"Tante Kei, mau nggak jadi mamanya Rafka?"
"What!! Berarti jadi Ibu Persit dong? Dan jadi bini Mayor kaku kayak kanebo?"
Mayor Satria Pramudya, 33 tahun, sudah lima tahun menduda, keluarganya sudah mendesaknya untuk menikah lagi. Sementara, Rafka, anaknya sejak lahir sudah dekat dengan adik istrinya–Keisa Azzura, 21 tahun.
"Dek, kamu yakin Kakak boleh nikah lagi?"
"Ya, boleh lah, masa dilarang. Nanti ularnya bisa karatan loh ... lama-lama menduda. Lagian, Rafka juga butuh sosok ibu."
"Kalau begitu Kakak boleh melamar Adek?"
"Eh, Apa! Maksud Kak Satria gimana?
Keisa tak menyangka kakak iparnya meminang, sedangkan ia sudah punya cowok incaran. Apalagi Satria tidak pernah mengucapkan kata cinta dan ada sesuatu...
Bagaimanakah rumah tangga Satria yang kaku menghadapi Keisha yang barbar? Belum lagi ada rahasia Satria yang tiba-tiba...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4. Kecurigan di Ruang Tengah
Tepat pada saat itu, langkah kaki yang berirama cepat terdengar dari arah dalam rumah. "Rendra! Udah sampai ya? Bentar—"
Kalimat Keisha terputus begitu dia sampai di ambang pintu dan melihat Satria sudah berdiri di sana bagai benteng pertahanan. Keisha hari ini tampil berbeda. Tidak ada lagi kaos oblong longgar, rambut acak-acakan penuh daun kering, atau celana kulot yang kedodoran. Gadis itu mengenakan kemeja berwarna pastel yang pas di tubuhnya, dipadukan dengan celana jin putih bersih, serta riasan wajah yang tipis namun segar. Rambut panjangnya yang biasanya dikuncir asal kini digerai rapi, menyebarkan aroma wangi buah-buahan yang manis.
Satria memicingkan matanya. Sorot matanya yang tajam bergulir lambat, meneliti penampilan Keisha dari ujung kepala hingga ujung kaki, sebelum akhirnya kembali tertuju pada Rendra yang berdiri canggung di teras. Ada perubahan atmosfer yang mendadak terasa menyesakkan di udara.
"Mau ke mana?" tanya Satria. Suaranya rendah, berat, dan terdengar seperti introgasi komandan di markas.
Keisha menghela napas, mengabaikan tatapan tajam itu dengan sifat cueknya yang biasa. "Kan tadi Rendra udah bilang, Kak. Mau ngerjain tugas kelompok. Tugas kuliahku udah menumpuk setinggi Gunung Merapi tahu."
"Di mana?" tanya Satria lagi, mengabaikan kalimat bercanda Keisha.
"Di Kafe Amarta, yang di dekat jalan lingkar kampus itu loh," sahut Keisha sambil memakai flat shoes-nya di dekat rak sepatu.
"Pulang jam berapa?" Introgasi Satria belum selesai. Nada suaranya tidak meninggi, tetap datar, namun setiap kata yang keluar memiliki penekanan yang mutlak.
Keisha memutar bola matanya jengkel. "Ini kakak ipar atau satpam komplek sih? Protektifnya melebihi Ayah," gerutu Keisha dalam hati.
"Ya tergantung tugasnya selesainya jam berapa, Kak. Paling sore jam lima atau jam enam juga udah balik. Kenapa sih? Kakak mau nitip beli kopi susu?" tanya Keisha dengan nada absurdnya yang khas, mencoba memecah ketegangan yang dibuat oleh Satria.
Satria tidak merespons candaan itu. Ia justru mengalihkan pandangannya kembali pada Rendra. Pandangan mata Satria begitu mengunci, membuat Rendra yang ditatap langsung menegakkan posisi berdirinya secara refleks.
"Bawa motornya jangan mengebut. Keisha baru saja jatuh ke got tadi siang," ucap Satria dengan nada dingin yang tidak terbantahkan.
Rendra mengerjap, melirik Keisha sesaat dengan tatapan bingung sebelum kembali menatap Satria. "Ah ... iya, Kak. Siap. Saya bawa motornya pelan-pelan saja."
"Kak Satria ih! Enggak usah disebut gitu dong Rendranya, kasihan tuh mukanya langsung pucat kayak kertas hvs," protes Keisha sambil melangkah melewati Satria. Ia berbalik sebentar ke arah dalam rumah. "Ayah! Ibu! Keisha berangkat kerja kelompok dulu ya!"
"Iya, hati-hati, Kei! Jangan pulang kemalaman!" sahut Ibu Dania dari arah dapur.
Keisha beralih pada Rendra. "Ayo, Ren. Keburu sore, nanti teman-teman yang lain udah pada nyampai duluan lagi."
"Oh, iya, ayo," jawab Rendra lega, seolah baru saja lolos dari hukuman mati. Dia buru-buru memakai helmnya kembali. "Kami pamit dulu ya, Kak Satria."
Satria tidak menjawab dengan kata-kata, hanya memberikan sebuah anggukan kecil yang sangat kaku. Tangannya bertumpu pada bingkai pintu, sementara matanya terus mengawasi gerak-gerik kedua anak muda itu.
Keisha naik ke atas boncengan motor Rendra dengan gerakan yang agak hati-hati, karena lututnya yang dibalut plester besar tadi masih terasa sedikit linu. Setelah posisinya nyaman, Rendra perlahan menghidupkan mesin motor dan mulai melajukan kendaraannya keluar dari pekarangan rumah.
Dari atas motor, Keisha sempat menoleh ke belakang dan melambaikan tangannya dengan asal. "Daaah Kakak Ipar kaku! Jangan lupa temani Rafka main ya Kak!" teriak Keisha setengah tertawa, memperlihatkan sifat barbarnya yang tidak tahu tempat.
Satria tidak membalas lambaian tangan itu. Pria bertubuh tegap itu tetap berdiri kokoh di ambang pintu. Matanya yang hitam pekat memicing tajam, menatap lurus ke depan. Pandangannya mengunci pada sosok Rendra dan Keisha yang mulai menjauh menyusuri jalanan kompleks perumahan.
Bahkan ketika motor Rendra sudah berbelok di persimpangan jalan dan bayangannya benar-benar menghilang dari pandangan, Satria masih belum bergerak dari posisinya. Dia tetap berdiri di sana selama beberapa saat, menatap jalanan yang kosong dengan rahang yang mengetat samar.
Angin siang berembus kencang, menerbangkan beberapa daun kering di halaman teras, namun tidak mampu mencairkan ekspresi dingin dan penuh teka-teki yang terpatri di wajah sang Mayor. Sesuatu yang terpendam di dalam kepalanya tampak semakin rumit, mengalir lambat bagai arus bawah air yang tenang namun menghanyutkan.
***
Beberapa jam kemudian...
Suasana di Kafe Amarta lantai dua sore itu cukup riuh oleh suara denting cangkir, mesin pembuat kopi, dan obrolan para mahasiswa yang sedang berburu dengan tugas akhir. Di sudut dekat jendela besar yang menghadap langsung ke jalan raya, Keisha bersama Hilma, Yeyen, dan Rendra sedang duduk mengelilingi meja kayu panjang yang penuh dengan tumpukan buku referensi, beberapa lembar kertas draf proposal, serta laptop yang menyala.
"Menurut aku, bagian latar belakang ini harusnya diperkuat lagi di data sekunder deh, Kei," ujar Hilma sambil mengetuk-ngetuk pulpennya ke dagu, matanya fokus menatap layar laptop milik Keisha.
"Nah, iya, bener kata Hilma. Kalau cuma pakai data yang lama, nanti dosen penguji bakal langsung mencoret-coret lembar revisi kita, bisa pingsan di tempat," timpal Yeyen yang sibuk mengunyah kentang goreng.
Keisha mengangguk-angguk setuju, jari-jarinya menari cepat di atas keyboard laptop untuk memperbaiki kalimat yang dirasa kurang pas. "Oke, oke. Berarti kita cari jurnal keluaran tiga tahun terakhir dulu. Ren, tolong bukain situs jurnal yang biasa dong di laptop kamu. Kuota modemku lagi megap-megap nih."
"Siap, Bos. Sebentar, ini lagi proses loading," jawab Rendra yang duduk tepat di sebelah kiri Keisha. Jarak mereka cukup dekat karena harus bergantian melihat satu layar laptop yang sama untuk mencocokkan referensi data.
Drrrt ... Drrrt ...
Ponsel pintar milik Keisha yang tergeletak di atas tumpukan buku bergetar pendek. Sebuah notifikasi pesan WhatsApp masuk.
Keisha melirik sekilas layar ponselnya dengan malas. Begitu melihat nama kontak yang tertera di sana, dahinya langsung berkerut dalam. Kak Satria lagi.
Bersambung...
Gimana yaaa sikap ayah ibunya satria 🤭
Semangat terus author sehat selalu 💪💪🙏🙏🌹🌹