**Keira Salim** tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah drastis dalam semalam.
Ayahnya masuk penjara karena judi, ibunya sakit keras, dan adik kembarnya baru saja menabrak mobil Bugatti milik pewaris konglomerat terbesar di Jakarta — **Rayhan Kurnia**.
Ganti rugi: dua ratus miliar rupiah.
Keira mendatanginya untuk negosiasi, tapi pria itu justru menatapnya dengan mata gelap yang tak terbaca, lalu berkata dengan santai:
*"Bayar pakai dirimu."*
*"Syarat pertama — jadi pacarku."*
Keira tahu ini gila. Tapi demi adiknya, demi ibunya, dia mengangguk.
Yang tidak Keira tahu: Rayhan sudah **mencintainya dalam diam selama sepuluh tahun** — sejak pertama kali melihatnya di trotoar saat mereka berusia delapan tahun.
Di balik wajah dingin dan sikap arogan itu, tersimpan ratusan surat cinta yang tak pernah dikirim, ribuan foto yang diam-diam diambil, dan sebuah ruangan rahasia yang dipenuhi jejak obsesi selama satu dekade.
Dia rela **mengorbankan mimpinya**, berlutut di hadapan ibunya yang kejam, dan **mempertaruhkan seribu miliar** — semua demi satu orang.
*"Selama Rayhan hidup, Keluarga Salim tidak akan jatuh."*
Tapi ketika Rayhan akhirnya kembali setelah lima tahun berjuang sendirian di luar negeri...
Keira menatapnya dengan mata kosong.
*"Maaf... apakah kita pernah saling kenal?"*
Dia sudah **melupakannya**.
Sepenuhnya.
---
**「Dia mencintainya sepuluh tahun dalam diam. Dia melupakannya dalam sekejap. Tapi cinta sejati tidak bisa dihapus — bahkan oleh waktu.」**
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Kembang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 8
Bab 8: Foto yang Dicuri
"Menjilatimu."
Keira hampir tersedak oleh jus yang baru masuk ke mulutnya.
Daisy akhirnya tertawa. Arya mengangkat tangan untuk menutup sudut bibirnya, sementara Darren hanya melirik Rayhan dengan tatapan yang sangat tipis. Telinga Keira memerah. Ia meraih bantal sofa dan melemparkannya ke dada Rayhan.
"Kau tidak boleh bicara begitu di depan orang lain."
Rayhan menangkap bantal itu, senyumnya malas. "Berarti kalau hanya berdua boleh?"
"Tidak!"
"Jawabanmu terlalu cepat lagi."
Sejak malam itu, Keira mulai memahami hal paling berbahaya dari Rayhan Kurnia. Bukan uangnya, bukan namanya, bukan juga caranya membuat Varian kehilangan senyum di depan satu gedung olahraga. Yang paling berbahaya adalah Rayhan selalu tahu bagaimana menyelipkan kebaikan kecil tepat saat Keira ingin membangun jarak.
Keesokan paginya, sebuah kantong sarapan sudah menunggu di depan kos. Ada bubur ayam tanpa bawang goreng, susu hangat, dan selembar sticky note.
Pacarku harus makan sebelum kelas.
Keira menatap tulisan itu lama sekali. Pada akhirnya, bubur itu tetap ia habiskan sampai suapan terakhir.
Kampus kembali berjalan seperti biasa, setidaknya di permukaan. Varian tidak muncul dengan tantangan baru. Tania tetap berdandan di kamar, tertawa bersama teman-temannya, dan bersikap seolah tidak pernah ada gelang giok atau pertandingan voli. Namun beberapa kali, Keira merasakan pandangan yang terlalu lama di punggungnya.
Kamis sore, UI mengadakan acara penghargaan untuk kompetisi akademik internal. Keira awalnya hanya diminta dosen menggantikan satu anggota tim yang sakit dalam lomba model fisika terapan. Ia tidak berharap apa-apa selain menyelesaikan tugas. Ternyata timnya menang juara satu.
Saat berdiri di panggung menerima sertifikat, Keira mendengar tepuk tangan dari bawah. Hatinya terasa tenang dengan cara yang asing. Ia bukan anak yang paling bersinar. Ia hanya anak yang terlalu sering dipaksa bertahan, sampai menang kecil pun terasa seperti pegangan hidup.
Sertifikat, hadiah uang, pujian dosen, semuanya bisa ia genggam. Tidak seperti rumah. Tidak seperti rasa aman. Tidak seperti masa lalu yang pernah hilang karena Hendra memilih judi dibanding keluarganya sendiri.
Begitu keluar dari aula, Tina dan Sania langsung mengapitnya.
"Kei, traktir dong!" Sania tertawa lebar. "Juara satu harus traktir es kopi."
"Hadiah uangnya belum cair," kata Keira.
Tina merangkul lengannya. "Tidak apa-apa, kami traktir kamu dulu. Nanti kalau kamu sudah jadi orang kaya, ingat kami."
"Aku belum jadi orang kaya."
"Pacarmu sudah cukup kaya untuk satu RT," gumam Sania.
Keira baru hendak menyuruhnya diam ketika ponselnya bergetar.
Parkiran belakang.
Pesan Rayhan selalu pendek seperti perintah. Keira menatap layar, lalu menatap Tina dan Sania. Dua teman sekamarnya langsung memasang ekspresi mengerti.
"Kami pulang duluan," kata Tina.
"Jangan pulang terlalu malam, Mbak Keira," goda Sania.
"Sania."
Keira tersenyum pasrah, lalu berbalik menuju parkiran belakang.
Ia tidak melihat Tania yang berdiri di sudut tangga sambil pura-pura merapikan lipstik. Cermin bedak di tangannya menghadap ke wajah, tetapi kamera ponselnya terbuka di balik buku catatan. Dari sudut itu, Tania bisa melihat Keira berjalan ke arah sebuah Rolls Royce hitam yang berhenti di bawah pohon.
Pintu belakang mobil terbuka dari dalam. Rayhan mengulurkan tangan, menarik Keira masuk, lalu telapak tangannya sempat terlihat berada di sisi pinggang Keira saat membantu gadis itu duduk.
Sudutnya sempurna.
Tidak ada yang bisa melihat percakapan di dalam mobil. Yang terlihat hanya mahasiswi sederhana, mobil mewah, tangan laki-laki di pinggang, dan gerakan Keira yang menunduk masuk ke kursi belakang. Cukup untuk membuat forum kampus menulis cerita sendiri.
Tania menekan tombol rekam. Senyumnya pelan-pelan muncul.
Di dalam mobil, Keira masih mengatur napas.
"Kau tidak bisa selalu memanggilku mendadak seperti ini."
Rayhan meletakkan sebuah map dokumen ke pangkuannya. "Hadiah."
"Aku cuma menang kompetisi kecil. Aku tidak perlu hadiah."
"Kecil menurut siapa?"
Keira membuka map itu. Ia mengira isinya bunga, perhiasan, atau sesuatu yang mahal tetapi tidak ia butuhkan. Namun saat lembar pertama keluar, jarinya langsung berhenti.
Sertifikat Hak Milik.
Alamatnya di Bekasi.
Keira membaca baris demi baris sampai menemukan nama jalan yang ia kira tidak akan pernah ia sentuh lagi. Rumah lama keluarga Salim. Rumah kecil dengan pohon mangga di depan, dinding yang selalu rembes saat musim hujan, dapur sempit yang sering dikeluhkan Mama Liana, dan sudut ruang tamu tempat Kelvin pernah jatuh sampai dahinya berdarah.
Nama pemilik tertulis jelas.
Keira Salim.
Jari Keira mulai gemetar.
"Rayhan..."
"Aku membelinya kembali."
"Kenapa?"
"Karena waktu kau melihat gelang itu, matamu seperti orang yang kehilangan rumah dua kali."
Keira mengangkat wajah. Untuk beberapa detik, ia tidak bisa membentuk kalimat.
Rayhan seperti sudah tahu ia akan begitu. Ia mengambil sertifikat itu dari tangannya sebentar, meluruskannya agar tidak kusut, lalu mengembalikannya dengan hati-hati.
"Rumah itu tidak besar. Kondisinya juga harus direnovasi. Tapi tanah dan bangunannya sudah atas namamu. Tidak ada Hendra, tidak ada utang, tidak ada orang yang bisa menjualnya lagi."
Mata Keira panas.
"Ini terlalu mahal."
"Tidak semahal air matamu."
"Jangan selalu berkata begitu."
"Kalau tidak suka, aku ganti kalimat." Rayhan menatapnya, suaranya lebih pelan. "Keira tidak akan pernah kehilangan rumah lagi."
Kalimat itu lebih berbahaya daripada ciuman.
Keira menunduk. Air matanya jatuh ke tepi map dokumen. Ia cepat menghapusnya, tetapi Rayhan sudah melihat. Kali ini laki-laki itu tidak menggodanya. Ia membuka laci kecil mobil, mengambil tisu, lalu menyelipkannya ke tangan Keira.
"Aku belum tahu harus membalasmu dengan apa," ucap Keira serak.
"Jadi pacarku dengan sedikit lebih serius."
"Aku sudah jadi pacarmu."
"Belum." Rayhan mendekat sedikit, menyelipkan rambut yang jatuh di sisi wajah Keira ke belakang telinganya. "Kau masih selalu siap berlari."
Keira menggenggam sertifikat itu tanpa membantah.
"Aku tidak tahu caranya tidak berlari," katanya akhirnya. "Setiap kali ada sesuatu yang terlihat terlalu baik, biasanya setelah itu ada yang diambil dari hidupku."
Rayhan terdiam. Untuk pertama kalinya sore itu, senyum malasnya hilang.
"Kalau begitu jangan percaya rumah ini dulu," katanya. "Percaya kertasnya. Percaya namamu di sana. Kalau kau belum bisa percaya aku, tidak apa-apa."
Keira menatap sertifikat di pangkuannya. Nama Keira Salim tercetak rapi, lebih tegas daripada semua ketakutannya.
"Tapi aku ingin," ucapnya pelan.
"Ingin apa?"
"Belajar percaya."
Rayhan menatapnya lama, lalu hanya mengangguk. Ia tidak menyentuhnya lagi, seolah kalimat itu terlalu rapuh untuk diganggu.
Di luar mobil, Tania menyimpan video dan mengambil beberapa tangkapan layar paling ambigu. Ia tidak langsung mengunggahnya. Kartu bagus harus dimainkan saat penontonnya paling banyak.
Ia mengirim pesan pada Cindy Song.
Aku punya sesuatu tentang Keira.
Beberapa detik kemudian, Cindy membalas.
Kirim.
Tania menatap Rolls Royce di kejauhan. Kali ini, senyumnya tidak lagi ia sembunyikan.
Keira, kali ini lihat siapa yang masih percaya wajah polosmu.