Berawal Dari sebuah kutukan. dari Hana yang mengutuk habis Tokoh kedua wanita bernama Elsa. Elsa (20thn) seorang gadis yang di jadikan jaminan hutang oleh orang tuanya. Elsa yang di dalam cerita di katakan terpaksa menikah menjadi istri kedua juragan Tama. pria tua. tak terima...pada akhirnya memilih berselingkuh pada bawahan Tama yang bernama Ardana. Nasib malang menimpa hana, gadis itu di tarik masuk oleh takdir, masuk kedalam buku Novel _The Jurag's Wife_ dan menjadi Tokoh Wanita yang sudah dia maki habis-habisan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tasya Chuky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Halaman 06
"Nggak sopan?" Tama mengulang kalimatku dengan nada sinis. "Kamu yang tidak sopan. Perlu saya ingatkan, ini kamar saya. Kamu di sini hanya numpang!" ucapnya telak.
Belum sempat aku membalas ucapannya yang super pedas itu, Tama dengan santai mulai membuka kancing kemeja kerjanya satu per satu. Kemeja itu terlepas, langsung memperlihatkan tubuh masifnya yang polos tanpa selembar benang pun di bagian atas.
Aku refleks menelan ludah, mataku otomatis mengabsen bentuk tubuh suamiku itu. Memang sih, tidak ada guratan kotak-kotak simetris di perutnya seperti aktor-aktor di televisi. Tapi menurut penilaianku, ini justru kelihatan lucu. Bukan roti sobek, melainkan 'roti gembos'—perutnya rata, padat, hanya saja ada sedikit lapisan lemak yang membuatnya tampak menggemaskan untuk ukuran pria dewasa.
‘Eh, aduh! Apaan sih ini pikiran gila!’ aku cepat-cepat menggelengkan kepala dalam hati, merutuki otak otakkku yang mendadak melantur ke mana-mana.
"Oh... jadi saya di sini cuma numpang, ya?" gumamku pelan, agak mencibir mendengar status 'numpang' yang dia tekankan tadi.
Namun, pria kaku itu sama sekali tidak berniat menjawab sindiranku. Dia memilih melenggang kangkung melipir masuk ke dalam kamar mandi, mengabaikan keberadaanku sepenuhnya.
Mendengar suara gemercik air dari dalam kamar mandi, aku langsung mendengus.
"Alah, bodo amat lah! Mau aku dianggap numpang kek, mau dianggap apa kek, yang penting sekarang idupku enak dan penuh kemewahan!" ucapku riang setengah berbisik.
Persetan dengan status istri kedua atau ucapan ketus si Juragan Tampan ber-roti gembos itu. Yang jelas, kasur ini terlalu nyaman untuk dianggurin. Aku segera merentangkan tangan dan kakiku lebar-lebar di atas ranjang king size tersebut, memejamkan mata, dan dalam hitungan menit aku sudah tertidur lelap tanpa sadar.
••••••••••••••
Aku terbangun dengan sentakan pelan saat alarm di ponselku berbunyi nyaring. Dengan nyawa yang belum terkumpul sepenuhnya, tanganku meraba-raba kasur, mencari benda pipih itu lalu melihat layarnya.
"Oh, sudah jam empat sore aja... Lama banget ternyata aku tidurnya," ucapku dengan suara serak khas orang baru bangun tidur.
Menyadari waktu yang sudah mepet, aku bergegas menuju kamar mandi sambil menyampirkan handuk di pundak. Guyuran air dingin langsung kusiramkan ke tubuhku, seketika membuat rasa kantuk dan pening di mataku lenyap tak berbekas.
Setelah selesai mandi, aku melangkah cepat menuju meja rias. Kutatap pantulan wajah cantik Elsa di dalam cermin besar itu dengan saksama.
"Rambut asli Elsa ini emang sudah bergelombang bagus, jadi enggak usah repot-repot dicatok lah. Tambahin jedai aja biar makin pas," gumamku puas.
Dengan gerakan sat-set tanpa buang waktu, aku memakai kebaya brukat warna biru lembut pemberian Jihan. Pas sekali di tubuhku. Setelah itu, aku menggelung rambutku ke atas dan menjepitnya menggunakan jedai perak yang tampak anggun. Seingat memori pemilik tubuh asli, dia membeli jedai ini saat berburu barang potongan harga di Shopee.
"Make-up sudah, baju sudah, rambut juga oke... Aduh, cantik bener aku!" puji diri sendiri sambil berputar kecil di depan cermin, mengagumi penampilan baruku yang tampak anggun dan segar.
Aku beralih membuka lemari, meraih tas selempang kecil yang juga pemberian dari Jihan. Kuisi tas itu dengan ponsel dan sebuah lipstik. Terakhir, kuraih sepasang sepatu heels tahu yang senada, lalu berjalan ringan keluar kamar dengan bertelanjang kaki—sepatunya sengaja kutenteng dulu agar tidak berisik.