Deni adalah seorang pemuda jenius yang berada satu langkah lagi menuju puncak ilmu bela diri, namun secara sepihak diusir oleh gurunya untuk turun gunung dengan sebuah misi yang sangat absurd yaitu menjadi kurir Shopee Food. Untuk membuka segel kekuatannya dan resmi menjadi Raja Bela Diri sejati, Deni diwajibkan oleh sebuah sistem misterius untuk mengumpulkan seribu ulasan bintang lima dari para pelanggannya di kerasnya ibukota.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
"Sekarang kita masuk ke acara puncak, inilah barang yang paling ditunggu yaitu giok kesehatan kuno dari Dinasti Ming," umum pemandu acara dengan penuh semangat.
Seorang wanita cantik bergaun merah menyala berjalan perlahan membawa sebuah kotak kayu ukiran ke tengah panggung.
Saat penutup kotak itu dibuka, sebuah batu hijau memancarkan cahaya lembut yang langsung menarik perhatian semua mata di ruangan.
"Harga awal untuk batu giok bersejarah ini dibuka mulai dari angka lima miliar rupiah," seru pemandu acara mengangkat tangannya.
Suasana ruangan yang tadinya tenang mendadak riuh oleh suara para pengusaha kaya yang saling berebut menawar harga.
"Enam miliar rupiah," teriak seorang pria gemuk dari barisan sebelah kanan.
"Tujuh miliar," sahut wanita tua dari deretan kursi paling belakang tanpa ragu.
Clara hanya diam melipat tangan di dada karena dia datang ke sini murni hanya untuk melihat situasi dan tidak berniat membuang uang.
Tiba-tiba Rian berdiri dari kursinya dan mengangkat papan nomor tawaran dengan senyum yang sangat angkuh.
"Dua belas miliar rupiah untuk batu itu," sebut Rian dengan suara keras yang menggema di seluruh ruangan.
Suasana langsung menjadi hening karena tidak ada lagi pengusaha biasa yang berani melawan kekuatan finansial Rian.
Pemandu acara memegang palunya erat-erat bersiap untuk menutup sesi penawaran tersebut.
"Dua belas miliar untuk penawar pertama, dua belas miliar untuk penawar kedua," ucap pemandu acara bersiap mengetuk meja.
"Dua puluh miliar rupiah," teriak sebuah suara berat dan serak dari sudut ruangan yang paling gelap.
Semua orang di ruangan itu langsung menoleh serempak ke arah sumber suara yang mengejutkan tersebut.
Di sana duduk seorang pria misterius yang mengenakan jaket jubah hitam tebal hingga menutupi separuh wajahnya.
Wajah pria itu tertutup bayangan tudung sehingga Deni sama sekali tidak bisa mengenali ciri-ciri fisiknya.
Rian mengerutkan keningnya dengan sangat kesal karena ada orang tidak dikenal yang berani menghancurkan rencananya.
"Dua puluh lima miliar rupiah," balas Rian menaikkan tawarannya dengan urat leher yang sedikit menonjol karena marah.
"Tiga puluh miliar," ucap pria berjubah hitam itu lagi dengan nada sangat tenang seolah uang itu hanyalah daun kering baginya.
Ruangan pelelangan itu langsung bergemuruh ramai karena harga tersebut sudah sangat jauh melampaui harga asli batunya.
Deni yang sejak tadi setengah mengantuk tiba-tiba membuka matanya lebar-lebar dan menatap tajam ke arah batu hijau di panggung.
"Nona Clara, sepertinya firasatku mengatakan kalau batu hijau di dalam kotak itu bukan batu perhiasan biasa," bisik Deni ke telinga Clara.
Clara menoleh dengan kening berkerut bingung menatap wajah pengawalnya yang mendadak berubah sangat serius.
"Bukan batu biasa bagaimana maksudmu Deni, apakah batu giok itu barang palsu?" tanya Clara merasa penasaran.
"Bukan palsu Nona, tapi aku bisa merasakan ada energi tenaga dalam murni yang disegel sangat kuat di dalam batu itu," jelas Deni dengan suara pelan.
"Kalau orang biasa nekat memakai batu itu, aliran darahnya bisa membeku karena tidak kuat menahan energi dinginnya."
Clara terkejut mendengar penjelasan Deni namun dia memilih untuk tetap diam dan mengamati situasi lebih lanjut.
Di sisi lain, Rian yang melihat pria berjubah hitam itu sama sekali tidak mau mengalah akhirnya memilih untuk menyerah dalam tawaran.
Rian tampak membisikkan sesuatu kepada dua pengawal berbadan kekar di belakangnya sambil tersenyum sangat licik.
"Tiga puluh miliar rupiah ditawarkan tiga kali dan batu giok ini resmi terjual," ketuk pemandu acara memecah ketegangan.
Prok prok prok.
Suara tepuk tangan menggema meriah di dalam ruangan saat kotak kayu itu ditutup dan dibawa turun dari panggung.
Pria berjubah hitam itu segera bangkit dari kursinya dan berjalan cepat menuju ruang administrasi di lorong belakang.
Deni melihat Rian dan kedua pengawalnya diam-diam ikut berdiri lalu berjalan mengendap-endap mengikuti pria misterius tersebut.
"Nona Clara, sepertinya sebentar lagi akan ada pertunjukan aksi gratis di lorong belakang hotel ini," kata Deni sambil tersenyum tipis.
"Deni jangan mulai bertingkah, kita tidak usah ikut campur urusan orang jahat dan sebaiknya pulang saja sekarang," ajak Clara menarik lengan jaket Deni.
"Tapi Nona bos, rasa penasaran di kepalaku ini jauh lebih besar daripada rasa lapar perutku malam ini," jawab Deni sambil melangkah perlahan.
Clara menghela nafas sangat panjang karena dia terpaksa harus mengikuti langkah kaki pengawalnya yang sangat keras kepala itu.
Mereka berdua berjalan mengendap-endap menyusuri lorong berkarpet merah yang sangat sepi di lantai dua hotel tersebut.
Dug.
Terdengar suara hantaman benda keras dari balik pintu kayu berukir di ujung lorong yang sengaja tidak ditutup rapat.
Deni memberi isyarat agar Clara diam di tempat sementara dia mengintip perlahan dari celah pintu kayu tersebut.
Di dalam ruangan penyimpanan itu terlihat Rian dan dua anak buahnya sedang memojokkan pria berjubah hitam ke dinding.
Brak.
Salah satu pengawal menendang pria berjubah hitam itu hingga jatuh tersungkur dan tudung kepalanya terbuka ke belakang.
Ternyata di balik jubah itu adalah wajah seorang pemuda yang terlihat masih sangat belia dengan luka memar di sudut bibirnya.
"Cepat serahkan kotak batu giok itu padaku anak muda, atau aku akan memotong kedua tanganmu di sini sekarang juga," ancam Rian menodongkan sebilah pisau lipat yang mengkilap.
Pemuda itu memegang dadanya yang terasa sakit namun tangannya tetap memeluk erat kotak kayu di dadanya.
"Batu giok ini adalah pusaka milik perguruanku, aku tidak akan pernah menyerahkannya pada lintah darat sepertimu," jawab pemuda itu dengan nafas tersengal-sengal.
Deni yang melihat kejadian klise itu dari balik celah pintu hanya bisa menggaruk belakang kepalanya dengan santai.
"Wah ternyata di hotel semahal ini banyak juga preman jalanan yang suka merampok ya Nona," komentar Deni berbisik pelan.
Clara mencubit pelan lengan Deni untuk memperingatkan pemuda itu agar tidak melakukan hal bodoh.
"Sudah kubilang jangan ikut campur urusan mereka Deni, lebih baik kita segera lapor ke petugas keamanan hotel saja," bisik Clara dengan wajah cemas.
"Kalau menunggu satpam datang keburu habis nyawa anak muda itu Nona, kasihan kan dia sudah capek menawar mahal tadi," kata Deni sambil tersenyum simpul.
Sebelum Clara sempat menarik tangannya lagi, Deni sudah menendang pintu kayu besar itu hingga terbuka sangat lebar.
Cklek brak.
Rian dan kedua pengawalnya langsung menoleh kaget ke arah pintu dan melihat kehadiran dua orang penyusup di sana.
"Siapa kalian berdua, berani-beraninya kalian mengganggu urusan pribadiku di sini," bentak Rian dengan wajah merah padam karena marah.
Deni melangkah masuk dengan santai sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaket oranye miliknya.
"Maaf Paman botak, saya ini cuma kurir pengantar makanan yang kebetulan nyasar mau cari pintu toilet," jawab Deni dengan wajah tanpa dosa.
Rian mendengus kasar lalu memberikan isyarat tangan pada kedua pengawalnya untuk segera membereskan kurir pengganggu tersebut.
"Habisi kurir bermulut besar ini sekarang juga dan lemparkan mayatnya ke tong sampah di luar," perintah Rian dengan nada kejam.
Dua pengawal bertubuh kekar itu langsung menerjang ke arah Deni sambil mengayunkan kepalan tangan mereka yang sebesar batu.
Wush wush.
Deni sama sekali tidak bergeser dari tempatnya berpijak walau pukulan itu sudah berada beberapa sentimeter dari wajahnya.
Plak plak.
Deni mengangkat kedua tangannya dengan sangat santai dan menangkap kepalan tangan kedua pengawal itu menggunakan telapak tangannya yang terbuka.
Krak krak.
Suara tulang yang bergeser paksa terdengar sangat jelas memenuhi ruangan sempit itu disusul jeritan yang sangat memilukan.
"Argh tanganku putus," teriak kedua pengawal itu serempak sambil jatuh berlutut menahan sakit yang luar biasa.
Rian membelalakkan kedua matanya tidak percaya melihat dua petarung bayaran termahalnya bisa ditumbangkan hanya dalam waktu kurang dari dua detik.
Pemuda berjubah hitam yang masih terduduk di lantai ikut menatap Deni dengan sorot mata yang penuh dengan rasa tidak percaya.
"Siapa sebenarnya pemuda aneh berjaket oranye ini, gerakannya tadi sama sekali tidak bisa dilihat oleh mata biasa," batin pemuda itu dengan penuh rasa kagum.
Deni perlahan menatap Rian yang kini berdiri gemetar ketakutan di dekat lemari penyimpanan barang antik.
"Tuan Rian yang terhormat, merampok itu adalah perbuatan dosa dan juga sangat dibenci oleh sistem aplikasi kerjaku lho," ucap Deni sambil berjalan mendekat dengan senyum ramah.
"Jadi lebih baik Tuan minta maaf pada anak muda yang sedang duduk itu sekarang juga atau aku akan mematahkan semua jarimu satu per satu."
Rian mundur selangkah demi selangkah hingga punggungnya menabrak dinding kayu dan tidak ada lagi jalan untuk melarikan diri.
"Baiklah aku mengaku salah, aku minta maaf dan tolong jangan berani sakiti aku sedikitpun," teriak Rian dengan suara bergetar menahan malu dan takut.
Clara yang masih berdiri kaku di ambang pintu hanya bisa menghela nafas lega melihat situasi sudah terkendali sepenuhnya.
"Nona Clara bosku yang cantik, tolong jangan lupa beri saya ulasan bintang lima di aplikasi ya karena saya baru saja berbuat kebaikan malam ini," teriak Deni sambil mengacungkan jempolnya ke arah pintu.
[Sistem Raja Kurir Merespon Pelanggan Clara sedang mempertimbangkan ulasan atas tindakan pahlawan dadakan ini]
Malam itu petualangan Deni di dunia pelelangan barang antik elit ditutup dengan kemenangan telak dan pertemuan tidak terduga dengan pewaris sekte bela diri kuno.