Tan Keira bukan orang bodoh. Dia tahu dirinya bukan cucu kandung Engkong Budiman -- hasil tes DNA di tangannya sudah membuktikan itu. Dia juga tahu bahwa suatu hari, cucu asli keluarga Tan akan muncul dan merebut segalanya: rumah, warisan, nama keluarga, bahkan kasih sayang satu-satunya orang yang pernah mencintainya.
Tapi Keira tidak akan duduk diam menunggu kehancuran.
Di sebuah lounge mewah di SCBD Jakarta, dia mengeksekusi rencana pertamanya: menjebak Lim Renata -- mantan jenderal, CEO Lim Group, sahabat mendiang papanya, dan satu-satunya pria yang cukup berkuasa untuk melindunginya dari badai yang akan datang.
Renata dingin. Renata menakutkan. Seluruh Jakarta tunduk padanya.
Tapi di depan Keira yang gemetar (pura-pura) dan bermata basah (juga pura-pura), pria itu... lembek.
"Om, saya takut."
Satu kalimat itu mengubah segalanya.
Yang Keira tidak tahu: Renata bukan pria yang bisa dijebak. Dia pria yang *memilih* untuk masuk ke jebakan. Dan alasannya... jauh lebih dalam dari yang Keira bayangkan.
Saat cucu asli keluarga Tan akhirnya muncul, saat kebohongan Keira mulai terbongkar satu per satu, saat seluruh dunianya runtuh -- hanya ada satu pertanyaan yang tersisa:
*Apakah Renata akan tetap memilihnya, setelah tahu semuanya palsu?*
Jawabannya ada di dua kata yang akan menghancurkan dan menyembuhkan Keira sekaligus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Olivia Renata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 26
Richard berdiri di depan meja Keira.
Tidak ada yang langsung berani bicara.
Lantai proyek yang biasanya penuh bunyi keyboard mendadak seperti ruang sidang. Siska masih di dekat lift, satu tangan menutup mulut. Pak Dharma membeku dengan jari menunjuk ke arah Keira. Wajahnya kehilangan warna, lalu berusaha mengambil kembali wibawa yang baru saja ia gunakan untuk membentak anak magang.
"Pak Lim," katanya cepat. "Ini hanya salah paham kecil di divisi."
Richard tidak melihatnya.
Ia melihat Keira.
Keira berdiri di belakang meja dengan mata merah, ponsel di tangan, dan beberapa berkas berserakan di lantai. Rambutnya sedikit berantakan karena mundur tadi. Di mata orang lain, ia tampak seperti pegawai magang yang dipermalukan atasan. Di mata Richard, ia tampak seperti seseorang yang sengaja berdiri di depan pisau supaya pembunuhnya tertangkap.
Itu membuat suaranya turun.
"Apa yang terjadi?"
Keira membuka mulut, tetapi Pak Dharma lebih cepat.
"Pak, Nona Tan kurang memahami hierarki. Saya menegur karena ada indikasi hubungan tidak profesional dengan staf eksekutif."
Jason muncul dua langkah di belakang Richard.
Kacamata tipisnya memantulkan lampu kantor. "Staf eksekutif yang dimaksud saya?"
Pak Dharma menelan ludah. "Saya tidak bermaksud menuduh, Mas Jason."
Jason menoleh sangat pelan. "Saya bukan Mas Anda."
Keira hampir lupa aktingnya.
Richard akhirnya memandang Pak Dharma.
"Bukti."
"Maaf?"
"Kamu menuduh pegawai magangku punya hubungan tidak profesional. Tunjukkan bukti."
Kata pegawai magangku membuat bisik-bisik pecah sangat halus. Pak Dharma mengeluarkan ponsel dengan tangan kaku, menunjukkan foto Jason membukakan pintu mobil untuk Keira.
Richard melihat sekali.
"Itu mobilku."
Pak Dharma berkedip.
"Jason menjemput Keira atas perintahku."
"Saya... saya tidak tahu, Pak."
"Kamu tidak tahu, tapi berani mengancam?"
Udara di ruangan terasa turun beberapa derajat.
Keira menunduk, lalu mengirim folder bukti ke Jason. Ponsel Jason bergetar. Ia membuka file, membaca cepat, lalu menyerahkan tablet ke Richard tanpa bicara.
Ada rekaman ruang arsip. Ada pesan "berdua". Ada foto Pak Dharma berdiri terlalu dekat. Ada ancaman foto Jason. Ada log waktu, nama saksi, dan tangkapan layar grup proyek.
Richard membaca semuanya.
Tidak ada perubahan besar di wajahnya. Justru itu yang membuat orang lebih takut.
"Panggil HR, legal, dan kepala compliance," katanya.
Jason langsung mengetik.
Pak Dharma mulai berkeringat. "Pak, ini berlebihan. Saya hanya membimbing. Anak muda sekarang mudah salah paham, apalagi kalau terbiasa mendapat perlakuan khusus."
Richard mengangkat mata. "Perlakuan khusus dariku bukan izin bagimu menyentuh dia."
Siska menahan napas.
Kalimat itu terlalu jelas. Terlalu publik. Semua orang mendengarnya.
Keira merasakan panas naik ke wajah. Ia mengira dirinya yang akan mengendalikan panggung, tetapi Richard mengambil alih dengan cara yang membuat tubuhnya sulit tetap pura-pura tenang.
Pak Dharma masih mencoba tersenyum. "Saya tidak menyentuh dalam arti seperti itu, Pak. Ini bisa dijelaskan."
"Jelaskan di depan legal."
"Pak Lim, karier saya sudah dua puluh tahun di sini."
"Sayang sekali kamu membuangnya untuk mengancam perempuan yang salah."
HR datang dalam waktu kurang dari sepuluh menit. Kepala legal menyusul, bersama dua orang compliance yang wajahnya pucat karena dipanggil langsung ke lantai proyek. Richard tidak duduk. Ia berdiri di samping meja Keira, satu tangan di saku celana, tangan lain memegang tablet Jason.
"Semua bukti disalin ke server legal. Amankan akses email dan perangkat Pak Dharma. Skorsing langsung. Audit seluruh proyek yang dia pegang lima tahun terakhir."
Kepala HR mengangguk cepat. "Baik, Pak."
Pak Dharma kehilangan kendali. "Pak, ini tidak adil! Hanya karena dia dekat dengan Anda, saya langsung dihukum?"
Richard menatapnya.
"Kamu masih ingin membahas kedekatannya denganku?"
Tidak ada bentakan. Tidak ada gerakan kasar. Tetapi Pak Dharma mundur satu langkah.
Kepala compliance membuka salah satu file rekaman. Suara Pak Dharma memenuhi lantai proyek, tidak keras, tetapi cukup jelas untuk membuat wajah beberapa staf berubah.
Tidak usah ajak Siska. Lebih cepat kalau berdua.
Di ruangan saya saja.
Keira berdiri diam di samping mejanya. Ia tidak menangis lagi. Ia membiarkan semua orang mendengar suara itu, membiarkan mereka mencocokkan senyum ramah Pak Dharma dengan kalimat yang selama ini disembunyikan di ruang tertutup.
Siska menggenggam tali tasnya kuat-kuat. Admin procurement menunduk. Seorang staf laki-laki yang tadi ikut berbisik kini tidak berani mengangkat wajah.
"Pak," kata kepala HR dengan suara kering, "kami perlu meminta Pak Dharma menyerahkan ponsel kantor."
"Ini privasi saya!"
Jason maju satu langkah. "Ponsel kantor adalah aset perusahaan. Dan setelah ancaman tertulis terhadap Nona Tan, menolak menyerahkan perangkat akan dicatat sebagai penghalangan pemeriksaan internal."
Pak Dharma memandang Keira dengan kebencian terbuka.
Richard langsung bergerak setengah langkah, menutup garis pandang itu.
"Jangan lihat dia."
Tiga kata itu membuat Pak Dharma menunduk.
Keira tahu saat itu semua orang di lantai proyek paham satu hal: siapa pun boleh bergosip tentang Keira di belakang, tetapi menyebutnya di depan Richard adalah cara tercepat untuk menghancurkan diri sendiri.
Pak Dharma dibawa ke ruang meeting kecil untuk pemeriksaan awal. Siska menghampiri Keira dengan wajah masih pucat.
"Lo gila," bisiknya.
"Aku sehat."
"Itu bukan bantahan."
Keira ingin tersenyum, tetapi tangannya baru sadar gemetar. Richard melihat. Tanpa mengatakan apa-apa, ia mengambil gelas air dari meja staf dan meletakkannya di depan Keira.
"Minum."
"Om, di kantor..."
"Minum, Nona Tan."
Kali ini ia memakai nada kantor, tetapi matanya tetap milik pria yang semalam bertanya apakah mimpi buruk termasuk darurat.
Keira minum.
Richard mengambil berkas yang tadi dilempar Pak Dharma, menyusunnya satu per satu, lalu meletakkannya rapi di atas meja Keira. Gerakan itu kecil, tetapi seluruh lantai melihatnya. Bos Lim Group tidak hanya membela Keira dengan perintah besar. Ia juga memungut pekerjaan yang dilemparkan untuk mempermalukannya.
"Mulai hari ini," katanya pada semua orang, "semua instruksi untuk Nona Tan lewat email resmi dan cc ke manajer interim. Tidak ada lembur berdua. Tidak ada pesan pribadi terkait pekerjaan. Jika ada yang keberatan, ajukan sekarang."
Tidak ada yang bernapas terlalu keras.
"Bagus."
Keira menatap punggung tangan Richard yang terkena cahaya lampu. Ada urat nadi di sana, tenang dan kuat. Untuk sesaat, rencana balas dendamnya terasa seperti sesuatu yang tidak harus ia pikul sendirian.
Sore itu, seluruh Lim Group tahu Pak Dharma diskors. Sebelum jam kerja selesai, aksesnya dicabut. Tim proyek mendapat email resmi bahwa Arief akan menjadi manajer interim. Pak Dharma meninggalkan gedung dengan wajah merah dan dasi miring, dikawal security sampai lobby.
Seharusnya itu selesai.
Namun malam harinya, ketika Keira sudah kembali ke Villa Awan, Jason menerima telepon dari nomor tidak dikenal.
Ia sedang berada di ruang kerja Richard, menyampaikan laporan audit awal. Richard duduk di balik meja, jas sudah dilepas, kacamata frame emas bertengger di hidung. Di atas meja ada pena Montblanc hitam yang biasa ia pakai menandatangani dokumen penting.
Ponsel Jason bergetar.
Nama tidak dikenal.
Jason menatap Richard.
"Angkat. Speaker."
Jason menekan tombol.
Suara Pak Dharma terdengar parau dan mabuk marah. "Jason, kamu pikir saya tidak tahu? Kamu yang main dengan anak itu, kan? Dia jual muka ke Pak Lim, tapi kamu yang menikmati."
Wajah Jason langsung dingin. "Jaga mulut Anda."
"Jangan sok suci. Kita sama-sama laki-laki. Kalau kamu sudah bosan, pinjamkan Keira dua hari ke saya. Saya tutup mulut soal foto itu."
Ruangan menjadi sangat sunyi.
Keira, yang baru datang ke ambang pintu membawa obat maag Richard dari staf, berhenti tanpa suara.
Jason memucat.
Richard tidak bergerak.
Hanya pena Montblanc di antara jarinya yang berbunyi.
Krak.
Pena mahal itu patah menjadi dua.
Tinta hitam mengalir ke telapak tangannya seperti darah yang salah warna.
Richard berdiri.
Suara Pak Dharma masih terdengar dari speaker. "Halo? Jason? Jangan pura-pura tidak dengar. Saya cuma pinjam dua hari. Anak seperti itu pasti sudah biasa..."
"Kamu cari mati," kata Richard.
Tiga kata itu membuat suara di telepon berhenti.
Pak Dharma seperti baru sadar siapa yang mendengar.
"Pak Lim?"
Richard menutup panggilan.
Keira baru sadar ia mencengkeram botol obat sampai tutupnya berderit.
Richard berjalan ke wastafel kecil di sudut ruang kerja dan membasuh tinta dari tangannya. Tinta itu tidak hilang seluruhnya. Ada garis hitam tertinggal di sela jari, membuat tangannya terlihat seperti baru keluar dari tempat yang lebih gelap daripada kantor.
"Keira," katanya tanpa menoleh, "kamu dengar semuanya?"
Keira ingin menjawab tidak. Itu akan membuatnya tampak lebih rapuh, lebih mudah dilindungi. Tetapi tenggorokannya terlalu kering untuk berbohong.
"Iya."
"Lupakan."
Keira tertawa kecil, hambar. "Om tahu itu tidak mungkin."
Richard akhirnya menoleh. Untuk beberapa detik, kemarahannya retak menjadi sesuatu yang hampir seperti rasa sakit. Lalu retakan itu tertutup lagi.
Jason langsung berkata, "Boss, saya hubungi polisi?"
"Hubungi legal. Siapkan laporan TPKS, pemerasan, dan pencemaran nama baik."
"Baik."
"Lalu kirim alamatnya."
Jason berhenti mengetik.
Keira masih berdiri di ambang pintu. Richard menoleh. Matanya jatuh pada obat di tangan Keira, lalu pada wajahnya yang sudah kehilangan warna.
"Masuk kamar."
"Om..."
"Sekarang."
Keira tidak pernah mendengar suara Richard sedingin itu. Bukan dingin pada dirinya, tetapi dingin yang bisa membuat orang lain menghilang dari peta.
Ia ingin bertanya apa yang akan Richard lakukan. Ia juga sudah tahu jawabannya tidak akan diberikan.
Malam itu, Richard keluar dari Villa Awan dengan kemeja putih bersih.
Ia kembali dua jam kemudian.
Di manset kanan kemejanya ada noda merah kecil.
Keira melihatnya dari ujung tangga. Richard melihat bahwa ia melihat. Tidak ada penjelasan.
Paginya, Siska mengirim pesan dengan huruf kapital.
Kei, Pak Dharma masuk rumah sakit. Katanya jatuh dari tangga. Kakinya patah.
Keira menatap layar lama sekali.
Di bawah pesan itu, ada satu pesan lain dari Jason.
Arief resmi mengambil alih divisi hari ini. Pak Dharma akan diproses hukum.