**Alya** adalah gadis yatim piatu yang bekerja keras demi bertahan hidup. Namun, sebuah kesalahan fatal di satu malam—akibat salah memasuki kamar hotel—mengubah takdirnya. Ia terbangun di samping **Devan Dirgantara**, CEO dingin nan kejam dari Dirgantara Group yang sangat membenci skandal.
Alya memilih melarikan diri dan merahasiakan malam itu. Namun takdir berkata lain, beberapa minggu kemudian ia dinyatakan hamil. Di sinilah keajaiban dimulai. Janin di dalam kandungan Alya ternyata bukanlah janin biasa. Sejak usia beberapa minggu, janin tersebut bisa berkomunikasi secara telepatis hanya dengan Alya!
Si "janin ajaib" ini memiliki kecerdasan luar biasa, indra keenam, dan bahkan bisa mendeteksi niat buruk orang-orang di sekitar ibunya.
Saat ibu tiri Alya mencoba meracuninya, si janin memberi peringatan. Saat Devan akhirnya mengetahui kehamilan Alya dan berniat merebut bayinya dengan kontrak dingin, si janin justru mendiktekan syarat-syarat kontrak tandingan yang membuat sang CEO jeni
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina ylna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 13 ngidam
Malam itu, jarum jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Hujan rintik-rintik sisa sore tadi menyisakan udara dingin yang merayap masuk melalui sela-sela kaca penthouse.
Alya berbaring di atas kasur king size kamar utama, berguling ke kiri dan ke kanan dengan gelisah. Selimut tebal yang membungkus tubuhnya sama sekali tidak bisa mengusir rasa dingin yang aneh di dadanya. Perutnya tidak mual, kepalanya tidak pusing, tetapi ada rasa kosong dan rindu yang teramat sangat yang mendadak menyerang seluruh dinding pertahanannya.
Ia menginginkan sesuatu yang hangat. Sangat hangat.
> *[Ibu... berhentilah berguling-guling seperti itu, kepalaku sampai pusing di dalam sini. Aku tahu apa yang kau butuhkan. Kau tidak butuh selimut tebal itu, kau butuh pelukan dari Ayah. Kulitnya yang hangat, aroma tubuhnya yang tenang... ah, bahkan aku pun merindukan pelukannya yang semalam.]*
Alya langsung menyembunyikan wajahnya yang memerah di balik bantal begitu mendengar godaan Baby El.
"El, diamlah! Jangan bicara sembarangan. Tuan Devan pasti sudah lelah setelah bekerja seharian di kantor. Bagaimana bisa aku memintanya memelukku hanya karena hal konyol seperti ini?" batin Alya meronta, mencoba menepis keinginan liar yang terus mendesak di dadanya.
> *[Konyol? Ibu, ini bukan keinginanmu saja, ini adalah kebutuhan biologis janin jenius di dalam perutmu ini! Aku membutuhkan stimulasi kehangatan dari Ayah untuk mengoptimalkan pembelahan sel otakku malam ini. Cepat panggil dia, atau aku akan membuat perutmu mulas karena protes!]*
Alya mendesah pasrah. Ancaman Baby El yang selalu menggunakan alasan "optimalisasi otak" benar-benar tidak bisa dilawan. Lagipula, tubuhnya sendiri memang terasa sangat merindukan dekapan hangat pria itu. Sejak pelukan protektif Devan saat insiden Tiffany tiga hari lalu, tubuh Alya seolah-olah telah merekam rasa aman tersebut dan kini menuntutnya kembali dengan dosis yang lebih besar.
Dengan gerakan lambat dan ragu-ragu, Alya menyibak selimutnya. Ia turun dari ranjang, berjalan pelan keluar dari kamar utama menuju ruang kerja Devan yang terletak di ujung koridor penthouse.
Dari bawah celah pintu ruang kerja, seberkas cahaya lampu masih menyala terang. Alya berdiri di depan pintu kayu kokoh itu selama beberapa menit, tangannya terangkat hendak mengetuk namun selalu tertahan di udara. Rasa gengsi dan malunya bertarung hebat dengan keinginan ngidamnya yang semakin menggila.
*Cklek.*
Sebelum Alya sempat mengetuk, pintu tiba-tiba terbuka dari dalam.
Devan berdiri di ambang pintu, masih mengenakan kemeja hitam yang kancing atasnya sudah terbuka bebas dan lengan yang digulung hingga siku. Di tangannya ada sebuah cangkir kopi kosong. Pria itu tertegun sesaat melihat Alya berdiri di depan pintunya dengan mengenakan gaun tidur rajut longgar dan wajah yang terlihat sangat gelisah.
"Alya? Kenapa belum tidur?" tanya Devan, suaranya yang berat dan serak karena lelah terdengar begitu seksi di telinga sensitif Alya. "Apa perutmu mual lagi?"
Alya menggeleng cepat, matanya menatap ujung kaki Devan, tidak berani menatap langsung ke dalam mata abu-abu pria itu. "T-tidak... perutku tidak mual..."
"Lalu? Ada apa? Apa kamu lapar? Biar aku panggilkan Bibi Nunung—"
"Bukan!" potong Alya cepat, sedikit terlalu keras hingga membuat Devan menaikkan sebelah alisnya heran.
Keheningan malam yang canggung kembali menyelimuti mereka. Alya meremas ujung gaun tidurnya dengan sangat erat, wajahnya kini sudah merah padam menahan rasa malu yang luar biasa. Detak jantungnya berdegup kencang bagaikan genderang perang.
"Aku... aku..." Alya terbata-bata, suaranya mencicit sangat pelan hingga hampir menyerupai bisikan angin.
"Aku tidak bisa mendengarmu, Alya. Bicaralah yang jelas," ucap Devan, melangkah selangkah lebih dekat hingga aroma maskulin alaminya yang segar tanpa parfum langsung menyergap indra penciuman Alya, membuat keinginan ngidamnya semakin meledak-ledak.
Alya memejamkan matanya rapat-rapat, mengumpulkan seluruh keberanian yang tersisa di dalam dirinya. "Aku... aku ingin dipeluk!" pekiknya setengah berbisik, namun cukup jelas untuk ditangkap oleh pendengaran tajam Devan.
Devan membeku seketika. Cangkir kopi kosong di tangannya hampir saja terlepas dari genggamannya jika ia tidak cepat menguasai diri. Pria yang biasanya selalu siap dengan seribu satu strategi bisnis itu mendadak kehilangan fungsi bahasanya.
"Apa?" tanya Devan, memastikan bahwa pendengarannya tidak sedang dikerjai oleh kelelahan kerja malam ini.
Alya perlahan membuka matanya yang berkaca-kaca karena malu, menatap Devan dengan tatapan memohon yang sangat menggemaskan. "Aku... bayimu yang memintanya! Dia bilang dia kedinginan dan butuh pelukan hangat darimu agar otaknya bisa berkembang dengan baik! Ini... ini ngidam, Tuan Devan! Aku tidak bisa mengontrolnya!" bela Alya buru-buru, melemparkan seluruh kesalahan pada sang janin ajaib yang berada di dalam perutnya.
> *[Hei! Ibu, kenapa kau melemparkan seluruh tanggung jawab padaku?! Tapi ya sudahlah, demi kelancaran misi pelukan malam ini, aku rela menjadi kambing hitam. Ayah! Cepat peluk Ibuku! Jangan banyak berpikir lagi!]*
Mendengar bisikan Baby El yang sangat bersemangat di kepalanya, Devan tidak bisa menahan kedutan di sudut bibirnya. Rasa lelah yang mendera tubuhnya setelah meninjau laporan puluhan anak perusahaan seketika menguap begitu saja, digantikan oleh rasa hangat yang menggelitik di dadanya.
Devan meletakkan cangkir kopinya di atas meja konsol di dekat pintu, lalu kembali menatap Alya yang kini berdiri gemetar menanti jawabannya dengan wajah yang sangat menggemaskan seperti kelinci kecil yang ketakutan.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Devan melangkah maju, memangkas habis jarak di antara mereka. Sebelum Alya sempat bereaksi, sepasang lengan kokoh Devan langsung melingkar erat di sekeliling pinggang ramping Alya, menarik tubuh mungil gadis itu masuk sepenuhnya ke dalam dekapan hangat dadanya yang bidang.
*Deg.*
Napas Alya tercekat seketika. Wajahnya bersandar pas di dada Devan, mendengarkan detak jantung pria itu yang awalnya tenang namun perlahan mulai berdetak dengan ritme yang sangat cepat—persis seperti detak jantungnya sendiri.
Kehangatan yang luar biasa langsung menjalar ke seluruh tubuh Alya, mengusir rasa dingin dan kosong yang menyiksanya sejak tadi. Aroma tubuh Devan yang maskulin, bersih, dan menenangkan seolah menjadi obat penenang paling mujarab di dunia. Rasa nyaman yang begitu pekat membuat Alya tanpa sadar mengembuskan napas lega, dan kedua tangan mungilnya perlahan naik, membalas pelukan Devan dengan melingkarkannya di pinggang kokoh sang CEO.
Devan memejamkan matanya, membiarkan dagunya bersandar dengan nyaman di atas kepala Alya yang beraroma harum sampo bayi yang lembut. Pelukan ini terasa sangat pas, seolah-olah tubuh mereka memang diciptakan untuk saling melengkapi satu sama lain dalam dekapan seperti ini.
Tangan kanan Devan perlahan naik, mengusap punggung Alya dengan gerakan lambat dan penuh kelembutan yang menenangkan, sementara tangan kirinya mendekap pinggang Alya lebih erat, memastikan tidak ada celah udara dingin yang bisa mengganggu kehangatan mereka.
> *[Ah... ini dia. Kehangatan tingkat tinggi dengan kualitas premium nomor satu. Gelombang spiritualku langsung stabil dalam sekejap. Ayah, pelukanmu malam ini luar biasa nyaman. Aku akan memberimu poin tambahan lima puluh persen karena kepekaanmu yang luar biasa terhadap kebutuhan tumbuh kembangku.]*
Mendengar pujian dari anaknya, Devan diam-diam tersenyum tipis di dalam kegelapan koridor. Ia terus mengusap punggung Alya, merasakan bagaimana tubuh gadis itu yang awalnya tegang perlahan-lahan mulai rileks sepenuhnya di dalam dekapannya.
Mereka berdiri dalam posisi seperti itu selama beberapa menit yang sangat berharga. Tidak ada suara, hanya detak jantung mereka yang saling bersahutan di tengah keheningan malam penthouse yang mewah.
"Sudah merasa lebih hangat?" bisik Devan lembut, suaranya bergetar halus di dada bidangnya yang menempel pada telinga Alya.
Alya mengangguk pelan di dalam dada Devan, enggan melepaskan pelukan yang sangat nyaman ini. "Sudah... terima kasih, Tuan Devan. Rasanya... sangat nyaman."
"Jika masih kurang, kita bisa melanjutkannya di atas kasur," sahut Devan dengan nada suara yang sedikit menggoda, sebuah sisi lain dari dirinya yang hanya pernah ia perlihatkan pada Alya.
Wajah Alya kembali memerah padam mendengar godaan Devan. Ia melepaskan pelukannya perlahan, menatap Devan dengan tatapan malu-malu yang sangat cantik di bawah temaram lampu koridor. "T-Tuan Devan... jangan menggodaku terus!"
Devan terkekeh pelan, sebuah suara tawa yang sangat jarang terdengar namun terdengar begitu merdu di telinga Alya. Ia menggenggam tangan kanan Alya yang kecil, merasakan cincin giok pemberian kakeknya yang masih melingkar di sana.
"Mari kembali ke kamar. Kamu harus tidur sekarang. Ibu hamil tidak boleh terjaga terlalu larut," ucap Devan lembut, menuntun Alya berjalan kembali menuju kamar utama.
Malam itu, untuk pertama kalinya sejak mereka tinggal bersama, Devan tidak kembali ke ruang kerjanya. Ia ikut membaringkan tubuhnya di samping Alya, menarik selimut tebal untuk menutupi tubuh mereka berdua, lalu kembali menarik Alya masuk ke dalam dekapan hangatnya sepanjang malam.
Di dalam kamar yang kini dipenuhi oleh kehangatan dan kasih sayang yang tulus, Alya perlahan memejamkan matanya dengan senyuman manis yang menghiasi bibirnya. Ia tahu, perjalanan mereka ke depan mungkin masih panjang, namun di dalam pelukan hangat sang CEO dingin ini, ia merasa tidak ada satu hal pun di dunia ini yang sanggup melukainya lagi.