Di kehidupan yang hanya sekali ini, tentu menikahi orang yang dicintai dan mencintai diri kita juga adalah impian semua orang. Laila pun begitu, gadis manja dan ceria itu selalu menyematkan do'a terbaik untuk kehidupan cintanya. Namun, wasiat Ibunya dan permintaan Ayah yang tak bisa ia tolak memaksa Laila untuk menikah dengan laki-laki yang bahkan jauh dari tipenya.
Siapakah sosok lelaki yang dijodohkan dengan Laila?
Apakah bisa Laila melewati perjodohan dan menjalani kehidupan pernikahan tanpa cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chocomint09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sunset
"Mbak, saya pesan lemon tea dua ya."
"Dine-in atau take away Kak?"
"Take away."
Tak lama pesanan sudah jadi, Devan membayar minuman dan hendak kembali menuju tempat Laila.
Belum jauh meninggalkan kafe langkah Devan terhenti saat dia berpapasan dengan Tasya dan Keira.
"Eh Van, lo di sini, terus Lailanya mana?" tanya Keira saat melihat Laila tidak bersama Devan.
"Dia gue suruh tunggu di depan sana tu, deket pantai." Devan menunjuk ke arah pantai.
"Oh yaudah barengan aja kalau gitu kita," tawar Tasya.
Mereka bejalan beriringan. Tasya dan Keira sudah menenteng banyak paperbag belanja di tangan.
"Banyak amat tuh yang dibeli," ucap Devan.
"Hehehe iya nih tadi nemu barang diskonan banyak, mayan buat bawa pulang nanti," ucap Keira setengah terkekeh.
Sudah mendekati pantai Devan tidak melihat Laila di tempat ia minta untuk ditunggu. Devan kebingungan.
"Kenapa Van?" tanya Tasya melihat wajah Devan yang kebingungan.
"Tadi gue minta Laila tungguin gue di sini," ujar Devan.
"Lah kok tu anak gak ada," timpal Keira.
"Itu tuh, Laila di sana." Mata Tasya jeli saat melihat sekitaran, ia melihat Laila sedang berbicara dengan seseorang yang hanya terlihat punggungnya.
"Oh iya itu dia," ucap Keira.
"Itu dia lagi ngomong sama siapa, kayaknya serius banget. Ayok kita samperin," ajak Tasya.
Mereka bertiga berjalan mendekati Laila dan orang yang belum mereka ketahui itu.
"Laila!" panggil Keira dengan setengah berteriak.
Laila yang menyadari kedatangan mereka terlihat kembali berbicara dengan orang itu sambil menunjuk beberapa kali. Orang misterius itu pun menoleh ke arah mereka.
"Ohhh lo Mas Juna, gue kirain Laila ngomong sama siapa tadi," ujar Devan santai.
"Iya Mas Devan," jawab Arjuna.
"Kebetulan banget kita ketemu sekali lagi di sini, Mas Juna gabung aja sama kita, kalian oke kan guys. Kalo ramean lebih seru," jelas Devan.
"Ohh...i-iya gak papa," timpal Laila sedikit gagap.
"Mas Juna nginepnya di mana sih, kok bisa kebetulan ketemu di sini kita?" tanya Devan.
"Saya menginap di penginapan x Mas."
"Loh penginapan itu sampingan aja sama kita ya kan guys?" tanya Devan memastikan.
"Iya, sebelahan itu," jawab Tasya.
"Pas banget kalo gitu, besok malam Mas Juna ada plan apa? Kalo gak ada gabung aja sama kita. Kita mau ke beach club sekitaran sini," tawar Devan.
"Boleh, nanti saya akan bergabung." Arjuna nerima ajakan itu, tentu ia merasa khawatir mendengar Laila dan teman-teman perempuannya akan pergi ke beach club bersama laki-laki.
Sementara Laila sudah tak bisa lagi mencari alasan untuk menghindari Arjuna. Semakin dihindari pria itu punya berbagai cara untuk bisa bergabung dengan mereka.
"Aduh lagian salah gue sih ngenalin Arjuna malah sebagai sepupu. Bodoh lo Laila," kutuk Laila pada dirinya sendiri dalam hati.
Mereka memutuskan untuk duduk di salah satu gazebo pinggir pantai untuk menikmati sunset sore ini.
Arjuna yang berjalan di belakang mengiringi mereka tak bisa melepaskan padangannya pada kemesraan Laila dan Devan. Tangan Devan tak lepas dari pinggang Laila sedari tadi, hal itu membuat Laila terlihat sedikit tak nyaman.
Sembari menunggu mereka memesan beberapa minuman dan makanan ringan dari sebuah kedai yang tak jauh dari gazebo.
"Eh fotoin gue dong, bagus juga gue liat-liat view dari sini." Tasya menyodorkan kamera yang dibawanya kepada Keira.
"La, ayok barengan sini," ajak Tasya.
"Kei ntar gantian yak gue fotoin," ucap Laila.
"Aman." Keira yang sudah lihai memegang kamera segera mengatur pencayahaan dan juga melihat posisi yang pas untuk kedua sahabatnya berfoto.
"La coba geser kiri dikit, Sya lo noleh ke arah Laila dikit aja, nah gitu, ya gitu perfect." Soal mengarahkan pose saat berfoto Keira itu jagonya, makanya Laila dan Tasya sangat bersyukur bisa punya sahabat kayak Keira.
lima potret berdua dan lima potret masing-masing sudah diambil, saat melihat hasilnya Tasya dan Laila pun sudah puas, sekarang gantian Laila yang mengambil alih posisi Keira.
Melihat para gadis itu berfoto ria, Devan mulai membuka obrolan dengan Arjuna untuk memecah kecanggungan di antara keduanya.
"Mas Juna sepupu jauhnya Laila dari pihak ayah atau ibunya?" tanya Devan tiba-tiba. Itu membuat Arjuna sedikit terkejut, namun mencoba untuk tetap tenang.
Dia ingin sekali menjelaskan semua kesalahpahaman ini, tak ingin kebohongan terjadi lebih jauh. "Sebenarnya saya itu-"
"Dia sepupu aku dari Papi Sayang," potong Laila cepat, untung saja Laila cepat menyadari obrolan kedua pria ini.
Laila yang tadinya sibuk memfoto sekarang sudah duduk di samping Devan kembali. Sementara Tasya dan Keira sudah paham situasi, jadi tidak mempermasalahkan Laila yang tiba-tiba meninggalkan mereka.
"Papimu? perasaan kamu belum pernah cerita." Devan memang baru tahu kalau Laila punya sepupu laki-laki, karena selama ini Laila belum pernah cerita perihal itu.
"Dan bukannya kamu pernah cerita kalau sepupu kamu perempuan semua ya sayang," lanjut Devan heran.
"Aku aja baru tau belum lama kok sayang, pas wisuda kemarin Budhe yang bawa Mas Arjuna ke wisuda aku." Lagi dan lagi Laila berbohong. Benar kata orang kalau sudah sekali berbohong, orang akan terus berbohong untuk menutupi kebohongan sebelumnya.
Dia tidak punya pilihan, hanya tidak ingin merusak momen liburan mereka jika harus sekarang jujur dengan Devan perihal perjodohannya dengan Arjuna.
"Budhe Lastri?"
"Iya, Budhe Lastri. Jadi suami Budhe punya sodara dan Mas Arjuna ini anaknya sodara itu," jelas Laila spontan mengeluarkan semua yang terlintas di pikiran.
"Ohh pantes, emang udah jauh sih itu jatohnya." Sepertinya Devan sudah yakin dengan kebohongan yang Laila buat.
Beberapa saat menunggu, matahari mulai turun perlahan menyentuh garis cakrawala di atas hamparan Samudra Hindia. Waktu seakan melambat, memberi ruang bagi alam untuk memamerkan lukisan terbaiknya.
Langit yang semula biru cerah mulai berganti rupa. Semburat jingga merona, berpadu lembut dengan warna ungu dan merah muda yang hangat. Cahaya keemasan matahari yang hendak pamit memantul sempurna di atas permukaan air laut, menciptakan kilauan yang tampak seperti karpet emas langsung menuju ufuk barat.
Angin laut sore yang bertiup sepoi-sepoi membawa aroma garam yang khas, kesejukan menyebar menyegarkan kulit setelah seharian dinaungi terik.
Melihat keindahan itu Devan tak mau kehilangan momen dengan Laila, ia segera mengajak Laila menuju tepi pantai. "Sayang, ayok kita ke pinggir pantai," ajak Devan dengan semangat.
Devan menggenggam tangan Laila erat tepat di depan Arjuna yang tengah duduk menikmati sunset dari gazebo. Matanya menatap singkat kepergian dua sejoli itu.
Ditinggal oleh dua sejoli itu, Arjuna menyadari dari ujung matanya Tasya dan Keira saling senggol satu sama lain sembari melihat ke arahnya.
"Mas Juna, boleh minta tolong fotoin kita gak di pinggir pantai," ucap Tasya sedikit ragu.
Arjuna menoleh lalu tersenyum, "Boleh Mbak."
"Ihh apaan dah manggil Mbak, ke Laila aja manggilnya Dek," protes Tasya.
"Iya nih Mas Juna pilih kasih banget, lagian nih ya keliatannya mah Mas Juna tu lebih tua deh dari kita," kata Keira yang ikutan protes.
"Jadi ndak nih minta tolong fotonya?" Tidak menanggapi protes keduanya, Arjuna langsung menanyai mereka.
"I-iya jadilah," jawab Tasya.
Segera Tasya dan Keira berlari excited menuju ke arah pinggir pantai.
"Mas Juna, nanti fotoinnya gini ya." Keira memberi tahu Arjuna untuk pengambilan foto yang dia mau dengan menjadikan Tasya sebagai model yang sudah siap dipotret.
"Sya lo agak geseran ke kanan lo coba!" teriak Keira pada Tasya yang sedikit jauh dari mereka.
"Nah oke." Keira memberi isyarat dengan jempol saat posisi Tasya sudah pas, kemudia ia pun berlari menuju Tasya untuk ikut berfoto juga.
"Oke siap, satu dua tiga..." Arjuna beberapa kali memotret keduanya.
"Itu Mas Juna bisa motoin gak sih, kayaknya gak ngeyakinin deh," bisik Tasya.
"Yaudah kita liat dulu, daripada nyesel nanti. Ini sunset udah mau hilang," ajak Keira.
"Mas coba kita liat dulu ya." Keira dan Tasya melihat hasil foto yang diambil oleh Arjuna. Betapa terkejutnya mereka, di luar ekspektasi ternyata Arjuna jago dalam memotret.
"Bagus juga nih hasil jepretan Mas Juna," celetuk Tasya.
"Iya, gak sangka Mas Juna berbakat juga," sambung Keira.
"Mas Juna mau difotoin juga gak," tawar Keira.
Namun, Arjuna menolak dengan sopan tawaran itu. Karena fokusnya bukan untuk bersenang-senang di sini, ada yang harus terus ia pantau.
Matanya beralih ke dua sejoli yang sedang duduk memadu kasih di pinggir pantai tak jauh dari tempat mereka. Terlihat keduanya bermesraan, terlihat Devan yang mendekatkan wajahnya pada Laila. Saat Laila menoleh, batas antara wajah mereka hanya beberapa senti saja. Arjuna memanas, namun ia tak punya alasan untuk melarang adegan itu terjadi.
Tapi, sepertinya semesta tak mendukung adegan mesra itu terjadi. Entah dari mana tiba-tiba segerombolan burung melewati dua sejoli itu dan salah satu burung mengeluarkan kotoran tepat di kepala Devan sebelum bibir Devan dapat menyentuh bibir Laila.
"Bwhahahahaha." Tawa Arjuna pecah saat melihat kejadian itu.
Keira dan Tasya yang melihat tingkah Arjuna yang tiba-tiba tertawa pun bingung. Keduanya saling menyenggol satu sama lain.
"Kenapa dia?" bisik Keira.
"Mana gue tau."
"Udah geser ni orang," bisik Keira lagi.
Keduanya memutuskan untuk pergi menjauh dan memanggil Laila dan Devan untuk segera kembali ke penginapan karena hari sudah mulai gelap.
"Laila, Devan, ayok balik udah mau malem!" ajak Tasya.
"Iya bentar, Devan mau bersihin tai burung dari kepalanya!" balas Laila dengan sedikit berteriak karena suaranya tersamarkan oleh suara deburan ombak yang semakin kencang.
"Hah? tai? gue gak salah dengerkan ni Kei." Tasya mencoba meyakinkan diri bahwa yang ia dengar tidak salah.
"Iya, gue juga dengernya tai," balas Keira yang juga mendengar.
"Bwhahahahaha." Keduanya pun tersadar apa yang diketawai oleh Arjuna tadi.
"Pantesan Mas Juna ketawa tadi," ujar Tasya.
...Bersambung... ...