Setelah mengorbankan kuliah, rumah warisan, dan masa mudanya demi membuat Daril sukses, Vira malah dibunuh oleh suami yang dicintainya itu.
Lebih menyakitkan lagi, sepupu yang ia tampung ternyata berselingkuh dengan suaminya. Hatinya makin hancur saat tahu, suami, sepupu dan ibu mertua yang selama ini ia rawat dengan baik, ternyata sudah lama menantikan kematiannya.
Takdir memberinya kesempatan kedua: kembali ke masa lalu. Ia bertekad tidak akan pernah menikahi Daril.
Namun saat ia mengubah satu keputusan untuk selamat, rahasia demi rahasia keluarga terbuka. Rahasia yang mengubah arti cinta dan memaksa Vira memilih antara balas dendam atau memaafkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26. Awal Mimpi yang Mereka Takuti
Di rumah Mirna, Daril baru saja pulang dari mengojek. Sedangkan Mirna belum pulang dari menganyam tas di rumah tetangga.
Sejak Vira berhenti membantu kebutuhan mereka, kehidupan ibu dan anak itu berubah drastis. Demi mempertahankan rumah dan sedikit aset peninggalan almarhum ayah Daril agar tidak terus terjual, mereka terpaksa bekerja keras memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Daril baru saja meneguk segelas air putih ketika suara langkah kaki tergesa-gesa terdengar dari arah depan rumah.
"Ril... Daril!" seru Mirna.
"Ada apa, Bu?"
Tak lama kemudian Mirna masuk ke ruang tengah. Napasnya masih sedikit memburu saat menghampiri putranya yang sedang duduk di sofa.
"Ibu tadi gak sengaja dengar pembicaraan Bu RT."
Daril mengangkat kepala.
"Katanya Pak Kades nyuruh semua ketua RT mencari tahu siapa yang pertama kali menyebarkan gosip tentang Vira."
Daril menatap ibunya beberapa detik. "Ibu takut ketahuan kalau ibu yang mulai nyebarin gosip?"
Mirna langsung melotot. "Ya iyalah! Masih pakai nanya segala."
Daril mendengus pelan. "Halah, Bu. Kalaupun ketahuan, paling juga disuruh minta maaf doang."
"Minta maaf?" Mirna mendecak kesal. "Yang dipikirin bukan cuma itu."
"Terus?"
"Malu, Ril! Nama ibu bisa jelek di satu kampung."
Belum sempat Daril menjawab, ponselnya berbunyi.
Ting! Ting! Ting!
Beberapa pesan masuk dari Yanti. Daril langsung membukanya. Semakin lama membaca isi pesan itu, cengkeraman tangannya pada ponsel semakin kuat. Rahangnya mengeras.
"Apa sih maunya Vira?" geramnya.
Mirna yang sejak tadi memerhatikan langsung mengernyit. "Memangnya ada apa?"
Daril menyerahkan ponselnya. "Yanti bilang, Vira beli motor baru sama banyak pakaian."
Mirna membaca isi pesan itu. Wajahnya perlahan berubah. "Dia mau buka usaha kredit pakaian?"
"Iya." Daril mendengus kasar. "Lucunya lagi..." katanya dengan nada sinis, "waktu aku minta modal buat usaha kredit pakaian, dia nolak mentah-mentah."
Ia mengepalkan tangan.
"Katanya aku harus belajar mandiri. Katanya aku gak boleh terus bergantung sama dia. Bahkan dia nyuruh aku serius jadi tukang ojek."
Daril tertawa pendek, tetapi tak ada sedikit pun rasa geli dalam tawanya.
"Sekarang dia malah keluarin uang banyak buat Arvin. Beliin motor baru. Modalin usaha. Bahkan ngajarin dia dari nol."
Semakin lama suara Daril semakin dipenuhi amarah. "Kenapa Arvin bisa dapat semua itu? Apa kelebihan dia dari aku? Kusam, dekil, miskin, bahkan rumah pun numpang sama orang. Bekas kandang kambing pula."
Mirna ikut mengembuskan napas kasar.
"Yang paling bikin ibu gak habis pikir..." gumamnya lirih. "Vira lebih memilih mengangkat hidup Arvin daripada bantu kamu."
Daril mengepalkan tangan.
"Dulu semua yang kuminta selalu dia usahakan. Sekarang..." Ia tertawa sinis. "Uangnya malah dipakai buat modal orang lain."
Mirna menggeleng pelan dengan wajah masam.
"Kalau yang dibantu anak kepala desa atau orang kaya, mungkin ibu masih bisa terima. Tapi ini Arvin." Bibirnya melengkung meremehkan. "Orang yang bahkan dipandang sebelah mata sama warga kampung."
Rahang Daril mengeras. "Jadi... di mata Vira sekarang, aku bahkan kalah dari Arvin?"
Mirna mengembuskan napas kasar. "Perempuan benar-benar berubah."
Dulu, jangankan motor. Baru mengeluh sedikit saja, Vira langsung memberikan uang kepada Daril.
Sekarang...
Bukan hanya berhenti membantu, ia justru memilih membangun masa depan laki-laki lain.
Mirna menggertakkan giginya. "Kalau usaha mereka berhasil..." gumamnya lirih.
Daril menoleh.
"...Vira bakal makin susah dikendalikan."
Beberapa saat kemudian, sudut bibir Daril perlahan terangkat membentuk senyum tipis. "Kalau begitu..."
Mirna menatap putranya.
"...usaha itu gak boleh sampai berhasil."
Tatapan ibu dan anak itu bertemu.
***
Malam harinya, Arvin kembali ke rumah Vira setelah memastikan ibunya sudah makan dan beristirahat.
Tak lama kemudian, lima pemuda yang sebelumnya dihubunginya juga datang.
Di ruang tengah, Vira menjelaskan sistem kerja yang akan mereka jalankan. Mulai dari cara mengambil barang, sistem pembayaran, pembagian keuntungan, hingga bonus penjualan.
"Soal motor inventaris, untuk sementara kalian pakai motor masing-masing dulu," jelas Vira. "Nanti uang bensin sama servis motor akan aku ganti setiap bulan."
Kelima pemuda itu saling berpandangan, lalu mengangguk.
"Kalau begitu kami setuju, Ra."
Satu per satu mereka mengambil barang dagangan sesuai jumlah yang telah dicatat Vira, lalu berpamitan. Tak lama kemudian, rumah kembali lengang.
Kini hanya tersisa Vira, Arvin, dan Yanti yang sejak tadi berpura-pura menonton televisi. Meski matanya tertuju ke layar, telinganya sibuk menangkap setiap percakapan mereka.
Vira mengambil satu kantong besar berisi pakaian, lalu menyerahkannya kepada Arvin.
"Vin, ini barang yang kamu bawa besok."
"Iya."
Vira kembali membuka buku catatannya.
"Ingat, kamu harus teliti. Barang yang dibawa berapa, yang terjual berapa, sisanya berapa, semuanya harus dicatat."
Arvin mengangguk serius.
"Jangan sampai jumlah barang yang dibawa sama barang yang kembali gak sesuai," katanya sambil menulis di bukunya. "Kalau sampai hilang satu potong aja, kamu tetap harus mengganti sesuai harga modal ditambah satu kali cicilan."
"Iya, aku paham."
Beberapa saat Arvin hanya memandangi Vira. Seolah ada sesuatu yang ingin ia tanyakan, tetapi masih ragu mengucapkannya.
"Ra..."
"Hm?"
Vira mengangkat wajah dari buku stok yang sedang ditulisnya.
Arvin menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Maaf kalau pertanyaanku aneh."
"Gak apa-apa," ucap Vira ."Tanya aja."
Arvin menarik napas pelan. "Selama ini setahuku kamu cuma ngurus toko peninggalan orang tuamu."
Vira mengangguk.
"Tapi sejak ngajak aku usaha kredit pakaian..." Arvin berhenti sejenak. "Kamu kayak udah hafal semuanya."
Vira mengangkat satu alisnya. "Maksudnya?"
"Kamu tahu tempat beli barang yang murah. Tahu cara milih kualitas. Tahu cara ngitung untung, bonus, sampai sistem penjualannya." Arvin menatap Vira penuh rasa penasaran. "Rasanya... kayak orang yang udah bertahun-tahun menjalankan usaha ini."
Yanti yang pura-pura menonton televisi ikut memasang telinga. Ia juga penasaran dengan jawaban Vira.
Vira tersenyum tipis. "Kalau aku bilang semua itu hasil belajar, kamu percaya?"
Arvin mengangguk. "Percaya."
"Ayahku dulu sering bilang," kata Vira. "orang yang cuma bisa berdagang hari ini bakal kalah sama orang yang belajar berdagang untuk masa depan."
Tatapan Vira menerawang sesaat.
"Makanya, ketika masih hidup, beliau sering nyuruh aku ikut waktu beliau belanja barang dagangan."
Vira menghela napas pelan. "Aku memang jarang ikut. Tapi setiap kali ikut, aku selalu memerhatikan. Aku lihat cara beliau memilih pemasok, menawar harga, menghitung keuntungan, bahkan mencatat pengeluaran sekecil apa pun."
Vira tersenyum tipis. "Waktu itu aku pikir semua itu gak penting. Baru sekarang aku sadar... ternyata pelajaran itu sangat berharga."
Arvin mengangguk pelan. "Pantes..."
"Sebenarnya aku juga masih belajar." Vira menutup buku catatannya. "Bedanya, aku berani nyoba. Kalau kita terlalu takut gagal, kita gak bakal pernah tahu usaha ini bisa berhasil atau enggak."
Mata Arvin dipenuhi kekaguman. "Kalau begitu..." Ia mengepalkan tangan penuh semangat. "Aku juga bakal belajar sungguh-sungguh."
Vira mengangguk sambil tersenyum. "Bagus. Dalam usaha, modal itu penting. Tapi orang yang mau terus belajar jauh lebih penting."
Di sudut ruangan, Yanti menyipitkan mata. Ia belum sepenuhnya percaya dengan penjelasan Vira.
"Apa benar cuma karena belajar dari ayahnya?" batinnya. "Kenapa rasanya Vira kayak udah pernah menjalani semua ini?"
Yanti diam-diam meraih ponselnya. Jemarinya bergerak cepat mengetik sebuah pesan.
Sesaat kemudian...
Terkirim.
Sudut bibir Yanti perlahan terangkat membentuk senyum tipis. "Sekarang... tinggal tunggu langkahmu, Daril," batinnya.
...✨"Saat satu pintu rezeki tertutup karena ulah manusia, selalu ada pintu lain yang terbuka bagi mereka yang berani berusaha."✨...
.
To be continued
Ayahnya sebagai penyebab dari penderitaan yang mereka alami.
Sebagai suami selingkuh, sebagai seorang Ayah perlakuannya sangat biadap.
Mereka diusir. Menghina Ibunya. Ayahnya membawa perempuan yang katanya istri barunya.
Ibunya kena mentalnya. Arvin menjadi pincang.
Arvin akan menjaga Ibunya, yang menjadi tameng hidup baginya ketika angkara murka merasuki Ayahnya.
Arvin pergi ke warung untuk membeli obat flu. Tiba di warung langkahnya terhenti ketika ia mendengar pembicaraan di dalam warung.
Lagi-lagi gosip tentang Vira ??
Hartato juga sudah mendengar. Dia tidak percaya. Vira bukan perempuan seperti yang digosipkan.
Pak Kades juga belum tentu percaya.
Mengingat Bapaknya Hartato masih menjabat sebagai kepala desa, setiap keputusan yang di ambil pasti menjadi perhatian banyak orang.
Kebenaran dari gosip itu belum terbukti. Niat lamaran di tunda.
Hartato hanya bisa berdoa, semoga gosip tentang Vira hanya fitnah. Dia lebih baik menunggu daripada mempercayai gosip tanpa bukti.
Sembarangan Tari bicara dengan mengatakan Tuhan pun membantuku. Mana ada Tuhan membatu orang jahat.
Jadi orang jahat itu pilihanmu, Tari. Tuhan itu memberi pilihan - mau menjadi orang baik atau menjadi orang jahat. Nantinya tinggal menunggu mau mendapat karma baik atau karma buruk.
Jangan senang dulu Tari. Ditunggu saja karma menjemputmu.
Memang Daril ini tidak pantas menjadi suami Vira. Hidupnya seperti benalu, juga pengkhianat.
Di kesempatan kehidupan kedua Vira, jangan sampai menjalin hubungan dengan Daril lagi.
Terimakasih kak Nana...semoga sehat selalu
Yanti langsung tersedak mendengarnya.
Dia mengelak, tidak tahu.
Begitu Vira mau lapor polisi, Tari melarang. Vira tanya kenapa. Salah taruh katanya.
Tari mengelak tidak mengambil. Melarang Vira melihat lemarinya. Tetap kekeh tidak mengambil.
Tari langsung panik ketika Vira mau panggil Ketua RT. Baru mempersilahkan Vira mencari di lemarinya.
Vira nenemukan empat kotak skibcare miliknya.
Tari mengaku itu miliknya.
Ditanya beli di mana, harganya berapa.
Kebohongannya sudah tak ada obatnya ini Tari.
Tari menolak usulan salah satu ibu-ibu untuk melaporkan ke polisi. Ya jelas menolak. Orang dia berkata bohong.
Baru mendengar sepihak, semoga ibu-ibu itu ada yang bertanya baik-baik pada Vira kebenaran yang sesungguhnya. Benar menurut cerita bohong Tari atau benar Tari bohong 😄.
Es kelapa muda sudah di tangan masing-masing satu.
Bukannya merasa prihatin mendengar sepupunya di gibahin, ini bocah malah punya ide licik.
Waduuuuuh...Tari malah bikin fitnah, mengarang bebas tentang Vira. Berapa laki-laki yang tidur sama Vira, Tari ? Kok bisa ngomong suara laki-lakinya tidak sama. Fitnah yang sungguh amat kejam. Pakai nangis segala untuk meyakinkan kebohongannya.
Ibu-ibu, cari bukti dulu ya. Jangan percaya begitu saja.
Ucapan terima kasih cuma di bibir. Hatinya tetap busuk.
Naah ketahuan Tari telah mencuri krim siang, krim malam, pelembap, juga serum milik Vira.
Vira tidak sembarangan menuduh Tari yang mencuri. Dia butuh bukti.
Disuruhnya Tari membeli dua es kelapa muda.
Yanti pergi naik motor.
Vira masuk ke kamar Yanti. Ia menemukan barang-barang yang telah raib dari meja rias di kamarnya. Beberapa kotak skincare tersusun rapi di laci paling bawah lemari pakaian.
Vira masih bersabar untuk tidak menuduh Tari. Masih butuh bukti yang tidak bisa dibantah.
Sehat selalu untuk author, lancar rejekinya juga 😘🤲
Semangat selalu bikin karya² yang baru 💪
Ujung-ujungnya Yanti minta diberi kesempatan. Dia bakal belajar masak yang benar.
Di depan Vira memelas pasti wajahnya. Coba nanti di belakangnya Vira. Ngedumel.
Yanti dasar perempuan tidak tahu diri. Setiap masak disengaja tidak enak supaya Vira tidak menyuruhnya masak lagi.
Vira jadi curiga dengan Yanti yang tidak pernah ikut makan. Alasannya sudah makan lebih dulu.
Sukurin gajinya dipotong. Kalau tidak sanggup masak yang benar, berhenti kerja sama Vira. Dan pergi dari rumah Vira.
Sepupu mau enak numpang tanpa bekerja. Maunya jaga toko biar bisa ngutil uang. Itu maunya Yanti.
Vira tidak membiarkan Yanti hidup gratis di rumahnya.
Mirna langkahnya terhenti ketika mendengar dari dalam warung beberapa ibu sedang mengobrol tentang Hartato yang mau melamar Vira.
Dia mendengar semua pembicaraan ibu-ibu itu. Pikiran liciknya timbul demi kepentingan pribadi.
Mirna mulai beraksi dengan bicara bohong bahkan cenderung memfitnah Vira.
Mirna mengatakan Vira sudah tidak perawan. Itu terjadi sebelum pacaran sama Daril.
Gawat nih Mirna, cari masalah. Perlu di lakban sama Vira nih mulutnya.