Katanya, cinta harus datang sebelum menikah. Tapi bagaimana jika cinta justru lahir setelah akad terucap?
Menjadi seorang PNS membuat Satria Baskara terbiasa menjalani hidup dengan aturan dan tanggung jawab. Di sisi lain, Naira Azzahra, seorang pembuat kue rumahan, percaya bahwa setiap kue memiliki resepnya sendiri.
Namun, ia tak pernah menyangka takdir justru menuliskan resep cintanya melalui sebuah perjodohan.
Tanpa proses pacaran. Tanpa janji manis. Hanya sebuah akad yang menyatukan dua hati yang sebelumnya tak saling mengenal.
Di balik sarapan hangat, bekal makan siang, dan perhatian-perhatian kecil yang awalnya terasa biasa, perlahan tumbuh perasaan yang tak mampu mereka sangkal. Namun ketika cinta akhirnya hadir, ujian demi ujian mulai mengetuk pintu rumah tangga mereka.
Akankah Satria dan Naira berhasil mempertahankan cinta yang tumbuh setelah akad? Atau justru takdir kembali menguji hati mereka, saat keduanya mulai benar-benar saling mencintai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Keysa Bom, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jawaban di Meja Makan Malam
Dua hari telah berlalu sejak pertemuan tidak terduga di toko kue. Baik Satria maupun Naira kembali menjalani rutinitas aktivitas mereka masing-masing seperti biasa. Namun, ada satu hal yang perlahan mulai berubah di dalam benak mereka. Sesekali, di tengah kesibukan yang padat, keduanya tanpa sadar kerap teringat kembali pada momen singkat di toko kue siang itu.
Malam itu, di rumah keluarga Naira...
Meja makan kayu di ruang tengah telah dipenuhi oleh berbagai hidangan sederhana yang masih mengepulkan uap hangat. Ayam kecap manis, tumis kangkung bawang putih, sup bening, dan sambal terasi buatan sang ibu tersaji dengan rapi.
"Naira," panggil ibunya lembut dari meja makan.
"Iya, Bu?" sahut Naira sembari mengelap tangannya dengan serbet.
"Ayo duduk dulu, kita makan malam bersama," ajak sang ibu.
Naira yang baru saja selesai membantu merapikan peralatan masak di dapur segera melangkah mendekat. Ia mengambil tempat duduk tepat di samping ayahnya.
Pak Ridwan memandang putri tunggalnya dengan tatapan mata yang sangat lembut dan teduh. "Naira, hari ini sudah memasuki hari ketiga sejak pertemuan keluarga waktu itu."
Naira hanya memberikan anggukan kepala pelan, mendadak merasa dadanya berdesir.
"Apakah kamu sudah memikirkan dengan matang bagaimana keputusanmu?" tanya Pak Ridwan kemudian, meletakkan sendoknya.
Ruangan seketika berubah menjadi hening. Ibu Naira tidak ikut menyela pembicaraan tersebut, melainkan memilih untuk menunggu jawaban yang akan keluar dari belahan jiwanya dengan sabar.
Naira menarik napas panjang secara perlahan, mencoba memantapkan hatinya. "Sudah, Yah."
"Lalu, bagaimana hasilnya, Nak?" tuntut Pak Ridwan lembut.
Naira menggenggam jemarinya sendiri erat-erat di bawah meja makan. "Jujur... awalnya Naira benar-benar merasa takut dan ragu dengan wacana perjodohan ini."
Pak Ridwan dan istrinya mendengarkan penjelasan itu dengan saksama, tanpa memotong sedikit pun.
"Tapi setelah mengobrol langsung dan bertemu kembali dengan Mas Satria..." Naira berhenti sejenak, wajahnya merona tipis saat mengingat secarik kertas pesan di dalam boks kue tempo hari. "...Naira merasa beliau adalah orang yang sangat baik. Beliau memang tidak banyak bicara atau pandai merangkai kata, tetapi beliau selalu menghargai pendapat dan jalan pikiran Naira."
Ibu Naira menyunggingkan senyum kecil yang dipenuhi rasa lega. "Jadi, keputusan akhirmu bagaimana, Sayang?"
Naira perlahan mengangkat wajahnya, menatap lurus ke sepasang mata kedua orang tuanya dengan binar yakin. "Naira... menerima perjodohan ini, Yah, Bu."
Kalimat tegas itu seketika membuat Pak Ridwan dan sang istri saling berpandangan satu sama lain. Senyuman haru yang teramat tulus perlahan-lahan terukir sempurna di wajah tua mereka.
Pak Ridwan mengulurkan tangannya, mengusap pelan puncak kepala putrinya yang tertutup jilbab rumah. "Terima kasih banyak, Nak, karena kamu sudah mau mempertimbangkan masa depanmu dengan kepala dingin dan matang."
Naira tersenyum tipis, menggenggam tangan ayahnya. "Naira ingin mencoba membuka hati dan mengenal Mas Satria lebih jauh lagi. Bukan karena merasa terpaksa oleh keadaan, melainkan karena Naira merasa beliau memang pantas untuk diberi kesempatan."
Sepasang mata ibu Naira mendadak berkaca-kaca menahan haru melihat kedewasaan putrinya. "Alhamdulillah... semoga Allah selalu menjaga dan merahmati setiap niat baik serta jalannya rumah tangga kalian kelak, ya."
"Aamiin, ya Allah," sahut Naira dan ayahnya serempak.
Di waktu yang hampir bersamaan, di kediaman keluarga Baskara...
Suasana makan malam di rumah dinas itu juga berlangsung dengan sangat hangat. Pak Hasan tampak menyudahi makannya, lalu meletakkan sendok dan garpunya secara perlahan di atas piring.
"Satria," panggil Pak Hasan, memecah kesunyian di antara denting sendok.
"Iya, Pak?" sahut Satria, langsung menegakkan posisi duduknya secara refleks.
"Ini sudah hari ketiga. Kami selaku orang tua juga ingin mendengar bagaimana keputusan pribadimu terkait Nak Naira," ujar Pak Hasan tenang.
Satria menganggukkan kepalanya pelan. "Satria sudah memikirkannya baik-baik sejak kemarin, Pak."
Bu Ratna yang duduk di seberang meja langsung menatap putra tunggalnya dengan pandangan penuh harap dan cemas. "Bagaimana hasilnya, Sat? Ibu ingin dengar."
Satria menyunggingkan sebuah senyuman tipis yang sangat jarang ia perlihatkan, sepasang matanya tampak melunak. "Satria menerima perjodohan ini, Bu."
Bu Ratna spontan mengembuskan napas panjang, senyumnya merekah lebar. "Alhamdulillah ya Allah, Ibu lega sekali mendengarnya!"
Pak Hasan mengangguk-angguk pelan, tampak puas namun tetap ingin menguji kemantapan hati putranya. "Apa hal utama yang membuatmu merasa seyakin ini, Satria? Bapak ingin tahu."
Satria terdiam selama beberapa detik. Pikirannya mendadak melayang kembali, mengingat bayangan senyum manis dan rona merah di pipi Naira saat ia menyerahkan boks kue keju di toko dua hari lalu.
"Karena... Satria bisa merasakan bahwa Naira adalah sosok perempuan yang sangat tulus, Pak," tutur Satria dengan suara baritonnya yang mantap. "Dan Satria pribadi ingin belajar untuk mengenal dan membimbingnya dengan baik."
Pak Hasan tersenyum bangga, menepuk lengan kekar anaknya. "Jawabanmu itu sudah lebih dari cukup bagi Bapak."
Tak lama setelah obrolan itu mereda, ponsel genggam milik Pak Hasan yang diletakkan di atas meja makan tiba-tiba berdering nyaring. Di layar datar itu, tertera nama 'Pak Ridwan'.
"Assalamualaikum, Pak Ridwan," sapa Pak Hasan langsung menggeser tombol hijau, suaranya terdengar semringah.
"Waalaikumsalam, Pak Hasan. Waduh, maaf sekali jika saya mengganggu waktu makan malam keluarga," sahut Pak Ridwan dari seberang sambungan telepon.
"Ah, tidak sama sekali, Pak Ridwan. Kami kebetulan baru saja selesai makan," balas Pak Hasan hangat, diiringi suara tawa kecil di kedua ujung telepon.
"Lalu... bagaimana hasil keputusan dari Nak Satria, Pak? Apakah ada kabar baik untuk kami?" tanya Pak Ridwan, bersiap mendengar kepastian.
Pak Hasan melirik sekilas ke arah putranya yang kini sedang menunggu dengan raut wajah tenang di sampingnya. "Alhamdulillah, Pak Ridwan... Satria dengan mantap menyatakan menerima perjodohan ini."
Di seberang sana, Pak Ridwan langsung mengembuskan napas lega yang terdengar jelas. "Alhamdulillah hirabbil'alamiin. Kabar dari kami juga sama, Pak Hasan. Naira baru saja menyampaikan bahwa dia menerima perjodohan ini."
Pak Hasan spontan menolehkan kepalanya kepada sang istri. Bu Ratna yang mendengarkan percakapan itu karena ponsel di-speaker langsung refleks menutup mulutnya dengan kedua tangan, menahan air mata haru yang nyaris menetes.
"Jika kedua belah pihak sudah sama-sama setuju..." panggil Pak Ridwan menjeda kalimatnya sejenak. "...bagaimana kalau pada akhir pekan ini kita mengadakan pertemuan keluarga lagi? Selain untuk membicarakan rencana lamaran resmi, mungkin sekalian kita makan malam bersama agar anak-anak bisa mengobrol dan lebih mengenal satu sama lain."
Pak Hasan tersenyum lebar menyetujui usulan tersebut. "Itu adalah ide yang sangat luar biasa baik, Pak Ridwan. Kami sekeluarga pasti akan datang berkunjung kembali. Insyaallah."
Setelah beberapa patah kata salam penutup, panggilan telepon itu pun akhirnya berakhir. Pak Hasan meletakkan kembali ponselnya, lalu menatap putranya dengan tatapan serius yang hangat. "Satria."
"Iya, Pak?" sahut Satria.
"Siapkan dirimu dengan baik mulai dari sekarang," pesan Pak Hasan penuh arti. "Pertemuan kita di akhir pekan nanti bukan lagi sekadar acara perkenalan biasa."
Satria menganggukkan kepalanya dengan tegas. "Baik, Pak. Satria mengerti."
Meskipun raut wajah Satria tetap terlihat tenang dan terkendali seperti biasanya, tidak bisa dimungkiri bahwa ada seberkas rasa lega yang teramat besar perlahan-lahan memenuhi seluruh rongga hatinya. Ternyata, perempuan pembuat kue itu memilih untuk memberikan ruang dan kesempatan yang sama besar seperti yang ia lakukan.
Dan akhir pekan nanti, mereka berdua dipastikan akan kembali dipertemukan. Bukan lagi sebagai dua orang asing yang dipaksa bersanding karena perjodohan orang tua, melainkan sebagai dua calon pasangan masa depan yang telah sepakat untuk mulai membuka pintu hati mereka, sedikit demi sedikit.
Bersambung...