NovelToon NovelToon
Terpikat Pesona Mafia Kejam

Terpikat Pesona Mafia Kejam

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Elwa Zetri

​Malam di Hutan Hitam tidak pernah ramah, tetapi bagi Dante, kegelapan malam ini adalah panggung pembantaian. Bau mesiu yang menyengat bercampur dengan aroma tanah basah dan darah yang menetes dari luka-lukanya. Dante, pria berusia tiga puluh dua tahun yang dipuja sekaligus ditakuti sebagai bos mafia paling kejam di wilayah utara, kini terdesak. Senjata otomatisnya telah habis meriamnya, tersisa hanya satu pisau komando yang terselip di pinggangnya.

​Suara langkah kaki yang berat dan makian dalam bahasa asing mendekat dari segala penjuru. Kelompok rivalnya, klan Arcanum, telah merencanakan penyergapan ini dengan sangat rapi. Puluhan tentara bayaran bergerak mengepungnya, menyisir semak-semak tebal dengan senter berdaya tinggi. Cahaya putih memotong kegelapan, mendekati titik semak tempat Dante bersembunyi.

​"Dante! Keluar kau, Anjing! Tidak ada tempat bersembunyi lagi di hutan ini!" teriak suara serak yang sangat dikenalnya—Marco, mantan tangan kanannya yang berkhianat.

​Dante menga

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perasaan Yang Terasing

​Pagi itu, sinar matahari menembus tirai kaca ruang tamu kediaman Dante. Suasana yang biasanya tenang terusik oleh kedatangan Valerio yang datang membawa seorang tamu tak terduga.

​Seorang wanita muda berpenampilan sangat profesional dan anggun melangkah masuk di samping Valerio. Ia mengenakan setelan blazer elegan berwarna abu-abu gelap yang mempertegas lekuk tubuhnya, dengan rambut panjang terurai rapi dan riasan wajah yang halus namun memikat. Senyumnya penuh percaya diri, memancarkan aura seorang pialang saham papan atas.

​Gadis itu bernama Clara. Di balik reputasi gemilangnya sebagai analis keuangan berbakat dari luar negeri, Clara sebenarnya adalah agen bayaran termahal yang direkrut oleh Helena.

​Dante turun dari lantai dua dengan setelan kemeja santai, disusul oleh Aura yang membawa nampan berisi cangkir-cangkir kopi hangat.

​"Boss," sapa Valerio mengangguk hormat. "Maaf mengganggu pagi-pagi. Ini Clara, analis saham independen yang baru kembali dari Singapura. Dia memiliki portofolio investasi yang sangat kuat dan ingin menawarkan kerja sama suntikan dana besar di bursa saham untuk proyek baru kita."

​Clara mengulurkan tangannya pada Dante dengan sikap yang sangat terpelajar. "Selamat pagi, Pak Dante. Sebuah kehormatan bisa bertemu langsung dengan pialang legendaris seperti Anda. Saya membawa proposal dana investasi sebesar lima puluh juta dolar dari konsorsium privat."

​Dante menerima jabat tangan itu secara profesional, menatap wanita di depannya dengan sorot mata yang tajam dan analitis. "Duduklah."

​Aura menyajikan kopi di atas meja kaca. Saat meletakkan cangkir di depan Clara, Aura sempat bertatapan mata dengan wanita cantik itu. Clara memberikan senyuman ramah yang tampak begitu sopan dan menghormati, namun ada binar percaya diri yang begitu tinggi terpancar dari dirinya—sesuatu yang tanpa sadar membuat Aura merasa sedikit canggung dan asing di tengah perbincangan bisnis kelas atas tersebut.

​"Terima kasih, Bu Aura," ucap Clara lembut seraya tersenyum manis.

​Dante mulai membaca berkas proposal yang disodorkan Clara. Dokumen-dokumen finansial itu disusun dengan sangat rapi, menutupi fakta bahwa seluruh dana tersebut berasal dari rekening rahasia Helena. Helena sengaja menyusupkan Clara bukan untuk merusak bisnis Dante, melainkan untuk menciptakan jarak dan dinamika baru antara Dante dan Aura.

​Dari jendela lantai dua rumah sebelah, Helena berdiri memegang teropong kecil di balik tirai, mengawasi interaksi di ruang tamu Dante. Senyum dingin terukir di bibirnya.

​"Dante menyukai ketepatan dan profesionalisme, sementara Aura hanya gadis polos yang tidak mengerti dunia finansial," gumam Helena pelan. "Mari kita lihat sejauh mana benteng pernikahan kalian bisa bertahan ketika wanita lain mulai memasuki ruang kerja suamimu."

​Dante mengangguk pelan setelah memeriksa laporan keuangan tersebut. "Penawaranmu cukup menarik, Clara. Analisis pasarmu sangat akurat."

​"Saya sangat berharap kita bisa bekerja sama secara intensif dalam beberapa bulan ke depan, Pak Dante," sahut Clara dengan senyuman memikat yang terkontrol sempurna.

​Aura berdiri agak jauh di balik konter dapur, menatap suaminya yang tampak begitu serius dan padu berdiskusi dengan wanita cantik di hadapannya. Keraguan kecil yang ditanamkan Helena semalam kini seolah menemukan siraman pertama, membuat dada Aura berdesir pelan oleh perasaan yang tak menentu.

​Perasaan tidak nyaman itu merayap perlahan, menggerogoti ketenangan dada Aura.

​Di ruang tamu, perbincangan antara Dante dan Clara terdengar begitu mengalir. Istilah-istilah finansial, analisis indeks bursa, portofolio komoditas, hingga strategi margin saham terucap begitu lancar dari bibir Clara. Wanita itu tidak hanya berparas cantik dan anggun, tetapi juga memiliki kecerdasan yang sejajar dengan Dante di dunia bisnis.

​Aura berdiri terdiam di balik konter dapur, menggenggam erat kain serbet di tangannya. Untuk pertama kalinya sejak mereka menikah, Aura merasa berada di dunia yang sepenuhnya berbeda dengan suaminya.

​Selama ini, Aura mengenal Dante sebagai sosok pahlawan, pelindung, dan pria yang memanjakannya di dalam rumah. Namun melihat Dante berdiskusi begitu serius dan tampak terkesan dengan ketajaman berpikir Clara, sebuah rasa minder yang membakar—insecurity—mulai memenuhi pikiran Aura.

​Siapa aku dibanding wanita seperti dia? bisik Aura pada dirinya sendiri dengan dada yang sesak. Aku hanya gadis yang diselamatkan dari masa lalu kelam, yang tidak mengerti apa-apa tentang bisnis besar atau dunia tingkat tinggi yang dijalani Dante.

​Ucapan Helena kemarin sore kembali bergema tajam di ingatan Aura:

"...semakin besar pula bahaya yang mengintai... Terutama jika kita tidak pernah benar-benar tahu apa saja yang pernah ia korbankan atau hancurkan..."

​Keraguan itu kini menyatu dengan rasa cemburu dan tidak percaya diri. Aura merasa dirinya terlalu biasa, terlalu tidak berguna untuk mendampingi pria sehebat dan sekuat Dante.

​"Laporan yang sangat mengesankan, Clara," ujar Dante seraya menutup dokumen di atas meja. "Valerio akan mengurus draf kontrak dasarnya, dan kita bisa mulai mengeksekusi investasi ini minggu depan."

​"Terima kasih atas kepercayaannya, Pak Dante," sahut Clara ramah. Ia berdiri, merapikan blazer abu-abunya, lalu melirik ke arah konter dapur tempat Aura berdiri. "Saya permisi dulu. Sampai bertemu di pertemuan berikutnya."

​Setelah Valerio dan Clara melangkah keluar dari rumah, keheningan menyelimuti ruang tamu.

​Dante berjalan mendekati dapur, berniat menghampiri istrinya. Namun, ia mendapati Aura sedang menunduk dalam, mengelap konter dapur yang sebenarnya sudah bersih dengan gerakan yang kaku dan berulang-ulang.

​"Aura?" panggil Dante lembut seraya melangkah mendekat.

​Aura tersentak pelan, namun ia enggan menatap langsung mata Dante. Ia takut suaminya akan melihat binar air mata yang mulai berkaca-kaca di sudut matanya.

​"Ah... iya, Dante? Mereka sudah pulang?" jawab Aura seraya berusaha menyunggingkan senyum, meski suaranya terdengar agak serak dan bergetar.

​Dante menghentikan langkahnya, menatap Aura lekat-lekat. Insting tajam sang pimpinan mafia tidak bisa dibohongi—ia tahu ada raut kesedihan dan jarak yang tiba-tiba terbentang di antara mereka, tanpa menyadari bahwa benih racun Helena dan kehadiran Clara telah berhasil menggoyahkan perasaan istrinya.

1
PengGeng EN SifHa
sandiwara yang membawa keberkahan ❤️
Naila Saputri
kayak y seru cerita y
Nia Nara
Chapter 1, baru mulai baca sudah seru...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!