Arga hanyalah pemuda biasa dengan bakat kultivasi terburuk di Kota Awan Biru. Demi menyelamatkan seorang gadis asing bernama Ling Yue, ia rela mempertaruhkan nyawanya.
Pertemuan singkat itu mengubah takdirnya. Sebuah liontin kuno membangunkan roh guru legendaris yang telah tertidur selama sepuluh ribu tahun, sementara pedang tua peninggalan ayahnya ternyata adalah pusaka yang diperebutkan seluruh dunia kultivasi.
Diburu sekte-sekte kuat, kehilangan rumah, dan dipisahkan dari gadis yang mulai mengisi hatinya, Arga memulai perjalanan panjang menuju puncak kultivasi.
Namun tujuannya bukan menjadi penguasa dunia.
Ia hanya ingin cukup kuat untuk menepati satu janji...
"Jangan mati sebelum kita bertemu lagi."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Arga, yang baru saja mengikatkan sarung pedang tua berkarat itu di pinggangnya, mendadak membeku di tempat.
BOOM!
Sebuah ledakan dahsyat yang memekakkan telinga mengguncang area gerbang utama Kota Awan Biru. Sesaat kemudian, pekatnya langit malam seketika berubah warna menjadi merah darah yang mengerikan.
"Api! Kebakaran!"
"Tolong! Selamatkan anakku!"
Jeritan histeris dan tangisan warga kota langsung pecah, menggema dari segala penjuru mata angin.
Arga bergegas berlari keluar dari kios obat. Di kejauhan, pemandangan mengerikan tersaji di depan matanya: puluhan rumah warga telah dilalap kobaran api magis. Di antara puing-puing yang membara, para murid Sekte Bayangan Darah bergerak bagaikan hantu kelaparan, menebas tanpa ampun siapa pun yang mencoba melarikan diri atau melawan. Bagi sekte sesat tersebut, nyawa rakyat jelata tak lebih dari sekadar rumput liar yang boleh diinjak dan dibuang kapan saja.
Di atas langit gerbang kota, pria paruh baya berjubah merah tua tetap berdiri angkuh di atas kereta perangnya dengan kedua tangan terlipat di belakang punggung.
"Aku akan menghitung sampai sepuluh," suaranya yang berat menggema ke seluruh penjuru kota, mengandung tekanan spiritual yang menindas. "Jika tikus kecil yang kuburu tidak segera keluar menyerahkan diri... maka hitungan terakhir akan mengubah seluruh kota busuk ini menjadi lautan api abadi."
Seorang tetua kota yang memiliki kultivasi paling tinggi di Kota Awan Biru tampak berlutut gemetar di bawah kereta perang tersebut. "Senior... mohon belas kasih Anda... Kami benar-benar tidak tahu siapa kultivator yang Anda maksud..."
Jawabannya hanyalah sebuah kibasan lengan baju yang santai.
Sret!
Seketika itu juga, kepala sang tetua kota terpenggal dari lehernya, menggelinding di atas tanah berbatu. Warga kota yang menyaksikan kekejaman itu langsung dirundung keputusasaan yang teramat dalam. Kematian terasa begitu dekat.
Arga mengepalkan kedua tangannya begitu erat hingga kuku-kukunya menembus kulit telapak tangan, mengalirkan darah. "Senior Tian... biarkan aku keluar..."
Suara Guru Tian yang terdengar sangat lemah dan terputus-putus segera memperingatkan dari dalam kesadarannya. "Jangan bodoh, Bocah! Jangan pernah keluar dari persembunyianmu!"
"Tapi mereka membantai orang-orang yang tidak bersalah demi mencariku!" seru Arga frustrasi.
"Jika kau menampakkan diri sekarang, kau hanya akan mati sia-sia tanpa bisa mengubah apa pun!"
Arga menggigit bibir bawahnya hingga berdarah, dilanda dilema moral yang hebat. Di belakangnya, Paman Darma mencengkeram bahu Arga dengan kuat.
"Jangan pergi, Arga," ucap Paman Darma.
"Tapi, Paman..."
"Dengarkan orang tua ini!" Suara Paman Darma bergetar menahan tangis. "Jika kau keluar dan tertangkap, maka seluruh pengorbanan dan darah yang tumpah malam ini akan menjadi benar-benar sia-sia. Tetaplah hidup!"
Arga memejamkan matanya rapat-rapat. Dadanya terasa begitu sesak, seolah dihantam oleh batu besar. Setiap jeritan pilu yang menyusup masuk ke telinganya terasa seperti belati yang merobek-robek hatinya.
Tiba-tiba, seorang anak kecil berlari terengah-engah melewati depan kios obat yang hancur. "Tolong! Siapa pun tolong! Ibuku masih terjebak di dalam rumah!" tangisnya histeris.
Melihat hal itu, pertahanan mental Arga runtuh. Tanpa berpikir panjang lagi, kakinya langsung melesat mengejar anak tersebut.
"Arga! Kembali!" teriak Paman Darma mencoba mengejar, namun tubuh lemahnya tidak mampu menandingi kecepatan sang pemuda.
Arga menerobos kobaran api merah darah yang membara panas. Di dalam sebuah bangunan kayu yang sudah hampir roboh dimakan api, ia melihat seorang wanita paruh baya terjebak, kakinya tertindih oleh balok kayu penyangga yang besar.
"Ibu!" Anak kecil itu menangis sejadi-jadinya di samping ibunya.
Arga mendekat, lalu mencengkeram balok kayu tersebut. Mengabaikan rasa sakit dari luka di dadanya yang kembali terbuka, ia mengerahkan seluruh Qi murni Lapisan Pertama dan tenaga fisiknya.
"Aaaargh!!!"
Dengan satu sentakan hebat, balok kayu besar itu akhirnya berhasil terangkat. Wanita tersebut segera ditarik keluar dengan selamat. Namun, tepat pada saat mereka bertiga berhasil melangkah keluar dari pintu rumah yang membara...
Sesosok murid Sekte Bayangan Darah rupanya telah berdiri menunggu dengan senyuman sadis. "Heh, akhirnya ketemu juga."
Ia perlahan menghunus pedang panjangnya yang memancarkan aura merah darah. "Fluktuasi energi di sekitar tempat ini... kau memang tikus yang sedang kami cari!"
Arga langsung melangkah ke depan, menempatkan tubuhnya sebagai perisai pelindung di hadapan ibu dan anak yang ketakutan tersebut. Meskipun meridiannya masih terasa nyeri akibat efek samping sebelumnya, dengan tatapan mata yang berkilat tajam, ia mencengkeram gagang pedang tua peninggalan ayahnya.
Ciiiing...
Begitu bilah pedang tua itu ditarik keluar dari sarungnya, sebuah suara dengungan rendah yang teramat berat tiba-tiba memenuhi atmosfer udara di sekitar mereka.
Pedang yang semula tampak buruk dan dipenuhi karat memekakkan mata itu mendadak memancarkan kilatan cahaya keemasan murni yang teramat pekat selama sekejap.
Di dalam liontin, Guru Tian seketika terperanjat hebat dalam kesadarannya. "Pedang ini...?! Bagaimana mungkin?!"
Bukan hanya Guru Tian. Bahkan pria paruh baya berjubah merah tua yang berada jauh di atas dek kereta perang naga banjir mendadak menolehkan kepalanya dengan sentakan tajam. Pandangannya yang sedalam lautan langsung menembus jarak, terkunci lurus ke arah bilah pedang di tangan Arga.
"Itu..."
Ekspresi wajahnya yang sejak awal selalu tenang dan meremehkan, kini seketika berubah drastis dipenuhi keterkejutan yang luar biasa.
"...Pedang Penjaga Langit?!"
Untuk pertama kalinya sejak menginjakkan kaki di Kota Awan Biru, senyuman kejam di wajah sang pemimpin sekte sesat itu menghilang sepenuhnya, digantikan oleh ketegangan yang nyata.
"Mustahil... Pedang dewa itu seharusnya telah hancur dan musnah dari muka bumi sejak seribu tahun yang lalu!"