NovelToon NovelToon
Dahaga Sang Tuan

Dahaga Sang Tuan

Status: tamat
Genre:Beda Usia / Cerai / CEO / Duda / Pengasuh / Ibu susu / Tamat
Popularitas:13.7M
Nilai: 4.9
Nama Author: your grace

Demi melunasi hutang keluarga, Amara (19) nekat merantau ke Jakarta dengan rahasia tubuh yang tak lazim: ia mampu menghasilkan ASI meski masih perawan. Keajaiban itu membawanya menjadi pengasuh bayi milik Arlan, pengusaha dingin yang dikhianati istrinya.

Saat bayi Arlan menolak segala jenis susu formula, hanya "anugerah" dari tubuh Amara yang mampu menenangkannya. Namun, rahasia itu terbongkar. Bukannya marah, Arlan justru terobsesi. Di balik pintu kamar yang tertutup, Arlan menyadari bahwa bukan hanya putranya yang haus akan kehangatan Amara—ia pun menginginkan "jatah" yang sama.

Antara pengabdian dan gairah terlarang, Amara terjebak dalam jerat cinta sang tuan yang posesif. Apakah ini jalan keluar bagi kemiskinannya, atau justru awal dari perbudakan nafsu yang manis?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon your grace, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15: Godaan di Tengah Malam (Revisi)

Keheningan malam menyelimuti mansion Aditama. Hanya suara detak jam dinding yang menemani kesunyian di lantai dua. Amara terbangun dengan tenggorokan yang terasa seperti terbakar. Ia meraba nakas di samping tempat tidurnya, namun jemarinya hanya menyentuh permukaan kayu yang kosong. Ia lupa membawa botol air minum ke kamarnya sebelum tidur tadi.

"Haus sekali..." gumamnya lirih.

Ia melirik jam beker di samping tempat tidurnya. Pukul satu dini hari. Amara menghela napas panjang, mencoba memejamkan mata kembali, namun rasa haus itu semakin menjadi. Akhirnya, dengan langkah malas, ia bangkit dari ranjang.

Kriitt...

Suara deritan pintu kamar Amara yang dibuka perlahan ternyata menembus dinding ruang kerja Arlan yang terletak tak jauh dari sana. Di dalam ruangan yang hanya diterangi lampu meja itu, Arlan sedang berkutat dengan berkas-berkas audit perusahaan. Pendengarannya yang tajam langsung menangkap suara itu.

Arlan melirik tablet di meja kerjanya. Dengan satu sentuhan, ia membuka akses CCTV lorong lantai dua dan area dapur. Layar tablet itu menampilkan sosok Amara yang baru saja keluar dari kamar. Arlan menyandarkan punggungnya ke kursi kulit, sebuah senyum miring tersungging di bibirnya.

"Mau kemana kau, Amara?" bisiknya pelan.

Di layar, Amara tampak menuruni tangga dengan hati-hati. Ia mengenakan daster batik sederhana selutut yang motifnya sudah agak pudar. Pakaian rumahan yang sangat biasa, namun potongan kain yang jatuh pas di tubuhnya memperlihatkan siluet Amara dengan jelas dalam keheningan malam. Langkahnya yang anggun namun ragu-ragu entah bagaimana membuat Arlan melepaskan kacamata bacanya dengan perlahan.

Arlan menutup tabletnya. Pekerjaan audit yang tadinya sangat penting kini terasa membosankan. Ia merasa butuh pengalihan malam yang lebih nyata daripada sekadar angka di atas kertas. Ia ingin melihat lebih dekat bagaimana rupa pengasuh rumahnya itu saat sedang lengah di tengah malam.

Di dapur yang remang-remang, Amara menuangkan air dingin dari dispenser ke dalam gelas. Ia meminumnya dengan cepat untuk melegakan tenggorokannya. Setetes air mengalir dari sudut bibrnya, melewati lehernya yang jenjang, dan menghilang di balik kerah dasternya.

Plek.

Suara langkah kaki yang berat membuat Amara tersentak hingga hampir menjatuhkan gelasnya. Ia berbalik dengan cepat dan mendapati Arlan sudah berdiri di ambang pintu dapur. Pria itu masih mengenakan kemeja kerjanya, namun lengan kemejanya sudah digulung hingga siku dan beberapa kancing teratasnya terbuka, menampilkan kesan maskulin yang berantakan namun sangat berwibawa.

"T-Tuan? Belum tidur?" tanya Amara dengan suara gemetar. Ia secara refleks menyilangkan tangan di depan dada, mendadak merasa sangat rentan di bawah tatapan intens pria itu.

Arlan tidak menjawab. Ia melangkah maju dengan tenang, masuk ke dalam area dapur yang sempit. Langkahnya yang mantap membuat Amara terdesak hingga punggungnya menempel pada meja marmer dapur.

"Pekerjaanku membuatku haus, Amara," ucap Arlan dengan suara rendah yang menggetarkan udara di ruangan itu. Matanya tidak menatap gelas di tangan Amara, melainkan terkunci pada ekspresi gugup Amara dan deru napasnya yang memburu.

Arlan berhenti tepat di depan Amara. Jarak mereka begitu dekat hingga Amara bisa mencium aroma kopi dan sisa parfum Arlan yang maskulin. Arlan mengulurkan tangannya, bukan untuk mengambil gelas, melainkan untuk menyentuh ujung daster Amara di bagian bahu.

"Pakaian ini... sangat sederhana," gumam Arlan, jemarinya sengaja mengusap kulit bahu Amara yang halus, mengirimkan sensasi hangat yang membuat Amara terpaku. "Tapi keindahanmu tidak bisa disembunyikan oleh pakaian seadanya ini."

Amara menahan napas saat merasakan tatapan Arlan semakin dalam mengunci seluruh fokusnya. "Tuan... ini sudah malam, saya harus kembali ke kamar."

"Malam justru waktu yang tepat untuk menyelesaikan urusan yang tertunda, bukan?" Arlan menyeringai. Ia mengambil gelas dari tangan Amara yang gemetar, meletakkannya di meja tanpa memutuskan kontak mata. "Lagipula, aku tidak bisa tenang jika tahu ada seseorang yang berkeliaran di dapurku tanpa pengawasan."

Arlan semakin mengikis jarak, menekan posisi tubuhnya hingga Amara benar-benar terhimpit di antara postur tegap sang tuan dan pinggiran meja marmer yang dingin. Hawa panas yang terpancar dari tubuh Arlan terasa kontras dengan dinginnya batu marmer di belakang punggung Amara.

"T-Tuan... jangan begini. Nanti ada orang yang lihat..." bisik Amara dengan suara yang hampir habis. Matanya melirik cemas ke arah pintu keluar dapur yang menuju lorong pelayan.

Arlan terkekeh rendah, suara tawanya terdengar seperti bisikan yang mendominasi di telinga Amara. Ia menunduk, bibirnya mendekati pucuk telinga Amara, membisikkan kata-kata yang membuat ketegangan di antara mereka semakin memuncak.

"Apa kau lupa, Amara? Seluruh pekerja berada di paviliun belakang pada jam seperti ini. Tidak akan ada yang berani masuk ke sini tanpa izinku," ucap Arlan serak.

Tangan Arlan kemudian bergerak turun, menyentuh pinggang Amara melalui kain daster batik yang tipis itu. Kehadiran Arlan yang begitu dekat dan sentuhannya yang posesif membuat Amara kehilangan kata-kata, terkunci dalam pesona intimidatif sang tuan.

"Dan kau... berani-beraninya berjalan di rumahku dalam kondisi seperti ini? Hm?" Arlan memberikan penekanan pada setiap katanya.

Tanpa peringatan, Arlan merengkuh pinggang Amara dengan satu tangan yang kuat, menarik tubuhnya lebih dekat hingga tidak ada lagi jarak di antara mereka. Jantung Amara berdegup begitu kencang, seolah-olah bisa terdengar di ruangan yang sepi itu.

"Akhh... T-Tuan..." Amara memekik tertahan, tangannya secara refleks mencengkeram lengan kemeja Arlan yang digulung, mencoba mencari pegangan.

"Ssttt... jangan berisik, atau kau ingin mengundang perhatian?" goda Arlan. Kontak fisik yang intens itu membuat suasana dapur terasa semakin panas. Tatapan Arlan turun ke bibir Amara yang sedikit terbuka karena terkejut. "Kehadiranmu malam ini benar-benar menguji pengendalian diriku, Amara."

"T-tidak, Tuan... saya hanya haus," rintih Amara, namun ia tidak mampu menjauhkan dirinya dari kehangatan tubuh Arlan yang begitu memikat.

"Haus? Aku juga haus, Amara. Tapi aku tidak butuh air dingin dari dispenser itu," Arlan menarik dagu Amara dengan lembut namun tegas, memaksa gadis itu menatap matanya yang sudah dipenuhi oleh keinginan yang mendalam. "Aku butuh sesuatu yang bisa menenangkan pikiranku malam ini."

Arlan tiba-tiba melingkarkan kedua lengannya di pinggang Amara dan dengan satu gerakan pasti, ia mengangkat tubuh gadis itu dan mendudukkannya di atas meja marmer dapur yang tinggi.

"A-ah! Tuan, dingin!" Amara terkesiap saat kulit kakinya bersentuhan langsung dengan marmer yang sedingin es.

"Kalau begitu, biarkan aku menghangatkanmu," bisik Arlan. Ia mengunci posisi Amara dengan berdiri tepat di depannya, lalu tangannya mulai bergerak menyentuh kerah daster Amara, siap untuk menembus batas profesionalisme yang selama ini menjaga jarak di antara mereka.

1
Rita Juwita
luar biasa thor...
Visitor6374
Cerita yang menarik 👍
Nur Aulia
dinikahin dong tuan,,jgn di jadiin pemuas nafsu saha,, kasian Amara yg msh polos
Mala Sari
yeeyy selesaii, congrot ya gaes, happy ever after. suka banget ceritanya, next time i'll visiting ur incredible another story again yaa, see ya thor, gudluc as always
Mala Sari
bagus, dah itu aja
mulia modeong
👍👍
Yayan Maryana
bagus kenz
papahmu memang harus diganggu 😁😁😁😁
Erni Susanti
padahal gampang, tinggal cek asinya, setiap asi itu kan bagus, kalopun menurutnya gak bagus, ya di treat yg bener dong org yg menyusui anakny, dikasih makanan bergizi dll. gimana sih Arlan, kamu pimpinan perusahaan, hal sepele gitu aja gak bisa mikir. kasian loh Amara, udah syukur anak mu susuin. kalau aku jadi Amara, aku tinggal aja. ngeselin si Arlan ihhhh
Esterina Djawa
Ceritanya sungguh menarik....💖
Mala Sari
wow... adorable eps
Siti Sopiah
dr prolog yg ku baca takda typo nya semoga lancar sampai tamat.
Mala Sari
merinding baca bagian eps ini, eh ikut nyumbang tetes air mata ni aku😄,seneng bacanya
Mala Sari
wowww..., amazing arlan, go go arlan💪
Mala Sari
well done arlan.., at last
Mala Sari
cerita dewasa yg amat "dewasa", menurutku bagus. teruslah berkarya thor, gudjob
Maharani Rani
😭😭lanjuttt
Mala Sari
menikmati aja ceritanya😌,thnkz author for the story, moga makin sukses..
Mala Sari
authornya hebat, gudjob thor, its just a fiksi, nikmati aja alurnya.., healing after hard work ya gaes.., mangatt thorr💪😄
BLINK
woahhh
BLINK
😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!