Anya gadis muda 18 tahun harus mengahadapi kenyataan pahit saat Pria yang selama ini disukainya dijodohkan dengan kakak Anya, Joana. Anya berusaha untuk menghalanginya namun dia masalah diasingkan oleh Ayahnya. Anya yang patah hati akhirnya berusaha melepaskan perasaanya dan fokus akan study nya. 4 tahun berlalu saat kelulusan Anya, Edgae yang selama ini Alya coba melupakan malah datang membawa seikat bunga. apakah dia datang sebagai kakak Ipar atau ada hal lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eureka Irene, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1: Sisa Wangi Parfum di Hari Selasa
Bab 1: Sisa Wangi Parfum di Hari Selasa
Gadis itu berdiri di depan cermin besar kamarnya, mematut diri untuk kesekian kalinya. Anya menghela napas panjang, merapikan rok jepret selutut berwarna biru pastel yang baru dibelinya minggu lalu. Di usianya yang baru menginjak delapan belas tahun, dunia Anya rasanya hanya berputar pada satu poros tunggal: Edgard.
Edgard adalah anak dari rekan bisnis paling penting papanya. Sosoknya tinggi, rahangnya tegas, dan selalu mengenakan kemeja yang seolah disetrika dengan presisi tanpa cela. Bagi Anya, Edgard adalah definisi sempurna dari seorang pria. Masalahnya hanya satu: di mata Edgard, Anya tidak lebih dari seonggok angin lalu atau, paling bagus, seorang adik kecil yang berisik.
"Anya! Cepat turun, Sayang! Tamu Papa sudah mau sampai!" Suara mamanya melengking dari lantai bawah, memecah lamunan Anya.
"Iya, Ma! Sebentar lagi!" sahut Anya setengah berteriak.
Anya menyambar botol parfum beraroma manis stroberi di atas mejanya. Dia menyemprotkannya dengan murah hati ke pergelangan tangan, leher, dan rambutnya. Dia tahu Edgard tidak menyukai bau yang terlalu menyengat, jadi dia memilih aroma buah yang segar, berharap aroma ini bisa tertinggal di indra penciuman pria itu malam ini.
Dengan langkah riang dan hati yang berdebar-debar, Anya menuruni anak tangga rumah mewahnya di kawasan Jakarta Selatan. Di ruang tamu, papanya, Bramantyo, sedang berbincang serius dengan Joana, kakak kandung Anya. Joana, yang berusia dua puluh dua tahun, baru saja menyelesaikan sidang skripsinya dengan predikat cum laude. Joana adalah kebanggaan keluarga—anggun, pintar, tenang, dan selalu tahu cara bersikap di depan kolega Papa. Berbeda jauh dengan Anya yang masih sering meledak-ledak dan bertingkah kekanak-kanakan.
"Kamu wangi sekali, Anya. Seperti toko permen karet berjalan," goda Joana saat Anya duduk di sampingnya.
Anya hanya mengerucutkan bibirnya. "Ini parfum mahal, Kak. Biar segar."
"Sudah, jangan ribut. Mereka sudah datang," potong Papa sambil berdiri dari sofa ketika mendengar suara mobil memasuki pekarangan rumah.
Jantung Anya serasa melompat ke tenggorokan. Dia ikut berdiri di belakang Papa dan Mamanya, meremas ujung blusnya dengan gugup. Pintu depan terbuka, menampilkan sosok Om Baskoro—mitra bisnis Papa—bersama istrinya. Dan di belakang mereka, berdirilah Edgard.
Malam itu, Edgard mengenakan kemeja rajut hitam dengan lengan yang digulung hingga sikut, memperlihatkan jam tangan perak yang melingkar kokoh di pergelangan tangan kirinya. Rambutnya ditata rapi, menyisakan beberapa helai yang jatuh di dahinya. Anya menahan napas. Ketampanan Edgard selalu berhasil membuatnya terpaku.
Setelah sesi salam-salaman yang formal antara orang tua, pandangan Edgard akhirnya jatuh pada kedua anak gadis keluarga Bramantyo.
"Halo, Kak Joana. Selamat atas kelulusannya," ucap Edgard dengan suara baritonnya yang berat dan tenang. Senyum tipis mengembang di bibirnya—sebuah senyuman yang sangat jarang dia perlihatkan.
Joana tersenyum anggun. "Terima kasih, Edgard. Senang kamu bisa datang malam ini."
Anya segera memajukan langkahnya, memotong jarak agar Edgard melihatnya. "Halo, Kak Edgard! Kak Edgard apa kabar? Aku sengaja pakai baju biru malam ini, lho. Katanya Kak Edgard suka warna biru, ya?" rentond Anya tanpa jeda, matanya berbinar penuh harap.
Senyum tipis di wajah Edgard langsung lenyap, digantikan oleh ekspresi datar yang biasa. Dia menatap Anya datar, tatapan yang selalu membuat Anya merasa seperti anak kecil yang sedang merengek meminta mainan.
"Kabar baik, Anya. Terima kasih," jawab Edgard singkat, sangat singkat hingga terasa dingin. Pria itu bahkan tidak mengomentari baju atau usaha Anya sama sekali. Dia langsung mengalihkan pandangannya kembali ke arah Papa dan Om Baskoro yang mulai bergerak menuju ruang makan.
Anya terpaku di tempatnya berdiri. Bahunya merosot seketika. Sisa wangi parfum stroberinya seolah menguap sia-sia di udara, tidak mampu menembus dinding es yang selalu dibangun Edgard di sekelilingnya.
"Anya, ayo ke meja makan. Jangan melamun di situ," tegur Mama dengan suara berbisik namun penuh penekanan. Anya mengangguk lemah dan mengikuti dari belakang.
Di meja makan, makan malam berlangsung dengan obrolan bisnis yang membosankan bagi Anya. Papa dan Om Baskoro tertawa keras membahas saham dan ekspansi pabrik baru mereka. Joana sesekali menimpali dengan cerdas, membuat Om Baskoro berkali-kali memujinya di depan semua orang.
"Joana ini memang luar biasa, Bram. Sudah cantik, pintar berbisnis lagi. Beruntung sekali kamu punya anak seperti dia," puji Om Baskoro tulus.
Papa tertawa bangga. "Ah, Baskoro bisa saja. Tapi memang Joana ini yang paling bisa diandalkan di rumah."
Anya yang duduk di seberang Edgard hanya bisa memainkan sendoknya, menusuk-nusuk daging steak di piringnya tanpa selera. Dia melirik Edgard. Pria itu sedang mendengarkan Joana berbicara tentang tren ekonomi terkini dengan perhatian penuh. Tatapan Edgard pada Joana terasa berbeda—ada rasa hormat dan ketertarikan intelektual di sana. Sesuatu yang tidak pernah Edgard berikan pada Anya.
Rasa cemburu dan tidak aman mulai merayap di dada Anya. Dia ingin memecah perhatian itu. Dia ingin Edgard melihatnya, bukan kakaknya.
"Kak Edgard!" panggil Anya sedikit keras, memotong pembicaraan Joana yang belum selesai.
Seluruh meja makan mendadak hening. Semua mata tertuju pada Anya. Papa memberikan tatapan memperingatkan, namun Anya mengabaikannya.
"Kak Edgard, minggu depan kampusku mengadakan festival seni. Aku ikut panitia bagian dekorasi. Kak Edgard mau datang, kan? Aku bisa pesankan tiket VIP buat Kakak," ujar Anya dengan senyum yang dipaksakan ceria, mencoba terdengar penting.
Edgard meletakkan garpu dan pisaunya dengan perlahan. Dia menyeka sudut bibirnya dengan serbet kain sebelum menatap Anya. Tatapannya sangat tenang, namun terasa begitu menghakimi.
"Maaf, Anya. Minggu depan jadwal kerja saya sangat padat. Saya tidak punya waktu untuk datang ke acara seperti itu," jawab Edgard. Suaranya datar, tanpa ada nada penyesalan sedikit pun.
"Tapi kan cuma sebentar, Kak? Malam hari juga bisa..." Anya mencoba membujuk, suaranya mulai bergetar karena menahan malu.
"Anya, cukup. Jangan kekanak-kanakan. Edgard itu sibuk mengurus perusahaan, bukan waktunya mengurusi pensi sekolahmu," potong Papa dengan suara tegas dan dingin. Kalimat Papa bagai tamparan keras di wajah Anya di depan keluarga Edgard.
"Ini festival kampus, Pa, bukan pensi sekolah," bisik Anya lirih, matanya mulai berkaca-kaca.
"Sama saja. Habiskan makananmu dan jangan mengganggu tamu," titah Papa tidak terbantahkan.
Anya menundukkan kepalanya dalam-dalam. Air mata sudah mengumpul di pelupuk matanya, siap tumpah kapan saja. Dia melirik ke arah Edgard melalui sudut matanya, berharap pria itu setidaknya menunjukkan sedikit rasa kasihan atau pembelaan. Namun, Edgard justru kembali melanjutkan makannya seolah penolakan kejam tadi tidak pernah terjadi. Edgard tampak begitu biasa saja, begitu tidak peduli pada badai yang sedang berkecamuk di dalam hati gadis delapan belas tahun di hadapannya.
Malam itu, Anya menyadari satu hal yang menyakitkan. Di dunia Edgard yang penuh dengan angka, logika, dan kedewasaan, tidak ada tempat bagi Anya yang penuh dengan imajinasi dan obsesi remaja. Namun, alih-alih menyerah, rasa sakit itu justru memicu sesuatu yang lain di dalam diri Anya. Dia bersumpah, dengan cara apa pun, dia akan membuat Edgard melihatnya sebagai seorang wanita, bukan lagi sebagai pengganggu yang tidak signifikan.
Anya tidak pernah tahu, bahwa keputusasaan dan obsesinya malam ini akan menuntunnya pada sebuah jurang patah hati yang jauh lebih dalam di masa depan.
semangat nulisnya 💪