NovelToon NovelToon
Satu Hukuman, Dua Hati

Satu Hukuman, Dua Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: jihan dwi

Di tengah gemerlap kehidupan SMA favorit di kota, dua dunia yang bertolak belakang terpaksa bersinggungan karena sebuah keterlambatan di pagi yang terik.
Alya Saraswati adalah representasi dari perjuangan dan ketenangan. Parasnya yang cantik alami berpadu dengan sifatnya yang pendiam, dingin, dan sangat cerdas. Bagi Alya, SMA bukanlah tempat untuk memadukan tren atau mencari popularitas, melainkan medan pertempuran untuk mengubah takdir ekonomi keluarganya. Berada di kelas sosial bawah, tujuan hidupnya sangat tegas: belajar sekuat tenaga, lulus dengan nilai sempurna, lalu bekerja demi membawa keluarganya keluar dari garis kemiskinan.
Keseharian Alya yang tenang disemarakkan oleh dua sahabat karibnya Adel dan jesica dua gadis dari keluarga kelas menengah yang berisik, hiperaktif, ekstrovert, dan tidak bisa diam sebentar pun. Meski kontras, kedua sahabatnya inilah yang selalu menjadi pelindung dan hiburan di tengah beban hidup Alya.
Di sisi lain garis takdir, ada Devan Narendra. Tampan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jihan dwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15

Kabar tentang Devan Narendra yang mengikuti akun media sosial "Dapur Saras" milik Alya menyebar di koridor sekolah bagaikan api yang menyiram bensin. Di sudut kantin lantai atas, Clara sedang berkumpul dengan gengnya, menikmati es kopi premium sambil memamerkan kuku-kuku jarinya yang baru selesai dirawat. Namun, suasana santai itu pecah berantakan ketika salah satu temannya, Siska, menyodorkan ponsel dengan wajah panik.

"Clara, lo harus liat ini! Ini beneran akun aslinya Devan!" seru Siska agak tertahan.

Clara merebut ponsel itu dengan kasar. Begitu matanya membaca barisan notifikasi yang memperlihatkan akun centang biru tersembunyi milik Devan berada di daftar pengikut sebuah akun baru bersimbol kue dengan pengikut kurang dari seratus orang, wajah Clara seketika memerah padam. Napasnya memburu cepat, dan tangannya mengepal erat hingga kuku-kukunya memutih.

Kemarahan Clara yang sempat meredam sejak kejadian di lapangan tempo hari kini kembali memuncak hingga ke ubun-ubun. Rasa gengsi dan harga dirinya sebagai siswi paling populer dan kaya raya di sekolah serasa diinjak-injak. Akun media sosial miliknya yang memiliki belasan ribu pengikut, penuh dengan foto-foto liburan luar negeri dan barang mewah, bahkan tidak pernah dilirik atau di-*follback* oleh Devan sama sekali. Tapi sekarang, seorang Alya—gadis miskin dari pinggiran kota—bisa dengan mudah menarik perhatian cowok paling diincar itu hanya dengan modal foto kue pasar?

"Kurang ajar! Cewek kampung itu bener-bener gak tahu diri!" geram Clara dengan suara meninggi. Tanpa pikir panjang, ia menghentakkan gelas kopinya ke meja hingga isinya memercik, lalu berdiri dengan emosi yang sudah meluap. "Ikut gue sekarang ke kelas IPA 1. Gue bakal kasih dia pelajaran yang gak akan pernah dia lupain!"

Clara memimpin jalan dengan langkah kaki yang menghentak keras di sepanjang koridor, diikuti oleh ketiga temannya yang berwajah sinis. Para siswa yang berpapasan dengan mereka langsung menyingkir, tahu betul bahwa singa betina SMA Nusa Bangsa itu sedang mencari mangsa.

*Brak!*

Pintu kelas 11 IPA 1 digeser dengan sangat kasar hingga menghantam pembatasnya, menimbulkan suara dentuman yang mengejutkan seisi kelas yang masih tersisa di dalam ruangan. Beberapa murid yang sedang asyik mengobrol atau membaca buku langsung terdiam seketika, menatap ke arah pintu dengan pandangan tegang.

Clara melangkah masuk dengan dagu terangkat tinggi dan tatapan mata yang menghunus tajam langsung ke sudut belakang kelas, tempat di mana Alya sedang duduk tenang mencatat pesanan kue bersama Adel dan Jesica.

"Mana yang namanya juragan kue pasar?!" teriak Clara lantang, suaranya menggema memenuhi setiap sudut ruang kelas yang mendadak sunyi senyap.

Adel dan Jesica langsung berdiri dari kursi mereka dengan raut wajah waspada, mencoba memasang badan di depan meja Alya. Namun, Alya sendiri tetap duduk dengan tenang. Ia meletakkan pulpennya di atas meja dengan perlahan, lalu mendongak menatap kedatangan Clara tanpa ada secercah pun rasa takut di sepasang mata redupnya yang jernih.

Clara berjalan mendekat, lalu dengan kasar menggebrak meja belajar Alya. "Heh, Alya! Lo miskin ya miskin aja, gak usah bertingkah! Maksud lo apa hah, bikin postingan kue murahan kayak gini di medsos? Lo mau pamer kalau hidup lo serba kekurangan sampai harus jualan makanan kampung kayak begini ke anak-anak sini?"

Alya menatap tangan Clara yang masih menempel di mejanya, lalu perlahan mengalihkan pandangannya ke wajah Clara. "Kalau aku jualan kue, apa hubungannya sama kamu, Clara? Aku gak merugikan kamu ataupun pakai uang kamu buat modal."

"Oh, berani ya lo ngejawab?!" bentak Clara, matanya melotot tajam. "Gak merugikan kata lo? Lo itu merusak pemandangan tahu gak! Sekolah ini tempatnya anak-anak terhormat, bukan pasar tumpah tempat lo nyari recehan buat makan besok! Cacat banget mental lo, serendah itu hidup lo sampai harus ngemis-ngemis perhatian lewat jualan?!"

Cacian dan makian pedas terus meluncur dari bibir Clara tanpa henti. Ia menghina setiap detail usaha kecil yang sedang dirintis Alya untuk menyelamatkan pendidikannya. Teman-teman sekelas Alya hanya bisa menonton dengan tegang, tidak ada yang berani memotong amukan anak pemilik yayasan tersebut.

"Tapi yang paling bikin gue muak..." Clara mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap Alya dengan senyum meremehkan yang sarat akan kebencian. "Lo sengaja kan bikin akun itu buat caper ke Devan? Lo sengaja masang muka melas lo biar Devan kasihan terus *follow* akun medsos lo yang gak seberapa itu? Murahan banget cara lo! Akun gue yang *followers*-nya ribuan aja gak pernah di-*follback* sama Devan, terus lo pikir lo siapa bisa dapet perhatian dia? Jangan mimpi ketinggian, cewek miskin gak bakal pernah selevel sama pangeran!"

Jesica yang sudah tidak tahan mendengar hinaan itu berniat maju. "Heh, Clara! Jaga ya mulut lo—"

Namun, sebelum Jesica sempat menyelesaikan kalimatnya, Alya memegang lengan sahabatnya itu, memberi isyarat agar mundur.

Perlahan namun pasti, Alya berdiri dari kursinya. Postur tubuhnya tegak, tidak membungkuk ataupun bergetar sedikit pun di hadapan intimidasi Clara. Clara mungkin salah menilai orang. Alya Saraswati memang seorang gadis yang pendiam, tenang, dan selalu mengalah untuk hal-hal sepele demi menghindari keributan. Namun, Alya bukanlah tipe orang yang akan tinggal diam dan membiarkan harga dirinya beserta kehormatan keluarganya diinjak-injak begitu saja ketika ia tidak melakukan kesalahan apa pun. Alya memiliki prinsip hidup yang sangat kokoh: *selagi dia berada di jalur yang benar dan tidak bersalah, maka ia akan melawan dengan seluruh kemampuannya.*

Alya menatap lurus ke dalam manik mata Clara dengan pancaran mata yang begitu dingin dan mengintimidasi balik, membuat senyum meremehkan di wajah Clara mendadak memudar.

"Pertama, Clara," suara Alya terdengar sangat tenang, jernih, namun penuh penekanan yang berbobot hingga mampu membungkam suasana kelas. "Tidak ada yang salah dengan menjadi miskin, dan tidak ada yang memalukan dari mencari uang dengan cara yang halal. Aku tidak mencuri, aku tidak menipu, dan aku tidak mengemis pada siapa pun. Aku menggunakan tenagaku dan bakatku sendiri untuk bertahan hidup. Jadi, kata-kata kamu tentang 'rendah' justru berbalik menunjukkan bagaimana rendahnya cara kamu menilai manusia hanya dari isi dompetnya."

Clara tertegun sejenak, wajahnya mengencang karena terkejut mendengarkan bantahan berkelas dari Alya.

"Kedua," lanjut Alya, melangkah satu tapak maju yang membuat Clara refleks mundur setengah langkah. "Soal Devan Narendra mengikuti akun media sosialku, kamu salah alamat kalau marah-marah di sini. Bukan aku yang meminta dia untuk mengikuti akun jualan kuenya. Kalau kamu merasa tidak terima karena akun ribuan pengikutmu tidak pernah dia lirik, silakan kamu datangi Devan langsung dan tanyakan padanya. Jangan melampiaskan ketidakmampuan kamu menarik perhatian seorang cowok dengan cara mengamuk di kelas orang lain."

"Lo... lo berani-beraninya!" gagap Clara, wajahnya memerah padam karena malu dan marah yang bercampur aduk setelah kata-katanya dipatahkan secara telak di depan banyak murid kelas IPA 1.

"Aku hanya bicara kebenaran," pungkas Alya dengan nada suara yang tetap stabil tanpa emosi yang meledak-ledak. "Selagi aku tidak merugikan hidupmu, tolong keluar dari kelas ini. Aku masih punya banyak pesanan kue yang harus dicatat, dan waktuku terlalu berharga untuk meladeni drama kekanak-kanakan kamu."

Adel dan Jesica hampir saja bersorak riang melihat bagaimana Alya dengan sangat elegan meruntuhkan kesombongan Clara tanpa perlu mengeluarkan satu pun kata kasar. Sementara Clara berdiri mematung dengan napas tersengal, merasa benar-benar kalah telak di medan perang yang ia ciptakan sendiri.

1
Rini Riyanti
lanjut dong thor, suka sama ceritanya
fatih faa
lanjut terus kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!