NovelToon NovelToon
Kebangkitan Sang Awakener Terkuat Di Akhir Zaman

Kebangkitan Sang Awakener Terkuat Di Akhir Zaman

Status: sedang berlangsung
Genre:Hari Kiamat / Zombie / Misteri / Horor
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: novelisnewbie

Arga mati di tangan zombie Tier 7 setelah 10 tahun bertahan di kiamat. Namun, dia terbangun kembali ke 30 hari sebelum wabah Necrovirus Sapiens melanda dunia. Di tubuhnya yang masih muda dan lemah, dia membawa pengetahuan 10 tahun: lokasi kejadian penting, resep ramuan awakener, cara membuat senjata tier tinggi, dan nama-nama pengkhianat yang akan menghancurkan umat manusia.

Akankah Arga mampu mewujudkan impiannya? Ataukah Arga akan gagal kembali? Ikuti terus perkembangan ceritanya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novelisnewbie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 19: Perburuan Bayangan Menuju Surabaya

Langit Jakarta telah berubah menjadi hamparan kelabu ketika Arga kembali membuka pintu kamar kosnya, tetapi yang paling berubah justru dirinya. Ruangan sempit yang dahulu terasa sebagai tempat beristirahat kini hanya menjadi titik singgah sebelum perang yang jauh lebih besar dimulai. Di luar, suara kendaraan masih bersahutan seperti hari-hari biasa, sementara di dalam benaknya setiap detik berubah menjadi hitungan mundur menuju kiamat yang tinggal menyisakan beberapa minggu lagi.

Klik.

Pintu tertutup rapat di belakangnya. Arga menguncinya dua kali, lalu berdiri beberapa saat tanpa bergerak sambil mengaktifkan Sensor Dimensi. Gelombang energi menyebar perlahan menembus dinding kamar, memastikan tidak ada aura asing yang mengintai di sekitar bangunan kos. Setelah benar-benar yakin dirinya sendirian, ia mengembuskan napas panjang dan mengangkat telapak tangannya hingga riak transparan berputar lembut di udara.

Ruang Dimensi terbuka tanpa suara. Rak-rak penyimpanan yang kini jauh lebih luas dibandingkan saat pertama kali terbangun memperlihatkan hasil operasi selama beberapa hari terakhir. Puluhan kristal dengan beragam warna tersusun rapi di satu sisi, sementara hard drive penelitian, generator, panel surya, perlengkapan medis, makanan, hingga peralatan konstruksi memenuhi sisi lain layaknya gudang militer yang dipersiapkan untuk menghadapi perang panjang.

Arga mulai menata semuanya dengan ketelitian tinggi. Kristal eksperimen dari Bandung dipisahkan dari kristal zombie biasa, sedangkan seluruh dokumen mengenai Project Genesis ditempatkan di ruang penyimpanan paling aman. Ia telah belajar dari kehidupan sebelumnya bahwa kekacauan sekecil apa pun dalam logistik dapat berujung pada kematian ketika dunia benar-benar runtuh.

Srek.

Hard drive terakhir dimasukkan ke dalam sebuah kotak logam yang dilapisi bahan antiradiasi. Setelah menutup rapat kotak tersebut, Arga menghafalkan letak penyimpanannya di dalam Ruang Dimensi. Tidak seorang pun selain dirinya yang boleh mengetahui keberadaan data itu karena bahkan Organisasi Hitam pun menjaga informasi mengenai Project Genesis seolah nilainya melampaui seluruh laboratorium yang mereka miliki.

Ia kemudian duduk di depan laptop tua yang masih bertahan sejak masa kuliah. Cahaya kebiruan dari layar memantulkan sorot mata yang kini jauh lebih tajam dibandingkan beberapa hari lalu. Dengan kemampuan Awakener, jemarinya bergerak cepat membuka berbagai perangkat lunak untuk menghapus riwayat perjalanan, membersihkan metadata dokumen, memutus keterkaitan akun digital, sekaligus mengganti seluruh identitas elektronik yang selama ini digunakannya.

Tak.

Tak.

Tak.

Setiap tekanan pada papan ketik terasa seperti memutus satu benang lagi yang menghubungkannya dengan kehidupan lamanya. Nomor telepon cadangan mulai diaktifkan, beberapa rekening yang sudah tidak diperlukan dikosongkan, sementara kendaraan yang selama ini digunakannya dimasukkan ke dalam daftar aset yang akan segera ditinggalkan. Ia bahkan membeli identitas baru melalui jaringan bawah tanah yang dahulu hanya diketahui oleh para penyintas berpengalaman.

Arga menatap foto dirinya pada kartu identitas lama yang masih tersimpan di dalam dompet. Wajah itu memang belum berubah, tetapi orang yang memandang balik dari balik foto tersebut terasa seperti sosok dari kehidupan lain. Dengan gerakan tenang, ia memasukkan kartu itu ke dalam laci, lalu menutupnya tanpa sedikit pun keraguan.

"Mulai hari ini," gumamnya pelan, "Arga yang dulu sudah selesai."

Pikiran itu belum sepenuhnya menghilang ketika Sensor Dimensi berdenyut samar. Tidak ada ancaman di sekitar kos, hanya beberapa manusia biasa yang berlalu-lalang di lorong dan penghuni kamar sebelah yang sedang menonton televisi. Meski demikian, instingnya tetap waspada karena sejak kejadian di Bandung, ia tidak lagi menganggap dirinya sebagai satu-satunya pemburu di medan permainan ini.

Sementara itu, ratusan kilometer dari Jakarta, sebuah pintu baja setebal puluhan sentimeter bergeser perlahan membuka ruang rapat bawah tanah yang tersembunyi. Cahaya putih menerangi meja panjang berbentuk oval yang dikelilingi belasan sosok berjubah hitam. Tidak ada lambang organisasi yang menghiasi dinding, hanya sebuah simbol lingkaran hitam bermotif menyerupai mata yang seolah mengawasi seluruh dunia.

Desis.

Pintu kembali menutup rapat ketika pria bertopeng dari Bandung melangkah masuk tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Meski tubuhnya masih berdiri tegap, bekas benturan kecil di lengannya menjadi saksi pertemuan singkatnya dengan Ghost Collector. Seluruh tatapan langsung mengarah kepadanya, menunggu laporan yang telah diminta oleh pimpinan pusat.

"Status operasi Bandung?" suara berat dari ujung meja memecah kesunyian.

Pria bertopeng menundukkan kepala sedikit sebelum menjawab dengan tenang. "Laboratorium kehilangan seluruh kristal penelitian, sebagian data berhasil disalin, dan beberapa eksperimen dihancurkan. Pelaku meninggalkan lokasi tanpa jejak visual, tetapi residu energinya berhasil kami analisis."

Ruangan kembali tenggelam dalam keheningan ketika layar holografik di tengah meja menampilkan pola energi berbentuk spiral yang belum pernah mereka lihat sebelumnya. Cahaya kebiruan itu berkedip perlahan, memperlihatkan karakteristik unik kemampuan Ruang Dimensi milik Arga. Beberapa anggota mulai saling bertukar pandang karena mereka memahami bahwa pola energi tersebut sama sekali tidak menyerupai kemampuan Awakener mana pun yang pernah tercatat.

Seorang wanita berambut putih yang duduk di sisi kanan meja menyipitkan mata sambil terus mengamati proyeksi itu. "Kemampuan penyimpanan tidak mungkin menghasilkan resonansi seperti ini."

"Bukan kemampuan penyimpanan," jawab pria bertopeng tenang. "Ini manipulasi dimensi."

Kalimat itu membuat udara di dalam ruangan terasa semakin berat. Bahkan beberapa Awakener elit yang biasanya tidak pernah menunjukkan emosi kini tampak mengernyit. Mereka jauh lebih memahami arti kemampuan dimensi dibandingkan siapa pun di luar organisasi, sehingga menyadari ancaman yang mungkin muncul dari kekuatan semacam itu.

Pria yang duduk di kursi paling ujung akhirnya membuka mulut. Wajahnya tetap tersembunyi dalam bayangan, tetapi setiap kata yang keluar membawa tekanan hingga seluruh ruangan menahan napas.

"Mulai hari ini, Target Ghost Collector dinaikkan menjadi Prioritas S-Grade."

Tak seorang pun menyela keputusan tersebut. Status itu selama bertahun-tahun hanya diberikan kepada ancaman yang dianggap mampu menggagalkan tujuan utama organisasi. Kini seseorang yang bahkan identitas aslinya belum diketahui telah memperoleh tingkat ancaman tertinggi.

"Kerahkan seluruh Awakener elit," lanjut suara itu tanpa perubahan nada. "Cabang Jakarta, Bandung, Surabaya, Medan, Makassar, dan Balikpapan meningkatkan status siaga penuh. Semua gudang logistik utama dijadikan titik pengawasan."

Seorang pria berkacamata segera mencatat seluruh instruksi sebelum mengangkat pandangan. "Bagaimana jika Ghost Collector kembali menyerang?"

"Biarkan dia datang."

Ruangan mendadak sunyi.

"Kita tidak lagi mengejarnya."

"Kita menunggunya."

Di sudut lain ruangan, layar demi layar mulai menyala hingga membentuk peta Indonesia yang dipenuhi titik-titik merah. Gudang logistik, laboratorium, jalur pendanaan, hingga fasilitas penelitian rahasia satu per satu berubah menjadi warna kuning, menandakan status siaga maksimum telah diberlakukan di seluruh jaringan Organisasi Hitam. Pria bertopeng memandangi peta itu tanpa berkedip sambil mengingat bagaimana Arga mampu menghilang tepat di depan matanya.

Untuk pertama kalinya sejak bergabung dengan organisasi, ia merasakan sesuatu yang menyerupai antusiasme.

"Datanglah lagi," bisiknya hampir tak terdengar. "Kali ini aku tidak akan membiarkanmu pergi."

Sementara itu, Arga sama sekali tidak mengetahui perubahan besar yang baru saja terjadi. Ia telah mematikan laptop, kemudian membentangkan peta digital Indonesia di atas meja lipat kamar kosnya. Berbagai garis merah, biru, dan hijau memenuhi layar, menghubungkan pelabuhan, gudang, laboratorium, hingga jalur distribusi yang berhasil diperolehnya dari hard drive Sektor-9.

Tatapannya perlahan berhenti di Surabaya. Kota itu bukan sekadar cabang besar Organisasi Hitam, melainkan simpul distribusi utama untuk wilayah timur Indonesia. Berdasarkan dokumen yang berhasil dipecahkan, sebagian besar logistik, bahan penelitian, dan dana operasional dari luar negeri terlebih dahulu masuk melalui jalur laut sebelum disalurkan ke berbagai kota lain.

Arga memperbesar citra pelabuhan, lalu mulai menghubungkan data manifest kapal dengan jadwal distribusi internal organisasi. Semakin lama ia mempelajari dokumen tersebut, semakin jelas pola yang sebelumnya luput dari perhatiannya. Pengalaman bertahun-tahun sebagai penyintas membuatnya segera memahami arti dari setiap celah yang ditemukan.

"Mereka belum mengirim semuanya..." gumamnya pelan.

Beberapa kapal kargo ternyata masih berada di luar perairan Indonesia. Muatan mereka diperkirakan tiba dalam dua hingga tiga hari dengan membawa suplai yang jauh lebih besar dibandingkan seluruh persediaan yang saat ini tersimpan di gudang Surabaya. Jika ia menyerang sekarang, hasilnya memang akan besar, tetapi apabila menunggu hingga seluruh logistik berkumpul, kerugian Organisasi Hitam akan meningkat berkali-kali lipat.

Pengalaman selama sepuluh tahun bertahan hidup telah mengajarkan bahwa kesabaran sering kali jauh lebih mematikan daripada keberanian. Karena itulah Arga mengambil buku catatan hitam yang selalu dibawanya, lalu mencoret rencana lama yang berisi infiltrasi langsung ke gudang Surabaya. Dengan pena mekanik, ia menuliskan strategi baru menggunakan huruf yang tegas.

"Tunggu kapal datang."

"Habisi semuanya sekaligus."

Senyum tipis muncul di sudut bibirnya. Untuk pertama kalinya sejak kembali ke masa lalu, ia merasa benar-benar mulai mengendalikan jalannya permainan. Organisasi Hitam mungkin telah memasang jebakan di gudang-gudang mereka, tetapi mereka belum memahami satu hal yang paling mendasar.

Seorang pemburu tidak selalu menyerang mangsa yang sedang berjaga.

Kadang ia menunggu sampai seluruh kawanan berkumpul.

Menjelang dini hari, Arga membuka aplikasi pemesanan perjalanan menggunakan identitas barunya. Ia memilih jadwal keberangkatan yang tidak menarik perhatian, membayar melalui rekening yang sama sekali tidak terhubung dengan identitas lamanya, lalu segera menutup seluruh akses setelah transaksi selesai dilakukan.

Ting.

Notifikasi singkat muncul di layar.

Pemesanan berhasil.

Arga memasukkan ponsel itu ke dalam saku, kemudian kembali mengaktifkan Sensor Dimensi. Tidak ada aura mencurigakan di sekitar Jakarta malam itu. Namun jauh di luar jangkauan kemampuannya, puluhan Awakener elit Organisasi Hitam sedang bergerak menuju berbagai kota besar di Indonesia dengan misi yang sama: menangkap Ghost Collector hidup-hidup.

Arga mematikan lampu kamar lalu bersandar di dekat jendela. Dari balik kaca, lampu-lampu Jakarta masih berkelap-kelip seperti lautan bintang yang belum menyadari bahwa ajal peradaban semakin dekat. Ia memandang sekali lagi peta Surabaya di layar laptop sebelum menutupnya perlahan.

Klik.

Tanpa disadari kedua belah pihak, permainan bayangan telah memasuki babak baru. Organisasi Hitam bersiap menunggu Ghost Collector muncul di gudang-gudang yang telah mereka jadikan umpan, sementara Arga justru mengarahkan bidikannya pada sasaran yang sama sekali berbeda. Ketika para pemburu sibuk berjaga di tempat yang salah, badai sesungguhnya telah mulai bergerak dari arah laut menuju jantung operasi mereka.

1
arya_v2
lanjutkan terus ceritanya💪🏻
Rene
kalo dia mau jadi Awakener seharusnya gak terlalu butuh obat"an biasa kan?
Rene
ada cctv🤭
Rene
harusnya dikutil aja dikit dikit🤭 kan punya ruang dimensi
novelisnewbie: sikap macam apa itu, nanti kena pelanggaran kalo ngutil barang umum, tapi kalo ngutil punya villain gpp sih🤣
total 1 replies
Rene
kalo ngomong paling dibilang orang gila🤣
Rene
buat top up🤭
Rene
jelas lah bjir, cuma sebulan, bisa apa🤭 apalagi posisinya kismin
Rene
nah, mending bantai aja mereka dulu, mumpung masih jadi cunguk🤭
Rene
ya gak papa mau nagis lagi juga🤭
Rene
subrek, mungkin aku bakal ngikutin seri ini, soalnya lagi nulis genre kiamat juga🤭 semangat thor
Rene: siap💪
total 2 replies
Rene
mampir dulu🤭
Blueria
mantap, latar Indonesia 💪
novelisnewbie: iyaa karena saya udah muak sama pemerintah jadi saya buat aja genre kiamat biar kalang kabut tuh pemerintahnya wkwk, btw terimakasih banyak semoga betah👍
total 1 replies
adib
bagus..
novelisnewbie: terimakasih banyak 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!