"Dikhianati istri, diperas mertua, membesarkan anak yang bukan darah dagingnya.
Raka Pratama hidup bak budak — sampai ia terlahir kembali dengan Sistem Cashback 10x. Sekarang, setiap rupiah yang ia habiskan kembali sepuluh kali lipat.
Perceraian? Ia yang memulai. Konglomerat yang mengancam? Hancur. Pejabat korup? Ditangkap hidup-hidup. Dari nol menuju jajaran orang terkaya dunia — ini bukan dongeng. Ini balas dendam.
"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galih Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22
Bab 22 - Budi Ketahuan Mencuri
Yuli menambahkan satu kalimat pendek: "Dia mengaku sendiri, Mas Raka. Semua ini untuk memaksa kamu membayar."
Raka menatap kalimat itu beberapa detik, lalu mematikan layar ponselnya.
Di luar jendela kantor Garuda Shield, malam Surabaya mengilap oleh lampu kendaraan. Kota ini tidak pernah benar-benar tidur. Orang bekerja, orang berjudi, orang berbohong, orang mengejar kesempatan. Bedanya, sebagian orang membangun jalan keluar dengan keringat dan bukti. Sebagian lagi menggali lubang sambil menyalahkan orang lain karena tanahnya runtuh.
"Mau kita kirim somasi?" tanya Adi.
Raka duduk kembali di kursinya. "Belum."
Adi mengangkat alis. "Kita sudah punya rekaman."
"Justru karena sudah punya, tidak perlu buru-buru. Simpan. Kalau dia berhenti, selesai. Kalau dia lanjut, kita punya pola."
Agus yang berdiri dekat papan rute Pak Yanto mengangguk pelan. "Lebih kuat kalau fitnah berulang."
"Benar," kata Raka. "Orang seperti Bu Sumini mengira suara keras adalah senjata. Biarkan dia membawa senjata itu ke tempat yang salah."
Tempat yang salah datang lebih cepat dari dugaan.
Seminggu kemudian, pasar malam kecil dibuka di lapangan dekat kampung lama Hartono. Ada lampu warna-warni yang digantung di tali, asap sate yang mengambang di udara, suara komidi putar tua, dan musik dangdut dari speaker pecah. Anak-anak berlari sambil membawa balon. Penjual cilok, martabak, es teh, dan mainan murah berjajar di tepi lapangan.
Budi datang tanpa uang cukup.
Ia memakai kaus hitam kusut dan jaket yang sudah kehilangan bentuk. Matanya merah karena kurang tidur. Selama beberapa hari terakhir ia mendengar ibunya mengomel tentang Raka yang kaya tetapi pelit, Ratna yang murung karena tabungan menipis, dan rentenir yang mulai rajin bertanya lagi.
Di kepala Budi, semua itu bukan akibat pilihan buruknya.
Di kepala Budi, semua itu bukti bahwa dunia tidak adil kepadanya.
"Sekali dapat modal, gue balikin semua," gumamnya.
Ia berhenti di dekat kios aksesori ponsel. Pemilik kios sedang melayani dua pembeli remaja yang memilih casing warna terang. Di pojok meja, ada sebuah ponsel bekas yang baru saja ditawar seorang pembeli lain. Layarnya retak kecil, tetapi masih menyala. Di sampingnya, kotak uang plastik terbuka sedikit.
Budi melihat kiri kanan.
Lampu pasar malam berkedip. Suara musik menutup bunyi kecil. Tangan Budi bergerak cepat, menyambar ponsel bekas itu dan menyelipkannya ke dalam jaket.
Sayangnya, ia lupa satu hal.
Pasar malam penuh mata.
"Eh! Itu ponsel saya!" teriak seorang anak muda.
Pemilik kios langsung menoleh. "Woi! Tangkap!"
Budi berlari tiga langkah sebelum kakinya tersangkut kabel lampu kecil. Ia jatuh tersungkur, dagunya menghantam tanah becek. Ponsel itu terlempar keluar dari jaketnya, memantul di dekat sandal seorang ibu.
Kerumunan terbentuk secepat api menyambar kertas.
"Maling!"
"Pegang tangannya!"
"Jangan kabur!"
Dua pria menarik Budi berdiri. Budi meronta, tetapi badannya yang kurus dan lelah tidak punya tenaga untuk melawan orang pasar yang marah.
"Bukan gue!" Budi berteriak. "Itu jatuh sendiri!"
Pemilik kios mengambil ponsel itu, menatapnya, lalu menunjuk wajah Budi. "Saya lihat sendiri tanganmu masuk jaket!"
"Fitnah lo!"
Tamparan pertama datang dari seorang bapak yang dagangannya pernah hilang minggu lalu. Suaranya keras, membuat Budi terdiam satu detik.
"Jangan kurang ajar. Kalau maling, ngaku!"
Budi menelan darah dari bibirnya. Matanya liar mencari celah. Di sekelilingnya, belasan ponsel sudah terangkat merekam. Dalam beberapa detik, wajahnya menjadi tontonan gratis.
Lalu seseorang di belakang kerumunan berkata, "Eh, itu bukannya anak Bu Sumini?"
Kalimat itu menyebar lebih cepat dari kabar diskon minyak goreng.
"Bu Sumini yang kemarin cerita mantan menantunya jahat?"
"Iya, yang bilang anaknya ditelantarkan orang kaya itu."
"Lah, anaknya maling?"
Budi mendengar semua itu. Wajahnya memerah karena marah ketahuan.
"Diam lo semua!" teriaknya. "Gue bukan maling!"
"Ponsel di jaketmu itu apa? Oleh-oleh?"
Tawa pecah di beberapa sudut. Tawa itu tidak hangat. Tawa itu tajam dan memalukan.
Ratna datang dua puluh menit kemudian, rambutnya berantakan, wajahnya pucat. Ia menerobos kerumunan sambil memegang dompet kecil. Begitu melihat Budi dipegang dua pria, lututnya hampir lemas.
"Mas Budi, kamu apa-apaan?" suaranya pecah.
"Bantuin gue dulu!" bentak Budi. "Mereka mau bawa gue ke polisi!"
Pemilik kios menatap Ratna dengan dingin. "Mbak keluarganya? Ini pencurian. Saya bisa lapor polisi."
Ratna langsung menunduk. "Pak, maaf. Saya mohon maaf. Tolong jangan diperpanjang. Saya ganti."
"Ganti ponsel saja tidak cukup. Dagangan saya jadi rusak, pembeli kabur, nama kios saya jadi ribut."
Orang-orang ikut menyahut. Ada yang menuntut polisi dipanggil. Ada yang ingin Budi dibawa ke pos keamanan. Ada yang hanya merekam dengan wajah puas karena drama kampung akhirnya mendapat bahan baru.
Ratna membuka dompetnya. Uang di dalamnya tidak banyak. Ia mengeluarkan semuanya, lalu membuka aplikasi mobile banking dengan tangan gemetar.
"Saya transfer sekarang," katanya. "Berapa totalnya?"
Pemilik kios menyebut angka yang membuat wajah Ratna makin pucat. Nilainya tidak sampai membuat orang kaya berkedip, tetapi bagi Ratna yang baru kehilangan sandaran, itu seperti mencabut lantai terakhir dari bawah kakinya.
Rp 3.800.000 untuk ponsel, kerusakan meja kecil, dan kompensasi keributan.
Ratna membayar.
Di layar ponselnya, saldo yang tersisa terlihat menyedihkan. Ia cepat-cepat menutup layar, tetapi seorang ibu di sampingnya sempat melihat dan berbisik.
"Katanya ditelantarkan orang kaya. Tapi anak sendiri nyuri."
Ratna menggigit bibir sampai putih. Ia ingin membantah, tetapi tidak ada kalimat yang bisa menyelamatkan wajahnya. Selama beberapa hari, ibunya menanam cerita bahwa Raka adalah sumber penderitaan mereka. Malam ini, Budi mencabut tanaman itu sampai akarnya terlihat busuk.
"Ayo pulang," kata Ratna lirih.
Budi menyentakkan lengannya dari pegangan pria pasar setelah pemilik kios setuju tidak langsung melapor. "Jangan pegang-pegang gue!"
Ratna menariknya menjauh. "Kamu sadar tidak? Semua orang merekam!"
"Biarin!" Budi meludah ke tanah. "Mereka sok suci semua. Kalau gue punya modal, mereka juga bakal jilat kaki gue."
"Modal dari mana lagi? Tabunganku habis buat bayar kamu!"
Budi berhenti. Untuk sesaat, Ratna berharap ia akan sadar.
Harapan itu mati ketika Budi menatapnya dengan mata menyala.
"Ya cari lagi. Lo dulu nikah sama Raka, pasti masih tahu cara minta uang ke dia."
Ratna menamparnya.
Suara tamparan itu kecil dibanding keramaian pasar, tetapi bagi Ratna, itu seperti suara sesuatu di dalam dirinya retak. Budi memegang pipinya, menatap Ratna dengan kaget, lalu menyeringai kasar.
"Sekarang lo berani sama gue?"
Ratna mundur. "Aku capek, Mas."
Video kejadian itu beredar malam itu juga.
Di grup warga, seseorang mengirim potongan saat Budi jatuh dengan ponsel curian. Lalu potongan Ratna membayar. Lalu potongan tetangga yang berkata, "Bukannya ini keluarga yang fitnah mantan menantunya?"
Pagi harinya, Bu Sumini tidak lagi duduk gagah di warung.
Ia keluar sebentar untuk membeli sayur, tetapi tiga ibu yang biasanya mudah percaya langsung diam begitu melihatnya. Bukan diam hormat. Diam yang membuat wajah terasa ditampar berkali-kali.
"Bu, Budi sudah aman?" tanya seseorang dengan nada terlalu manis.
Bu Sumini memeluk kantong belanja. "Itu salah paham."
"Oh, maling juga bisa salah paham ya?"
Bu Sumini pulang cepat. Untuk pertama kalinya, pintu rumah Hartono tertutup sebelum siang.
Raka menerima video itu dari Yuli, bukan dari grup warga. Yuli mengirim versi yang tidak menampilkan wajah anak-anak dan tidak menyebarkan detail berlebihan.
`Mas Raka, rumor mereka runtuh sendiri. Saya sarankan tidak ikut sebar. Cukup simpan untuk pola tekanan.`
Raka membalas singkat.
`Setuju. Jangan serang. Biarkan fakta bekerja.`
Ia meletakkan ponsel di meja. Di hadapannya ada brosur properti premium yang tadi dibawa Adi: beberapa rumah besar, kavling elit, dan satu nama yang menonjol.
Villa Citraland Blok A No.3.
Raka menatap foto halaman luas dan fasad putih bersih itu. Di satu sisi kota, Budi jatuh karena mencuri ponsel bekas. Di sisi lain, Raka akan menutup masa tinggalnya di apartemen sempit dengan satu tanda tangan legal.
Sore itu, di rumah Hartono, Budi duduk di kamar gelap sambil menatap ponselnya. Ratna menangis pelan di ruang depan. Bu Sumini berbisik-bisik mencari alasan baru.
Di layar ponsel Budi, iklan judi online berkedip: "Modal kecil, menang besar."
mungkin sepertinya, baru kali ini aku baca cerita di platform online yang punya alur, bahasa dan kekuatan cerita kaya gini.
terimakasih untuk cerita luarbiasa nya Gan....