Genki Harto, pewaris tunggal konglomerat terkaya se-Asia, baru berusia tiga tahun. Tapi setiap malam, dia mengemas baju-baju kecilnya ke dalam buntalan kain usang dan berjalan keluar gerbang mansion.
"Genki mau cari Mama."
Tidak ada yang bisa menghentikannya — bukan pengawal, bukan pengasuh, bukan ayahnya sendiri, Rayhan Harto, CEO yang membuat seluruh dunia bisnis tunduk. Satu-satunya hal yang bisa membuat Genki berhenti menangis... adalah seorang perempuan biasa bernama Keira.
Keira Yanto. Anak angkat yang selalu dianggap rendah oleh keluarganya sendiri. Desainer muda yang terbiasa menelan kepahitan dalam diam. Perempuan yang tidak ingat apa yang terjadi padanya empat tahun lalu — satu tahun penuh yang lenyap dari ingatannya.
Tapi Genki tahu. Entah bagaimana, anak kecil itu tahu.
Dia menolak semua orang, kecuali Keira. Dia memeluk Keira seperti sudah mengenalnya seumur hidup. Dan saat Rayhan mulai menyelidiki masa lalu Keira yang hilang, kebenaran yang muncul jauh lebih mengerikan dari yang ia bayangkan:
Keira bukan siapa yang ia kira.
Genki bukan anak siapa yang semua orang sangka.
Dan orang-orang yang selama ini tersenyum di hadapan Keira... adalah dalang di balik segalanya.
"Kamu bilang aku cuma anak angkat? Lihat baik-baik siapa yang sebenarnya berdiri di depanmu."
Saat identitas asli Keira terungkap, dunia mereka semua akan terbalik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lumisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 7
Bab 7: Suara Bayi dalam Mimpi
Perubahan di Vila Biru mula-mula muncul dari hal kecil.
Genki tidak lagi menaruh buntalan kecil di dekat pintu kamar setiap pagi. Benda itu masih ada, tentu saja. Ia belum mau menyimpannya di lemari. Tetapi sekarang buntalan itu duduk di kursi kecil dekat meja gambar, seperti teman yang menunggu, bukan barang yang siap dibawa kabur.
Pada hari ketiga Keira menjemputnya, Genki membawa gambar baru.
"Ini Kak Kei," katanya bangga.
Keira menatap kertas itu. Di sana, perempuan bergaun putih digambar dengan rambut sangat panjang, mata bulat, dan tangan besar yang menggandeng anak kecil.
"Tanganku besar sekali."
"Biar bisa pegang Genki."
Keira kehilangan kata-kata.
Rayhan yang berdiri di belakang mereka menatap gambar itu sebentar. "Mana Papa?"
Genki menunjuk sudut kanan bawah. Ada bentuk tinggi berwarna hitam, nyaris tertutup pohon.
"Ini Papa."
"Kenapa Papa jauh?"
"Papa kerja."
Gio yang kebetulan lewat menunduk terlalu cepat. Keira menggigit bibir agar tidak tertawa. Rayhan menatap anaknya cukup lama, lalu berkata datar, "Besok gambar Papa lebih dekat."
Genki berpikir. "Kalau Papa pulang cepat."
Sejak hari itu, Rayhan mulai pulang lebih awal.
Tidak selalu. Harto Group tetap menelannya dengan rapat, telepon, dan laporan yang seolah tidak pernah habis. Tetapi beberapa sore, ketika Keira mengantar Genki pulang, mobil hitam Rayhan sudah ada di garasi. Pria itu tidak banyak bicara. Ia hanya berdiri di ruang keluarga atau duduk dengan tablet di tangan, seolah kebetulan berada di sana.
Genki tidak tertipu.
"Papa nunggu Kak Kei juga?"
Rayhan menyesap kopinya. "Papa menunggu Genki."
"Tapi Papa lihat Kak Kei."
Keira hampir menjatuhkan kotak pensil yang sedang ia rapikan.
"Genki," Rayhan memperingatkan.
"Genki lihat."
"Mata Genki terlalu sibuk."
"Mata Papa juga."
Untuk pertama kalinya, Keira melihat Gio benar-benar batuk.
Sore itu, hujan turun sebelum mereka sempat keluar dari Vila Biru. Langit Menteng menjadi abu-abu, air menetes di kaca besar ruang keluarga. Genki menempel di jendela, kecewa karena tidak bisa bermain di taman.
"Kak Kei bisa bikin kue?" tanyanya tiba-tiba.
"Bisa sedikit."
"Bikin."
Rayhan mengangkat wajah dari tabletnya. "Genki, jangan memerintah."
Genki segera mengubah nada. "Kak Kei, tolong bikin kue."
Keira tertawa pelan. "Kalau dapur mengizinkan."
Dapur Vila Biru terlalu rapi untuk disebut dapur rumah biasa. Semua alat tersusun seperti studio memasak. Pengasuh dan staf rumah tampak cemas saat Keira meminta tepung, mentega, telur, dan cokelat chip. Mereka mungkin lebih terbiasa menerima instruksi chef daripada melihat tamu perempuan menggulung lengan baju.
Genki berdiri di kursi kecil, memakai apron kebesaran. Hidungnya sudah kena tepung sebelum adonan jadi.
"Genki bantu."
"Bantu aduk, bukan makan cokelatnya."
"Genki cek rasa."
"Cokelatnya belum jadi kue."
"Tapi sudah enak."
Keira tertawa. Suara itu membuat dapur terasa berbeda. Lebih hangat. Lebih hidup. Staf yang awalnya tegang mulai tersenyum diam-diam.
Rayhan berdiri di ambang pintu.
Ia seharusnya menerima panggilan dari Singapura lima menit lalu. Ponselnya sudah bergetar dua kali. Tetapi matanya tertahan pada Genki yang menepuk adonan dengan serius dan Keira yang membersihkan tepung di ujung hidung anak itu.
Adegan itu sederhana.
Terlalu sederhana untuk mengguncang seseorang seperti Rayhan Harto.
Namun dadanya terasa penuh.
Selama ini Vila Biru selalu bersih, aman, teratur. Tapi jarang terdengar tawa anak yang tidak dipaksa. Jarang ada tepung jatuh ke lantai tanpa membuat semua orang panik. Jarang ada seseorang yang bicara pada Genki bukan seperti menangani masalah, melainkan seperti menemani anak kecil hidup.
"Pak?" suara Gio terdengar pelan di belakangnya. "Panggilan dari Singapura."
Rayhan tidak langsung bergerak.
"Tunda lima belas menit."
Gio mengikuti arah pandangnya ke dapur, lalu mengerti. "Baik, Pak."
Malam itu, Genki menolak tidur kalau Keira belum membacakan cerita.
"Satu cerita saja," kata Keira.
"Dua."
"Satu."
"Satu panjang."
Rayhan yang bersandar di pintu kamar menyahut, "Dia sedang negosiasi."
Keira membuka buku bergambar tentang seekor anak kelinci yang mencari rumah. Begitu cerita dimulai, Genki merapat ke sisinya. Buntalan kecil ada di antara bantal, tetapi untuk pertama kalinya malam itu, tangan Genki tidak memegangnya. Ia memegang ujung lengan Keira.
Setelah separuh cerita, kelopak matanya mulai turun.
"Kelinci ketemu Mama?" gumamnya.
Keira berhenti sebentar.
Di halaman buku, anak kelinci akhirnya menemukan rumah penuh lampu kuning.
"Ketemu rumah," jawab Keira lembut. "Di rumah itu, ada yang sayang sama dia."
"Mama?"
Keira menatap wajah kecil itu. "Ada yang sayang."
Genki seperti ingin bertanya lagi, tetapi kantuk lebih cepat menang. Napasnya melambat. Tangannya masih menggenggam lengan Keira.
Keira menunggu beberapa menit sebelum pelan-pelan melepaskan diri. Rayhan mendekat tanpa suara, membetulkan selimut anaknya.
"Dia tidur lebih cepat kalau Anda yang membaca," katanya.
"Mungkin karena dia capek membuat kue."
"Mungkin."
Mereka berdiri berdampingan di dekat tempat tidur Genki. Lampu tidur memantulkan cahaya hangat pada wajah anak itu. Untuk beberapa detik, keduanya sama-sama diam.
"Terima kasih," kata Rayhan.
Keira menoleh. "Untuk apa?"
"Karena tidak membuatnya merasa merepotkan."
Kalimat itu terlalu tenang, tetapi Keira bisa mendengar luka di bawahnya.
"Anak sekecil Genki tidak seharusnya merasa dirinya merepotkan," jawabnya.
Rayhan menatapnya lama. "Tidak semua orang berpikir begitu."
Keira tidak tahu harus membalas apa.
Malam sudah cukup larut ketika ia pulang. Hujan berhenti, tetapi jalan masih basah. Di dalam mobil, aroma kue cokelat masih melekat di lengan bajunya. Ia menyandarkan kepala ke jendela, merasa lelah dengan cara yang aneh. Bukan lelah karena bekerja. Lebih seperti setelah memeluk sesuatu yang rapuh terlalu lama.
Di kamarnya, Keira tertidur hampir begitu menyentuh bantal.
Lalu suara itu datang.
Tangisan bayi.
Awalnya jauh, seperti dari balik dinding tebal. Lalu makin dekat. Makin putus asa. Keira berdiri di sebuah ruangan putih yang tidak ia kenal. Bau antiseptik menusuk hidung. Lampu di atas kepalanya terlalu terang.
Ada bayi menangis.
Ia mencoba mencari sumber suara itu, tetapi kakinya terasa berat. Tirai putih bergerak tertiup angin yang tidak ada. Di balik tirai, bayangan kecil menggeliat.
"Tunggu," bisik Keira dalam mimpi. "Aku di sini."
Ia berlari, tetapi jarak itu tidak habis-habis. Tangisan bayi berubah serak. Keira mengulurkan tangan, hampir menyentuh kain pembungkus kecil.
Lalu seseorang menarik bayi itu menjauh.
Keira terbangun dengan napas tersengal.
Kamarnya gelap. Ponselnya menunjukkan pukul tiga lewat dua belas. Tidak ada bayi. Tidak ada tirai putih. Tidak ada bau antiseptik.
Tetapi dadanya sakit.
Di pipinya, ada air mata yang tidak ia ingat kapan jatuh.
Keira duduk lama di tepi tempat tidur, kedua tangan menekan dada. Dari semua mimpi buruk yang pernah ia alami, mimpi ini terasa paling asing.
Dan paling seperti kehilangan.
Pagi harinya, di ruang kerja Vila Biru, Rayhan menatap Gio dengan wajah tanpa ekspresi.
"Cari tahu latar belakang Keira Yanto," katanya.
Gio mengangguk. "Sejauh apa, Pak?"
Rayhan teringat cara Keira berdiri di sisi ranjang Genki semalam. Cara wajahnya berubah saat anak itu bertanya tentang Mama.
"Semuanya."