Bagi Adrian, Dira hanyalah seorang gadis jalanan yang pernah ia selamatkan. Namun bagi Dira, Adrian adalah alasan ia bertahan hidup, bangkit dari kemiskinan, dan mengubah takdirnya.
Malam itu, ia bertekad mengubah dirinya bukan sebagai gadis jalanan lagi, melainkan wanita yang siap melakukan apa saja demi memiliki pria yang telah menguasai hatinya.
"Sekecil apapun kesempatan itu, akan ku manfaatkan sebaik mungkin!" (Dira)
#CintaRomantis
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
3
Hari-hari Dira di yayasan dipenuhi dengan belajar. Karena selama ini pendidikannya tertinggal jauh, yayasan terlebih dahulu memberikan kelas pendamping agar ia mampu mengejar pelajaran yang seharusnya telah ia kuasai. Bu Emi dan para relawan membimbingnya dengan sabar, mulai dari membaca, berhitung, hingga mata pelajaran sekolah lainnya.
Awalnya, Dira sering kesulitan mengikuti pelajaran. Banyak hal yang terasa asing baginya. Namun, ia tidak pernah menyerah. Ia belajar sejak subuh sebelum berangkat ke sekolah. Sepulang sekolah, ia kembali membuka buku hingga larut malam. Saat anak-anak lain beristirahat, Dira masih menghafal rumus, mengerjakan soal, dan membaca buku yang dipinjam dari perpustakaan yayasan. Ia tahu kesempatan seperti ini tidak datang dua kali.
Setiap kali rasa lelah menghampiri, bayangan kehidupan lamanya kembali muncul di benaknya. Gubuk reyot berdinding kardus. Atap bocor yang membiarkan hujan masuk begitu saja. Perut yang sering kosong. Jeritan ayahnya yang mabuk. Tatapan para lelaki yang membuatnya selalu merasa tidak aman. Semua kenangan itu menjadi pengingat akan kehidupan yang tidak ingin ia jalani lagi.
"Aku tidak akan kembali ke sana," bisiknya berkali-kali setiap kali semangatnya mulai goyah. Kalimat sederhana itu menjadi bahan bakar yang mendorongnya untuk terus maju.
Sedikit demi sedikit, kerja kerasnya mulai membuahkan hasil. Nilai-nilainya meningkat, kemampuannya berkembang, dan ia mulai mampu menyamai teman-teman seusianya. Para guru di sekolah maupun para pembina di yayasan melihat sesuatu yang istimewa dalam diri Dira, kecerdasan yang selama ini tertutup oleh kerasnya kehidupan.
Dira akhirnya memahami bahwa pendidikan bukan sekadar jalan untuk mendapatkan pekerjaan. Pendidikan adalah jalan keluar dari kemiskinan, ketakutan, dan masa lalu yang selama ini membelenggunya.
Sejak saat itu, ia berjanji bahwa apa pun yang terjadi, ia akan terus melangkah maju. Ia tidak akan pernah membiarkan dirinya kembali terperangkap dalam kehidupan yang pernah hampir menghancurkan masa depannya.
***
Di sela-sela kesibukannya belajar, ada satu hal yang selalu dinantikan Dira. Kedatangan Adrian ke yayasan.
Sebagai putra keluarga pendiri yayasan, Adrian sesekali datang untuk meninjau kegiatan, berbincang dengan para pengurus, atau memastikan semua anak mendapatkan fasilitas yang layak. Kunjungannya tidak terlalu sering, tetapi cukup untuk membuat suasana yayasan menjadi lebih hidup.
Setiap kali mendengar kabar bahwa Adrian datang, jantung Dira selalu berdebar. Ia tidak pernah berani mendekat. Ia hanya mengamati dari kejauhan.
Terkadang Adrian berjalan melewati halaman sambil berbincang dengan Bu Emi. Terkadang ia menyapa anak-anak lain dengan senyum tipis atau menanyakan perkembangan yayasan. Sesekali pandangan mereka bertemu, dan Adrian hanya menganggukkan kepala sebagai sapaan yang sopan.
Bagi Adrian, Dira hanyalah salah satu dari banyak anak yang dibantu yayasan. Namun bagi Dira, itu sudah lebih dari cukup. Melihat lelaki itu dari kejauhan saja sudah mampu membuat hatinya terasa tenang.
Ia tidak berharap Adrian mengingatnya setiap saat. Ia juga tidak berharap mendapatkan perhatian khusus. Yang ia inginkan hanya satu. Suatu hari nanti, ketika Adrian melihatnya lagi, lelaki itu akan menyadari bahwa gadis jalanan yang pernah diselamatkannya tidak menyia-nyiakan kesempatan yang telah diberikan.
Dira ingin membuktikan bahwa pertolongan Adrian tidak sia-sia. Bahwa kepercayaan yang diberikan kepadanya telah berubah menjadi kerja keras, prestasi, dan kehidupan yang jauh lebih baik. "Suatu hari nanti..." bisik Dira sambil memandang sosok Adrian yang perlahan menjauh. "...aku ingin membuatmu bangga, Mas Adrian."
Tanpa disadarinya, keinginan sederhana untuk membuat penyelamatnya bangga perlahan tumbuh menjadi pusat dari seluruh impian dan arah hidupnya. Itulah benih pertama dari perasaan yang kelak akan berkembang jauh melampaui rasa syukur.
Dira sendiri tidak mengerti apa nama perasaan yang mulai tumbuh di dalam hatinya. Setiap kali Adrian datang ke yayasan, hari-harinya terasa lebih cerah. Namun jika seminggu berlalu tanpa melihat sosok lelaki itu, ia tanpa sadar mulai menunggu.
Saat mendengar suara mobil memasuki halaman, ia akan menoleh dengan harapan Adrian yang datang. Ketika langkah kaki terdengar di koridor, jantungnya berdegup lebih cepat. Namun berkali-kali pula ia harus menelan rasa kecewa karena yang datang hanyalah tamu lain atau para relawan yayasan.
Dira tidak pernah mengeluhkan hal itu. Ia hanya kembali belajar sambil menunggu kunjungan berikutnya. Ia bertanya-tanya pada dirinya sendiri, mengapa kehadiran satu orang bisa memengaruhi suasana hatinya sedemikian besar.
Mungkin karena selama enam belas tahun hidupnya, ia hampir tidak pernah merasakan kasih sayang dari sosok laki-laki yang seharusnya melindunginya. Ayahnya justru menjadi sumber ketakutan dan penderitaan. Lalu Adrian hadir. Bukan dengan janji-janji manis atau perhatian yang berlebihan, melainkan dengan satu tindakan yang mengubah seluruh hidupnya.
Ia menyelamatkan Dira ketika tak seorang pun datang menolong. Ia memberinya kesempatan untuk bersekolah, tempat tinggal yang aman, dan harapan untuk masa depan yang lebih baik. Bisa jadi, itulah sebabnya Dira begitu mudah menambatkan hatinya kepada Adrian.
Bagi Adrian, semua itu mungkin hanyalah bentuk kepedulian kepada seorang anak yang membutuhkan bantuan. Namun bagi Dira, kebaikan itu menjadi sesuatu yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.
Tanpa ia sadari, rasa syukur itu perlahan berubah menjadi rasa ingin selalu melihat Adrian, ingin diakui keberadaannya, dan ingin menjadi seseorang yang layak berada dalam pandangan lelaki tersebut. Perasaan itu masih begitu polos. Tetapi diam-diam, akarnya mulai tumbuh semakin dalam.
Namun, kebahagiaan kecil yang selama ini menjadi penyemangat Dira mendadak runtuh. Suatu sore, tanpa sengaja ia mendengar percakapan Bu Emi dengan salah seorang pengurus yayasan. "Pak Adrian berangkat ke Amerika minggu depan. Beliau akan fokus mengembangkan bisnis keluarga di sana."
"Berapa lama?"
"Belum tahu. Mungkin beberapa tahun. Tergantung perkembangan usahanya."
Kalimat itu membuat Dira membeku. Dadanya terasa sesak. Malam itu, ia tidak mampu berkonsentrasi belajar. Buku yang terbuka di hadapannya tak satu pun berhasil ia baca. Pikirannya terus dipenuhi oleh satu pertanyaan. Bagaimana jika ia tidak pernah bertemu Adrian lagi?
Selama ini, tanpa ia sadari, Adrian telah menjadi alasan terbesar di balik setiap langkahnya. Ketika ia lelah belajar, ia mengingat Adrian. Ketika nilai ujiannya jelek, ia bangkit karena ingin membuat Adrian bangga. Ketika masa lalunya menghantuinya, ia mengingat bahwa Adrian pernah percaya dirinya pantas mendapatkan kesempatan kedua.
Kini, lelaki itu akan pergi ke negeri yang begitu jauh. Jarak yang bahkan tak mampu dibayangkan oleh Dira.
Air matanya menetes tanpa bisa ditahan. "Kalau Mas Adrian pergi..." bisiknya lirih. "...apa aku masih bisa bertemu dengannya lagi?"
Pertanyaan itu terus menghantuinya. Untuk pertama kalinya, Dira menyadari bahwa semangatnya selama ini telah bertumpu terlalu besar pada satu orang. Ia bangkit karena Adrian. Ia belajar karena Adrian. Ia bermimpi karena Adrian. Dan kini, ketika Adrian pergi, ia merasa kehilangan arah.