Raya Aprillia Safitri tidak pernah membayangkan bahwa hari yang seharusnya menjadi awal kebahagiaannya justru berubah menjadi awal dari kehancurannya.
Demi baktinya kepada sang ayah, Raya menerima perjodohan dengan seorang pria bernama Kamil. Ia menekan segala keraguan, meyakinkan dirinya bahwa pernikahan bisa tumbuh seiring waktu. Namun, takdir berkata lain.
Baru saja ijab kabul dinyatakan sah, belum sempat Raya menghela napas lega sebagai seorang istri, satu kata menghancurkan segalanya.
Talak.
Di hadapan saksi. Di detik yang sama ketika statusnya berubah menjadi seorang istri, ia juga sekaligus menjadi wanita yang diceraikan.
Lebih menyakitkan lagi, ayah yang begitu ia cintai tumbang saat itu juga, tak kuat menahan kenyataan pahit yang terjadi di depan matanya… dan menghembuskan napas terakhirnya.
Di tengah duka dan kehancuran, Raya hanya bisa terpaku… sementara Kamil berdiri dengan senyum penuh kemenangan, seolah semua ini adalah bagian dari rencana yang telah lama ia susun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Barra Ayazzio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13. Amarah Kamil
Suara pintu ambulans tertutup terdengar pelan, namun terasa begitu berat di telinga semua orang yang berdiri di sana.
Jenazah Bu Aida telah terbujur rapi di dalam, tubuhnya diselimuti kain putih. Wajahnya yang tadi masih sempat dilihat, kini sudah tak terlihat lagi—menyisakan duka yang terasa menyesakkan.
Fathya langsung naik ke dalam ambulans dengan langkah tergesa. Begitu pintu dibuka, ia tak mampu lagi menahan dirinya. Ia merangkak mendekat, lalu memeluk tubuh ibunya yang sudah tak bernyawa.
"Maaa… Maaaa bangun, Maaa…” isaknya pecah, berulang-ulang, seperti menolak kenyataan yang ada di depannya.
Tangisnya tak pernah benar-benar berhenti.
Di sampingnya, Sarah duduk sambil menutup wajahnya. Air matanya terus mengalir tanpa suara, hanya sesekali terdengar isakan tertahan. Ninda, istri Iqbal, juga tak kalah terpukul. Ia menggenggam ujung pakaiannya sendiri, berusaha menahan tangis, namun tetap gagal—air matanya jatuh satu per satu.
Mereka bukan hanya kehilangan seorang mertua.
Mereka kehilangan sosok ibu.
Sosok yang selalu lembut, yang selalu menyambut dengan senyum, yang tak pernah membedakan menantu dari anak kandungnya sendiri.
Ambulans mulai berjalan perlahan meninggalkan rumah sakit.
Fathya masih memeluk tubuh ibunya erat, seakan takut kehilangan untuk kedua kalinya. Suaranya serak karena terlalu banyak menangis.
Sementara itu, Pak Hasan duduk di sisi lain, tubuhnya sedikit membungkuk. Kedua tangannya bertumpu di lutut, kepalanya tertunduk dalam.
Tak ada air mata yang jatuh.
Namun justru itulah yang membuat hatinya terasa lebih hancur.
Kepergian Bu Aida begitu tiba-tiba. Tanpa peringatan. Tanpa sempat berpamitan dengan layak.
Seolah sebagian dari hidupnya… ikut pergi bersama ambulans itu.
Di dekat kaki jenazah, Kamil duduk diam.
Kepalanya tertunduk, kedua tangannya saling menggenggam erat. Wajahnya tampak sedih—matanya memerah, rahangnya mengeras menahan emosi.
Namun di balik kesedihan itu… ada sesuatu yang lain.
Amarah.
Amarah yang perlahan tumbuh dan membesar di dalam dadanya.
Pikirannya terus berputar pada satu hal.
Postingan itu.
Obrolan yang tersebar.
Yang mempermalukan keluarganya.
Yang membuat ibunya terpukul… hingga akhirnya—
Ia mengepalkan tangannya lebih kuat.
"Aku harus bikin perhitungan…” gumamnya pelan, nyaris tak terdengar di tengah suara tangis yang memenuhi ambulans.
Tatapannya berubah dingin.
"Karena postingan itu… mama meninggal.”
Ambulans terus melaju, membawa duka yang begitu dalam.
Namun tanpa disadari oleh yang lain…
Di dalam hati Kamil, bukan hanya kesedihan yang tumbuh.
Tapi juga… dendam yang mulai mencari arah.
Ambulans akhirnya berhenti di depan rumah duka. Suasana sudah dipenuhi pelayat yang berdatangan sejak kabar meninggalnya Bu Aida tersebar. Beberapa tetangga dan kerabat berdiri dengan wajah sendu, menyambut kedatangan jenazah dengan ucapan lirih, “Innalillahi wa inna ilaihi rajiun…”
Saat pintu ambulans dibuka, tangis kembali pecah.
Jenazah Bu Aida diturunkan dengan hati-hati, lalu dibawa masuk ke dalam rumah. Fathya kembali tak kuasa menahan diri. Ia berjalan mengikuti, sesekali terhuyung, ditopang oleh Sarah dan Ninda di kanan kirinya.
Begitu sampai di dalam, jenazah langsung dipersiapkan untuk dimandikan.
Beberapa ibu-ibu yang sudah berpengalaman mengambil alih proses itu. Mereka melakukannya dengan penuh kehati-hatian dan penghormatan. Air mengalir pelan, membasuh tubuh Bu Aida untuk terakhir kalinya di dunia. Suasana di dalam ruangan itu hening, hanya terdengar suara air dan isak tangis yang sesekali pecah.
Di luar, para pelayat terus berdatangan.
Pak Hasan duduk di ruang tamu, menerima ucapan belasungkawa dengan wajah yang tampak kosong. Tatapannya jauh, seolah belum sepenuhnya sadar bahwa pendamping hidupnya telah benar-benar pergi.
Kamil berdiri di sudut ruangan, diam, memperhatikan orang-orang yang datang. Sesekali ia membalas ucapan, namun selebihnya ia tenggelam dalam pikirannya sendiri.
Tak lama, proses pemandian selesai.
Jenazah kemudian dikafani dengan kain putih, rapi, bersih, dan penuh penghormatan. Setelah itu, Bu Aida dibawa ke ruang utama untuk dishalatkan.
Shalat jenazah pun dilaksanakan.
Barisan laki-laki berdiri di depan, dipimpin oleh seorang ustaz. Takbir demi takbir dilantunkan, doa demi doa dipanjatkan. Suara yang terdengar lirih namun penuh harap, mengiringi kepergian seorang ibu yang dikenal baik oleh banyak orang.
Setelah itu, giliran para perempuan melaksanakan shalat jenazah.
Tangis kembali pecah, terutama dari Fathya, Sarah, dan Ninda. Mereka berdiri dengan tubuh yang sesekali bergetar, berusaha menyelesaikan shalat meski air mata tak berhenti mengalir.
Waktu terus berjalan.
Sesuai rencana, jenazah akan langsung dimakamkan sore itu juga. Tidak ada lagi keluarga yang perlu ditunggu. Semua sudah hadir… atau setidaknya, semua yang masih peduli.
Saat jenazah dibawa menuju pemakaman, suasana semakin sendu.
Langit tampak redup, seolah ikut berduka.
Orang-orang berjalan mengiringi, sebagian membaca doa, sebagian lagi hanya diam dengan pikiran masing-masing. Namun di antara langkah-langkah itu… terdengar juga bisik-bisik pelan.
"Yang kemarin viral itu, kan anaknya ya…”
"Iya, yang videonya beredar… katanya ini juga gara-gara itu…”
"Kasihan sih ibunya… mungkin kepikiran…”
Bisik-bisik itu menyebar seperti angin, pelan tapi terasa menusuk.
Kamil yang berjalan di antara para pelayat, rahangnya kembali mengeras. Ia mendengar. Jelas mendengar.
Namun ia memilih diam.
Matanya menatap lurus ke depan, tapi pikirannya dipenuhi oleh kemarahan yang kembali menyala.
Sementara itu, jenazah akhirnya sampai di pemakaman.
Liang lahat sudah disiapkan.
Tubuh Bu Aida perlahan diturunkan ke dalam tanah. Semua yang hadir menundukkan kepala. Fathya kembali menangis histeris, memanggil-manggil ibunya untuk terakhir kali.
Pak Hasan berdiri kaku di tepi liang. Saat tanah mulai ditimbun, akhirnya air mata itu jatuh juga. Satu… lalu semakin banyak.
Ia tak lagi mampu menahannya.
Selesai pemakaman, doa kembali dipanjatkan.
Namun suasana tak benar-benar tenang.
Duka bercampur dengan bisik-bisik yang belum berhenti. Tentang video yang viral kemarin… dan yang hari ini.
Tentang keluarga ini. Tentang aib yang tersebar. Dan di tengah semua itu…Kamil berdiri diam.
Tatapannya dingin, penuh tekad. Hari itu, ia bukan hanya menguburkan ibunya. Tapi juga… mulai mengubur sisa-sisa dirinya yang dulu.
***
Suasana di kantor tempat Kamil bekerja hari itu jauh dari kata normal. Biasanya terdengar riuh obrolan santai dan suara ketikan keyboard yang bersahutan, tapi sekarang… yang terdengar justru bisik-bisik penuh kegelisahan.
Kabar meninggalnya Bu Aida sudah sampai ke sana.
Beberapa karyawan berkumpul di satu sudut, wajah mereka serius. Ada yang duduk di kursi, ada yang berdiri sambil menyandarkan tubuh ke meja. Topik yang dibicarakan… hanya satu.
"Lik… ibunya Kamil meninggal karena serangan jantung,” ucap Tiara pelan, matanya menatap sahabatnya dengan ragu. “Jangan-jangan… karena lihat video yang lu upload di medsos, lho.”
Ucapan itu langsung membuat suasana semakin tegang.
Alika tampak sedikit tersentak, tapi ia buru-buru menepis.“Ah, nggak kali,” jawabnya cepat, meski nadanya tak begitu yakin. “Kan video itu baru tadi pagi. Bisa jadi karena yang kemarin. Yang tadi kan cuma obrolan doang. Walaupun… ya… di situ si Kamil ngomongnya emang nyebelin banget sih,” lanjutnya, sedikit membela diri. “Lagian maksud gue upload itu… biar dia sadar.”
Ia berusaha terdengar santai, meski jari-jarinya mulai saling menggenggam.
Beberapa orang saling pandang. Tak semua setuju, tapi juga tak ada yang langsung membantah.
"Padahal…” Gustian menghela napas pelan, "Tante Aida itu baik banget, lho. Jauh banget sama Kamil.”
"Iya, bener.” Ponco langsung menimpali, wajahnya terlihat tulus mengingat. “Gue pernah ke rumahnya. Wih… ramah banget. Nggak ada kesan galak sama sekali.”
"Emang keluarganya baik-baik,” sahut yang lain. "Cuma… si Kamil aja yang begitu.”
Kalimat itu menggantung, tapi semua paham maksudnya.
Sejenak suasana hening.
Ada rasa bersalah yang pelan-pelan merayap… terutama pada orang yang tadi mengunggah video itu. Ia mulai menunduk, pikirannya mungkin sedang berkelahi dengan penyesalan yang datang terlambat.
Ayu yang sejak tadi diam, akhirnya angkat bicara.
"Ya sudah… sepulang kantor kita ke sana aja,” ucapnya tegas. “Takziah. Bagaimanapun… dia ibunya teman kita.”
Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan nada sedikit getir,
"Walaupun temennya kelakuannya kayak gitu.”
Beberapa orang mengangguk.
"Iya… siap. Kita ke sana,” sahut yang lain.
"Bareng-bareng aja nanti.”
Meski ada semangat dalam jawaban mereka, suasana tetap tidak benar-benar ringan. Karena di balik niat baik untuk datang melayat, ada rasa tak nyaman yang tak bisa dihindari.
Sebuah pertanyaan yang diam-diam muncul di benak sebagian dari mereka—Apakah mereka… ikut punya andil?
mantappp