NovelToon NovelToon
Terjebak Nikah Kilat dengan Kapten Dingin yang Diam-diam Memujaku

Terjebak Nikah Kilat dengan Kapten Dingin yang Diam-diam Memujaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cinta setelah menikah / Kapten
Popularitas:8
Nilai: 5
Nama Author: Elara Aisyah

**Demi menyelamatkan pernikahan mewah sang kakak, Kayla dijadikan tumbal keluarga sendiri.**

Diberi obat bius, dijebak masuk ke kamar hotel untuk dijadikan "simpanan" demi melahirkan ahli waris keluarga Chandra—begitulah rencana kakak dan calon iparnya. Tapi takdir salah alamat: nomor kamar tertukar, dan Kayla justru terdampar di suite **Kapten Adrian Gunawan**, pria berwajah dingin yang katanya paling anti disentuh perempuan.

Malam itu mengubah segalanya.

Untuk lepas dari jeratan keluarga yang ingin menjual harga dirinya, Kayla nekat menikah kilat—dan pria yang dijodohkan padanya, entah kebetulan atau takdir, ternyata Adrian yang itu juga.

*"Kalau kau berharap bisa menjebakku dan menuntut tanggung jawab, jangan harap."*
*"Kebetulan sekali. Aku juga tidak mau kau bertanggung jawab,"* balas Kayla dingin.

Semua orang mengira pernikahan ini cuma kontrak tiga tahun yang cepat atau lambat berakhir cerai. Semua orang mengira Kapten Adrian tidak mungkin mencintai dokter IGD berlatar keluarga toko sembako itu.

Sampai orang-orang mulai memergoki sang kapten dingin memapah istrinya dengan sebutan *"sayang"* di setiap kalimat…

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Aisyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 8

Bab 8

Rumah Baru dan Keluarga Sanjaya

"Jangan hapus pesannya."

Adrian membaca ancaman dari nomor baru di layar ponsel Kayla. Mereka masih berada di dalam mobil, meninggalkan restoran menuju rumah keluarga Sanjaya.

"Aku sudah menyimpan tangkapan layarnya," kata Kayla.

"Kirim ke Nico."

"Aku bisa menyimpan bukti sendiri."

"Nico akan memasukkannya ke berkas hotel. Kalau mereka mengganggumu lagi, semuanya sudah tersusun."

Kayla mengirim dua tangkapan layar tanpa berdebat. Itu bukan penyelamatan dramatis, hanya langkah praktis. Anehnya, justru hal itu membuatnya sedikit lebih tenang.

Rumah keluarga Sanjaya berdiri di kawasan hijau menuju Sentul. Bukan rumah terbesar yang pernah Kayla lihat, tetapi halaman depannya luas dan suara tawa sudah terdengar sebelum mereka turun dari mobil.

Oma Melly menunggu di teras bersama Engkong Sianto. Begitu Kayla mendekat, Oma langsung memeluknya.

"Akhirnya cucu mantu Oma datang!"

"Oma, kami baru berpisah beberapa jam," kata Kayla.

"Waktu terasa lama kalau menunggu kabar baik."

Engkong Sianto menjabat tangan Adrian, lalu mengangguk ramah kepada Kayla. "Selamat datang. Anggap rumah ini rumahmu sendiri."

Di ruang keluarga, Om Steven dan Tante Yuni sudah menyiapkan teh, buah, serta terlalu banyak makanan untuk enam orang. Sean berdiri dari sofa dengan ekspresi tidak puas.

"Ko Adrian, bukankah beberapa hari lalu kau bilang tidak menyukai perempuan dari kamar hotel itu?"

Sendok di tangan Kayla berhenti.

Oma Melly menoleh tajam. "Kamar hotel apa?"

Sean baru menyadari kesalahannya. "Maksudku... perempuan yang ditemui di hotel. Di lobi."

"Kau tadi bilang kamar," kata Tante Yuni.

"Lidahku salah."

Adrian duduk dengan tenang. "Dia memang sering bicara sebelum berpikir."

"Aku hanya heran," Sean membela diri. "Ko Adrian bahkan tidak suka orang menyentuh kopinya. Sekarang tiba-tiba menikah."

Tante Yuni memukul lengan putranya dengan kipas. "Daripada iri, cari istri sendiri."

"Aku tidak iri."

"Wajahmu seperti anak kecil yang kehilangan mainan," tambah Oma Melly.

Kayla menunduk agar mereka tidak melihat senyumnya.

Satu per satu angpao diletakkan di depannya. Dari Oma Melly, Engkong Sianto, Om Steven, dan Tante Yuni. Bahkan Sean akhirnya menyerahkan amplop merah dengan wajah pasrah.

"Ini terlalu banyak," kata Kayla.

"Jangan dibuka di sini," Oma Melly memperingatkan. "Kalau jumlahnya kurang, baru protes kepada mereka nanti."

Tiga asisten rumah tangga bergantian membawa sup ayam, sarang burung, buah, dan kotak vitamin ke ruang depan. Kayla tidak tahu harus menaruh tangannya di mana.

Di rumah Halim, setiap pemberian selalu disertai catatan utang. Di sini mereka bahkan tidak menanyakan apa yang akan ia lakukan sebagai balasan.

Pintu depan terbuka sebelum makan siang dimulai.

Seorang perempuan elegan masuk dengan langkah cepat. Adrian berdiri.

"Mama."

Evelyn Sanjaya meletakkan tas di sofa dan langsung menatap putranya. "Kau menikah tanpa memberi tahu Mama? Mama tahu dari Instagram seperti orang lain?"

"Kalau kuberi tahu kemarin, Mama akan mencoba menghentikanku."

"Tentu saja. Kau baru mengenalnya beberapa hari!"

"Itu cukup untuk mengambil keputusan."

Evelyn memandang Kayla dari kepala sampai kaki. Tatapannya tidak menghina, tetapi jelas menilai.

Kayla berdiri. "Tante Evelyn berhak marah. Keputusan kami memang sangat cepat. Saya tidak meminta Tante langsung percaya kepada saya."

"Lalu kenapa kau setuju?"

"Karena saya membutuhkan pernikahan ini, dan Adrian juga. Kami sudah membuat perjanjian yang melindungi kedua pihak. Saya tetap bekerja dan tidak menuntut apa pun dari keluarga Gunawan."

Evelyn tampak terkejut oleh jawaban yang terlalu terus terang.

"Kau tahu keluarga Gunawan?"

"Adrian menjelaskannya kemarin. Saya belum hafal semua nama."

Sean berbisik, "Tidak ada yang hafal dalam satu hari."

Kipas Tante Yuni kembali mengenai lengannya.

Adrian berdiri di samping Kayla. "Aku sudah melepas posisi pewaris sejak memilih menjadi kapten. Aku tidak menikah untuk saham atau persetujuan keluarga Gunawan. Jadi tidak ada seorang pun yang berhak membatalkan pernikahan ini."

"Engkong-mu tidak akan diam," kata Evelyn.

"Itu urusanku."

"Sekarang menjadi urusan istrimu juga."

Adrian menatap Kayla sesaat. "Karena itu aku akan berdiri di depannya."

Ruangan sunyi.

Evelyn menarik kursi. Kemarahannya belum hilang, tetapi suaranya sudah lebih rendah. "Duduklah. Makanan keburu dingin."

Itu bukan restu penuh. Untuk hari pertama, Kayla menganggapnya cukup.

Selama makan, Oma Melly terus menambah isi mangkuk Kayla. Engkong Sianto menanyakan pekerjaannya di IGD. Om Steven bercerita tentang Adrian kecil yang pernah bersembunyi di bawah meja karena tidak mau ikut pesta keluarga. Adrian beberapa kali menyuruh mereka berhenti membuka rahasia lama, tetapi tak seorang pun mendengarkan.

Kayla tertawa lebih banyak dalam satu siang daripada selama sebulan terakhir.

Ketika mereka berpamitan, Evelyn mengantar Kayla sampai teras.

"Aku belum mengenalmu," katanya pelan. "Tapi kalau kau memang ingin menjalani pernikahan ini, hindari keluarga Gunawan sebisa mungkin. Terutama rumah utama."

"Mengapa?"

"Di sana, orang tidak melihat menantu. Mereka melihat asal keluarga, saham, dan kegunaan."

Kalimat itu terlalu mirip dengan cara keluarga Halim melihat Kayla. Ia mengangguk. "Saya mengerti."

Menjelang malam, Adrian membawanya ke Cluster Peony di PIK. Rumah dua lantai itu berada di ujung jalan tenang dengan pagar tinggi dan taman sederhana. Bagian dalamnya didominasi warna abu, hitam, dan putih.

"Rumah ini terlihat seperti pemiliknya tidak pernah tertawa," komentar Kayla.

"Sekarang pemilik keduanya bisa memilih warna bantal."

Adrian menunjuk lantai atas. "Kamar utama di kanan. Kamar sebelah kiri sudah disiapkan untukmu. Keduanya punya kamar mandi sendiri. Ruang kerja ada di belakang, dan lemari obat kosong kalau kau ingin menyimpan perlengkapan darurat."

Kayla menoleh. "Kau menyiapkannya sejak tadi malam?"

"Nico menyiapkannya. Aku hanya memberi daftar."

"Tentu saja kau punya daftar."

Adrian menyerahkan kartu akses, lalu membuka menu pengaturan pada kunci digital.

"Tempelkan jari telunjukmu."

Kayla mengikuti instruksinya. Setelah sidik jarinya tersimpan, Adrian mengganti kode enam angka.

Kayla mengenali angka itu. "Itu tanggal lahirku."

"Lebih mudah kau ingat."

"Kau membaca data pribadiku dari dokumen pernikahan."

"Itu fungsi dokumen."

Kayla menatap pintu, lalu rumah yang kini secara hukum menjadi tempat tinggalnya.

"Berapa banyak perempuan yang pernah kau bawa ke sini?"

"Tidak ada."

"Jangan berbohong hanya karena kita baru menikah."

"Kau perempuan pertama yang sidik jarinya masuk ke rumah ini. Selain asisten rumah tangga yang bekerja siang hari, kau juga perempuan pertama yang akan tinggal di sini."

Adrian mengatakannya seperti laporan biasa. Jantung Kayla tetap berdetak satu kali lebih keras.

Ponselnya berbunyi.

Bryan mengirim tangkapan layar percakapan grup keluarga yang sudah ditinggalkan Kayla. Vera menulis bahwa ia akan membuat semua orang tahu perempuan macam apa Kayla sebenarnya dan bagaimana ia mendapatkan suaminya.

Adrian membaca perubahan di wajah Kayla.

"Vera?"

Kayla mematikan layar. "Dia belum selesai."

Di belakang mereka, kunci pintu berbunyi dan menerima sidik jari Kayla.

Di depan mereka, ancaman dari keluarga lama sudah menunggu untuk masuk.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!