Taniza dan Tania.
Saudara kembar yang terpisah sejak kecil.
Taniza dan Tania merupakan kembar identik, hanya saja sifat mereka bertolak belakang.
Taniza adalah sosok anak yang lemah lembut, baik hati, tidak pernah menyakiti siapapun, ia gadis yang sangat penurut.
sedangkan Tania , ia gadis yang lebih liar, tidak mau di atur, suka seenaknya,dan lebih suka hidup semaunya..
namun di balik sifat keduanya yang sangat bertolak belakang, mereka sama-sama saling menyayangi, namun takdir berkata lain, mereka mengalami kecelakaan dan membuat nya terpisah,namun sebelum kecelakaan itu terjadi, mereka iseng-iseng bertukar nama, tapi ternyata pertukaran identitas itu terbawa sampai dewasa.
Bismillahirrahmanirrahim....
Yuk ikuti kisahnya....
kawal mereka sampai tuntas...
jangan lupa beri dukungan ya ...
salam sehat semua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Marina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Suara tembakan beruntun membelah kegelapan malam di sebuah kawasan gudang terpencil di pinggiran Washington, Ameer berlari menembus hujan peluru, menyergap sasaran misinya dengan ketepatan seorang agen terlatih. Namun, di tengah baku tembak yang sengit, earpiece khusus di telinganya berdenging nyaring, menyalurkan suara panik dari kepala pengawal pribadinya di Jakarta.
"Lapor, Komandan Ameer! Nona Tania... Nona Tania diculik dari Halte TransJakarta! Kami kehilangan jejak... Ponselnya mati total!"
DEG!...
Kabar itu menghantam jiwa Ameer jauh lebih keras daripada ledakan granat. Konsentrasinya hancur berkeping-keping dalam satu detik. Bayangan wajah tirus Tania, luka bakar di punggungnya, dan janji suci untuk melindunginya seketika menjejali pikiran Ameer.
"APA KAMU BILANG?! BAGAIMANA BISA KALIAN MEMBIARKAN TANIA HILANG?!" bentak Ameer murka, suaranya bergetar hebat oleh amarah dan kepanikan yang luar biasa.
Akibat hilangnya fokus sang komandan, sebuah tembakan balasan melesat dari kegelapan.
DOR!...
"Aagghh!" Ameer meringis keras saat sebuah timah panas menembus lengan kirinya. Darah segar berwarna merah pekat membasahi seragam taktisnya, mengalir deras hingga ke jemari tangannya.
"Komandan! Anda tertembak!" seru agen rekannya yang bergegas berlindung di samping Ameer.
"Saya tidak apa-apa! Ambil alih komando sekarang!" perintah Ameer parau sambil menahan sakit yang luar biasa di lengannya. Ia memegang luka tembaknya dengan tangan kanan yang gemetar, matanya menyala merah oleh amarah dan rasa bersalah. "Serahkan sisa target pada tim dua! Saya harus pulang ke Indonesia detik ini juga!"
Tanpa memedulikan pengobatan medis yang memadai, Ameer melangkah mundur dari area pertempuran, menyerahkan misi penuh pada rekannya. Di dalam dadanya, rasa sakit akibat tembakan peluru sama sekali tak sebanding dengan rasa hancur membayangkan nasib Tania yang kini tak diketahui keberadaannya.
_____
Ribuan kilometer dari Amerika, atmosfer di dalam Mansion Hasanuddin mendadak berubah menjadi panggung drama yang memilukan sekaligus menjijikkan. Berita mengenai hilangnya Tania secara misterius usai pulang kuliah telah menyebar, memicu kegemparan luar biasa di seluruh penjuru rumah.
Di ruang keluarga yang megah, Kakek Hamzah duduk di kursi rodanya dengan wajah pucat pasi dan dada yang naik turun menahan guncangan jantung. Di pangkuannya, Filio bersimpuh, menangis histeris sejadi-jadinya hingga matanya sembap dan napasnya tersengal-sengal.
"Kakek... Maafkan Filio, Kakek! Ini semua salah Filio!" jerit Filio histeris, menenggelamkan wajahnya di lutut sang kakek sambil meremas kain celana Kakek Hamzah. "Harusnya Filio tidak membiarkan Tania naik bus umum! Harusnya Filio memaksa Tania naik mobil bersama Filio sore tadi!"
Chana berdiri di samping kursi roda sambil mengusap punggung anaknya, memasang raut wajah sangat terpukul dengan air mata yang menetes membasahi pipinya.
"Sudah, Filio... Jangan salahkan dirimu terus, Nak..." paut Chana dengan suara gemetar yang penuh rasa iba buatan. "Tania memang anak yang mandiri dan keras kepala, dia selalu menolak diantar sopir. Ini musibah untuk keluarga kita..."
"Tapi Filio sudah janji pada Kak Ameer untuk menjaga Tania, Ma!" tangis Filio makin membahana, memainkan peran saudara sepupu yang hancur oleh rasa bersalah di hadapan Kakek Hamzah. "Bagaimana kalau Tania terjadi apa-apa?! Filio tidak akan pernah memaafkan diri Filio sendiri, Kakek!"
Kakek Hamzah, dengan tangannya yang gemetar parah, mengelus kepala cucunya itu tanpa sedikit pun menaruh curiga pada racun yang ada di dalam hati Filio.
"Cukup, Filio... Cukup, Cucuku..." bisik Kakek Hamzah parau, air matanya sendiri menetes membasahi wajah sepuhnya yang senja. "Ini bukan salahmu... Kita berdoa... semoga Tania segera ditemukan dalam keadaan selamat..."
Di balik isak tangisnya yang memilukan di pangkuan Kakek Hamzah, senyum penuh kemenangan iblis terukir sangat tipis di bibir Filio. Ia yakin, dengan terlemparnya Tania ke dasar jurang sungai dingin di pinggiran kota, anak angkat yang paling dibencinya itu telah hancur dan tenggelam selamanya.
_____
Pagi harinya, setelah tubuh Niza merasa segar ia mulai melakukan perjalanan kembali ke desanya...
Roda-roda campervan abu-abu milik Niza menggilas perlahan jalanan tanah berdebu di kaki Gunung Salak. Rasa sakit yang teramat sangat yang sempat melumpuhkan dada Niza semalaman itu perlahan menyusut menjadi gelombang gundah yang mengganjal di ulu hati. Untuk meredakan ketegangan dan mengusir rasa lelah usai perjalanan dari mendaki , rombongan memutuskan untuk melanjutkan perjalanan.
Beberapa kilometer dari kaki gunung salak, Di sisi jalan, terdengar gemericik aliran sungai berair sangat jernih yang mengalir di antara celah-celah batu kali berukuran besar. Panas terik matahari siang yang menyengat membuat Dias, Yoga, dan Nina bersemangat untuk turun membasuh muka dan menyegarkan diri.
"Aduh, segar sekali airnya! Jalur turun kemaren benar-benar menguras tenaga dan keringat," ujar Nina sambil membasuh kedua tangannya di tepi air yang dingin.
Niza duduk melamun di atas sebuah batu datar di tepi sungai, jemari tangannya tak henti-hentinya meremas liontin patah berukir NiZa. Firasat buruk yang menghantamnya semalam masih menyisakan getaran aneh di dadanya.
Beberapa meter di area hilir sungai yang dikelilingi rimbunnya pepohonan liar, Yoga melangkah mencari tempat yang agak tertutup untuk buang air kecil. Ia menyusuri sela-sela batu berukuran setinggi manusia.
Namun, baru saja ia hendak melangkah ke balik salah satu batu terbesar... matanya menangkap sesosok tubuh terdampar di antara celah batu dan ranting-ranting kayu hanyut.
Sesosok tubuh wanita terbaring telungkup setengah tenggelam di air dangkal. Pakaiannya berupa gamis panjang dan celana panjang hitam sebagai dalamannya yang telah robek di beberapa bagian, tersangkut pada lumut batu. Rambut panjangnya yang basah kuyup terurai berantakan membasahi wajah dan punggungnya, jilbab yang semula dikenakannya telah hanyut terbawa arus deras dari hulu.
Yoga membelalak lebar, wajahnya seketika pucat pasi.
"MAYAT! ADA MAYAT DI SUNGAI! MAS DIAS! NIZA! TOLONG!" jerit Yoga histeris, suaranya melengking memecah keheningan hutan.
Jeritan itu membuat Dias, Niza, dan Nina serta dua pria lainnya terperanjat dari duduknya. Tanpa berpikir panjang, mereka berlima berlari tergesa-gesa menyusuri batu-batu kali yang licin menuju sumber suara Yoga.
"Mana, Ga?! Di mana?!" seru Dias panik, memburu ke arah Yoga yang menunjuk-nunjuk ke balik batu besar dengan tangan gemetar.
Niza melompati batuan kali dengan gesit, membelah semak belukar. Begitu matanya menangkap tubuh wanita yang terdampar lemas itu, dada Niza mendadak berdenyut hebat, denyutan yang sama seperti rasa sakit misterius yang menyiksanya selama ini.
Dias menyingsingkan celananya, masuk ke dalam air dangkal dan berlutut di samping tubuh tersebut. Dengan hati-hati, Dias meraih pergelangan tangan wanita itu untuk memeriksa denyut nadinya.
"Masih... Masih hidup! Denyut nadinya sangat lemah tapi masih ada!" seru Dias penuh keajaiban.
Dias perlahan menopang bahu wanita itu, membalikkan tubuhnya yang dingin agar telentang di atas pangkuannya dan tidak menyumbat jalan napasnya.
Saat air sungai membasahi helai-helai rambut yang menutupi wajah wanita tersebut, Dias menyapu lembut sisa-sisa lumut dan daun kering dari paras pucat itu.
DEG!....
Mata Dias membelalak lebar. Langkah kaki Yoga dan nina mendadak membeku di tempat. Napas Dias tercekat di tenggorokan, matanya berpindah-pindah menatap wajah wanita di pangkuannya... lalu menoleh ke arah Niza yang berdiri terpaku beberapa langkah di sebelahnya.
"Gusti Allah..." bisik Dias parau, lidahnya kelu akan apa yang sedang dilihat matanya. "Ni... Niza? Kok... kok mirip sekali denganmu?!"
Nina menutup mulutnya dengan kedua tangan, tak percaya pada penglihatannya sendiri. "Mas Dias... itu... itu mirip sekali dengan Niza?!"
!
sebentar lagii, Ameer dan Tania akan Sah menjadi pasangan suami isteri, mungkin ya..kmu akan menghadirkan sosok Venera dihari yg sakral ini, tapiiii semua itu tidak akan membuat Ameer dan Tania goyah akan keputusan mutlak dr sesepuh Hasanuddin 😁 gaskuyyyy kakk, up lagiii yaaa.. krn kemarin aku tunggu dan bolak balik kesini ga ada muncul² 😆