudah berani berniat merusak gaun-gaun indah milik Mamaku."

​Arthur yang melihat hasil karya putranya sempat tertegun sesaat, sebelum akhirnya dia terkekeh pelan. Pria itu menepuk kepala Leon dengan penuh rasa bangga. "Eksekusi yang sangat rapi, Leon."

​Arthur kemudian memberikan tatapan terakhir yang penuh kejijikan pada Seline yang masih menangis histeris meratapi wajah hijaunya. "Nikmati penampilan barumu, Seline. Dan bersiaplah untuk menyambut surat panggilan dari kejaksaan besok pagi."

​Dengan langkah tegap dan penuh kemenangan, duo singa Arkananta besar dan kecil melangkah keluar dari ruang VIP tersebut, meninggalkan kehancuran total bagi Seline Wijaya. Di luar klinik, badai pembalasan dendam mereka baru saja dimulai, dan kali ini, tidak ada satu pun musuh masa lalu yang akan dibiarkan lolos dari cengkeraman mereka.

1
Indah Wahyuni
bagus ceritanya, alurnya tidak bertele-tele, penokohannya kuat. tinggal bertumbuh dan berkembang SJ authornya.
Dian Pertiwi: Baik siap kakak Terimakasih atas masukannya dan penilaian nya 🙏🏻🥰😘🩷
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!