NovelToon NovelToon
Setelah Taksi Itu Berlalu

Setelah Taksi Itu Berlalu

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Perjodohan / Nikah Kontrak / Tamat
Popularitas:12.2k
Nilai: 5
Nama Author: Selie Noris

Diabaikan oleh Arka—suaminya yang dingin—Kirana terbiasa menelan rasa sakit sendirian. Namun, sebuah kecelakaan tragis yang merenggut janinnya mengubah segalanya. Kirana yang manja dan cengeng mati di hari itu, berganti menjadi sosok wanita dingin dan mandiri yang membangun usahanya sendiri dari nol.

Saat Kirana mengembalikan fasilitas rumah tangga dan mengajukan perceraian, Arka baru tersadar dari kesalahannya. Pria yang dulu acuh kini harus meruntuhkan egonya dan mempertaruhkan segalanya demi mendapatkan kembali maaf serta cinta dari sang istri.




#NikahPaksa
#Penyesalansuami
#WanitaMandiri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Selie Noris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26 : Keheningan di Meja Makan

Matahari pagi menembus jendela kaca besar ruang makan utama keluarga Pratama, memantulkan cahaya keemasan yang jatuh sempurna di atas permukaan meja makan panjang berbahan kayu mahoni. Di atas meja tersebut telah tersaji menu sarapan lengkap yang disiapkan oleh Bi Inah: nasi putih mengepul, sup hangat dengan aroma kaldu ayam yang menggugah selera, beberapa potong daging panggang, serta segelas jus jeruk segar.

Namun, alih-alih menghadirkan kehangatan pagi seperti layaknya sebuah keluarga, suasana di ruang makan itu justru terasa begitu dingin, kaku, dan mencekam, seolah-olah udara di sekeliling meja telah berubah menjadi es batu yang siap membekukan siapa pun yang bernapas di dekatnya.

Arka sudah duduk terlebih dahulu di kursi utamanya. Mengenakan kemeja kerja abu-abu muda dengan lengan kemeja yang dilipat rapi hingga siku, pria itu tampak gelisah. Matanya tidak lepas menatap kursi di sebelah kanannya—kursi tempat Kirana biasanya duduk, menyambut pagi dengan senyuman lembut, menuangkan kopi, atau sekadar menanyakan rencana harian Arka.

Beberapa detik kemudian, suara langkah kaki pelan terdengar mendekat dari arah koridor.

Arka mendongak cepat. Napasnya tertahan di tenggorokan saat melihat Kirana melangkah masuk ke dalam ruang makan.

Wanita itu mengenakan pakaian kasual bernuansa gelap dan netral sesuai dengan keputusan radikalnya semalam: blus lengan panjang berwarna hitam polos dipadukan dengan celana bahan berwarna abu-abu gelap. Wajahnya bersih tanpa pulasan *makeup*, rambut pendeknya dibiarkan tergerai lurus menutupi sebagian bahunya, dan ekspresi wajahnya benar-benar datar—tanpa senyum, tanpa sapaan, dan tanpa secercah binar kehidupan.

Kirana berjalan menghampiri meja makan dengan postur tubuh tegap namun kaku. Ia tidak langsung mengambil kursi di sebelah Arka seperti biasanya. Sebaliknya, wanita itu berdiri di samping mangkuk nasi besar, mengambil sendok saji dengan gerakan tenang dan terukur.

Arka menatap istrinya dengan kening berkerut dalam, rasa ngilu kembali merayap di dadanya. "Kirana... duduklah. Biar Bi Inah atau pelayan lain yang menyiapkan makanan. Kamu baru saja..."

"Tidak apa-apa, Tuan," potong Kirana dengan nada suara yang sangat formal, datar, dan berjarak. Penggunaan kata "Tuan" meluncur begitu mulus dari bibirnya, terasa bagaikan hantaman cambuk beracun tepat di ulu hati Arka. "Sudah kewajiban saya melayani keperluan sarapan pagi ini."

Sebelum Arka sempat mengeluarkan bantahan atau protes, Kirana dengan cekatan menyendok nasi putih secukupnya, lalu memindahkannya ke atas piring kristal milik suaminya dengan presisi yang sangat rapi. Gerakannya begitu profesional, tenang, dan tanpa cela—persis seperti cara seorang pelayan hotel bintang lima melayani tamu penting yang tidak memiliki hubungan personal apa pun dengannya.

Setelah meletakkan piring itu kembali di hadapan Arka, Kirana mundur selangkah kecil. Ia mengambil piring kosong miliknya sendiri, lalu berjalan menjauh dari posisi tersebut, mengambil kursi di ujung paling jauh meja makan yang panjang—posisi yang berjarak bermeter-meter dari kursi Arka, seolah ia ingin memastikan bahwa tidak ada ruang sekecil apa pun bagi suaminya untuk menyentuh atau mendekatinya.

Arka terpaku menatap piring nasinya, lalu mengalihkan pandangannya ke ujung meja tempat Kirana kini duduk seorang diri. Tenggorokannya terasa tercekat oleh batu besar; selera makannya mendadak menguap begitu saja, menyisakan rasa pahit yang luar biasa di dalam mulutnya.

"Kirana... kumohon, jangan lakukan ini," bisik Arka parau, suaranya bergetar menahan kepedihan yang amat sangat. Ia meletakkan sendok dan garpunya di atas meja, tidak sanggup menyentuh makanan di hadapannya. "Jangan memanggilku dengan sebutan 'Tuan'... dan kumohon, jangan duduk di tempat sejauh itu. Kita suami istri. Kita bisa bicara... kita bisa memperbaiki semuanya..."

Kirana tidak segera menjawab. Ia sedang memotong sepotong kecil makanan di piringnya dengan garpu kecil, mengunyahnya secara perlahan tanpa terburu-buru. Setelah menelan makanannya dengan tenang, ia mengangkat wajahnya, menatap lurus ke arah Arka dengan sepasang mata setajam es.

"Suami istri?" ulang Kirana dengan nada datar bernada sinis yang sangat tipis. Sudut bibirnya terangkat sebelah, membentuk senyuman miris yang tidak mencapai matanya. "Kata itu kehilangan maknanya sejak malam di mana Anda memilih membiarkan saya merangkak sendirian di lantai rumah sakit, Arka. Dan kata 'Tuan'... adalah panggilan paling sopan dan pantas yang bisa saya berikan kepada seseorang yang tinggal serumah dengan saya saat ini."

Skakmat.

Setiap kata yang diucapkan Kirana tidak bernada tinggi, tidak pula disertai isak tangis atau kemarahan yang meledak-ledak. Justru karena diucapkan dengan suara yang begitu tenang dan dingin, kalimat-kalimat itu terasa bagaikan pisau bedah yang menguliti harga diri Arka lapis demi lapis hingga tak tersisa.

Arka terdiam kaku. Pria itu menundukkan kepalanya, kedua tangannya mengepal erat di atas pangkuannya hingga buku-buku jarinya memutih. Ia tidak memiliki argumen apa pun untuk membela diri. Semua kesombongan, kekuasaan sebagai CEO, dan wibawa yang selama ini ia banggakan runtuh berkeping-keping di bawah tatapan kosong istrinya sendiri.

Di sudut ruang makan, di dekat pintu pantry yang menghubungkan ruangan tersebut dengan dapur, Bi Inah berdiri sambil menutup mulutnya dengan sebelah tangan. Air mata wanita tua itu kembali menetes membasahi pipinya. Ia menyaksikan bagaimana sebuah rumah tangga yang dulunya dipenuhi oleh kehangatan dan suara tawa kini telah berubah menjadi sebuah penjara bisu—tempat di mana dua orang manusia terkurung dalam satu atap yang sama, namun terpisahkan oleh jurang pemisah yang jauh lebih luas daripada lautan.

Tidak ada lagi suara percakapan. Tidak ada lagi pertanyaan tentang bagaimana hari mereka akan berjalan.

Sisa sarapan pagi itu dilalui dalam keheningan yang mutlak. Kirana menghabiskan makanannya dengan tenang, meneguk sedikit air putih, lalu berdiri dari kursinya tanpa menunggu Arka selesai. Dengan langkah anggun namun dingin, ia meninggalkan ruang makan tersebut, kembali ke pengasingannya di kamar pojok lantai bawah, meninggalkan Arka seorang diri di meja makan yang megah—tenggelam dalam penyesalan abadi yang tidak akan pernah bisa ditebus oleh waktu.

1
putmelyana
semangat thor 💪
Selie Noris: Kak, terima kasih ya.... ♥️
total 1 replies
Selie Noris
♥️♥️♥️
Sulicungliieee
ડɑ𝗍υ ƙɑ𝗍ɑ υ𐓣𝗍υƙოυ ɑ𝗋ƙɑ.......ડυ𝗈𝗈ƙ𝗈𝗋𝗋𝗋𝗋𝗋.....
Selie Noris: Kak, makasih sudah mampir....
total 1 replies
Yusria Mumba
seorang wanita kalau sudah sakit hatiny, susah d, obati,
Selie Noris: Kak, terima kasih sudah mampir. ♥️
total 1 replies
Yusria Mumba
nyesalkan sudah terlambat,
Selie Noris: Kak, terima kasih sudah mampir. ♥️
total 1 replies
Yusria Mumba
ti galon ajasumi kaya gitu,
Selie Noris: Kak, terima kasih sudah mampir. ♥️
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!