"Saya terima nikahnya Yuna bin Adnan..."
Suara berat Labib saat mengucapkan kalimat itu tadi malam masih terngiang jelas di telinga Yuna. Pernikahan mendadak ini adalah wasiat terakhir almarhum ayahnya, sahabat karib Labib meskipun usia mereka terpaut jauh. Ayah Yuna tahu hidupnya tak lama lagi karena sakit, dan ia memercayakan putri tunggalnya pada satu-satunya pria yang ia tahu punya integritas tinggi: Labib.
"Yuna Anindya."
Suara berat itu memecah lamunan Yuna. Ia tersentak, mendongak, dan mendapati seisi kelas kini tengah berbalik menatapnya. Di depan sana, Labib sedang memegang daftar absensi, menatapnya lurus tanpa ekspresi ragu sedikit pun. Profesional. Seolah tadi malam ia tidak menyematkan cincin di jari manis Yuna.
"Ya, Pak. Hadir," sahut Yuna pelan, mengangkat tangannya sedikit.
Labib mengangguk sekilas, lalu beralih ke nama berikutnya tanpa jeda. Tidak ada perlakuan khusus. Memang itu yang Yuna inginkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Batas Yang Belum Terlewati
Sedan hitam itu akhirnya berbelok memasuki pekarangan rumah mewah mereka. Pagar otomatis bergeser menutup dengan bunyi desis halus, mengunci seluruh hiruk-pikuk dan ketegangan malam ini di luar sana. Rumah itu masih tampak sama—megah namun sepi—tetapi atmosfer di antara Yuna dan Labib sudah jauh berbeda dari beberapa jam yang lalu.
Labib mematikan mesin mobil, membiarkan keheningan malam menyelimuti kabin sejenak. Ia menoleh ke samping, mendapati Yuna yang masih menyandarkan kepala di bahunya dengan mata terpejam, meski pria itu tahu istrinya tidak benar-benar tertidur.
"Sudah sampai, Yuna. Ayo masuk," ucap Labib lembut, mengusap pelan pundak Yuna.
Yuna membuka matanya yang terasa sepet dan bengkak. Ia mengangguk pelan, lalu turun dari mobil mengekor di belakang langkah tegap Labib. Saat melangkah melewati ruang makan menuju lantai atas, mata Yuna sempat melirik ke arah kulkas tempat puding mangga milik Bu Citra disimpan. Ada sekelebat rasa bersalah yang mencubit hatinya, mengingat betapa kekanak-kanakannya ia merespons pesan tersebut sore tadi.
Begitu pintu kamar utama tertutup di belakang mereka, Labib langsung meletakkan kunci mobilnya di atas nakas. Pria itu berbalik, menatap Yuna yang berdiri canggung di dekat benang kelambu tempat tidur.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Labib melangkah mendekat. Ia menarik tubuh mungil Yuna ke dalam dekapannya, memeluk istrinya erat-erat seolah takut gadis itu akan menghilang lagi jika ia lengah sedikit saja. Dagunya bertumpu di atas puncak kepala Yuna, menghirup lamat-lamat aroma sampo stroberi yang menenangkan.
"Jangan pernah lari dari saya lagi, Yuna," bisik Labib dengan suara baritonnya yang bergetar rendah di ceruk leher Yuna. "Rumah ini tidak ada artinya kalau kamu tidak ada di sini."
Yuna membalas pelukan itu dengan erat, melingkarkan kedua tangannya di pinggang tegap Labib. Air mata kelegaan merembes tipis di kaos putih suaminya. "Maaf, Mas... Yuna janji nggak akan kabur lagi."
Labib mengurai pelukannya sedikit, lalu menangkup wajah Yuna dengan kedua tangannya. Ibu jarinya dengan lembut mengusap sisa air mata di sudut mata istrinya. "Malam ini kita istirahat. Soal Ibu, serahkan semuanya pada saya. Kamu hanya perlu fokus pada kuliahmu dan... pada saya. Paham?"
Yuna mengangguk patuh dengan senyum tipis yang akhirnya terbit di bibirnya. Badai malam ini memang menyakitkan, namun di balik itu semua, Yuna akhirnya tahu seberapa besar posisi dirinya di dalam hati seorang Labib Galendra.
Labib menuntun Yuna menuju ranjang berukuran king size di tengah kamar utama mereka. Suasana kamar terasa jauh lebih hangat sekarang, kontras dengan ketegangan mencekam yang terjadi beberapa jam lalu sebelum Yuna pergi.
Labib menarik selimut tebal mereka ke bawah, mempersilakan istri kecilnya untuk merebahkan diri terlebih dahulu. Yuna yang memang sudah merasa sangat kelelahan secara fisik dan mental, langsung menyusup ke balik selimut hangat tersebut, memposisikan dirinya menghadap ke sisi kanan kasur.
Labib berjalan memutari ranjang, lalu ikut merebahkan tubuh tegapnya di samping Yuna.
Pria berumur 31 tahun itu mematikan lampu utama menggunakan sakelar di dekat nakas, menyisakan lampu tidur temaram berwarna kuning redup yang menenangkan. Begitu tubuhnya menyentuh kasur, Labib langsung bergeser mendekat. Ia menarik tubuh mungil Yuna ke dalam dekapan hangatnya dari belakang, melingkarkan satu lengan kokohnya di pinggang sang istri dan menariknya merapat tanpa jarak.
Yuna tidak menolak. Gadis 21 tahun itu justru bergerak mundur, menyandarkan punggungnya sepenuhnya pada dada bidang Labib, mencari perlindungan dan kenyamanan yang sempat hilang. Rasa hangat langsung menjalar ke seluruh tubuhnya, perlahan mengusir sisa-sisa rasa takut dan sedih akibat makian ibu mertuanya tadi.
"Tidurlah," bisik Labib pelan di dekat telinga Yuna, suaranya terdengar sangat berat dan meneduhkan di tengah keheningan malam. Ia mengecup sekilas puncak kepala Yuna, memberikan rasa aman yang mutlak. "Semua sudah baik-baik saja."
Yuna memejamkan matanya lamat-lamat, menggenggam erat tangan Labib yang melingkari perutnya. Di dalam kamar utama yang sunyi itu, diiringi detak jantung Labib yang beraturan di punggungnya, Yuna akhirnya bisa bernapas lega dan perlahan terbuai menuju alam mimpi yang damai.
Waktu berputar dengan cepat. Tak terasa, hampir tiga bulan sudah biduk rumah tangga rahasia antara dosen dan mahasiswi itu berjalan. Badai demi badai, mulai dari kesalahpahaman tentang Bu Citra hingga penolakan keras dari Ibu Labib, perlahan berhasil mereka lewati bersama. Hubungan mereka di dalam rumah pun semakin hari semakin mencair dan dekat.
Namun, di balik keharmonisan yang tampak di permukaan, ada satu rahasia besar yang masih tersimpan rapat di dalam kamar utama mereka.
Hampir tiga bulan menikah, Yuna belum sama sekali melaksanakan kewajiban batinnya sebagai seorang istri. Pernikahan mereka masih sebatas status di atas kertas dan kedekatan emosional; mereka belum pernah melakukan hubungan suami istri yang sesungguhnya.
Alasannya sederhana, namun sangat mendasar bagi Yuna: dia belum siap.
Usianya yang baru menginjak 21 tahun, ditambah dengan bayang-bayang pernikahan mendadak yang tidak pernah ia rencanakan sebelumnya, membuat Yuna selalu diliputi rasa takut dan cemas setiap kali malam tiba. Ia masih merasa terlalu muda, dan ada benteng trauma serta ketidaksiapan mental yang belum mampu ia runtuhkan.
Malam ini, Yuna kembali terbangun di tengah keheningan kamar. Ia menatap langit-langit kamar yang temaram, lalu melirik ke samping. Di sana, Labib tertidur lelap dengan posisi miring menghadap ke arahnya, satu tangan pria itu seperti biasa melingkar protektif di pinggang Yuna.
Yuna menatap wajah tegas suaminya yang tampak begitu tenang saat tidur. Rasa bersalah seketika menghujam dada Yuna dengan begitu sesak. Ia tahu betul, sebagai pria dewasa berusia 31 tahun yang sah secara agama dan hukum, Labib memiliki hak penuh atas dirinya. Namun, selama hampir sembilan puluh hari ini, Labib tidak pernah sekalipun memaksa.
Setiap kali Labib menyentuhnya dengan tatapan penuh gairah yang tertahan, dan Yuna mendadak menegang atau gemetar karena takut, pria itu selalu menarik diri. Labib akan mengembuskan napas panjang, mengecup keningnya, lalu berbisik, "Tidak apa-apa, saya akan tunggu sampai kamu siap."
Yuna mengusap lembut punggung tangan Labib yang berada di perutnya. Air mata bersalah hampir saja menetes di sudut matanya. Kebaikan dan kesabaran Labib yang begitu luar biasa justru membuat Yuna merasa menjadi istri yang egois dan berdosa. Sampai kapan ia harus membiarkan suaminya tersiksa oleh penantian ini? Sampai kapan ketakutannya sendiri akan terus membelenggu pernikahan mereka?