NovelToon NovelToon
DxD : Sebagai Pawn Sona Sitri

DxD : Sebagai Pawn Sona Sitri

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Anak Genius
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Wahyudi0596

Tidak semua bidak catur bermimpi menjadi Raja. Yudi hanya ingin satu hal: bertahan hidup dan membangun wilayah kecilnya sendiri untuk kaum yang terbuang. Menjadi Pawn rendahan bagi Sona Sitri adalah langkah pertamanya. Dengan [Imperial Tiger Mantle] yang terikat di jiwanya, ia menahan auman sang harimau dan mengubahnya menjadi keheningan yang mencekik lawan.

update Harian 1 bab per harinya sambil menunggu keputusan kontrak., semoga berhasil ya, kalau udah fix dapet kontrak akan kembali normal. Kalau kelewat mungkin akan tambah satu bab di besoknya. semoga gak pernah terjadi dan kalian semua bisa terus membaca kisah ini dengan tenang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyudi0596, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 5

Sinar matahari pagi di pertengahan musim semi memandikan gerbang utama Akademi Kuoh dengan warna emas yang hangat. Kelopak-kelopak bunga sakura yang telah kehilangan masa puncaknya sesekali gugur, terbawa angin sepoi-sepoi yang berhembus melewati pepohonan rindang di sepanjang jalan masuk.

Suara langkah kaki, obrolan ringan, dan tawa dari ratusan siswa-siswi berseragam blazer hitam memenuhi udara, menciptakan simfoni khas kehidupan sekolah yang damai. Namun, pada pagi hari ini, atmosfer damai tersebut mendadak menguap, digantikan oleh tekanan udara yang terasa sangat berat dan menyesakkan.

Sebuah koridor tak kasat mata terbentuk di tengah jalan setapak menuju gedung utama. Ratusan siswa dan siswi secara refleks menepi, membelah lautan manusia menjadi dua sisi, memberikan ruang yang terlampau luas untuk dilalui oleh dua orang.

Tatapan mata dari setiap orang yang berdiri di pinggir jalan itu tidak lagi memancarkan keramahan, melainkan memancarkan aura permusuhan yang pekat. Jika tatapan mata bisa membunuh, puluhan pedang tak kasat mata telah menembus tubuh seorang pemuda yang berjalan perlahan di tengah kerumunan tersebut.

Yudi melangkah dengan kaku. Otot-otot di bahunya menegang hingga urat lehernya menonjol pelan. Tangannya yang tergantung bebas di sisi tubuh terus membuka dan menutup secara refleks. Keringat dingin menetes dari pangkal pelipisnya, meluncur turun melewati rahang, dan jatuh membasahi kerah seragamnya.

Matanya bergerak liar dari kiri ke kanan, menangkap ratusan pasang mata yang memicing tajam ke arahnya, lengkap dengan bunyi gemeretak gigi dan kepalan tangan yang mengeras dari para siswa laki-laki.

Alasan dari aura membunuh masal ini sangatlah sederhana. Di sebelah kanan Yudi, dengan jarak yang tidak lebih dari satu jengkal, berjalan sesosok gadis yang merupakan simbol absolut dari kedisiplinan dan otoritas di Akademi Kuoh.

Sona Sitri, Ketua OSIS sekaligus satu dari Yondai Oujousama yang paling dihormati, berjalan dengan punggung tegak dan pandangan lurus ke depan. Sepatu pantofel hitamnya berketuk konstan di atas paving block, seirama dengan langkah kaki Yudi yang tampak serabutan.

Bibir Yudi bergetar kecil. Ia menelan ludah dengan susah payah, jakunnya naik turun. Suara bisikan parau keluar dari celah bibirnya, nyaris tak terdengar di antara suara angin, "Uwah... aku bisa merasakan niat membunuh mereka. Memangnya aku salah apa? Perasaan aku hanya berjalan santai ke sekolah seperti biasa..."

Telinga Sona sedikit bergerak menangkap gumaman panik dari pemuda di sebelahnya. Dari sudut matanya di balik lensa kacamata, Sona melirik ke arah Yudi. Pemuda itu tampak pucat, tubuhnya condong sedikit menjauh seolah berusaha menciptakan jarak aman, namun tidak berani mempercepat atau memperlambat langkahnya.

Melihat tingkah laku canggung dari anggota keluarga barunya itu, ujung bibir Sona sedikit tertarik ke atas. Sebuah ide kecil yang sangat beresiko melintas di benaknya, layaknya seseorang yang dengan sengaja menuangkan satu galon bensin ke atas kobaran api unggun.

Tanpa mengubah tempo langkahnya, Sona mengangkat tangan kirinya secara perlahan. Lengan seragamnya sedikit bergesekan dengan blazer Yudi. Sesaat kemudian, jari-jari ramping Sona yang seputih pualam merayap di punggung tangan Yudi, sebelum akhirnya menyelusup masuk ke sela-sela jari pemuda itu.

Sona menggenggam telapak tangan Yudi dengan erat, mengunci jemari mereka satu sama lain di depan pandangan ratusan pasang mata. Mata Yudi seketika terbelalak lebar hingga seolah hampir melompat keluar dari rongganya.

Langkah kakinya tersandung udara kosong, memaksanya menyeimbangkan tubuh secara mendadak. Tubuhnya tersentak keras seakan baru saja tersengat aliran listrik bertegangan tinggi.

"O-O-Ojou-sama!" seru Yudi, suaranya pecah dan bergetar hebat. Kepalanya tertunduk tajam ke bawah, matanya membelalak tidak percaya ke arah pertautan tangan mereka. Jari-jari Sona terasa hangat dan lembut, namun bagi Yudi, genggaman itu terasa layaknya borgol algojo yang siap menariknya ke tiang gantungan.

"Apa... apa yang sedang kau lakukan?!" desis Yudi panik, berusaha menarik pelan tangannya, namun Sona justru mengencangkan cengkeramannya.

Akibat tindakan provokatif tersebut, udara di sekitar gerbang sekolah seolah menjadi hampa. Suara obrolan dari para siswa seketika mati. Selama tiga detik penuh, hanya ada keheningan.

Namun di detik keempat, aura membunuh yang sedari tadi sudah menguar kini meledak secara eksponensial. Suara kertakan buku jari yang sengaja dipatahkan terdengar bersahutan dari berbagai sudut. Beberapa siswa kelas tiga bahkan meremas tas mereka hingga tali kanvasnya putus. Tatapan mata mereka tidak lagi hanya memicing, melainkan melotot dengan urat-urat mata yang memerah.

Sona sama sekali tidak mempedulikan perubahan drastis pada tekanan udara di sekitarnya. Gadis bermata ungu itu justru mengangkat tangan kanannya yang bebas untuk menutupi mulutnya yang terbuka kecil. Ia menguap pelan, mata ungunya sedikit menyipit sayu, menampilkan ekspresi rentan yang tidak pernah ia tunjukkan di depan umum.

"Aku masih belum terlalu sadar, Yudi-san," ucap Sona. Nada suaranya dinaikkan sedikit agar terdengar lebih jelas oleh siswa-siswi yang berdiri paling dekat dengan mereka. Suaranya terdengar sedikit serak, khas seseorang yang kurang tidur.

"Aku baru saja bangun dari tidur yang panjang. Setidaknya... biarkan aku berpegangan tangan denganmu agar aku tidak tersesat atau terjatuh di jalan."

Yudi membeku. Lehernya menoleh kaku ke arah Sona. Bibirnya terbuka namun tidak ada suara yang keluar. Sona kembali menoleh ke depan, ekspresinya masih datar, namun sudut bibirnya kembali berkedut. "Lagipula... ini semua adalah karena dirimu yang terlalu liar semalam, sehingga aku harus membuang banyak energiku untuk melayanimu."

Kalimat terakhir itu diucapkan dengan intonasi yang sangat jelas dan lambat. Jarak para siswa mungkin terlalu jauh untuk mendengar percakapan mereka dengan sempurna akibat hembusan angin.

Namun, sungguh menakjubkan bagaimana insting bertahan hidup dan rasa penasaran manusia bisa mengasah indera mereka. Beberapa siswi dari klub jurnalis sekolah yang berdiri di barisan depan bahkan telah mengembangkan kemampuan luar biasa dalam membaca gerak bibir. Setiap suku kata yang keluar dari mulut Sona terjemahkan dengan sangat akurat dan menyebar seperti wabah virus melalui bisikan berantai ke seluruh penjuru gerbang akademi.

"Terlalu liar semalam?"

"Melayaninya?"

Dalam sekejap, gelombang kejut menghantam kerumunan. Wajah para siswi memerah padam, sementara para siswa laki-laki terlihat seperti baru saja menelan empedu mentah.

"Sialan... mati saja kau, bajingan keparat!" geram seorang siswa bertubuh gempal sambil menghentakkan sepatunya ke aspal.

"Kemarilah kau, bocah sialan! Biar aku yang membunuhmu dengan tanganku sendiri!" sahut siswa kelas tiga lainnya dari seberang jalan, tangannya merogoh ke dalam tas, entah mencari benda tumpul apa.

"Apa... apa sebenarnya yang dilakukan oleh bajingan itu pada Kaichou-sama kita sampai-sampai Sona-sama terlihat begitu lemas dan kurang tidur?!" seorang siswi dari komite kedisiplinan berteriak histeris, mencengkeram rok seragamnya dengan kuat.

Umpatan, makian, dan ancaman pembunuhan meletus serentak dari bibir para kaum Adam dan Hawa, merata dari siswa kelas satu hingga kelas tiga. Aura membunuh yang sebelumnya hanya menekan secara psikologis kini terasa memiliki bobot fisik. Udara di sekitar Yudi terasa semakin panas.

Pemuda itu hanya bisa menelan ludah berulang kali. Tubuhnya menegang bagai papan kayu. Ia tidak berani menoleh ke kiri maupun ke kanan, hanya fokus menatap aspal di bawah kakinya sambil terus melangkah mengikuti ritme tarikan tangan Sona, berharap perjalanannya menuju gedung utama ini segera berakhir.

Di sisi lain, Sona yang menjadi sumber segala kekacauan pagi itu, terlihat sangat menikmati situasi. Walaupun wajahnya tetap memasang topeng ketegasan yang dingin, namun ritme napasnya yang teratur dan genggaman tangannya yang santai menunjukkan dominasi penuh atas situasi.

Ia diam-diam mengamati reaksi kikuk dan keputusasaan di wajah keluarga barunya itu. Senyuman tipis yang sangat tersamar sempat menghiasi wajah cantiknya sebelum akhirnya kembali datar.

Begitu mereka mencapai area rak sepatu di depan pintu masuk gedung utama, tekanan dari kerumunan sedikit mereda karena aturan dilarang membuat keributan di dalam lorong sekolah. Sona menghentikan langkahnya. Secara alami, ia melepaskan tautan jari-jarinya dari telapak tangan Yudi.

Yudi langsung menarik tangannya dan memeluknya di depan dada, mengusap-usap telapak tangannya sendiri seolah mencari sisa-sisa kewarasan. Napasnya terengah-engah seakan ia baru saja berlari maraton sejauh sepuluh kilometer.

Sona berbalik menghadap Yudi. Ia mengangkat tangannya untuk membenarkan letak kacamatanya dengan jari telunjuk. "Mulai sekarang, biasakanlah dirimu dengan situasi seperti ini, Yudi-san," ucap Sona dengan nada otoriter yang biasa ia gunakan di ruang OSIS.

Tidak ada lagi sisa-sisa gadis mengantuk seperti beberapa menit yang lalu. "Dan ingat perintahku. Setelah jam istirahat pertama berbunyi, datanglah langsung ke ruang OSIS. Mengerti?"

Yudi tidak mampu membalas dengan kata-kata. Ia hanya menganggukkan kepalanya dengan kaku. Ekspresi wajahnya memancarkan kepasrahan absolut, sadar bahwa menolak perintah dari Tuan barunya adalah suatu hal yang mustahil.

Setelah memberikan perintah mutlaknya, Sona membalikkan badan dan melangkah pergi menyusuri lorong menuju ruang kelasnya di lantai tiga. Suara ketukan pantofelnya perlahan menjauh, meninggalkan Yudi sendirian di tengah lautan siswa yang masih melemparkan tatapan mematikan ke punggungnya.

1
Bayuon So7
anjirlah, kata garis miring ini kayak sebuah klu atau apa dah kok tetiba gitu ya😄
Bayuon So7
jantungan si Sona cuk🤭
Bayuon So7
ini reaksinya kayaknya lebih natural dari yang sebelumnya, karena gua bacanya juga kagum cuy am kekuatan nih karakter Falbium🤭
Bayuon So7
anjay dipancing
Bayuon So7
mana bisa anjir🤣
Bayuon So7
nah kan, kena Lo. di cibir langsung sam Fuiukaicho sama🤭
Bayuon So7
geli gua dengarnya 🤣
Bayuon So7
Damn, bro beneran gosong parah si Saji di sini brok. Lu bikinnya make sense lagi Thor, gua tadi berpikir lu lagi mau injak karakter ini serampangan tapi lu mendesainnya dengan apik. jadinya gak jadi gua hujat anjirlah 🤣
Bayuon So7
wah keren lu Thor, alih-alih mempermalukan dengan aneh. lu bikin ada reason pada tindakan Sona sebelumnya dan kemarahan dia di sini beneran make sense
Bayuon So7
damn, lu juga pernah dipegang tangannya kan. ah ealah
Bayuon So7
iya, abis chef Tsubaki. sekarang chef Sona. wah beneran dibuat gosong ini sajinya.
Bayuon So7
Thor, lu kayaknya punya dendam pribadi Ama saji deh. kok serem amat penghakimannya cok.
Bayuon So7
Absolute cinema, cukup chef ini sudah gosong jangan dilanjutkan.🤭
Bayuon So7
Weh ada chef yang mau masak, pastikan bikin masakan yang lezat dan bergizi. chef Tsubaki Shinra.
Bayuon So7
ngimpi lu anying gak logis banget dah pikirannya si saji ini ya.
Bayuon So7
gua juga ngedown kalau cewek paling polos tetiba natap dengan tajam gini. artinya lu bikin masalah super serius.
Bayuon So7
oh Ice king ini loh, kalau marah meski gak meluap-luap rasanya bikin berdebar-debar
Bayuon So7
waduh Sona udah mulai kepancing emosi nih
Bayuon So7
Alasannya masuk akal tapi entah kenapa rasanya jadi klise denger omongan lu saji🤭
Bayuon So7
Efek dibuat senyum tadi siang kah, kok tetiba jadi perhatian gini 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!