NovelToon NovelToon
Ibu Susu Sang CEO

Ibu Susu Sang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Penyelamat / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Fitria callista

Violet adalah gadis desa yang diusir oleh pacar setelah melahirkan bayinya, dia yang Luntang lantung dijalan tepaksa menjadi ibu susu seorang CEO tampan yang mendapatkan kutukan. Ternyata CEO itu adalah paman dari mantan pacar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria callista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1.

Disebuah kamar yang sangat gelap, Violet Beby Salsabila duduk sendirian.

Dia menggigit bibir bawahnya.

Tiba-tiba suara lampu dihidupkan. Sosok pria tampan yang duduk di kursi roda menghampiri dirinya.

"Apakah kau ibu susu yang akan menyusuiku?" tanya pria itu.

"Apa?" Violet bingung. Lalu dia melanjutkan ucapannya. "Jadi saya disini untuk menyusui anda Tuan?"

"Memangnya pekerjaan apa yang kau inginkan? Kau berharap aku akan menjadikanmu itu istri?" sanggah pria itu.

Kedua bibir Violet langsung terkatup sempurna.

"Bu - bukan begitu. Seingat saya, tugas saya disini untuk menyusui bayi," katanya dengan nada terbata.

"Menyusui bayi atau pun orang tua tidak masalah, intinya pekerjaanmu hanya untuk menyusui bukan," sahut pria cacat yang tubuhnya hanya tertinggal kulit dan tulang itu secara sinis.

Violet hanya bisa pasrah, seraya menghembuskan nafas kasar. Yang penting sekarang dirinya punya bayaran untuk tetap hidup.

Dikota hidup lontang lantung sendirian seperti gembel membuatnya tidak berdaya.

Mau pulang ke kampung, juga tidak mungkin.

Dia tidak mau membuat ayahnya yang duda miskin menjadi kepikiran dengan nasibnya yang buruk.

Apalagi mengingat dirinya yang belum lulus SMA, harus hamil dan setelah melahirkan bayinya diambil paksa oleh keluarga yang menghamilinya.

Padahal sebelumnya, keluarga pacarnya itu menjanjikan setelah dia melahirkan.

Akan menikahkannya dan membuat lamaran yang sangat meriah dikampung untuknya.

Tapi setelah dirinya melahirkan.

Dia malah dibuang, dan bayinya diambil.

"Felix, kenapa kamu itu tega sama aku?" gumam Violet masih belum mempercayai, jika janji-janji yang sebelumnya diucapkan pacar yang sangat dicintainya itu hanya bualan semata.

Dia tidak menyangka, pacar yang sangat dia percayai tega mengkhianatinya.

Pacarnya itu malah meninggalkannya dan setuju dijodohkan dengan sahabatnya sendiri Marina Santoso.

Walaupun begitu kenangan manis saat SMA yang dia jalani bersama dengan Felix Samuel Handoyo, sekarang ini berputar-putar dalam ingatannya.

"Kenapa malah melamun? Ayo bantu aku meminumnya langsung!" Suara baritone itu terdengar menyeramkan.

Violet pun menoleh, dengan pipi ya memerah dan perasaan canggung.

Dia langsung memajukan dadanya.

"Gak sopan," kata pria lumpuh itu dengan nada ketus.

Violet mengernyit bingung.

"Bantu aku tiduran di kasur!" kata pria itu dengan nada galak.

Violet pun buru-buru membantunya.

"Ntah apa yang dipikirkan oleh nenek. Kenapa dia malah mencari ibu susu yang masih ingusan seperti dirimu," gerutu pria itu.

"Apa? Ingusan, aku bukan anak ingusan. Bahkan aku bisa buat anak dan sudah melahirkan!" Violet reflek membalas ucapan yang menyakitkan.

Karena violet memang tipe gadis yang tidak mudah untuk ditindas.

"Oh ya!" kata pria itu dengan wajah sinis, lalu dia menambahkan.

"Kalau memang sudah dewasa, harusnya bisa mengontrol emosi dan tidak di bodohi. Hanya bocah ingusan yang mudah marah, bahkan percaya dengan adanya cinta."

Violet yang bukan orang bodoh, tentu saja tahu bahwa pria itu sedang menyindir dirinya.

Violet adalah gadis terpintar di SMA Taruna.

Dia mendapatkan beasiswa dan uang saku saat bersekolah disana.

Ibunya sudah meninggal dunia.

Dan orang yang dipunyai oleh Violet adalah ayahnya seorang yang menjadi seorang petani.

Ayahnya begitu mempercayai dirinya.

Mengijinkannya untuk bersekolah di SMA terbaik di kota.

Berharap anaknya akan menjadi orang sukses dengan pendidikan setinggi langit.

Tapi jika tahu nasib putri tunggalnya seperti ini. Bukankah ayahnya malah sedih?

Mendengar cemoohan yang dikeluarkan oleh pria itu, Violet malah teringat ayahnya yang sendirian di kampung.

Sontak matanya berkaca-kaca.

Saat pria itu ingin bertanya lebih lanjut, tiba-tiba pintu kamar sudah dibuka lebar.

Menampilkan seorang wanita paruh baya yang masuk dengan di ikuti oleh beberapa pelayan.

"Romeo, kenapa Violet menangis?" tanya wanita paruh baya itu.

"Aku tidak ngapa-ngapain," jawab Romeo dengan nada patuh, bahkan wajahnya yang sebelumnya sinis sekarang berubah menghangat saat menatap wanita paruh baya itu.

Karena wanita paruh baya itu adalah orang yang paling Romeo hormati dan sayangi.

Dia adalah Nenek Amarta Handoyo, orang yang merawat Romeo sejak kecil di kota ini.

"Gak mungkin, pasti kamu memarahinya bukan?" Nenek Amarta memandang cucunya dengan tatapan tajam. Lalu dia menambahkan, "kurangilah wajah galakmu! Nenek yakin, gadis ini pasti bisa menyembuhkan penyakit langka yang diderita olehmu!"

Romeo berbicara dengan nada tidak terima. "Aku gak kena penyakit langka! Aku itu hanya ... "

Nenek Amarta langsung menyela ucapan Romeo, "gak kena penyakit langka apanya! Nenek sudah mencarikan semua susu segar terbaik. Ntah dari sapi atau apapun! Tubuh mu malah semakin kurus, ini itu karma karena dulu kamu menyia-nyiakan mendiang istrimu yang hamil!"

Nenek Amarta nampak mengambil nafas dalam-dalam guna menjeda ucapannya, nafasnya terlihat terengah-engah.

"Makanya kalian berdua kecelakaan, dan tubuhmu berakhir seperti ini! Semoga saja apa yang di katakan oleh madam Gie itu benar. Gadis yang terbuang ini bisa menjadi penyelamat dan dewi keberuntungan untukmu."

Romeo hanya bisa menghembuskan nafas kasar.

Mengingat apa yang diucapkan oleh neneknya itu bisa benar atau salah.

Mengingat setelah setahun lalu kecelakaan, tubuhnya semakin kurus.

Bahkan mengkonsumsi obat, suplemen terbaik didunia pun tidak ada gunanya.

Sebenarnya bukan hanya Violet yang merasa canggung.

Romeo juga, mengingat dirinya yang sangat anti dekat dengan lawan jenis.

Juliet, istri Romeo dulu bisa hamil karena dia meminum obat perang sang yang di berikan oleh seseorang saat mabuk.

Jika teringat akan Juliet, hati Romeo terasa sakit.

Setengah tahun menjadi istrinya, hanya pengabaian dan rasa sakit yang diberikan oleh Romeo.

Sekarang saat Juliet sudah tidak ada, Romeo baru terasa kehilangan.

Walaupun karma yang dikatakan oleh nenek Amarta belum tentu benar, karena hanya Tuhanlah yang tahu.

Tapi Romeo merasa pantas mendapatkannya.

"Romeo, ingat. Perlakukan Violet dengan sangat baik! Dia yang akan mengobati penyakit anehmu! Kamu itu satu-satunya pewaris utama keluarga Handoyo, kamu gak boleh mati membiarkan nenek sendirian yang mengurus keluarga yang serakah itu!" ancam nenek Amarta.

Mendengar ancaman itu Romeo terlihat memasang ekspresi wajah bersalah, bahkan dia langsung menjawab.

"Baik nenek, aku usahakan segera sembuh! Biar aku gak bakalan nyusahin nenek lagi."

"Bagus Romeo, sekarang mulai lakukan ritualnya! Nenek gak akan mengganggu," ucap Amarta.

Sementara Violet sendiri malah melongo saat menyimak percakapan yang dilakukan oleh Nyonya Amarta dan pria cacat itu.

"Apakah aku akan dijadikan tumbal?" Sebuah pertanyaan berkecamuk dalam diri Violet.

"Violet, ayo bantu aku duduk di ranjang! Kita mulai ritualnya!" kata Romeo dengan nada yang sulit untuk dideskripsikan.

Melihat wajah ketakutan gadis yang ada didepannya saat berbicara dengan neneknya, membuat sifat jahil dalam diri Romeo bangkit.

Romeo tentu saja tahu, latar belakang dan beberapa informasi penting tentang Violet.

Bahkan Felix keponakannya yang mengambil banyak keuntungan dari Violet. Dia juga tahu itu.

Sebenarnya Romeo bukan tipe orang yang suka bersimpati, tapi mengingat kisah hidup Violet mengingatkannya dengan mendiang Juliet istrinya.

Jadi Romeo setuju agar Violet membantunya, apalagi Violet adalah gadis pilihan yang di pilihan oleh madam Gue. Sesepuh yang begitu dipercayai oleh neneknya yang masih berpikiran kuno.

Nyali Violet ciut.

Mengingat mau kabur, dirinya yang jadi gelandangan diincar oleh para pria mesum di jalan. Bahkan kelaparan.

Tapi disini, juga bukan tempat yang aman.

Bagaimana pun juga, violet tetap harus memilih yang terbaik.

"Violet! Ayo, bantu aku!" kata Romeo yang mana langsung membuat lamunan Violet buyar.

Dengan wajah memerah, dia membantu Romeo dari duduk dikursi roda, merebahkannya perlahan diatas ranjang.

"Sekarang buka bajumu!" titah Romeo.

"Apa?" beo Violet dengan wajah bodoh.

"Masih keluar kan ASInya? Aku butuh sarimu untuk menyembuhkan ku!"

Mendengar ucapan Romeo barusan.

Violet di buat begidik ngeri.

"Dibuka yang mana? Bagian atas, atau bagian luar saja? Atau ..."

"Ayo buka semua sekarang!" sanggah Romeo.

Glek.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!