NovelToon NovelToon
Return To You

Return To You

Status: sedang berlangsung
Genre:Angst / Wanita Karir
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Delapan tahun merajut kasih, hubungan Zacheriyya Tengiz dan Evander Vale-Knight hancur lebur dalam satu malam akibat pengkhianatan yang tak termaafkan.

Alih-alih menyesal, Evander justru menyebut tindakan kejamnya sebagai pembalasan ego yang setimpal atas kesalahan masa lalu.

Terluka dan murka, Zacheriyya pergi dengan sumpah tidak akan pernah memaafkan pria itu sampai ia mati.

Dua tahun berlalu dalam pelarian, takdir dengan kejam mempertemukan mereka kembali.

Rasa cinta yang dulu membara kini telah sepenuhnya bermutasi menjadi kebencian yang dingin dan mematikan. Pertemuan tak terduga ini seketika menyulut kembali sumbu dendam lama dan perang ego yang sengit di antara keduanya.

Mereka kini berdiri berseberangan sebagai dua mantan kekasih yang saling membenci setengah mati, siap saling menjatuhkan lewat tatapan tajam dan kata-kata berbisa.

Di tengah pusaran benci dan luka lama yang kembali menganga, siapakah yang akan hancur terlebih dahulu dalam permainan rasa yang berbahaya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#20

Lampu-lampu gantung berspesifikasi industri menyinari Mess Hall—ruang makan utama Markas Komando EOD Pusat Los Angeles—dengan cahaya putih yang benderang.

Terletak di bagian sayap selatan markas, ruang makan ini berukuran cukup luas dengan dinding bata merah khas arsitektur Los Angeles yang tebal dan lantai semen poles yang dingin.

Aroma masakan berbumbu tajam, tumisan daging sapi, serta saus cabai khas ala Meksiko dan rempah-rempah yang menyengat memenuhi udara.

Suara denting sendok, garpu, dan nampan berbahan stainless steel beradu riuh, berpadu dengan gumaman percakapan puluhan personel militer dan 35 peserta pelatihan warga sipil yang baru saja menyelesaikan sesi orientasi hari pertama mereka.

Di meja panjang khusus warga sipil, Evander duduk di antara beberapa peserta pria.

Salah satu dari mereka—Daniel, seorang arsitek lanskap asal Pasadena—sedang asyik mengobrol dengan Lucas, jurnalis foto senior dari pusat kota Los Angeles.

Namun Evander hanya diam. Pria itu menggeser nampan makanannya sedikit menjauh, jemarinya yang panjang hanya mempermainkan gagang garpu tanpa menyentuh makanan di atas piringnya sedikit pun.

Nampan itu berisi porsi standar pelatihan: potongan daging sapi berbumbu merah membara, tumis sayuran berkilau oleh minyak cabai, dan sup merah kental yang aroma mericanya menyengat hingga beberapa inci dari piring.

Evander mendesah pelan, menyandarkan punggungnya pada kursi besi. Perutnya memang lapar setelah melewati proses registrasi dan orientasi sejak pagi, namun penglihatannya yang tajam sudah cukup untuk memberitahu bahwa makanan di hadapannya adalah 'racun' bagi pencernaannya.

Evander tidak bisa mengonsumsi makanan pedas. Toleransinya terhadap rasa pedas sangat rendah—satu gigitan cabai saja bisa membuat perutnya melilit dan kulitnya merona merah seketika.

Di meja pengawas yang terletak di panggung rendah di ujung ruangan, Zach—yang di markas ini dikenal dengan nama resminya, Zacheriyya—memperhatikan meja warga sipil dari balik cangkir kopi hitamnya.

Mata Zacheriyya yang terlatih menyapu seluruh area ruang makan, namun fokus utamanya tidak pernah benar-benar lepas dari sosok Evander. Ia melihat bagaimana pria itu hanya menatap piringnya dengan raut wajah serba salah yang sangat tipis—ekspresi yang hanya diketahui oleh Zacheriyya.

Zacheriyya menyipitkan mata. Pria bodoh itu... dia tidak menyentuh makanannya sama sekali.

Zacheriyya meletakkan cangkirnya di atas meja dengan denting halus. Ia melirik ke arah Sersan Mayor Hendrick yang sedang menikmati makan malamnya tidak jauh dari sana.

Tanpa menimbulkan kecurigaan, Zacheriyya berdiri dari kursinya, melangkah menghampiri salah satu juru masak markas yang sedang membawa baki minuman di samping panggung, lalu membisikkan instruksi pelan namun tegas.

"Periksa piring di meja ujung kanan, nomor empat dari sudut," bisik Zacheriyya dengan nada profesional yang amat tenang. "Tanyakan pada pria kemeja abu-abu itu apakah makanannya terlalu pedas. Jika ya, tukar nampannya dengan porsi khusus tanpa cabai dan cabai bubuk. Katakan itu prosedur penilaian gizi standar dari tim medis markas."

Juru masak itu mengangguk patuh. "Siap, Instruktur Zach."

Zacheriyya memutar tubuhnya, melangkah kembali menuju meja khusus instruktur, namun langkahnya memutar melewati meja peserta wanita di mana Svea dan Alessia sedang duduk.

Svea, seperti biasa, sedang mengunyah makan malamnya dengan penuh semangat sembari mengomeli kenyataan bahwa jus jeruk di markas ini tidak menggunakan gula tambahan.

"Ini benar-benar kamp militer murni, Ale! Jus ini rasanya seperti perasan asam murni!" cerocos Svea dengan mulut agak penuh, tangannya melambai-lambai heboh di udara. "Tapi jujur ya, suasana Los Angeles sore ini dari jendela barak tadi keren banget. Dan lihat pria-pria di ujung sana, beberapa staf pengawasnya tampan-tampan sekali! Kurasa dua bulan di sini tidak akan seburuk yang aku bayangkan!"

Alessia, yang duduk di samping Svea, hanya menatap Svea dengan tatapan pasrah paling mendalam yang pernah ada. Ia memotong daging di piringnya dengan gerakan sangat pelan dan elegan, bertolak belakang dengan kehebohan sahabatnya.

"Svea, tolong," suara Alessia terdengar sangat lemas namun penuh kasih sayang khas seorang sahabat sejati. "Otot kakiku sudah terasa mau lepas hanya karena berjalan menyusuri koridor beton tadi. Dan kamu masih sempat-sempatnya memikirkan ketampanan pengawas? Aku mengikutimu ke pelatihan EOD di Los Angeles ini murni karena aku menyayangimu dan tidak mau kamu pingsan sendiri di tengah lapangan, ya. Jadi tolong kasihanilah telingaku malam ini."

Zacheriyya yang berjalan melintas tepat di belakang kursi mereka tidak bisa menahan senyum tipisnya. Ia berhenti sejenak, menyentuh pundak Alessia dengan lembut.

"Makan yang banyak, Ale. Besok pagi jadwal kalian adalah lari penyesuaian lima mil menyusuri perbukitan belakang markas," bisik Zacheriyya hangat.

Alessia mendongak, matanya membelalak kaget bercampur horor. "Lima... mil? Cher—maksudku, Instruktur Zacheriyya... tolong katakan itu bercanda..."

Zacheriyya hanya memberikan kedipan mata singkat sebelum melanjutkan langkahnya, meninggalkan Svea yang tertawa terpingkal-pingkal dan Alessia yang makin meratapi nasibnya di atas piring makan.

Sementara itu, di meja Evander, sang juru masak baru saja menghampirinya.

"Permisi, Sir," panggil juru masak itu sopan, mengetuk tepi meja Evander. "Saya memperhatikan Anda belum menyentuh hidangan. Apakah menu malam ini terlalu pedas untuk Anda?"

Evander menengadah, agak terkejut. "Ah... ya, sejujurnya rasa pedasnya agak terlalu tajam untuk saya."

"Baik, Sir. Atas instruksi standar gizi medis markas, saya akan mengganti nampan Anda dengan steak ayam memanggang herbal dan sup krim kentang tanpa cabai," ujar juru masak itu sembari menarik nampan lama Evander dan menggantinya dengan nampan baru yang masih berasap hangat.

Daniel dan Lucas yang duduk di sekitar Evander menatap hal itu dengan takjub. "Wah, pelayanan di markas EOD Los Angeles ini ternyata detail sekali ya? Sampai rasa pedas saja diperhatikan," gumam Lucas.

Namun Evander tidak mendengarkan komentar teman-temannya. Matanya perlahan bergeser ke arah panggung instruktur di sudut ruangan.

Di sana, Zacheriyya sedang duduk bersandar, menyesap kopi hitamnya sembari menatap lurus ke depan—berpura-pura tidak terjadi apa-apa.

Sudut bibir Evander terangkat lebar. Sebuah senyuman manis, liar, dan sedikit gila terpatri di wajah tampannya. Siapa lagi di markas besar ini yang tahu betul batas toleransi lidahnya terhadap rasa pedas selain wanita itu? Perhatian rahasia dari Zacheriyya di tengah ketatnya disiplin militer ini membuat rasa lapar Evander mendadak berganti menjadi kehangatan yang meletup-letup di dalam dadanya.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Pukul sembilan malam. Jam malam untuk warga sipil telah diberlakukan. Seluruh koridor Gedung Utama Markas EOD Pusat Los Angeles mendadak sunyi. Hujan gerimis tipis mulai mengguyur Kota Para Malaikat di luar sana, mengetuk-ngetuk kaca jendela dengan nada konstan yang menenangkan.

Di ujung koridor lantai dua—area kediaman perwira dan instruktur—pintu Kamar Nomor 12 tertutup rapat.

Ruangan itu merupakan ruang kerja sekaligus kamar pribadi milik Zacheriyya. Berukuran sedang, berisi satu tempat tidur queen-size dengan sprei abu-abu rapi, lemari besi pakaian, meja kerja kayu yang dipenuhi tumpukan berkas skenario simulasi, serta sebuah kamar mandi dalam.

Zacheriyya baru saja selesai mandi. Ia mengenakan celana training hitam dan kaos polos longgar berwarna abu-abu. Rambutnya yang masih agak basah dibiarkan terurai di bahunya. Ia baru saja menyeduh secangkir teh herbal panas ketika suara ketukan pelan—tiga kali ketukan pendek dengan irama yang sangat spesifik—terdengar di pintunya.

Zacheriyya membeku. Itu adalah irama ketukan yang biasa digunakan Evander saat mendatanginya sewaktu mereka masih berpacaran.

Dengan cepat, Zacheriyya melangkah menuju pintu, membuka penguncinya, dan menarik pintu itu sedikit.

Sesosok tubuh tinggi tegap menyelinap masuk dengan sangat cepat dan gesit sebelum Zacheriyya sempat memprotes. Pintu langsung ditutup kembali oleh lengan kekar Evander, lalu dikunci rapat dari dalam.

KLIK.

Zacheriyya mundur satu langkah, memegang cangkir tehnya erat-erat sembari menatap pria yang kini berdiri santai di dalam kamarnya.

Evander sudah berganti pakaian menggunakan kaos hitam dan celana santai, rambut cokelat gelapnya sedikit berantakan, dan aroma wewangian khasnya langsung menguasai seluruh sudut ruangan Zacheriyya.

"Apa yang kau lakukan di sini?!" bisik Zacheriyya dengan nada penuh penekanan, matanya membelalak menatap suaminya. "Ini koridor instruktur, Evander! Jika Sersan Mayor Hendrick atau pengawas lain melihatmu menyelinap keluar dari kamar 07 dan masuk ke kamarku, kita berdua bisa kena masalah besar!"

Bukannya merasa takut atau canggung, Evander justru menyandarkan punggungnya pada pintu kayu yang terkunci, melipat kedua tangannya di depan dada sembari menatap Zacheriyya dengan tatapan mata yang luar biasa dalam dan penuh kerinduan.

"Aku kan sudah bilang di lapangan tadi, Chery..." suara Evander terdengar begitu bass, rendah, dan halus, bergema secara intim di dalam kamar yang sunyi. "...selimut dan handukku ada di kamarmu. Aku cuma datang untuk mengambilnya."

Zacheriyya memutar matanya, berjalan menuju lemarinya dan mengambil satu selimut tebal serta handuk bersih yang memang sengaja ia siapkan di sana. Ia melempar kedua benda itu ke dada Evander, yang dengan sigap ditangkap oleh pria itu.

"Ini selimutmu. Sekarang kembali ke kamarmu sebelum ada patroli malam," tegas Zacheriyya, menunjuk ke arah pintu.

Namun Evander tidak bergerak sedikit pun. Ia meletakkan selimut dan handuk itu di atas kursi meja kerja Zacheriyya, lalu melangkah mendekati istrinya. Langkah kakinya tanpa suara, seperti seekor pemangsa yang mendekati sasarannya dengan penuh kelembutan.

"Jawab aku jujur, Evander," Zacheriyya menengadah, menatap manik mata cokelat jernih milik suaminya ketika jarak mereka kini hanya tersisa satu jengkal.

"Apa maksudmu datang ke pelatihan ini? Apa kau tidak punya pekerjaan di kantor pusat Vale-Knight, hah? Kau meninggalkan rapat direksi dan proyek jutaan dolar cuma untuk merayap di lumpur markas ini selama dua bulan?"

Evander tersenyum—senyuman gila, hangat, dan sangat menawan yang selalu menjadi kelemahan terbesar Zacheriyya. Pria itu mengulurkan tangannya, jemarinya yang hangat dan sedikit kasar menyentuh pipi Zacheriyya, menyelipkan sehelai rambut basah istrinya ke belakang telinga.

"Pekerjaan di kantor bisa diatur oleh sekretaris dan jajaran direksi, Sayang," bisik Evander lembut, ibu jarinya mengusap lembut tulang pipi Zacheriyya yang merona. "Tapi melewatkan dua bulan penuh tanpamu? Tanpa bisa melihat wajahmu setiap hari, tanpa bisa mendengar suaramu? Itu hal yang tidak bisa ditanggung oleh bisnis mana pun."

Zacheriyya merasakan jantungnya berdegup kencang secara tidak teratur. "Tapi ini markas militer... kau menyiksa dirimu sendiri."

"Aku tidak merasa tersiksa," balas Evander, sudut matanya berbinar jenaka. "Lagipula... terima kasih untuk steak ayam dan sup krim tanpa cabainya malam ini. Kekasihku ternyata masih sangat perhatian, walaupun di depan orang banyak berpura-pura jadi instruktur paling galak di Los Angeles."

"Evander..." Zacheriyya mencoba memberikan tatapan melotot, namun suaranya yang melemah menyertai helaan napas pasrah membocorkan perasaannya yang sebenarnya. "Kau benar-benar gila."

"Aku gila karena mencintaimu, Sayang. Kau tahu itu sejak delapan tahun lalu," bisik Evander lagi.

Tanpa memberi kesempatan pada Zacheriyya untuk membalas, Evander menundukkan kepalanya, mendaratkan kecupan hangat dan lembut di dahi Zacheriyya.

Sentuhan bibir Evander yang hangat di kulit dahinya membuat Zacheriyya memejamkan mata rapat-rapat, meresapi rasa aman dan kerinduan mendalam yang selalu dibawa oleh pria ini.

Evander memeluk pinggang Zacheriyya melonggarkan jarak, menarik tubuh Cherry ke dalam pelukan eratnya selama beberapa detik. Hidungnya menempel di leher Zacheriyya, menghirup aroma sabun dan kehangatan tubuh istrinya yang selalu menjadi tempatnya pulang.

"Aku akan kembali ke kamar 07 sekarang," bisik Evander di samping telinga Zacheriyya, melepaskan pelukannya secara perlahan dan mengambil kembali selimut serta handuknya dari atas kursi. "Sampai ketemu besok pagi di lapangan, Instruktur Cherry. Tolong jangan terlalu galak saat lari lima mil besok."

Evander mengedipkan matanya, membuka pengunci pintu dengan sangat pelan, melirik ke luar koridor yang sepi, lalu menghilang ke dalam kegelapan lorong dengan langkah cepat tanpa suara.

Zacheriyya berdiri mematung di dekat pintu yang kembali tertutup. Ia menyentuh dahinya yang masih terasa hangat sisa ciuman Evander.

Hujan di luar jendela Los Angeles terdengar makin deras, namun di dalam dadanya, ada kehangatan luar biasa yang membakar habis seluruh rasa dingin malam itu.

🌷🌷🌷

Happy reading 🫶🏻🦋

1
Mei TResna Rahmatika
sedihh bangett part ini😭
Rosdianah 🌷: huhuhu🥲
total 1 replies
Hennyy exo
kurang banget🤭🤭

omg evander aku padamu😘😘
Rosdianah 🌷: heheh anak author 🤣
total 1 replies
Hennyy exo
sangat suka dengan alurnya dan penulisannya juga bagus mudah dipagami
Rosdianah 🌷: ma'aciww kak🫶🥰
total 1 replies
Hennyy exo
pliss thor sehari upnya 4 atau 6 bab ya🤭
Rosdianah 🌷: heheh nggak janji ya kak🤭
total 1 replies
Hennyy exo
wow makn menanyang thor babnya
Hennyy exo
sumpah thor alurnya makin bagus banget😍
Rosdianah 🌷: Ma'aciww kak sudah stay baca🫶
total 1 replies
Hennyy exo
baca di bab ini.kaya orang gila🤣🤣🤣
gemes deh ama merka berdua
Hennyy exo
di bab ini suka banget ma alurnya
nayla tsaqif
Apa kbr Gabriella margareth,,?? 🤭
Rosdianah 🌷: tunggu kak🤭🤣
total 1 replies
Bonny Liberty
emang minus kayanya ini laki,yang bengkokin siapa,yang lurusin siapa/NosePick/berasa yang paling ...banget deh/Hammer/
Rosdianah 🌷: perlu digampar 🤣
total 1 replies
Mita Paramita
yaudah sih Evander bilang jujur aja ke Cherry kalo masih suka dan gak punya hubungan sama Gabriela 🤨 balikan lagi nih pasangan serasi 😍
Rosdianah 🌷: hihi🤣
total 1 replies
nayla tsaqif
Ati2 cherry,, awas kena PHP,, jangan gmpang luluh,, 😌
Bonny Liberty
denger dulu dong omongan si E,biar jelas /Shy/ suka banget sok pintar 🏏
Rosdianah 🌷: hihihi🤭
total 1 replies
nayla tsaqif
Buat misi penyelamatan lg thor,,, mungkin bom di sekolah ponakan evan,, 🤭 q suka tokoh heroik, 🤣
Rosdianah 🌷: Ok Kakak🫶
total 1 replies
Mita Paramita
baru jelas nih alur ceritanya 🫡 ternyata wanita hamil itu Gabriela dan Evander blom nikah 🤣🤣🤣
Rosdianah 🌷: kwkwkw🤭 Semoga suka ya Kak🫶
total 1 replies
Mita Paramita
😍😍😍 The vale knight series lover
Rosdianah 🌷: uhuuuuuiii 🥳
total 1 replies
Bonny Liberty
maaf kisanak, bukan pecahan kaca tapi ranjau darat yang kena bayangan dirimu aja bisa meledak.../Grievance/
Rosdianah 🌷: kwkwkw🤣
total 1 replies
Bonny Liberty
kata cintanya murahan, ga sadar diri,harusnya kamu tau kurang mu apa,hubungan toxic jadinya kan,dah gitu kehilangan real love gara..gara EGO LAKI,dia ga mikir apa cewe juga punya
Rosdianah 🌷: Semoga suka cerita Baru nya kak🫶
total 1 replies
Bonny Liberty
salah satu masalah dunia EGO LAKI..LAKI../Smug/
Rosdianah 🌷: huhuhu 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!