NovelToon NovelToon
Bos Kucing Oranye

Bos Kucing Oranye

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Romansa Fantasi / CEO
Popularitas:955
Nilai: 5
Nama Author: La Runa

Kinanti mengira tantangan terbesar dalam hidupnya hanyalah menghadapi Arkan, CEO perusahaannya yang terkenal dingin, perfeksionis, dan bermata tajam seperti predator. Sampai suatu malam, saat lembur badai di kantor, sekelebat petir menyambar dan Arkan tiba-tiba lenyap dari kursinya—menyisakan setelan jas mahal kosong dan seekor kucing oranye gembul yang mengeong galak.

​Ternyata, sang CEO jenius terkena kutukan turun-temurun: ia akan berubah menjadi kucing oranye biasa setiap kali hujan turun atau saat emosinya tidak stabil. Celakanya, sifat "ras terkuat di bumi" sang kucing tetap terbawa. Ia tetap bosan, sombong, dan menuntut—tapi dalam wujud yang sangat ingin didekap.

​Satu-satunya orang yang mengetahui rahasia ini adalah Kinanti. Kini, tugas Kinanti berlipat ganda: menjadi sekretaris profesional di siang hari, dan menjadi babu pelindung sang CEO di malam hari agar ia tidak diculik oleh saingan bisnisnya... atau tidak sengaja mengejar tikus saat rapat penting.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon La Runa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rencana Balasan Sang Sekertaris

Ruangan CEO PT Mahardika Megah yang biasanya terasa megah dan intimidatif, kini mendadak senyap bagai ruang isolasi rumah sakit. Aroma kayu cendana yang biasa menguar digantikan oleh bau samar zat kimia dari cairan semprotan Rangga dan ketegangan yang pekat.

Di atas sofa kulit hitam, gundukan jas abu-abu mahal itu tampak tak bergerak. Di dalamnya, Arkan dalam wujud kucing oranye gembul masih memejamkan mata erat-erat. Tubuh kecilnya sesekali berkedut, menahan sisa rasa sakit dari transformasi paksa yang merusak ritme biologisnya.

Kinanti tidak membiarkan dirinya tenggelam dalam kepanikan lebih dari tiga puluh detik. Otak korporatnya yang telah terlatih menghadapi ratusan krisis mendadak berpindah ke mode tempur.

Pertama, ia mengambil saputangan sutra dari saku jas Arkan yang tergeletak, lalu dengan sangat hati-hati menyeka sisa-sisa air yang masih menempel di bulu wajah dan telinga si kucing. Setiap sentuhan dilakukan dengan kelembutan maksimal, memastikan tidak ada lagi kelembapan yang bisa memperburuk kondisinya. Setelah itu, ia mengambil selimut wol tebal dari loker istirahat Arkan, membungkus tubuh gembul itu hingga menyerupai kepompong hangat, dan menyalakan sistem penghangat ruangan ke suhu optimal.

Meong...

Arkan melenguh pelan, matanya sedikit terbuka. Kilatan hijau zamrudnya masih sayu, namun ada sedikit kelegaan saat melihat wajah Kinanti yang berada sangat dekat dengannya. Kucing itu mencoba menegakkan kepalanya, namun tenaganya seolah terkuras habis.

"Jangan bergerak dulu, Pak," bisik Kinanti tegas namun lembut, telunjuknya mengusap dahi di antara kedua mata Arkan. "Bapak pingsan hampir sepuluh menit. Transformasi tadi terlalu mendadak bagi tubuh Bapak. Sekarang diam di sini dan pulihkan energi Bapak. Biar saya yang urus bajingan itu."

Mendengar kata "bajingan" keluar dari mulut sekretarisnya yang biasanya selalu bertutur kata santun, mata Arkan sedikit melebar. Jika dalam wujud manusia, ia pasti sudah menaikkan alisnya karena terkejut. Namun dalam wujud ini, ia hanya bisa mendengkur lemah, memberikan tanda bahwa ia memercayakan situasi sepenuhnya kepada Kinanti.

Kinanti berdiri, melangkah menuju meja kerja besar milik Arkan. Ia duduk di kursi kebesaran sang CEO—sesuatu yang belum pernah ia lakukan sebelumnya. Ia menarik napas dalam-dalam, menatap layar monitor yang menampilkan rekaman CCTV koridor lantai tiga puluh dua.

Di dalam rekaman itu, Rangga terlihat berjalan keluar dari ruang rapat dengan langkah pongah, bersiul kecil sambil memasukkan kembali botol semprotan mini itu ke dalam sakunya. Dia tampak sangat yakin bahwa hari ini dia telah memegang kartu as untuk menghancurkan Arkananta Mahardika.

"Kamu pikir kamu sudah menang, Pak Rangga?" gumam Kinanti, matanya berkilat dingin. "Kamu meremehkan seorang sekretaris yang sudah dua tahun mengelola seluruh rahasia hitam dan putih perusahaan ini."

Kinanti membuka laptop pribadinya. Jarinya menari dengan cepat di atas papan ketik, mengakses basis data rahasia yang hanya diketahui olehnya dan Arkan. Sebagai sekretaris pribadi, Kinanti adalah pemegang kunci arsip digital due diligence—pemeriksaan latar belakang mendalam terhadap seluruh anggota keluarga Mahardika yang memiliki saham di perusahaan. Arkan sengaja mengumpulkannya untuk berjaga-jaga jika ada faksi yang mencoba melakukan kudeta.

Dan Rangga? File miliknya adalah yang paling tebal.

"Mari kita lihat..." Kinanti menggulirkan layar. "Proyek pembangunan Mahardika Resort di Bali tahun lalu. Rangga bertindak sebagai penanggung jawab akuisisi lahan."

Mata Kinanti menyipit saat melihat beberapa laporan audit internal yang sengaja ditahan oleh Arkan atas dasar 'kedamaian keluarga'. Di sana tertulis jelas adanya selisih dana sebesar empat puluh lima miliar rupiah yang dialirkan ke sebuah perusahaan cangkang (shell company) di British Virgin Islands atas nama istri siri Rangga.

Itu adalah tindakan penggelapan dana publik perusahaan (embezzlement) tingkat berat. Jika dokumen ini bocor ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan media massa, Rangga tidak hanya akan kehilangan seluruh hak sahamnya, tetapi juga akan langsung mengenakan rompi oranye di balik jeruji besi dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam.

Selama ini Arkan menahan dokumen ini karena menghormati mendiang pamannya—ayah Rangga—dan demi menjaga stabilitas harga saham perusahaan di bursa efek. Namun hari ini, Rangga telah melewati batas yang tidak bisa dimaafkan. Dia telah membahayakan nyawa sang pemilik takdir Mahardika.

Kinanti menyalin seluruh dokumen digital itu ke dalam sebuah diska lepas (flashdisk) terenkripsi berwujud hitam legam. Ia mencetak satu halaman ringkasan transaksi aliran dana ilegal tersebut di mesin pencetak rahasia di ruangannya.

Setelah selesai, Kinanti berjalan kembali ke arah sofa. Arkan tampaknya sudah mulai mengumpulkan energinya. Kucing gembul itu sudah bisa duduk tegak di dalam balutan selimut wol, meskipun telinganya masih agak lunglai.

"Pak Arkan, saya akan keluar selama tiga puluh menit untuk menemui Rangga di ruangannya di lantai dua puluh delapan," lapor Kinanti sambil menunjukkan diska lepas di tangannya. "Saya akan menggunakan kartu mati yang Bapak simpan setahun lalu. Saya tidak butuh izin Bapak untuk hal ini, karena sebagai Direktur Operasional yang baru disahkan, ini adalah tugas saya untuk memitigasi risiko ancaman internal."

Arkan menatap diska lepas itu, lalu menatap Kinanti. Ada kilatan kekhawatiran di matanya. Rangga adalah pria yang nekat dan licik. Namun, melihat sorot mata Kinanti yang dipenuhi oleh tekad baja, Arkan tahu tidak ada yang bisa menghentikan gadis ini sekarang. Kucing itu akhirnya mengangguk sekali, lalu mengeluarkan meongan pendek yang terdengar seperti sebuah titah: ‘Hancurkan dia.’

Kinanti tersenyum puas. "Dimengerti, Bos."

Lantai dua puluh delapan adalah wilayah kekuasaan divisi pengembangan bisnis yang dipimpin oleh Rangga. Suasana di sana cenderung lebih santai dibandingkan lantai tiga puluh dua, namun mendadak menegang saat Kinanti melangkah keluar dari lift. Aura yang dipancarkan Kinanti saat ini begitu dingin dan menusuk, membuat beberapa staf yang berpapasan dengannya langsung menunduk hormat tanpa berani menyapa.

Tanpa mengetuk pintu, Kinanti langsung mendorong pintu kaca ruangan kerja Rangga.

Rangga yang sedang duduk bersantai sambil memutar-mutar gelas wiski di tangannya tersentak kaget. Ia menurunkan kakinya dari atas meja, menatap Kinanti dengan senyuman mengejek yang kembali terkembang. "Wah, lihat siapa yang datang. Direktur Operasional kita yang cantik. Di mana sepupumu yang agung itu? Apa dia sedang sibuk... mengejar tikus di bawah meja?"

Kinanti tidak membalas provokasi tersebut dengan kemarahan. Ia berjalan dengan langkah anggun namun mantap menuju meja Rangga, lalu melemparkan selembar kertas hasil cetakan tadi tepat di atas meja, di depan dada Rangga.

"Apa ini?" Rangga mengernyitkan dahi, mengambil kertas tersebut dengan malas. Namun, begitu matanya membaca baris demi baris nama perusahaan cangkang dan nomor rekening di British Virgin Islands, warna rahasia dari wajahnya mendadak lenyap. Gelas wiski di tangannya bergetar, menciptakan bunyi dentingan es batu yang beradu dengan kaca.

"Dari mana... dari mana kamu mendapatkan ini?!" bentak Rangga, suaranya naik dua oktav, dipenuhi kepanikan yang luar biasa. Ia berdiri, mencoba mengintimidasi Kinanti dengan tubuhnya yang lebih tinggi.

Kinanti tetap bergeming. Ia melipat kedua tangannya di depan dada, menatap Rangga dengan pandangan merendahkan yang biasa ia pelajari dari Arkan. "Empat puluh lima miliar rupiah, Pak Rangga. Dana proyek Bali yang Anda sulap menjadi aset pribadi. Pak Arkan menahan ini selama satu tahun karena memikirkan nama baik keluarga Anda. Tapi Anda justru membalas kebaikan beliau dengan melumuri wajahnya menggunakan air seperti anak kecil."

"Ini... ini pasti rekayasa! Aku bisa menuntutmu atas pencemaran nama baik!" ancam Rangga dengan suara yang gemetar.

"Silakan tuntut saya," sahut Kinanti tenang, senyumnya kini terlihat sangat mengerikan di mata Rangga. "Tapi sebelum surat tuntutan Anda selesai diketik oleh pengacara, seluruh file digital, bukti transfer swift, dan kesaksian dari manajer keuangan di Bali yang Anda suap sudah akan berada di meja penyidik Kejaksaan Agung dan redaksi utama media bisnis nasional. Bayangkan apa yang akan terjadi pada harga saham faksi Anda besok pagi."

Rangga terjatuh kembali ke kursinya, tubuhnya mendadak lemas bagai kehilangan tulang penyangga. "Apa... apa mau-mu, Kinanti?"

Kinanti mencondongkan tubuhnya, meletakkan kedua telapak tangannya di atas meja Rangga, menatap pria itu dengan mata yang menuntut kepatuhan mutlak.

"Pertama, Anda akan menyerahkan botol semprotan dan seluruh sisa cairan kimia yang Anda gunakan tadi kepada saya, sekarang juga," perintah Kinanti, suaranya terdengar seperti vonis hakim. "Kedua, Anda akan mengajukan surat pengunduran diri dari seluruh jabatan struktural di PT Mahardika Megah efektif mulai sore ini, dengan alasan 'kesehatan'. Ketiga, jika saya melihat Anda berada dalam radius lima puluh meter dari Pak Arkan atau mendeteksi Anda mencoba membocorkan rumor apa pun tentang kejadian hari ini... berkas ini akan langsung meluncur ke gedung KPK."

Rangga menatap Kinanti dengan pandangan yang dipenuhi rasa takut yang mendalam. Di matanya, gadis di hadapannya ini bukan lagi seorang sekretaris penurut, melainkan replika sempurna dari kekejaman dan ketegasan Arkananta Mahardika dalam menghancurkan musuh bisnisnya.

Dengan tangan yang gemetar hebat, Rangga membuka laci mejanya, mengeluarkan botol semprotan mini serta dua botol isi ulang cairan bening tersebut, lalu mendorongnya ke arah Kinanti.

Kinanti mengambil benda-benda tersebut, memasukkannya ke dalam tasnya dengan rapi. "Pilihan yang sangat bijaksana, Pak Rangga. Surat pengunduran diri Anda harus sudah ada di meja HRD sebelum jam lima sore ini. Selamat siang."

Tanpa menunggu jawaban, Kinanti berbalik dan melangkah keluar dari ruangan, meninggalkan Rangga yang kini terduduk hancur meratapi akhir dari karier korporatnya.

Kembali di lantai tiga puluh dua, Kinanti menggeser pintu rahasia dengan perasaan yang jauh lebih lega. Rencana balasannya sukses besar tanpa perlu menumpahkan darah atau merusak stabilitas perusahaan di luar.

Di atas sofa, balutan selimut wol itu sudah terbuka. Arkan—masih dalam wujud kucing—sedang duduk tegak menunggunya dengan mata yang kini sudah kembali bersinar terang, memancarkan binar hijau zamrud yang tajam dan penuh energi. Begitu melihat Kinanti masuk membawa botol semprotan musuh, kucing gembul itu langsung melompat dari sofa, berjalan mendekati Kinanti dengan langkah angkuh khasnya, lalu menggesekkan pipinya ke mata kaki Kinanti—sebuah bentuk apresiasi tertinggi dari sang CEO.

Kinanti berlutut, meletakkan tasnya, lalu mengangkat Arkan ke dalam pelukannya. "Semuanya sudah beres, Pak Arkan. Rangga akan mundur sore ini, dan rahasia Bapak tetap aman."

Arkan mengeong sekali dengan nada sangat lembut, lalu menyandarkan kepalanya di bahu Kinanti. Di luar jendela besar, langit Jakarta sore itu perlahan-lahan mulai menggelap karena matahari yang terbenam, memancarkan warna jingga kemerahan yang indah tanpa ada tanda-tanda awan badai. Di dalam keheningan ruangan itu, Kinanti sadar bahwa pertarungan mereka melawan dunia luar mungkin akan semakin berat, namun selama mereka berdiri bersama sebagai satu tim, tidak ada badai—baik yang datang dari langit maupun dari manusia—yang tidak bisa mereka taklukkan.

1
Ana Dww
😭
Ana Dww
Wait, 6 Kilogram?
Ana Dww
😭Sama seperti Cleo—Kucing oranyeku
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!