Dua minggu pernikahan menjadi neraka bagi Freya Arunika. Ia baru menyadari dirinya hanya dijadikan tumbal saat memergoki perselingkuhan suaminya, Sean Ravindra, dengan Bianca—adik tirinya sendiri. Sejak rahasia itu terbongkar, hidup Freya sepenuhnya terkekang.
Namun, takdir berputar liar ketika Ravael, ayah kandung Sean sekaligus sosok penolong masa lalu Freya, kembali dari luar negeri. Jatuh cinta pada pandangan pertama tanpa tahu identitas Freya, obsesi Ravael justru semakin membara setelah mendapati wanita itu adalah menantunya.
Kini, Freya terjebak di antara dua pria sedarah: suami kejam yang membencinya, dan papa mertua berkuasa yang terobsesi memilikinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8.
Matahari pagi belum sepenuhnya naik, namun bagi Freya, hari yang baru berarti babak baru dari siksaan yang tiada henti. Tubuhnya terasa begitu ringkih dan ringan; perutnya yang kosong selama hampir dua puluh empat jam melilit hebat, menyisakan rasa perih yang menjalar hingga ke dada. Ditambah lagi dengan rasa sakit di sekujur tubuhnya akibat perlakuan kasar Sean semalam.
Pagi itu, setelah Sean berangkat ke kantor dengan setelan mewah dan tatapan dingin yang sempat menghunus pertahanan Freya di koridor, mansion itu tidak lantas menjadi aman. Neraka itu justru kedatangan iblis baru.
Leticia, ibu tiri Freya—yang merupakan ibu kandung Bianca—melangkah masuk ke dalam mansion dengan keangkuhan yang meluap-luap. Suara ketukan sepatu hak tingginya beradu dengan lantai marmer, terdengar begitu mengintimidasi.
"Freya! Di mana kau, pelayan sialan?!" lengkingan suara Leticia menggema dari arah ruang tamu.
Freya yang sedang berlutut mengelap sela-sela lemari di dekat dapur segera bangkit dengan sisa tenaga yang ada. Ia berjalan menunduk, menghampiri ibu tirinya. "Iya, Ma..."
Plak!
Sebuah tamparan keras kembali mendarat di pipi Freya, tepat di bekas luka semalam yang belum sempat sembuh. Tamparan Leticia membuat Freya terhuyung dan memegangi pipinya yang kini terasa kian membara.
"Jangan panggil aku 'Ma'! Aku tidak sudi punya anak menjijikkan dan pembawa sial sepertimu!" bentak Leticia dengan mata mendelik kejam. "Dasar wanita tidak tahu diri. Kau pikir setelah merebut posisi Bianca dan menjadi Nyonya di rumah ini, kau bisa bersantai, hah?! Lihat itu! Lantai di sana masih berdebu! Kau sengaja ingin membuat rumah menantuku kotor?!"
Freya hanya bisa meremas jemarinya yang gemetar. Air matanya menggenang, namun ia sekuat tenaga menahannya agar tidak jatuh di depan wanita kejam ini. "Maaf... akan segera kubersihkan lagi..."
"Memang harus kau bersihkan! Kau itu di sini cuma menumpang! Berterima kasihlah pada Bianca karena kebaikannya, kau masih bisa mengunyah nasi di sini!" ketus Leticia, memutarbalikkan fakta tanpa tahu bahwa putrinya dan Sean-lah yang menjebak Freya, bahkan melarangnya makan.
"Mama! Kau sudah datang?"
Suara manja Bianca memecah ketegangan. Bianca berjalan turun dari tangga dengan gaun musim panas yang indah, menenteng tas brended mahal pemberian Sean. Wajahnya tampak segar dan sangat kontras dengan Freya yang terlihat seperti mayat hidup.
"Oh, Bianca, sayang!" Wajah Leticia berubah drastis. Senyum manis dan penuh kasih sayang langsung merekah saat menatap putri kandungnya. Ia memeluk Bianca dan mengecup kedua pipinya. "Mama sudah siap menjemputmu. Hari ini kita harus puas-puasin belanja di mall. Uang dari Sean sudah masuk ke rekening Mama, sayang. Suamimu itu benar-benar menantu idaman."
Bianca terkekeh manja, melirik Freya yang berdiri kaku di sudut ruangan dengan pandangan luar biasa merendahkan. "Tentu saja, Ma. Sean sengaja memberikan fasilitas tanpa batas untukku. Berbeda dengan seseorang di sini yang kartu kreditnya saja diblokir total."
Leticia ikut tertawa sinis, menatap Freya dengan pandangan jijik. "Tentu saja. Mana ada pria yang mau membuang uang untuk wanita penyakitan dan bodoh seperti dia. Sean itu hanya mencintaimu, Bianca. Pernikahan ini kan cuma formalitas demi harta warisan."
Mendengar percakapan blak-blakan dari ibu dan anak tirinya, dada Freya terasa dihantam ombak keputusasaan yang teramat dalam. Mereka begitu terang-terangan menunjukkan kebusukan mereka di hadapannya, tahu betul bahwa Freya terlalu lemah dan tidak berdaya untuk melawan.
"Oh iya, sebelum kita pergi," Bianca melangkah mendekati Freya, lalu dengan sengaja menjatuhkan segelas jus jeruk yang baru saja diantarkan oleh Bi Tina ke atas lantai marmer yang baru disapu Freya.
Prang!
Cairan lengket berwarna jingga itu berhamburan, mengotori lantai yang putih bersih.
"Ups, tanganku licin," ucap Bianca dengan nada berpura-pura bersalah yang sangat menjengkelkan. Ia menatap Freya dengan senyuman iblisnya. "Tolong dibersihkan ya, Kak. Pastikan saat aku dan Mama pulang dari mall nanti, rumah ini sudah wangi. Dan ingat, kau harus mencuci semua baju-baju kotor di kamarku dengan tangan, jangan pakai mesin. Aku tidak mau baju mahalku rusak karena pelayan teledor sepertimu."
"Ayo, Bianca, jangan buang-buang waktu meladeni sampah ini. Sopir sudah menunggu di depan," ajak Leticia sambil menarik tangan Bianca.
"Dadaah, Kak Freya! Selamat bekerja!" seru Bianca sambil melambaikan tangan, tertawa renyah bersama ibunya saat berjalan keluar meninggalkan mansion menuju mobil mewah yang sudah siap mengantar mereka ke pusat perbelanjaan.
Begitu pintu utama tertutup rapat, keheningan mansion kembali mencekam. Freya menatap cairan jus yang perlahan melebar di atas lantai. Tubuhnya melorot, berlutut di tengah tumpahan cairan lengket itu. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya tumpah ruah, mengalir deras membasahi wajahnya yang pucat pasi. Ibunya, adiknya, suaminya... semua orang bersekongkol untuk menguliti harga dirinya sampai tak bersisa.
***
Di dalam dapur yang sunyi, Freya bergerak seperti robot tanpa nyawa. Setelah selesai membersihkan tumpahan jus jeruk dan mencuci gunungan pakaian milik Bianca dengan kedua tangannya sendiri hingga jemarinya memutih dan lecet, kini ia harus kembali bergelut di depan kompor. Tubuhnya semakin lemas, kepalanya berputar hebat karena rasa lapar yang teramat sangat, namun ia tidak berani berhenti.
Di sampingnya, seorang wanita paruh baya lainnya bernama Bi Sofi—rekan Bi Tina yang juga sudah bekerja belasan tahun di mansion ini—membantu memotong sayuran dengan wajah yang didera kecemasan. Bi Sofi terus melirik Freya dengan pandangan iba yang mendalam.
"Nyonya Freya, wajah Anda pucat sekali. Duduklah sebentar, biar bibi yang melanjutkan sup ini," bisik Bi Sofi lembut, tidak tega melihat istri majikannya itu terus dipaksa bekerja layaknya budak.
Freya memaksakan sebuah senyuman tipis, menggeleng perlahan. "Tidak apa-apa, Bi Sofi. Sedikit lagi selesai. Kalau Sean pulang dan melihat makan malamnya belum siap, dia akan sangat marah."
Ting tong... Ting tong...
Suara bel pintu utama yang berdenging nyaring memecah keheningan mansion, bergema hingga ke area dapur.
"Ah, ada tamu," gumam Bi Sofi. Ia meletakkan pisaunya ke atas talenan. "Nyonya tetap di sini saja, biar bibi yang buka pintunya."
Bi Sofi mengelap tangannya pada celemek dan berjalan tergesa-gesa menuju ruang depan. Dalam hatinya ia bertanya-tanya siapakah yang datang, karena setahunya Tuan Sean sedang berada di kantor dan Non Bianca sedang pergi ke mall bersama ibunya.
Begitu pintu ek besar itu ditarik terbuka, Bi Sofi seketika membeku di ambang pintu. Matanya membelalak sempurna, dan napasnya tertahan di tenggorokan. Seluruh tubuhnya mendadak kaku karena rasa terkejut yang luar biasa.
Berdiri di hadapannya adalah seorang pria paruh baya yang masih tampak sangat gagah, tampan, dan memancarkan aura otoritas yang amat kuat dalam balutan setelan jas formal mahal. Pria itu menatap Bi Sofi dengan senyuman tipis yang hangat namun berwibawa.
Sebagai pelayan lama yang sudah mengabdi di keluarga ini bahkan sejak Sean masih remaja, Bi Sofi tentu saja mengenali wajah itu dengan sangat baik. Pria itu adalah pemilik sah dari seluruh kekayaan, aset, dan mansion ini. Pria yang selama ini tinggal di luar negeri dan memegang kendali penuh atas hak waris yang begitu diincar oleh Sean.
Dia adalah Tuan Besar Rafael Ravindra. Ayah kandung Sean.
"T-Tuan... Tuan Besar Rafael?" bisik Bi Sofi dengan suara yang bergetar hebat, nyaris tidak percaya dengan penglihatannya sendiri.
"Sofi, lama kita tak berjumpa." sapa Rafael dengan suara baritonnya yang tenang dan dalam. Ia melangkah masuk ke dalam ruang tamu mewah tanpa perlu dipersilakan, melepas kacamata hitamnya dan menatap sekeliling rumah. "Di mana Sean? Dan... di mana istri barunya?"
Bi Sofi menelan ludah dengan susah payah, mendadak dirundung kepanikan yang luar biasa. Jantungnya berdegup kencang. Jika Tuan Besar Rafael melangkah lebih jauh ke dalam rumah ini dan melihat bagaimana kondisi menantunya sekarang—yang dijadikan pembantu kurus dan kelaparan di dapur—kebusukan dan kekejaman Sean pasti akan langsung terbongkar saat ini juga.
*
*
*
JANGAN LUPA LIKE, COMENT, GIFT, DAN VOTE 🙏
🌺🌺🌺
bongkar kebusukan ibu & adik tiri Freya. . udah sabar bgt nih Freya di bully dan diselingkuhi tinggal cerai aja 🔥🔥🔥
semoga aja Freya Nerima Rafael setelah dicerai sean