Selama dua tahun Luna Inara Jasmine hidup dalam kebohongan sang suami, Raka Alvaro Mahendra. Sang suami mengatakan jika dirinya impoten.
Namun suatu hari Luna justru mengetahui kenyataan pahit jika sang suami sebenarnya tidak impoten dan memiliki hubungan bahkan anak dari wanita lain.
Bagaimana kisah mereka? Yuk lanjut baca
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kepergian Imelda
Raka tak kunjung datang membuat Luna memutuskan untuk pergi ke rumah sakit bersama Bara. Mereka sama-sama keluar dari lobi. Pada saat yang bersamaan datang mobil sedan berwarna silver berhenti di depan mereka.
Bara melangkah lebih dulu, tangannya terulur membuka pintu belakang dan mempersilahkan Luna masuk. "Masuklah."
"Baiklah," sahut Luna sedikit canggung.
Luna masuk lalu duduk di bangku penumpang belakang, sedangkan Bara duduk di bangku penumpang depan. Mobil pun kembali melaju meninggalkan hotel.
Tidak ada obrolan. Namun sesekali pandangan Luna dan Bara bertemu di kaca spion di depan mereka. Suasana sunyi terus berlanjut sampai mereka tiba di rumah sakit. Jarak yang tidak terlalu jauh dan jalanan yang tidak padat membuat mereka sampai di rumah sakit dengan cepat.
Mobil sedan mewah itu melaju lebih lambat sebelum akhirnya berhenti sepenuhnya di lobi rumah sakit. Luna ingin membuka pintu, tetapi ada yang lebih dulu membukanya. Orang itu tidak lain adalah Bara.
Luna lantas turun dari mobil. Angin pagi langsung menyambutnya, menerbangkan rambutnya yang setengah tergerai. Setelah benar-benar berada di luar mobil, Luna langsung berterima kasih pada ayah mertuanya atas sikap baiknya.
"Terima kasih," ucap Luna dibalas anggukan kecil oleh Bara.
"Ayo masuk," ajak Bara.
Luna mengangguk pelan.
Keduanya berjalan berdampingan menuju ruangan rawat Imelda. Sambil berjalan sesekali Luna melihat ponselnya, berharap ada pesan balasan dari Raka. Senyumnya mengembang saat keinginannya terkabul.
"Maaf, aku ada pekerjaan mendadak sampai lupa mengabarimu."
Luna tersenyum lalu membalas. "Tidak apa-apa."
Luna kembali menyimpan ponselnya di dalam tas sambil tersenyum. Entah mengapa ia senang sekali. Padahal dirinya dan Raka belum terlalu saling mengenal, tetapi Luna merasa bahagia. Seperti jatuh cinta pada pandangan pertama pada laki-laki itu.
"Kamu bahagia menikah dengan Raka?" tanya Bara tiba-tiba.
Seketika Luna menoleh. "Jujur iya. Meskipun kami belum saling mengenal, tapi aku yakin kalau dia laki-laki yang baik."
Bara tidak merespon dengan kata-kata, hanya anggukkan saja. "Semoga kamu tidak akan menyesal nantinya."
Eh?
Luna tiba-tiba berhenti, bingung dengan ucapan Bara. Ucapan itu tiba-tiba membuat Luna merasa cemas.
"Apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya Bara.
Suara berat itu membuat Luna tersadar dan segera menepis kemungkinan-kemungkinan buruk yang akan terjadi ke depannya.
"Tidak apa-apa, Pa."
"Kalau begitu, ayo jalan."
"Iya, Pa."
Keduanya kembali berjalan. Luna dibuat bingung saat Bara membawanya ke arah yang berbeda.
"Kenapa ke sini, Pa. Ruang rawat tante ... maksudku mama Imelda bukan ke arah sini?“ tanya Luna.
"Semalam tiba-tiba Imelda kritis. Dia langsung tidak sadarkan diri. Jadi dokter memindahkannya ke ruangan ICU," jawab Bara.
Luna terkejut bukan main. Padahal siang kemarin Dokter mengatakan keadaan sang ibu mertua menunjukkan pemulihan. "Maksudnya sekarang mama koma?"
Bara mengangguk.
"Kenapa mas Raka tidak memberitahuku."
Bara merespon dengan mengangkat kedua bahunya. "Mungkin dia juga tidak tahu."
"Maksudnya, Pa?"
"Lupakan saja. Kamu kabari saja dia sekarang."
Meskipun masih belum bisa mencerna ucapan Bara, Luna dengan cepat mengirim pesan pada Raka.
Tidak ada obrolan lagi sampai mereka tiba di ruangan ICU. Luna berdiri di depan kaca besar. Dari tempatnya berdiri, ia bisa melihat Imelda terbaring tidak sadarkan diri dengan banyak peralatan medis terpasang di tubuhnya.
Hati Luna merasa sakit. Meskipun belum sepenuhnya mengenal ibu mertuanya itu, namun Luna merasa yakin jika Imelda orang yang baik.
"Kapan mama akan sadar, Pa?" tanya Luna.
Bara menggeleng pelan. "Kita berdoa saja untuk kesembuhannya."
Luna mengangguk sambil menunduk.
-
-
-
Malam hari, Luna kembali ke hotel diantar oleh Bara. Luna turun di lobi sementara, Brian memilih untuk kembali ke rumah sakit.
"Terima kasih, Pa."
"Sama-sama," balas Bara. "Masuk dan istirahatlah."
"Iya, Pa. Kabari aku tentang kondisi mama."
"Tentu."
"Sampai jumpa." Luna melambaikan tangannya yang langsung dibalas oleh Bara.
Luna lantas masuk ke dalam hotel, melangkah dengan sedikit tergesa ke kamarnya. Tiba di kamarnya ia terkejut dengan keberadaan Raka.
"Kamu kapan pulang?" tanya Luna dengan suaranya yang lembut.
"Belum lama. Aku lelah sekali jadi gak bisa ke rumah sakit."
Luna mengangguk mencoba mengerti dengan keadaan sang suami.
"Kamu sudah makan?" tanya Luna.
"Aku sudah makan tadi di luar," jawab Raka. "Kamu sendiri?"
"Aku sudah makan. Tadi papamu mengajakku makan," jawab Luna.
"Baiklah, ayo kita istirahat saja," ucap Raka disambut anggukkan oleh Luna.
Obrolan kecil itu terhenti. Luna pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Hampir setengah jam Luna berada di kamar mandi. Ia masih gugup jika harus tidur satu ranjang dengan Raka, meskipun mereka tidak melakukan apa pun.
"Jangan gugup Luna," kata Luna pada dirinya sendiri.
Luna memutuskan untuk keluar dari kamar mandi. Ia tersenyum saat pandangnya bertemu dengan Raka. Rasa canggung seketika merayap di dada Luna.
Drttt ....
Suara dering ponsel milik Raka membuyarkan suasana. Raka langsung menerima panggilan yang ternyata dari Bara. Senyum Raka tiba-tiba mengembang. Dengan cepat ia mengakhiri sambungan telepon dan meminta Luna untuk segera bersiap.
Luna tersenyum bahagia saat ia mendapatkan kabar jika Imelda telah sadar. Ia dan Raka buru-buru pergi dari hotel menuju ke rumah sakit.
Tidak berselang lama mereka tiba di rumah sakit. Sebelumnya Bara sudah memberitahu jika Imelda sudah dipindahkan ke ruangan rawat yang sebelumnya. Buru-buru mereka menuju ke tempat itu.
"Ma," ucap Raka saat ia tiba di ruangan rawat Imelda.
"Raka," sambut Imelda dengan suaranya yang lirih.
Raka berlari kecil dan langsung memeluk Imelda. "Bagaimana keadaan Mana?"
"Mama baik-baik saja," jawab Imelda. "Kamu dan Luna bagaimana? Oh iya bagaimana malam pertama kalian? Sukses, kan? Mama sudah tidak sabar untuk menggendong cucu."
DEG
Jantung Luna berdetak lebih cepat. Ia tak berani mengucapkan sepatah kata pun.
"Ma, jangan membahas ini dulu. Kita fokus dulu dengan kesehatan Mama," ucap Raka.
"Iya, Ma. Yang dikatakan Mas Raka benar. Mama harus sembuh dulu," imbuh Luna.
Imelda mengangguk dibarengi dengan senyuman tipis. Ia lantas mengulurkan tangannya memberikan isyarat pada Luna untuk mendekat.
Luna langsung menyambut uluran tangan Imelda.
"Luna, jika nanti saya sudah pergi ... tolong jaga Raka dengan baik. Apapun yang terjadi jangan tinggalkan dia," ucap Imelda.
"Mama tidak akan ke mana-mana," ucap Luna.
"Semua orang akan pergi dari dunia ini, Luna," balas Imelda.
Luna menunduk sambil mengangguk. "Iya, Ma," ucap Luna lirih nyaris seperti bisikan.
"Ya sudah. Mama ngantuk. Mama mau tidur sebentar," ucap Imelda.
Luna dengan penuh perhatian membantu Imelda berbaring. Ia dan Raka memilih untuk duduk di sofa yang ada di sudut ruangan bersama Bara dan membiarkan Imelda untuk beristirahat.
Sudah lebih dari dua jam. Luna mulai merasakan ada keanehan. Imelda tak kunjung bangun. Ia lantas meminta pada Raka dan Bara untuk memeriksanya. Kedua laki-laki bergerak menuju tempat tidur Imelda.
"Ma," panggil Raka.
Dua kali Raka memanggil Imelda bahkan sampai menggoyangkan tubuh Imelda, tetapi tak kunjung bangun.
Terlihat Bara memeriksa napas dari hidung Imelda. Wajah Bara berubah serius dan langsung menekan tombol nurse call yang ada di dekatnya. Tidak berselang lama satu Dokter dan perawat datang. Mereka mulai memeriksa Imelda.
Beberapa saat kemudian Dokter menghela napas dan mendekat ke arah Bara. "Maaf, ibu Imelda sudah tiada."
Semua orang terkejut dengan kepergian Imelda yang tiba-tiba. Namun di sini yang paling terpukul adalah Raka.
"Ma, hiks ... hiks ..." Raka berlari ke dekat ranjang.
"Control your self, Raka," ucap Bara.
"Aku gak bisa, Pa."
"Mas, ikhlaskan kepergian mama, ya." Luna berucap sambil mengusap-usap punggung Raka. "Mama sudah gak sakit lagi."
"Kalian pulanglah dulu. Urus semua keperluan pemakamannya. Aku akan tetap di sini mengurus kepulangan jenazahnya," kata Bara.
Raka menggeleng. "Papa saja. Aku yang akan mengurus kepulangan jenazah mama."
"Jangan membantah. Aku tahu kamu tidak bisa," ucap Bara tak ingin menerima bantahan.
"Ayo, Mas," bujuk Luna.
Meskipun berat hati, pada akhirnya Raka menyetujuinya.
-
-
Tidak terasa sudah tujuh hari kematian Imelda. Luna, Raka, dan Bara, duduk bersama di ruangan tengah kediaman Mahendra. Entah apa yang akan dibicarakan oleh Bara. Namun dari raut wajah laki-laki itu, sepertinya ada hal yang serius.
"Papa akan pindah ke luar negeri untuk sementara waktu," ucap Bara.
"Kenapa tiba-tiba, Pa?" tanya Raka.
"Bisnis di sana tidak ada yang mengurus," jawab Bara. "Saya serahkan semuanya urusan pekerjaan di sini padamu, Raka."
"Baik, Pa."
"Satu lagi, jangan macam-macam. Jaga istrimu dengan baik."
"Tentu, Pa."
"Jangan sampai kamu ingkar. Kamu akan tahu konsekuensi jika kamu melakukan itu."
Raka mengangguk seperti anak yang penurut.
emmmm kaya ga deh vanes ga jadi malu secara Raka mana mau lihat orang tersayang tersakiti
OMG kalau terjadi she so dammm sad man