Dua puluh tahun lalu sebuah praktek satanisme gagal. Ijah diringkus lalu dibakar hidup-hidup oleh masa sebab dianggap petaka.
Lima orang dipanggil kembali oleh satu sosok yang datang di dalam cermin. Mereka diberitahu untuk menuju ke salah satu tempat yang sempat mereka tinggali dahulu.
Tempat itu sudah lama ditutup. Huruf arab ditempelkan dibanyak pohon hutan sebelum menuju bangunan itu.
Huruf arab itu konon katanya adalah sebuah ayat sebagai penghalang apa yang ada dibangunan itu supaya tidak keluar dari dalam sana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Stanalise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 008 : Dia Datang
Cringg
Cringg
Cringg
Suara gelang kaki terdengar cukup jelas di lantai bawah. Suara gelang kaki itu berada di kediaman Desta.
Kamar Desta berada di atas tepatnya di lantai tiga. Desta tinggal bertiga bersama dengan orang tua angkatnya.
Namun dia sama sekali belum mengetahui bahwa dirinya adalah anak angkat mereka. Desta hanya tau satu hal dia adalah anak kandung orang tuanya saat ini.
Sambil memakai Earphone di telinganya. Desta dengan cekatan memasukkan beberapa barang yang dia butuhkan ke dalam ransel miliknya.
Saat ini Desta membelakangi pintu dan dia menikmati suara musik yang dia dengarkan. Jam di dinding menunjukkan pukul empat shubuh. Sebentar lagi adzan shubuh berkumandang.
Suara gelang kaki itu perlahan mulai datang menaiki satu persatu anak tangga. Lantai dua rumah Desta adalah tempat untuk berlatih. Itu adalah gym.
Dan di lantai tiganya adalah kamar Desta beserta dengan orang tuanya. Di sana juga tinggal pengurus dari gym mereka. Sekaligus pelatih di gym itu.
Suara gelang kaki itu berasal dari seorang bocah yang sudah lama mati. Dia datang ke dalam rumah Desta masuk melalui sebuah portal. Sebuah cermin adalah portalnya.
Sama halnya seperti wanita yang selalu datang di dalam cermin. Bocah mati ini juga berasal dari tempat jauh di dalam mimpi Desta.
Tiap kali dia berjalan maka suara nafasnya semakin berat. Tubuhnya bergetar hebat menahan rasa sakit dari perutnya.
Sungguh perutnya itu bolong. Entah bagaimana dia mati dahulu sampai tubuhnya begitu mengenaskan keadaannya?
Tangan kanannya terangkat seakan ingin meraih sesuatu. Kedua matanya sayu redup namun berdarah keduanya.
Dia terus menaiki anak tangga itu walaupun kondisinya begitu sangat mengenaskan. Tak lama dia mengeluarkan beberapa kalimat. Kalimat itu adalah,
"Desta... Desta..."
"Desta... Jangan pergi!"
"Desta... Mereka yang jahat masih di sana!" ujar sosok itu.
Perjalanannya sudah sampai di lantai dua. Setan ini sudah berada tepat di tempat gym. Belum ada yang menyadari keberadaannya hingga kini.
Drrrrrrr
Drrrrrrr
Ketika dia melangkah di area itu maka beberapa barang di gym itu bergerak-gerak seakan menyambut kedatangan dari bocah mati itu.
"Hihihihi..." bocah itu tertawa lirih.
Kepala bocah itu miring ke kiri. Bunyi-bunyi gelang di kakinya masih terdengar.
Cringgg
Cringgg
Tujuannya adalah kamarnya Desta.
Sosok bertubuh kecil ini ada hubungannya dengan masa lalu Desta. Dia juga berhubungan dengan sosok wanita yang ada di dalam cermin.
Drttttttt
Drttttttt
Hasan selaku pelatih gym terbangun ketika mendengar suara ponselnya yang bergetar.
"Ughhhh..." Hasan melenguh sebentar. Dia mengerjapkan matanya beberapa kali hingga kesadaran kembali dia dapatkan.
"Jam berapa ini?" lirih Hasan seraya mengucek kedua matanya. Dia melihat ke samping tepat ke arah ponsel miliknya yang masih tergeletak di sana.
Ponsel itu dia letakkan tepat di samping meja kecil yang terletak di tempat tidurnya.
Hasan duduk kemudian. Lalu dia meraih ponselnya. Samar-samar dia membuka matanya. Dia tidur sendiri di situ. Di kamar itu hanya ada dirinya.
Kamar milik Hasan pintunya berhadapan langsung dengan anak tangga. Ketika Hasan berdiri lalu merentangkan kedua tangannya. Dia terdiam.
Cringgg
Cringgg
"Suara apa itu?" pekik Hasan lirih.
Hasan mencoba mendengarkan apa yang sedang melintas di depan pintu kamarnya yang saat ini sedang tertutup. Ketika dia yakin bahwa apa yang dia dengar itu nyata. Hasan menaikkan salah satu alisnya dan bergumam,
"Bunyi lonceng?" gumam Hasan. Dia berjalan ke arah pintu kamarnya yang masih tertutup.
Sejujurnya, jantungnya saat ini mulai berdegup kencang. Jika diingat, tidak ada satupun orang di dalam rumah Desta yang memiliki gelang kaki. Lantas, suara gelang kaki siapakah di balik pintu itu?
"Mana masih jam segini! Kelakuan horor siapa sebetulnya, sial!" umpat Hasan sedikit kesal rasanya namun juga takut dan penasaran.
Suara masjid di luar sana juga terdengar. Itu adalah suara Tarhim. Sebelum adzan datang biasanya masjid akan menyetel beberapa pengajian.
Hasan mendekati pintu kamarnya.
Degggggg
Hasan terdiam ketika melihat bayangan yang berada di celah pintu kamarnya.
Hasan memperhatikan dari dalam. Langkah kakinya kecil. Itu bukan langkah Desta. Bukan pula langkah kakinya Orang tua Desta.
'Siapa itu?' pikir Hasan saat ini.
Disini, mereka hanya empat orang yang tinggal di sini dan mereka sama sekali tidak memiliki anak kecil sekecil bayangan langkah kaki yang Hasan lihat saat ini.
Hasan memilih untuk melihat apa yang ada di luar melalui lubang intip pintu.
"Huh!" pekik Hasan lagi, berulang kali dia dibuat jantungan rasanya.
Bagaimana tidak? Di sana dia tidak melihat apapun. Dia terkejut sekali sungguh. Lantas darimanakah datangnya suara itu? Jika tidak ada siapapun di sana? Sedangkan suaranya tepat di depan pintu kamarnya?
Hasan lalu mundur perlahan. Dia kembali melihat ke bawah pintu. Bayangan itu masih ada. Hasan menelan air liurnya sendiri. Kemudian dia kembali berjalan ke arah ranjangnya.
"Gila-gila!" ujar Hasan sembari masih membulatkan kedua matanya. Bulu kuduknya berdiri rasanya kini.
Hasan memilih meraih ponselnya lalu dia mencoba menghubungi Desta. Supaya Desta menutup pintu kamarnya rapat-rapat.
"Angkat, Desta!" gumam Hasan was-was rasanya.
Satu kali, dua kali bahkan tiga kali Hasan menghubungi Desta namun tak kunjung mendapatkan jawaban.
Hasan membuang kasar nafasnya. Sedangkan bocah dengan gelang kakinya hampir mencapai kamarnya Desta.
Desta di sana masih sibuk menyiapkan apa yang diperlukannya. Sedangkan sosok anak kecil itu saat ini sedang berdiri tepat di ambang pintunya yang terbuka.
Suara gelang kaki miliknya yang mendekati Desta. Sama sekali tidak disadari oleh Desta. Sebab dia masih menggunakan Earphone itu.
Ketika kedua tangan dari bocah mati itu terangkat dan dia terus maju. Hingga tubuh dan tangannya hampir menyentuh Desta maka Tuhan menyelamatkan Desta dengan mengumandangkan adzan di sana.
"Allahuakbar..."
"Allahuakbar..."
Wushhhhh
Sosok itu hilang ketika masjid-masjid di sana mulai menyerukan takbirnya. Saat itu juga Desta melepaskan Earphonenya.
"Huh!" lirih Desta. Entah mengapa, dia merasakan ada sesuatu di belakangnya bersamaan dengan datangnya suara adzan.
Kemudian dia pun berbalik. Desta menatap ke bawah ke arah sebuah telapak kaki yang basah. Itu dari air.
"Tidak ada siapa-siapa?!" gumam Desta.
Desta mengedarkan pandangannya ke segala arah. Dia tidak menemukan siapapun.
Ketika adzan berkumandang maka Desta pun langsung mengambil air wudhu lalu melaksanakan sholat shubuh.
Sebelumnya dia sudah izin kepada Ayah Ibunya untuk berangkat pagi ke stasiun menemui beberapa temannya. Beruntungnya Desta diizinkan oleh mereka.
Setelah ibadah dikerjakan maka Desta pun bergegas pergi. Begitupun Desta di sana sudah siap maka ke empat teman yang dia temui di dalam mimpi pun juga ikut bergegas.
Ini adalah hari bagi Aldi, Farah, Haikal, Desta dan Rifki untuk bertemu secara nyata.
Mereka akan bertemu untuk membahas sesuatu yang sejak dulu ganjal. Perihal wanita di dalam cermin dan bangunan tua di antara belantara.
ternyata dia lebih tua dari aku🤣