NovelToon NovelToon
Alesha, Gadis Absurd.

Alesha, Gadis Absurd.

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Anshuu_

Arka tak pernah berniat ikut campur dengan kehidupan Alesha. Namun, karena gadis absurd itu adalah sepupu dari sahabatnya sendiri, mereka terus dipertemukan dalam berbagai keadaan. Tingkah Alesha yang tak pernah bisa ditebak sering kali membuat Arka hanya bisa menggelengkan kepala. Mulai dari masalah sepele hingga kekacauan yang menghebohkan sekolah, Alesha selalu punya cara untuk membuatnya ikut terseret. Mau tak mau, sebagai ketua OSIS, Arka harus berkali-kali turun tangan menghadapi ulah gadis yang paling sulit dipahami itu.

Siapa sangka, dari semua kekacauan tersebut, perlahan tumbuh perasaan yang tak pernah mereka rencanakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anshuu_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15.

Kevin langsung menatap layar ponselnya dengan wajah tidak percaya.

"Baru saja gue bilang jangan sampai..."

Reza dan Alvian langsung mendekat melihat pesan tersebut.

"Dia keluar kelas?" tanya Alvian.

Kevin menghela napas.

"Katanya begitu."

Arka yang mendengar hanya diam sebentar.

"Lagi?"

Kevin menoleh.

"Jangan bilang kamu juga kepikiran hal yang sama."

Arka hanya mengambil langkah lebih dulu.

"Ayo cari tahu."

Reza langsung mengikuti sambil tersenyum kecil.

"Entah kenapa gue merasa ini pasti bukan hal biasa."

Mereka pun berjalan menyusuri koridor sekolah.

Sementara itu, di tempat lain, Alesha ternyata tidak pergi ke tempat aneh.

Ia sedang berdiri di depan ruang UKS sambil memegang dahinya.

"Kenapa tiba-tiba pusing..."

Ternyata sejak tadi ia menahan kantuk terlalu keras sampai tubuhnya mulai terasa lelah.

Dinda yang berada di sampingnya terlihat khawatir.

"Les, lo kenapa? Tadi di kelas masih baik-baik aja."

Alesha menggeleng.

"Gue cuma agak pusing."

"Makanya jangan terlalu dipaksa."

Alesha menghela napas.

"Tapi gue sudah janji sama Kak Kevin."

Dinda menatapnya heran.

"Lo sampai sakit cuma karena takut tidur di kelas?"

Alesha terdiam.

Kalau dipikir-pikir, memang agak berlebihan.

Namun, ia hanya tidak ingin membuat kakaknya kecewa.

Tak lama kemudian, suara langkah kaki terdengar dari arah koridor.

Dinda langsung menoleh.

"Les..."

Alesha ikut melihat.

Kevin berdiri di sana bersama Arka, Alvian, dan Reza.

Dan dari wajah Kevin, Alesha tahu...

Ia sudah khawatir.

Kevin langsung menghampiri Alesha.

"Kamu kenapa?"

Nada suaranya terdengar tegas, tapi jelas ada rasa khawatir di dalamnya.

Alesha yang melihat wajah kakaknya langsung merasa bersalah.

"Aku cuma pusing sedikit."

Kevin mengernyitkan kening.

"Terus kenapa keluar kelas?"

Alesha terdiam sebentar.

"Gue takut tidur lagi."

Mendengar jawaban itu, Kevin langsung terdiam.

Reza yang berdiri di belakangnya sampai menahan tawa kecil.

Alvian hanya menggeleng.

Sementara Arka menatap Alesha dengan ekspresi datar.

"Kamu terlalu memaksakan diri."

Alesha menunduk.

"Tapi gue nggak mau bikin Kak Kevin dengar laporan lagi."

Kevin menghela napas panjang.

Ia lalu menepuk pelan kepala adiknya.

"Les."

"Hm?"

"Gue marah bukan karena kamu ngantuk."

Alesha mengangkat wajah.

"Lalu?"

"Yang penting kamu sehat. Jangan sampai cuma karena takut dimarahi, kamu malah memaksakan diri."

Alesha terdiam.

Dinda yang mendengar itu tersenyum kecil.

Ternyata Kevin memang tidak sekeras yang terlihat.

Kevin lalu melihat ke arah ruang UKS.

"Masuk. Istirahat sebentar."

Alesha langsung menggeleng.

"Tapi pelajaran..."

"Lebih baik istirahat daripada pingsan."

Alesha akhirnya tidak bisa membantah.

"Iya, Kak."

Reza tersenyum melihat mereka.

"Vin, ternyata lo bisa juga jadi kakak yang lembut."

Kevin langsung menatapnya datar.

"Diam."

Reza langsung tertawa.

Sementara Arka hanya melihat Alesha yang berjalan masuk ke UKS.

Dalam hati, ia mengakui satu hal.

Gadis itu memang ceroboh.

Tapi alasan di balik tingkahnya selalu tidak terduga.

Alesha akhirnya masuk ke ruang UKS ditemani Dinda. Ia duduk di salah satu ranjang sambil menghela napas.

"Kayaknya gue gagal membuktikan kalau gue bisa nggak tidur di kelas."

Dinda duduk di sampingnya.

"Menurut gue bukan gagal."

"Terus?"

"Lo cuma terlalu memaksakan diri."

Alesha terdiam.

Ia memang berniat menunjukkan kepada Kevin kalau dirinya bisa berubah, tapi ternyata caranya salah.

Beberapa menit kemudian, Kevin masuk ke ruang UKS setelah meminta izin kepada guru piket.

Alesha langsung duduk lebih tegak.

"Kak."

Kevin menghampiri.

"Masih pusing?"

Alesha menggeleng pelan.

"Sudah agak mendingan."

Kevin mengangguk.

"Bagus."

Suasana sempat hening beberapa saat.

Lalu Kevin duduk di kursi dekat ranjang.

"Les."

"Hm?"

"Lo nggak perlu takut cerita sama gue."

Alesha menatapnya.

"Maksudnya?"

"Kalau ngantuk, bilang ngantuk. Kalau capek, bilang capek. Jangan sampai lo pura-pura kuat cuma karena takut gue marah."

Alesha terdiam.

Ia tidak menyangka Kevin akan berkata seperti itu.

"Gue cuma nggak mau bikin Kak Kevin pusing."

Kevin tersenyum tipis.

"Sayangnya, kelakuan lo yang berusaha menyembunyikan sesuatu malah bikin gue lebih pusing."

Alesha langsung tertawa kecil.

"Iya juga."

Dari luar ruang UKS, Reza yang mendengar percakapan mereka langsung tersenyum.

"Kevin kalau sama adiknya benar-benar beda."

Alvian mengangguk.

"Iya."

Arka yang berdiri di samping mereka hanya diam.

Namun, ia setuju dengan satu hal.

Di balik sikapnya yang sering membuat orang geleng-geleng kepala, Alesha memang punya cara sendiri membuat orang di sekitarnya peduli.

Setelah beberapa saat beristirahat di UKS, kondisi Alesha mulai membaik.

Dinda melihat wajahnya yang sudah tidak sepucat tadi.

"Udah mendingan?"

Alesha mengangguk.

"Iya."

Kevin berdiri dari kursinya.

"Kalau sudah baik, kembali ke kelas. Tapi jangan dipaksakan."

Alesha mengangguk patuh.

"Iya, Kak."

Kali ini ia benar-benar tidak membantah.

Sebelum keluar, Kevin sempat menatapnya.

"Dan satu lagi."

"Apa?"

"Kalau ngantuk, jangan lawan sampai badan kamu sakit."

Alesha tersenyum kecil.

"Baik, Kak."

Mereka pun kembali ke koridor.

Di sana, Reza langsung menyambut dengan senyum jahil.

"Wah, hari ini bukan tidur di kelas, tapi masuk UKS."

Alesha langsung menatapnya.

"Reza."

"Iya?"

"Jangan bikin catatan tentang hidup gue."

Reza tertawa.

"Sayang banget. Cerita lo menarik."

Alvian ikut tersenyum.

Sementara Arka hanya melihat Alesha sebentar.

"Sudah belajar?"

Alesha menoleh.

"Belajar apa?"

"Jangan memaksakan diri."

Alesha terdiam sebentar, lalu mengangguk.

"Iya."

Arka mengangguk kecil.

"Bagus."

Itu hanya satu kata sederhana, tapi entah kenapa membuat Alesha tersenyum.

Tak lama kemudian, bel masuk berbunyi.

Alesha pun kembali ke kelas bersama Dinda.

Kali ini ia tidak berusaha melawan rasa kantuknya secara berlebihan.

Ia hanya duduk dengan tenang, mengikuti pelajaran, dan berusaha menjaga dirinya sendiri.

Sementara Kevin yang berjalan menuju kelasnya hanya bisa berharap.

Semoga hari ini benar-benar tidak ada laporan baru tentang Alesha.

Pelajaran berikutnya berjalan lebih tenang.

Alesha duduk di tempatnya sambil memperhatikan penjelasan guru. Sesekali ia masih terlihat menguap kecil, tetapi kali ini ia tidak memaksakan diri untuk tetap terjaga dengan cara yang berlebihan.

Dinda yang duduk di sebelahnya melirik.

"Lo benar-benar nurut sama Kevin, ya."

Alesha tetap menulis catatan.

"Ya mau gimana lagi."

"Padahal biasanya lo suka membantah."

Alesha tersenyum kecil.

"Kak Kevin memang sering bikin gue kesal, tapi dia khawatir."

Dinda mengangguk.

"Kelihatan."

Sementara itu, di kelas Kevin, suasana juga berjalan normal. Tidak ada pesan masuk, tidak ada kabar tentang Alesha.

Kevin beberapa kali melihat ponselnya, membuat Reza yang duduk di sampingnya tertawa.

"Lo nunggu laporan lagi?"

Kevin langsung memasukkan ponselnya ke meja.

"Nggak."

"Yakin?"

"Iya."

Alvian tersenyum kecil.

"Padahal wajah lo bilang beda."

Kevin hanya diam.

Ia memang tidak bisa menyangkal kalau sejak Alesha pindah ke sekolah yang sama, perhatiannya lebih banyak tertuju kepada adiknya.

Bukan karena ia tidak percaya pada Alesha.

Tapi karena Alesha selalu punya cara sendiri membuat situasi menjadi tidak terduga.

Saat jam pulang tiba, Alesha keluar kelas bersama Dinda dengan wajah yang lebih santai.

"Les, hari ini aman."

Alesha langsung tersenyum bangga.

"Iya. Tidak ada hukuman."

Dinda tertawa.

"Standar keberhasilan lo rendah banget."

"Yang penting berhasil."

Di depan gerbang, Kevin sudah menunggu seperti biasa.

Begitu melihat Alesha datang, ia langsung bertanya,

"Hari ini?"

Alesha tersenyum lebar.

"Aman, Kak."

Kevin mengangguk puas.

"Bagus."

Namun, sebelum mereka pulang, Reza tiba-tiba bersuara dari belakang.

"Tunggu dulu."

Semua menoleh.

"Apa?" tanya Kevin.

Reza tersenyum.

"Gue cuma mau bilang... jangan terlalu cepat senang. Besok masih ada hari baru."

Alesha langsung menatapnya kesal.

"Doain gue gagal, ya?"

Reza tertawa.

"Tidak. Tapi gue kenal lo."

Alesha hanya mendengus kecil.

Sementara Kevin diam-diam tersenyum.

Setidaknya hari ini Alesha berhasil melewati satu hari sekolah tanpa membuat masalah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!