NovelToon NovelToon
Suami Dadakanku Ternyata Bos Baruku

Suami Dadakanku Ternyata Bos Baruku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / CEO
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Anjay22

Aluna,seorang staf admintrasi bawahan, ia tidak menyangka kalau hidupnya akan berjungkar balik dalam waktu sehari .
Mendapat tekanan dari pekerjaan, niat hati ingin berkeluh kesah dan memeluk kekasiihnya namun kenyataan pahit ia terima kekasihnya berselingkuh didepan matanya.

Dengan derai air mata ia pulang kerumah namun lagi - lagi ia mendapati pemandangan yang memilukan Ayahnya bersimbah darah karena ulah kakak tirinya .

Hidup Aluna berubah menjadi mimpi buruk dalam semalam. Ayahnya kritis akibat dianiaya oleh kakak tirinya, dan kini Aluna terancam "dijual" untuk melunasi utang judi sang kakak.

Di ambang maut, sang ayah memohon satu hal: Aluna harus segera menikah agar punya pelindung.

Masalahnya, Aluna baru saja diselingkuhi dan menyandang status jomblo . Dalam kondisi panik dan terdesak di rumah sakit, ia nekat menarik lengan seorang pemuda asing yang kebetulan lewat. "Tolong, nikahi aku sekarang!"

Bagaiman kisah Aluna selanjutnya ? siapa sebenarnya suami dadakan Aluna ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perlindungan dan Mencari pekerjaan Sampingan

"Bram, tempatkan empat personel terbaik kita dengan pakaian sipil untuk memantau rumah paviliun selama dua puluh empat jam. Jangan sampai ada satu lalat pun yang mengganggu Aluna dan ayahnya tanpa seijinku." perintah Elvan tegas

"Siap, Tuan Muda. Perintah akan langsung dilaksanakan pagi ini juga," tegas Bram seraya mengangguk hormat.

"Satu hal lagi, Bram," sela Elvan sebelum Bram sempat berdiri. Nada suaranya mendadak turun satu oktaf, menjadi jauh lebih pekat dan menakutkan. "Bagaimana dengan Kafka dan kelompok rentenir yang sempat memeras Aluna?"

Bram menunduk sedikit. "Kafka saat ini sedang berusaha mencari pinjaman dana baru setelah usaha tokonya terancam bangkrut akibat pemutusan kontrak secara sepihak oleh beberapa distributor, yang secara tidak langsung telah kita atur. Sedangkan kelompok rentenir itu masih terus meneror rumah lama Pak Kusuma."

Elvan mengepalkan tangannya di atas meja hingga otot-otot lengannya menonjol tajam. "Kafka adalah orang yang dimanfaatkan oleh Herlina untuk merusak mental Aluna. Pria tidak tahu diri itu menganggap wanita bisa dibeli dengan uang dan tekanan. Aku tidak akan membiarkan pria semacam itu menghirup udara bebas terlalu lama."

"Apakah Anda ingin kami membereskannya secara langsung, Tuan Muda?"

"Tidak perlu mengotori tangan kita dengan cara kekerasan yang kasar," balas Elvan dingin. "Gunakan jalur hukum. Kafka memiliki rekam jejak penggelapan dana kecil-kecilan di perusahaan tempatnya bekerja dulu, bukan? Serahkan bukti-bukti itu ke pihak kepolisian. Pastikan dia diproses hukum atas tuduhan penipuan, penggelapan, dan pencemaran nama baik. Buat dia kehilangan seluruh asetnya hingga tak tersisa sepeser pun."

"Paham, Tuan Muda. Semuanya akan beres dalam waktu singkat," jawab Bram penuh keyakinan.

Setelah menyelesaikan pertemuannya dengan Bram, Elvan berjalan kembali menuju rumah paviliun. Matahar kini sudah naik lebih tinggi, memancarkan sinar hangat yang menyapu lanskap perumahan. Langkah kaki Elvan terasa lebih mantap. Rencana taktisnya sudah berjalan, umpan telah ditebarkan, dan perlindungan untuk Aluna telah dilapis ketat.

Namun, saat Elvan membuka pintu pagar depan dan melangkah masuk ke dalam rumah, ia melihat pemandangan yang membuat dadanya sedikit berdenyut.

Aluna sedang duduk di sofa ruang tengah. Di atas pangkuannya terdapat sebuah laptop tua dengan penutup yang sedikit terkelupas di bagian sudutnya. Wajah Aluna tampak begitu serius, namun tersirat kelelahan dan kecemasan yang mendalam dari garis bibirnya yang terkatup rapat. Matanya menatap tajam ke arah layar laptop yang menampilkan daftar lowongan pekerjaan.

Elvan melepaskan jaketnya, menggantungnya di rak dekat pintu, lalu melangkah mendekat dengan pelan. Ia mendudukkan diri di samping Aluna, membuat sofa empuk itu sedikit tertekan oleh bobot tubuhnya.

"Sedang melihat apa, Aluna? Tampaknya sangat serius," panggil Elvan lembut.

Aluna sedikit tersentak dari lamunannya. Ia menoleh ke arah Elvan, berusaha menyunggingkan senyum terbaiknya meski tidak mampu menutup penuh rasa gundah di matanya. Ia perlahan menurunkan layar laptopnya.

"Ah, Mas Elvan sudah pulang ..." ujar Aluna dengan suara yang agak serak. "Aku ... aku hanya sedang mencari beberapa pekerjaan sampingan sebagai penerjemah dokumen lepas atau penulis konten daring, Mas."

Elvan mengerutkan dahinya tipis. "Pekerjaan sampingan? Mengapa tiba-tiba mencari pekerjaan? Apakah biaya sehari-hari yang kuberikan kurang?"

Aluna menghela napas panjang, sebuah helaan napas yang berat dan penuh beban emosional yang selama ini ia tahan sendiri. Ia memandangi jemari tangannya yang saling bertautan di atas paha.

"Bukan begitu, Mas. Uang yang kamu berikan bahkan lebih dari cukup," jawab Aluna jujur, matanya mulai berkaca-kaca.

"Tapi ... aku tidak bisa terus-menerus hidup seperti ini, Mas. Aku merasa sangat tidak berguna. Sejak kita menikah mendadak di rumah sakit, kamu sudah menanggung biaya pengobatan Ayah yang sangat besar, meminjamkan rumah serba ada ini dari temanmu, dan memberikan uang makan setiap hari."

Aluna mendongak, menatap langsung ke dalam manik mata hitam Elvan. "Tabunganku sendiri sudah benar-benar habis untuk membayar deposit awal rumah sakit kemarin. Aku takut, Mas ... Aku takut jika suatu hari nanti temanmu meminta rumah ini kembali, atau jika pekerjaanmu terganggu karena terus-menerus mendampingiku di sini. Aku ingin memiliki penghasilan sendiri agar bisa membantumu."

Mendengar ketulusan dan kepolosan yang keluar dari mulut istrinya, ada rasa hangat sekaligus penyesalan yang membakar dada Elvan. Wanita di hadapannya ini begitu jujur, begitu berdedikasi untuk tidak menjadi beban, tanpa pernah menyadari bahwa pria yang dinikahinya adalah pemilik tunggal dari konglomerat raksasa yang menguasai aset triliunan rupiah.

Elvan mengulurkan tangannya, menjangkau kedua jemari Aluna yang dingin dan gemetaran, lalu menggegamnya erat dalam kehangatan telapak tangannya.

"Aluna, dengarkan aku," ucap Elvan dengan suara baritonnya yang sangat dalam, mantap, dan sarat akan kepastian. "Kamu adalah istriku. Menafkahi dirimu dan memastikan kesehatan ayahmu adalah kewajiban mutlakku sebagai seorang suami. Kamu bukan beban, dan tidak akan pernah menjadi beban."

Aluna menggigit bibir bawahnya, air mata yang ditahannya akhirnya menetes satu titik membasahi pipinya. "Tapi Mas ... sejujurnya ada hal lain yang selalu berputar di kepalaku ..."

"Apa itu?" tanya Elvan sabar.

Aluna menatap Elvan rapat-rapat, mencoba mencari kebenaran di balik kedalaman mata suaminya. "Kamu bilang kamu hanya pekerja serabutan dan memiliki proyek luar daerah. Tapi ... caramu berjalan, caramu berbicara saat mengambil keputusan, ketenanganku saat menghadapi ancaman rentenir dan Kafka ... bahkan baju-baju merk terkenal yang dibawa oleh temanmu kemarin ... Semuanya sama sekali tidak menunjukkan bahwa kamu adalah orang biasa."

Pertanyaan yang keluar dari mulut Aluna begitu polos namun menohok tepat di sasaran. Logika Aluna yang tajam mulai merangkai puzzle ketidaksesuaian antara identitas samaran Elvan dengan kenyataan gestur tubuhnya.

Ruangan itu mendadak hening selama beberapa detik. Hanya suara gemercik air kolam ikan di taman belakang yang terdengar samar-samar.

Elvan menatap istrinya tanpa mengalihkan pandangan sedikit pun. Ia tahu, makin lama ia menyimpan rahasia besar ini, makin besar risiko kekecewaan yang akan dirasakan Aluna jika mengetahui kebenarannya dari bibir orang lain, terutama dari kubu Nyonya Herlina.

Namun, mengungkapkan identitasnya sebagai pewaris tunggal Adhitama Group saat ini juga hanya akan membahayakan nyawa Aluna sebelum benteng pengamanannya selesai dibangun.

Dengan lembut, Elvan mengangkat tangan kanannya, mengusap air mata yang menetes di pipi mulus Aluna menggunakan ibu jarinya.

"Aluna," panggil Elvan dengan nada suara yang penuh kehangatan namun begitu mengikat. "Aku mengakui ... memang ada banyak hal tentang masa laluku dan kehidupanku yang belum sempat menceritakannya padamu. Kehidupanku di masa lalu sangat rumit, penuh dengan ancaman, dan orang-orang yang ingin menjatuhkanku."

Aluna menahan nafasnya, mendengarkan setiap kata yang diucapkan suaminya dengan dada berdebar.

"Tapi aku berjanji padamu, demi nama Tuhan dan demi kehormatanku sebagai seorang laki-laki," lanjut Elvan dengan tatapan mata yang membakar penuh kesungguhan. "Pada saat yang tepat nanti, ketika seluruh ancaman itu sudah kuselesaikan dan keadaan benar-benar aman, aku sendiri yang akan menceritakan setiap detail tentang siapa diriku sebenarnya, dari mana aku berasal, dan dunia seperti apa yang kumiliki."

Elvan mendekatkan wajahnya, menatap lurus ke dalam manik mata Aluna yang jernih. "Yang perlu kamu ketahui dan kamu percayai saat ini hanyalah satu hal: aku adalah Elvan, suamimu yang sah. Dan aku akan mempertaruhkan seluruh jiwa dan ragaku untuk melindungimu dan Ayah dari bahaya apa pun di muka bumi ini."

Kata-kata Elvan yang diucapkan dengan ketulusan yang begitu murni dan wibawa yang begitu mengagumkan perlahan-lahan merasuk ke dalam lubuk hati Aluna.

Keraguan, ketakutan, dan spekulasi liar yang sejak semalam memenuhi pikirannya mendadak luruh tak berbekas.

Ia bisa merasakan getaran kejujuran dari genggaman tangan Elvan yang hangat. Tidak peduli siapa Elvan di masa lalu, tidak peduli rahasia besar apa yang sedang disimpannya, pria ini adalah sosok nyata yang berdiri paling depan membentenginya saat seluruh dunianya hancur berkeping-keping.

Aluna mengangguk pelan. Ia menyunggingkan senyum tulusnya yang paling indah, lalu menyandarkan kepalanya di dada bidang Elvan, mendengarkan detak jantung suaminya yang berirama teratur dan menenangkan.

"Aku percaya padamu, Mas Elvan," bisik Aluna lembut di dada Elvan. "Aku akan menunggu hari itu tiba."

Elvan merangkul bahu Aluna erat, membenamkan wajahnya di rambut harum istrinya. Di dalam kegelapan ancaman yang kian mengepung dari luar, di dalam intrik berdarah perebutan harta Adhitama Group, Elvan telah menetapkan ikrar terbesarnya: ia akan meruntuhkan seluruh musuhnya tanpa sisa, demi menjaga kehangatan sederhana yang baru saja ia temukan di dalam pelukan wanita ini.

1
Lasa Hardianti
Mampir thorr😄
MayAyunda: terimkasih
total 1 replies
Indriani Kartini
perjalanan hidup akan baru di mulai, semangat
MayAyunda: terimkasih
total 1 replies
Indriani Kartini
semoga dia laki2 baik bisa menjaga dan melindungi aluna, dan nantinya akan saling jatuh cinta😍
MayAyunda: terimkasih kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!