NovelToon NovelToon
Fake Lines

Fake Lines

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta setelah menikah / Penyesalan Suami / Angst
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Di bawah pendar lampu Los Angeles, hidup Lux Victoria hancur dalam semalam. Maksud hati hanya memeriksa kesehatan, hasil tes justru menyatakan dirinya hamil. Padahal, Lux bersumpah belum pernah tersentuh pria mana pun.

Demi membuktikan kebenarannya, Lux Nekat membeli tes Kehamilan di larut malam.

Takdir konyol justru mempertemukannya dengan Braxton Valerio Desmon, putra kedua dari pengusaha kaya keluarga Desmon.

Demi memenangkan taruhan konyol bersama teman-temannya, Braxton nekat mencium Lux di depan apotek.

Sial bagi mereka, keluarga Lux yang menguntitnya mendapati situasi tersebut dan salah paham.

Kejadian beruntun itu menyeret Lux dan Braxton ke dalam jerat kesalahpahaman, di mana pernikahan paksa menjadi satu-satunya jalan keluar yang disiapkan kedua orang tua Lux.

Happy reading 🌷🦋

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

##15

Sore itu, suasana di Penthouse kembali hening setelah kedatangan mendadak dua keluarga besar berakhir.

Marcus, Eleanor, AJ, serta Zephyr telah berpamitan lima belas menit yang lalu. Kehangatan pelukan Mommy Zephyr dan ucapan-ucapan manis mertuanya masih menyisakan getaran halus yang menenangkan di dalam dada Lux.

Namun, di balik kedamaian yang baru saja dirasakannya, ada rasa rindu yang tiba-tiba membakar. Pikirannya terus tertuju pada Braxton—pria yang meninggalkannya dengan empat kali ucapan “I love you” dan rahasia terburu-buru ke rumah sakit tiga puluh menit sebelum orang tua mereka datang.

Lux melangkah ke dalam kamar utama. Di depan cermin rias yang memantulkan tubuhnya, Lux menatap dirinya sendiri. Kali ini, ia tidak lagi memakai silk slip dress merah marun untuk memancing emosi atau meluapkan trauma masa lalunya.

Dengan jemari yang sedikit gemetar oleh gejolak rasa malu dan keberanian wanita yang baru saja jatuh cinta, Lux memilih mengenakan sebuah crop camisole sutra hitam bertali amat tipis yang membentuk lekuk dadanya secara sempurna, dipadukan dengan celana pendek berbahan senada yang mengekspos paha mulusnya secara terbuka. Ukiran tato liar bertema floral dan abstrak yang melilit di sepanjang bahu, leher, hingga jalurnya ke pinggang terpampang nyata tanpa celah.

Lux ingin menyambut suaminya. Bukan sebagai Lux yang ketakutan akan cinta, melainkan sebagai seorang istri yang siap menyerahkan seluruh jiwanya.

KLIK.

Suara kait kunci pintu utama Penthouse berbunyi halus, disusul oleh dorongan pintu mahoni yang terbuka.

Braxton melangkah masuk. Wajah tampannya masih menyisakan sedikit jejak ketegangan dari konfrontasi gelapnya dengan Amelia Giger di Hospital Saint Jude. Namun, saat pria itu memutar tubuhnya menuju area ruang keluarga dan pandangannya jatuh pada sosok Lux yang berdiri di dekat sofa, langkah kaki Braxton terhenti seketika.

Napas Braxton tertahan di tenggorokan.

Di bawah pendar jingga matahari sore Los Angeles yang menembus dinding kaca, Lux berdiri memandangnya. Pakaian minim yang membalut tubuhnya, tato-tato indah yang berkilau di kulit mulusnya, serta tatapan mata abu-abu yang kini memancarkan kehangatan murni tanpa benteng pertahanan—semua itu menghantam kesadaran Braxton dengan kekuatan yang amat dahsyat.

Seluruh ketegangan dari rumah sakit melenyap tanpa sisa, berganti menjadi hembusan gairah dan kasih sayang yang membakar dadanya.

"Braxton..." panggil Lux pelan, suara galaknya kini berganti menjadi bisikan lembut yang amat manis.

Braxton melemparkan kunci mobil dan jaket kulitnya ke atas meja secara acuh tak acuh. Tanpa membuang waktu satu detik pun, pria itu melangkah lebar-lebar memangkas jarak di antara mereka.

"Kau benar-benar sengaja ingin menyiksaku sore ini, Nyonya Desmon?" bisik Braxton, suaranya mendadak berubah menjadi sangat berat, dalam, dan serak saat berdiri hanya beberapa sentimeter di hadapan Lux.

Lux menyunggingkan senyum tipisnya yang amat menawan. Ia tidak mundur. Sebaliknya, kedua tangan mulusnya terangkat, melingkar berani di leher kokoh Braxton, menarik pria itu agar semakin merapat padanya.

"Aku hanya menyambut suamiku yang baru pulang," balas Lux, menggigit bibir bawahnya seraya menatap lurus ke dalam sepasang mata cokelat Braxton. "Kau lama sekali. Kau bahkan belum pernah membawaku untuk menemui Mommy... dan Mommy sudah kemari duluan bersama Daddy dan orang tuaku."

Braxton terkejut kecil. "Mommy dan Daddy kemari? Bersama orang tuamu?"

"Hmm," Lux mengangguk pelan, merapatkan tubuhnya hingga dada mereka saling berdempetan hangat. "Tiga puluh menit setelah kau pergi. Mommy langsung memelukku... Beliau sangat manis, Braxton. Berbeda sekali dengan bayangan kaku yang kutakutkan."

Mendengar hal itu, rasa bersalah sekaligus kehangatan terpancar di wajah Braxton. Pria itu menurunkan kedua tangan kekarnya, mengunci pinggang mulus Lux dan menarik tubuh tipis istrinya melekat rapat ke tubuhnya.

"Maafkan aku, Lux..." bisik Braxton tulus, menyapukan ujung hidungnya ke rahang halus Lux. "Kegalakanmu selama dua bulan ini membuatku sampai lupa untuk membawamu ke Mansion Valerio-Desmon. Setiap kali aku ingin mengajakmu, kau selalu menyemburkan kata perceraian atau melemparku dengan serbet."

Lux terkekeh halus—sebuah tawa merdu yang menggetarkan dada Braxton. "Jadi ini salahku?"

"Tentu saja," goda Braxton dengan senyum miring narsisnya yang amat tampan. "Tapi karena aku adalah suami paling sempurna dan paling tampan di Los Angeles, aku memaafkanmu. Lagipula... Mommy pasti sangat menyukaimu, kan? Siapa yang bisa menolak pesona istriku ini?"

"Kau sangat narsis, Tuan Desmon," gumam Lux, rona merah di pipinya kian merebak.

"Aku tidak narsis, aku hanya menyatakan fakta," bisik Braxton, matanya perlahan turun mengunci bibir merona Lux yang berada begitu dekat di depan wajahnya.

Atmosfer di antara mereka mendadak berubah menjadi begitu panas dan intim. Tatapan mata cokelat Braxton dipenuhi oleh intensitas asmara yang tak lagi mampu ditahan. Jemari Braxton di pinggang Lux mengencang, menekan tubuh istrinya tanpa menyisakan sekat udara sedikit pun.

"Braxton..." bisik Lux lirih, napasnya terengah halus saat merasakan kehangatan yang memancar dari tubuh suaminya.

"Aku mencintaimu, Lux," kata Braxton pelan, menyuarakan perasaannya sekali lagi sebelum menundukkan kepalanya secara penuh.

Sore itu, untuk pertama kalinya dalam dua bulan pernikahan rahasia mereka, bibir mereka bersatu dalam sebuah ciuman yang nyata.

Ciuman pertama itu tidak dimulai dengan ketenangan, melainkan dengan ledakan emosi yang telah lama terpendam. Bibir Braxton menuntut dengan kehangatan yang amat dalam, merengkuh bibir lembut Lux dengan dominasi yang protektif. Lux melengos halus, mencengkeram rambut belakang Braxton, membalas ciuman suaminya dengan keliaran manis yang membuat Braxton kehilangan kendali atas logikanya.

Cumbu mesra itu kian memanas dan liar. Tangan Braxton merambat naik dari pinggang ke punggung mulus Lux, mengelus kulit tatonya yang hangat, sementara Lux semakin memajukan tubuhnya, menempelkan seluruh lekuk tubuhnya pada dada bidang Braxton.

Suara desahan pelan dan hembusan napas yang beradu memenuhan keheningan ruang keluarga tersebut.

Setelah beberapa menit ciuman yang membakar itu berlangsung, Braxton perlahan menarik wajahnya sedikit.

Wajah tampan sang pangeran kampus yang biasanya selalu tenang kini tampak merona merah padam hingga ke lehernya. Pria itu terengah-engah memburu napas, matanya yang biasa dingin kini dipenuhi oleh binar gairah murni yang amat pekat.

"Lux..." bisik Braxton dengan suara serak yang begitu dalam, menatap Lux dengan pandangan yang membuat bulu kuduk gadis itu merinding manis. "...aku tidak bisa jika hanya untuk berciuman."

Dada Lux naik-turun memburu napas, bibirnya sedikit bengkak dan basah akibat ciuman panas tadi. Rona merah di wajahnya kian membakar hebat saat mendengar pengakuan jujur dari suaminya.

Braxton menyunggingkan senyum godanya yang liar. Ia merendahkan kepalanya kembali, mengecup sudut bibir Lux, lalu merambat turun memberi kecupan-kecupan basah dan hangat di sepanjang leher mulus serta tulang selangka istrinya yang terbuka.

"Ayo kita ke kamar," bisik Braxton merayu, jemarinya mengusap lembut paha mulus Lux, memiringkan tubuhnya untuk menggendong Lux di dalam pelukannya. "Aku sudah menahannya selama dua bulan, Lux. Jangan siksa aku lagi sore ini."

Namun, tepat saat Braxton hendak mengangkat tubuh Lux, tangan kecil Lux menahan dada keras Braxton. Gadis itu menggelengkan kepalanya pelan, meski napasnya masih terengah pasrah.

"Tidak... tunggu nanti malam, Braxton," tolak Lux halus namun tegas, menyembunyikan wajahnya yang membara di dada Braxton.

Braxton menghentikan gerakannya, menatap istrinya dengan kening berkerut tidak rela. "Nanti malam? Kenapa harus nanti malam? Kita sedang sendirian di sini, Lux."

"Aku... aku perlu menyiapkan diri," bisik Lux jujur, suara galaknya melenyap berganti menjadi cicitan malu seorang wanita yang baru pertama kali akan menyerahkan segalanya. "Ini... ini pertama kalinya bagiku, Braxton. Aku butuh mental dan waktu untuk bersiap."

Mendengar alasan polos dan jujur dari istrinya, sudut bibir Braxton terangkat membentuk senyuman goda yang semakin menggoda. Ia tidak melepaskan kuncian tangannya di pinggang Lux, justru sengaja merapatkan pinggulnya lebih menempel pada paha Lux, membiarkan istrinya merasakan bukti nyata dari gairahnya yang sudah memuncak.

"Kau butuh persiapan mental?" rayu Braxton dengan suara berbisik yang amat seksi di telinga Lux. "Kau tidak merasakannya, Lux? Tubuhku sudah bersiap dari tadi hanya karena melihatmu memakai baju kurang bahan ini."

Wajah Lux makin terbakar hebat. Sensasi keras dan hangat yang menekan pahanya membuat jantungnya berdegup segila-gilanya. Namun, sifat tegas dan gengsi tinggi Lux tidak hilang begitu saja. Ia mendorong dada Braxton sedikit lebih kuat, menatap suaminya dengan mata abu-abu yang berkilat penuh tantangan manis.

"Nanti malam, Braxton Desmon!" tegas Lux kekeuh, menaikkan dagunya. "Nanti malam... atau tidak sama sekali!"

Braxton membelalakkan matanya berpura-pura terkejut, lalu tertawa renyah—sebuah tawa dalam dan tampan yang membuat rasa canggung di antara mereka mencair sepenuhnya.

"Ancaman yang sangat kejam, Nyonya Desmon," ujar Braxton seraya menggelengkan kepalanya geli. Pria itu menyandarkan dahinya di dahi Lux, menatap mata istrinya dengan kasih sayang yang meluap. "Baiklah, aku mengalah. Nanti malam. Tapi ingat... begitu malam tiba, aku tidak akan menerima alasan atau penolakan apa pun lagi darimu."

"Deal," bisik Lux lembut, menyunggingkan senyum cantiknya seraya berjinjit dan mendaratkan kecupan singkat yang manis di pipi Braxton.

Braxton mengecup dahi Lux dengan mesra, lalu perlahan merilis kuncian tangannya, membiarkan istrinya melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan bersiap.

Saat sosok Lux menghilang di balik pintu kamar, Braxton menyandarkan punggungnya di sofa, menghembuskan napas panjang dengan senyum bahagian yang tak bisa disembunyikan dari wajahnya. Rona merah di pipinya masih tersisa, dan detak jantungnya masih berdegup kencang oleh romansa panas yang baru saja mereka lewati.

Sore itu di Penthouse mewah mereka, ciuman pertama dan rayuan liar telah mengunci janji manis yang tak lagi terelakkan.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

mohon maaf kalo nama Mommy Braxton Banyak Typo ya kak reader 🙏🏻

1
Mita Paramita
😍😍😍😍😍
Rosdianah 🌷: ma'aciww komentar nya kak 🥰🥰🥰
total 1 replies
Hennyy exo
pengen deh cowok yg kaya braxton🤭
Rosdianah 🌷: hihi🤭
total 1 replies
Hennyy exo
ihh makin suka thor🤭
Rosdianah 🌷: ma'aciww kak 🫶
total 1 replies
Hennyy exo
wow alurnya menarik dan penulisannya bagus
Hennyy exo
ihh greget banget ama braxton🤭
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu
nayla tsaqif
Istri AJ / mommy braxy zephir,, knp jd cherry,, 😌??
Rosdianah 🌷: huhuhu author typo 🙏🏻🙏🏻😭😭
total 2 replies
nayla tsaqif
Emg kak, soalnya daddy mommy braxton dulu king dan queen drama,, 😌
Rosdianah 🌷: wkkwk🤣
total 1 replies
Nita Kurniawati
yampun, part ini bikin AQ mewek 😭
semangat ya bang, buat meluluhkan hati Lux
Rosdianah 🌷: huhu ma'aciww komentar nya kak🫶
total 1 replies
Mia Camelia
batu ketemu batu ini mah🤣sama2 keras kepala🤔
Rosdianah 🌷: wkwkwk🤣
total 1 replies
Feni sang penulis novel
kakak maaf ya tadi aku salah menyebutin novel judul aku maksud aku seperti ini judulnya adalah jalan menuju masa depan itu yang asli judulku
Feni sang penulis novel
assalamualaikum kak maaf ya aku kurang sopan aku izin berkomentar aku sudah membaca semuanya alurnya Saya suka dan saya ingin memberikan bintang 5 kalau boleh kalau kakak mengizinkan saya ingin sekaligus promosi juga di sini Saya mempunyai novel yang berjudul menuju jalan masa depan semoga kakak suka dan babnya juga ada 9 bab terima kasih
Mita Paramita
king drama nih Braxton 🤣🤣🤣
Rosdianah 🌷: wkwkwk Braxton Sama Braxley anak Daddy AJ ya kak. jangan lupa baca Cerita Braxley dijudul.sebelah🤭
total 1 replies
Mita Paramita
🔥🔥🔥
Rosdianah 🌷: Happy reading kak 🥳
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!