Maryati meninggal di malam hujan, membeku di gang sempit, setelah ketiga anaknya menolak membuka pintu.
Seumur hidup dia mengabdi. Gaji suaminya — Hartono — dia yang kelola supaya cukup untuk makan sekeluarga. Menantu pertamanya, Watini, menampar dan memaki sesuka hati. Anak sulungnya, Darmanto, bungkam saja. Anak keduanya, Bagus, cuma datang kalau butuh uang. Satu-satunya yang sayang — Lestari, anak perempuannya — justru dibuang ke kampung terpencil dan mati muda.
Lalu Tuhan memberi kesempatan kedua.
Maryati membuka mata dan mendapati dirinya kembali ke usia lima puluh tahun. Kali ini, dia bukan lagi ibu yang menunduk. Kali ini, dia melawan.
Hari pertama: dia menampar balik Watini dan merebut seluruh gaji keluarga. Hari kedua: dia mengusir siapa pun yang berani menginjak harga dirinya. Dan tujuan terbesarnya? Menyelamatkan Lestari sebelum terlambat — naik kereta sendirian ke kampung terpencil, menghadapi keluarga preman yang menyandera anaknya, dan membawa Lestari pulang dengan tangannya sendiri.
Tapi membebaskan anak perempuannya baru permulaan.
Maryati harus berhadapan dengan suami yang lebih memilih selingkuhan daripada istri, menantu yang licik di balik senyum manisnya, dan anak-anak yang menganggap pengorbanan ibu adalah hal yang wajar. Ketika cukup sudah — **dia menggugat cerai di usia lima puluh tahun, keluar dari rumah dengan satu tas kecil, dan membuktikan bahwa hidup seorang perempuan tidak berakhir setelah ditinggal suami.
Dari buruh pabrik tekstil biasa, Bu Yati naik menjadi ketua serikat pekerja wanita. Dia mendirikan asrama perlindungan untuk pekerja perempuan korban kekerasan. Dia menemukan kakak kandung yang terpisah sejak kecil. Dan satu per satu, perempuan-perempuan di sekitarnya — Wulandari si anak yang dikorbankan untuk adik laki-laki, Ayu yang dijual untuk dinikahkan, Ningsih yang tertipu laki-laki brengsek — bangun dari tidur panjang mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vionique, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 33
Bab 33: Lebaran Pertama
"Lastri, sabar dulu."
Nama itu menempel di telinga Bu Yati sampai beberapa hari berikutnya. Ia tidak langsung bertanya. Pak Tono juga pura-pura tidak ada apa-apa. Laki-laki itu tetap minum teh pagi, tetap berangkat ke bengkel, tetap mengeluh kalau sambal kurang garam. Hanya ponselnya sekarang lebih sering diletakkan terbalik.
Bu Yati melihat, mencatat, lalu menunggu.
Lebaran pertama setelah ia hidup kembali datang dengan rumah yang jauh berbeda dari ingatan buruknya. Sejak subuh, dapur sudah harum margarin dan gula. Tari membuat nastar dengan bentuk tidak seragam, Riani membantu menggulung kastengel, Melati bertugas menaruh kue ke stoples sambil sesekali mencuri satu. Guntur yang awalnya bilang tidak mau ikut akhirnya duduk di lantai, memotong kertas label untuk stoples.
"Tulisanmu jelek, Tur," kata Tari.
"Yang penting terbaca."
Melati mengeja label itu pelan. "Ka... steng... gel."
"Pintar," Riani memuji.
Melati tersenyum malu dan menyelipkan sepotong kue ke mulut Riani. "Bunda juga makan."
Riani tertawa kecil, tetapi di bawah matanya ada bayangan lelah. Bu Yati menangkapnya. Sejak menikah, Riani tetap lembut kepada Melati, tetap sopan kepada semua orang, tetapi kadang pandangannya kosong saat Bagus menunduk pada ponsel. Bagus sendiri makin pandai tersenyum di depan keluarga. Terlalu pandai.
Pagi Lebaran, rumah Pak Tono bersih sampai sudut jendela. Tikar digelar di ruang depan. Kue kering berbaris di meja. Ketupat, opor ayam, sambal goreng kentang, dan kerupuk sudah siap. Pak Tono memakai baju koko putih yang disetrika Tari. Ia tampak senang karena rumahnya ramai lagi, tetapi setiap melihat Bu Yati, ada rasa takut kecil yang melintas di wajahnya.
Halal bihalal dimulai setelah mereka pulang dari musholla.
Pak Tono duduk paling depan, berusaha mengambil posisi kepala keluarga. Anto dan Watini tidak datang. Katanya Watini masih lemah dan belum siap bertemu banyak orang. Bu Yati tidak memaksa. Ada luka yang tidak perlu diseret ke ruang tamu hanya demi tampak rukun.
Menjelang siang, Anto hanya mengirim foto Fajar memakai baju baru di depan kontrakan kecil mereka. Di belakang anak itu tampak jemuran dan dinding belum dicat. Pesannya pendek, "Bu, maaf belum bisa datang. Tin masih sering pusing." Bu Yati membalas, "Jaga istrimu. Itu saja dulu."
Bagus maju lebih dulu bersama Riani dan Melati. Ia mencium tangan Pak Tono, lalu Bu Yati.
"Mohon maaf lahir batin, Bu."
Bu Yati menatap putranya. "Maaf itu gampang diucap. Hidup yang benar lebih susah."
Bagus tersenyum kecut. "Iya, Bu."
Riani mencium tangan Bu Yati dengan lembut. "Mohon maaf lahir batin, Bu."
"Sama-sama, Ani. Jaga dirimu juga, bukan cuma jaga orang lain."
Riani mengangkat wajah. Untuk sesaat matanya basah, lalu ia mengangguk.
Tari maju setelah itu. Ketika ia menunduk di depan Bu Yati, ponselnya bergetar. Nama Hendro muncul di layar. Wajah Tari langsung merah.
"Angkat," kata Bu Yati, sengaja keras.
Guntur langsung bersiul. "Lebaran jarak jauh."
Tari memelototinya, tetapi tetap mengangkat video call. Wajah Hendro muncul dari Surabaya, memakai baju koko sederhana. Di belakangnya tampak Putri duduk di kursi, melambaikan tangan kecil.
"Mohon maaf lahir batin, Bu," kata Hendro melalui layar. "Mbak Tari."
Bu Yati mendekat. "Lahir batin dimaafkan kalau tahun depan datang langsung."
Hendro tersenyum. "Siap, Bu."
Tari menunduk, senyumnya tidak bisa disembunyikan. Pak Tono melihat semua itu dengan wajah campur aduk. Ada bangga karena calon menantunya perwira, ada sakit karena anak perempuan yang dulu ia anggap mudah diatur kini punya dunia sendiri.
Giliran Guntur datang paling akhir.
Anak itu berdiri terlalu lama di depan Bu Yati. Biasanya ia selalu membuat lelucon untuk menutup rasa canggung. Hari itu ia justru berlutut, menundukkan kepala, lalu mencium tangan ibunya dengan dua tangan.
"Mak," katanya pelan. "Mohon maaf lahir batin."
Bu Yati merasa tenggorokannya tercekat.
Guntur tidak selesai di situ. Ia menyentuhkan tangan Bu Yati ke dahinya, gerak sungkeman yang kaku tetapi sungguh-sungguh. Bahunya tegang, telinganya merah.
"Tur minta maaf kalau sering bikin Ibu pusing."
"Sering?" Bagus berbisik. "Setiap hari."
Guntur menoleh tajam, tetapi tidak membalas. Ia tetap menunggu jawaban ibunya.
Bu Yati mengusap kepalanya. Anak yang dalam hidup lalu mengusirnya di malam hujan kini berlutut di depannya, meminta maaf dengan suara serak. Dunia seperti berhenti sebentar.
"Ibu maafkan," katanya. "Tapi jangan diulang."
Guntur mengangguk cepat. "Iya, Mak."
Bu Yati hampir menangis. Ia menahan dengan menggigit bagian dalam pipi.
Siang menjelang, tetangga berdatangan. Bu Sari membawa Heru, lengkap dengan stoples rengginang. Heru membantu memindahkan kursi tanpa diminta. Ia juga mengobrol dengan Tari tentang pekerjaan di toko, cara menghadapi pelanggan rewel, dan rute angkot yang lebih aman saat pulang malam.
Bu Yati melihat mereka dari dapur. Heru anak baik. Rajin, sopan, dekat dengan keluarga. Kalau bukan Hendro, mungkin Heru juga bisa menjadi pilihan yang membuat hati ibu tenang. Tetapi jodoh bukan hanya soal baik. Tari sudah memilih dengan mata yang hidup. Bu Yati tidak akan mematikan cahaya itu.
Sore harinya rumah mulai sepi. Kue di stoples tinggal setengah. Melati tertidur di pangkuan Riani. Bagus beberapa kali keluar menerima telepon, lalu kembali dengan senyum yang terlalu licin. Riani tidak menegur, tetapi jarinya mengusap punggung Melati lebih cepat dari biasa.
Pak Tono mendekati Bu Yati ketika orang-orang mulai pulang.
"Maafin lahir batin, ya, Bu'e," katanya.
Bu Yati menatapnya. Di wajah laki-laki itu ada harapan kecil, mungkin karena beberapa hari lalu ia sempat berdiri membela istrinya. Mungkin ia mengira satu tindakan benar bisa membeli maaf puluhan tahun.
"Aku dengar," jawab Bu Yati.
"Kamu tidak jawab?"
"Belum ada yang perlu kujawab."
Pak Tono menunduk. Suara tawa di rumah mendadak terasa jauh.
Malam turun. Semua orang tidur lebih cepat karena lelah. Bu Yati duduk sendirian di teras, memandang lampu jalan yang dikerubungi serangga kecil. Ia teringat Lebaran terakhir dalam hidup yang lalu. Saat itu ia duduk di depan pintu rumah Guntur, basah oleh hujan, menunggu anaknya membuka pintu. Tidak ada kue kering. Tidak ada tangan yang mencium tangannya. Tidak ada video call, tidak ada cucu tertidur kenyang.
Hanya dingin.
Sekarang rumahnya ramai, tetapi hatinya tidak berani lengah. Kehangatan harus dijaga. Orang-orang yang ingin menghisapnya masih ada, hanya berganti wajah.
Saat hendak masuk, Bu Yati melihat selembar kertas terselip di bawah bantalan kursi ruang depan. Mungkin jatuh dari saku Pak Tono ketika ia menerima tamu. Kertas itu dilipat dua, wangi samar parfum murahan.
Bu Yati mengambilnya.
Tulisan di bagian atas bukan tulisan Sri.
Baris pertama terbuka sedikit.
Mas Tono, aku sudah lama menunggu...