bagaimana rasanya jika tubuh sendiri berada ditubuh orang lain, bahkan tau-tau sudah memiliki suami dan memperebutkan warisan dua ratus triliun?
Yuk ikuti kisah Warisan dua ratus triliun!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lawa Amora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Jemarinya yang dingin meraih gagang pintu lemari arsip besi di sebelah kirinya. Logam itu terasa panas saat menyentuh telapak tangannya yang berkeringat. Dia harus
menyembunyikan dokumen ini sebelum pemilik langkah kaki di koridor masuk dan
menemukannya dalam keadaan telanjang seperti ini, tanpa perlindungan sedikit pun.
Suara langkah kaki itu semakin jelas, diiringi dengan gemerisik kunci yang diselipkan ke
lubang kunci pintu utama. Waktu hampir habis, dan debaran jantungnya kini terdengar
seperti dentuman gendang di telinganya sendiri. Rahasia dua ratus triliun rupiah itu kini bergantung pada satu detik keputusan yang harus diambil dalam kegelapan ruangan.
Gagang pintu lemari arsip belum sempat ditarik sepenuhnya saat suara langkah kaki
terdengar semakin dekat di koridor. Nadira membeku, matanya melebar menatap
bayangan yang mulai menyentuh kaki pintu ruang kerjanya. Jantungnya berdegup
kencang, menandai bahwa perburuan rahasia itu kini memasuki babak yang jauh lebih
berbahaya daripada yang dia bayangkan sebelumnya.
Dingin mengalir dari gagang lemari arsip dan menyebar ke telapak tangan Nadira. Udara di
ruangan itu terasa sesak, seolah debu dan kertas tua menahan napas bersamanya. Di
lantai bawah, suara tawa Dinda masih terdengar samar, mengingatkannya bahwa waktu tidak berpihak padanya.
Setiap detik yang terlewat membawa saudara tirinya itu selangkah lebih dekat ke rahasia yang bisa menghancurkan rencananya untuk menguasai warisan dua ratus triliun.
Ia menarik tuas laci dengan kasar. Logam tua itu berderit keras, memekakkan telinga di
tengah kesunyian. Matanya menggeledah tumpukan dokumen kusam dengan gelisah.
Ia tidak bisa kembali ke kehidupan biasa tanpa kekayaan ini, kegagalan berarti kehilangan segalanya. Tiba-tiba, jarinya menyentuh permukaan karton yang keras. Map biru itu ada di sana, tersembunyi di balik laporan pajak bertahun-tahun lalu, tepat seperti yang ia curigai selama ini.
Napasnya tersengal saat ia mencengkeram map tersebut. Namun, sebelum ia sempat
membuka isinya, bunyi langkah kaki terdengar di lorong. Langkah itu berat dan teratur, berbeda dengan langkah Dinda yang biasanya terburu-buru.
Jantung Nadira berdegup kencang, memukul rongga dadanya dengan nyeri. Ia panik, melirik ke sekeliling ruangan yang sempit untuk mencari tempat bersembunyi yang aman bagi dokumen berharga itu.
Tanpa berpikir panjang, ia membanting map biru itu ke lantai, tepat di bawah tumpukan
majalah gaya tua yang bersandar di dinding lemari. Ia menumpukkannya dengan cepat,
berharap debu yang menutupi sampul majalah itu cukup untuk menyamarkan objek asing tersebut.
Detik berikutnya, pintu ruangan didorong perlahan hingga berderit. Arga berdiri di
ambang pintu, siluetnya tampak kaku dalam cahaya redup koridor. Arga melangkah masuk tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Wajahnya datar, tidak menunjukkan ekspresi apa pun selain tatapan tajam yang membuat bulu kuduk Nadira berdiri.
Pria itu menatapnya dengan selidik, seolah sedang membedah setiap gerak-gerik
istrinya. Nadira menegang, jemarinya ikut membeku di udara saat mata mereka bertemu.
"Dia tahu sesuatu. Aku seharusnya tidak datang ke sini sendirian."
Arga berjalan perlahan menuju meja di tengah ruangan. Ia meletakkan secangkir kopi dingin dengan suara yang sengaja diperkeras, menciptakan suara berdentam di atas
permukaan kayu.
Cairan cokelat itu sedikit tumpah, menggenang di samping tumpukan
kertas yang berantakan. Ia tidak menawarkan kopi itu pada Nadira, tidak pula menanyakan
apa yang Nadira lakukan di ruang arsip yang terkunci itu.
"Banyak debu di sini," ucap Arga akhirnya, suaranya rendah dan bergetar dingin. "Kamu
sebaiknya tidak menghirupnya terlalu lama."
Nadira mencoba menelan ludah yang tiba-tiba mengental di tenggorokannya. Ia menatap
mata suaminya, mencoba memproyeksikan ketenangan yang sama sekali tidak ia rasakan.
Tangannya mengepal di balik rok kerjanya, kuku-kukunya mencengkeram telapak tangan
hingga perih. Ia tidak boleh menunjukkan ketakutan, tidak di depan pria yang mungkin saja menjadi penghalang terbesarnya dalam mendapatkan warisan ini.
Arga hanya menatapnya selama beberapa detik yang terasa seperti abad. Lalu, tanpa
peringatan, ia berbalik dan berjalan menuju pintu keluar. Ia pergi tanpa sepatah kata pun,
meninggalkan keheningan yang jauh lebih mencekam daripada jika pria itu berteriak
marah.
Nadira mendengar langkah kaki itu memudar di koridor, namun kecurigaan di mata Arga tetap tergantung di udara, menggantung di lehernya seperti tali jerat yang mulai
mengencang. Arga menarik napas panjang sebelum akhirnya keluar dan menarik pintu ruangan hingga hampir tertutup sepenuhnya.
Nadira terdiam sendirian di kursi besar yang terlalu empuk untuk tubuhnya. Keheningan ruangan itu terasa menekan telinganya. Ia bertanya-tanya dalam hati, mengapa pria itu tidak langsung menyuruhnya pergi meski sikapnya terasa sangat dingin sejak tadi.
Ia menoleh ke arah meja kerja yang berantakan. Map biru tua yang tadi sempat
disingkirkan Arga kini kembali menarik perhatiannya. Nadira berdiri perlahan, melangkah hati-hati mendekati meja tersebut. Tangan wanita itu meraih map tersebut dan
membukanya kembali dengan gerakan yang sedikit gemetar. Ia harus tahu apa yang
sebenarnya terjadi di sini.
Isi map itu ternyata sangat mencengangkan. Terdapat tumpukan kertas berisi catatan
utang piutang mendiang kakek Arga yang selama ini sengaja disembunyikan dari publik. Angka-angka di sana begitu besar, melampaui batas nalar bisnis biasa. Nadira menelusuri tiap baris tulisan tangan yang rapi, merasa ada kaitan kuat antara catatan ini dan warisan dua ratus triliun yang ia kejar selama ini.
Ia harus memastikan catatan ini tidak hancur atau hilang. Dokumen ini adalah kunci
segalanya. Nadira bertekad menyelidiki lebih jauh hubungan catatan ini dengan harta
warisan tersebut. Tanpa dokumen ini, semua usahanya akan sia-sia. Pikiran wanita itu
mulai menyusun rencana untuk mencari tahu lebih banyak tanpa membuat Arga curiga.
Suara langkah kaki berat tiba-tiba terdengar mendekat dari arah luar ruangan. Pintu kayu
solid itu didorong terbuka dengan keras, membuat Nadira hampir melompat kaget. Arga kembali masuk, kali ini wajahnya tampak lebih murung dan kedua tangannya memegang tumpukan berkas lain yang tampak sangat tebal dan penting.
Nadira langsung menutup map biru itu secepat mungkin, berharap Arga tidak melihat isinya. Pria itu berhenti di ambang pintu, menatap Nadira dengan sorot mata tajam yang menembus jiwa. Arga kemudian meletakkan tumpukan berkas barunya di atas meja dengan bunyi gedebuk yang keras.
Tatapan Arga seolah menuntut penjelasan atas kehadiran Nadira di ruang kerjanya.
Jantung Nadira berdegup kencang. Ia memaksakan sebuah senyum tipis yang terasa kaku di bibirnya, berusaha menutupi kecemasan yang mulai membanjiri pikirannya. Wanita itu berharap Arga tidak menyadari betapa hancurnya emosinya saat ini. Debat kecil hampir meletus di antara mereka, udara ruangan terasa sangat panas dan menyesakkan.
Namun, Nadira segera menelan ludah dengan susah payah. Ia memilih untuk menahan diri
dan tidak meladeni kemarahan suaminya itu. Ada tujuan utama yang harus ia capai di
rumah ini. Jika ia terlibat pertengkaran sekarang, semua rencananya akan hancur
berantakan. Ia harus tetap tenang dan membiarkan Arga berbicara lebih dulu.
Arga mendekat selangkah, menatap map biru yang kini tertutup rapat di tangan Nadira.
Pria itu mengeratkan rahangnya, menahan amarah yang tampaknya akan segera meledak.