Amanda yang seorang guru, dihadapkan pada lika-liku sekolah yang semakin hari semakin kehilangan arahnya.
Beban tanggung jawabnya sebagai wali kelas 1A benar-benar tak mudah, karena ia juga mendapatkan tekanan dari berbagai sisi, hingga membuatnya stress dan frustasi.
Disaat Amanda sedang pusing menghadapi berbagai masalah dalam sekolah tempatnya mengajar dan juga masalah bersama sang mantan yang masih kekeh meminta balikan dengannya.
Pertemuanya yang tak terduga dengan Reihan yang merupakan kakak dari salah satu muridnya menambah drama baru dihidupnya.
Membangkitkan kembali kenangan masa kecil yang telah terkubur lama ditambah bayang-bayang masa lalu antara dirinya dan Aqila, teman Reihan membuat hubungan mereka jadi penuh drama.
Kira-kira apa yang terjadi di antara mereka? Apa yang membuat Amanda sampai terlibat dengan Reihan dan Aqila?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Biru_Muda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mendapat Tekanan
Hukuman yang Amanda berikan hanya bertujuan untuk memberikan efek jera bagi murid yang bermasalah. Mengingat perilaku mereka yang sudah kelewatan, jadi sudah seharusnya untuk di disiplinkan.
Sebagai wali kelas mereka, Amanda harus tegas agar mereka tidak lagi bersikap kurang ajar. Walau ia tahu hal ini akan membuatnya terkena masalah, karena sudah dengan berani menghukum murid yang seharusnya tak boleh dia sentuh.
Namun, Amanda menolak untuk patuh, mengingat apa yang sudah ia lakukan adalah tindakan yang wajar sebagai seorang wali kelas.
Hukuman yang ia berikan pada mereka pun tidak begitu berat, hanya meminta mereka untuk membersihkan gudang belakang sekolah ditambah menulis surat penyesalan atas sikap mereka yang tak sopan.
Tapi, tiba-tiba saja kepala sekolah meminta Amanda untuk mencabut hukuman yang ia berikan pada Karina dan Sofia tepat saat anak-anak akan pulang sekolah. Mengingat hukuman yang ia berikan pada mereka adalah dengan membersihkan gudang sekolah setelah jam pulang sekolah.
"Kenapa anda menghukum mereka bu Amanda?" Ucap kepala sekolah langsung pada intinya ketika memanggil Amanda keruangannya.
"Karena mereka bersalah, pak." Jawab Amanda.
"Apa anda tidak tahu siapa orang tua mereka?" Tanya kepala sekolah sekali lagi.
"Saya tahu pak." Amanda sangat mengetahui betul tentang siapa kedua orang tua Karina dan Sofia.
Kedua orang tua Karina dan Sofia adalah salah satu penyumbang dana terbesar bagi SMA Mutiara.
"Kalau sudah tau, kenapa anda masih menghukum mereka?" Kepala sekolah terlihat marah pada Amanda.
"Saya menghukum mereka karena mereka bersalah, pak." Jawab Amanda menjelaskan alasan dirinya menghukum Karina dan Sofia.
"Bu Amanda, saya ingatkan sekali lagi. Tolong cabut hukuman untuk keduanya." Tekan pak kepala sekolah agar Amanda mencabut hukuman bagi keduanya.
"Hukuman yang saya berikan masih tergolong ringan, seharusnya hal ini masih aman untuk mereka lakukan." Amanda tak mau menyerah.
"Ini bukan soal ringan atau berat! Tapi, ini soal sekolah kita yang akan kena imbasnya akibat anda menghukum mereka!!" Tekan pak kepala sekolah.
"Saya tidak tahu ternyata pak kepala sekolah lebih takut dengan orang tua murid dibanding menegakkan peraturan sekolah yang sudah sangat jelas melarang adanya kekerasan dalam sekolah." Amanda terlihat kecewa dengan sikap kepala sekolah yang terkesan tak tegas.
"Apa anda bilang?" Pak kepala sekolah merasa tak terima.
"Terimakasih atas sarannya pak, tapi hukuman itu tidak akan saya cabut demi kebaikan mereka sendiri. " Ucap Amanda yang kemudian memilih keluar begitu saja dari ruangan kepala sekolah, meski kepala sekolah memintanya untuk tetap duduk ditempat karena merasa pembicaraan mereka belum selesai.
Amanda memilih tetap keluar karena merasa pembicaraan mereka sudah selesai. Ia berjalan keluar dari ruangan kepala sekolah dengan perasaan berkecamuk.
Jika ia membatalkan hukuman itu, maka akan semakin membuat mereka bersikap angkuh. Karena itu, Amanda mencoba untuk bersikap lebih tegas pada mereka.
Huft...
Amanda menghela nafas panjang mencoba untuk merilekskan diri dari tekanan. Berjalan dengan perlahan menuju ruangan guru. Begitu sampai ia sudah disambut oleh bu Anggi, salah satu rekannya. Yang menanyakan tentang pertemuannya dengan kepala sekolah.
Ternyata semua guru sudah menyadari bahwa Amanda pasti akan mendapatkan masalah setelah menghukum anak yang seharusnya tak boleh disentuh itu, karenanya banyak yang menghawatirkan keadaan Amanda.
"Terimakasih atas perhatiannya, bu Anggi. Saya tidak kenapa-napa kok." Ucap Amanda menenangkan bu Anggi dan yang lainnya.
"Duh, syukurlah ya bu kalau begitu." Bu Anggi ikut merasa lega mendengarnya.
Wajar jika semua menghawatirkan keadaan Amanda, mengingat sudah ada guru yang pernah mendapatkan hukuman dari kepala sekolah akibat bersikap keras pada Karina dan Sofia.
Akibat kejadian itu membuat proses belajar mengajar disekolah ini menjadi tak tenang dan membuat banyak guru jadi bersikap lebih hati-hati kepada mereka berdua.
Amanda sangat menyadari hal itu, namun ia tetap berpegang teguh pada pendiriannya dan mencoba untuk tegas demi menciptakan kedamaian lagi dalam sekolah ini yang berubah semenjak adanya mereka.
"Semoga saja mereka tak kembali berulah." Ujar Amanda berharap Karina dan Sofia tak lagi membuat masalah baru.