NovelToon NovelToon
Kebangkitan Istri Yang Direndahkan

Kebangkitan Istri Yang Direndahkan

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Selingkuh / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:743k
Nilai: 5
Nama Author: Santi Suki

Astrid mengorbankan segalanya untuk keluarga. Namun, pengorbanannya justru dibalas dengan hinaan.

Setelah melahirkan, tubuh Astrid berat badannya naik drastis hingga membuat Lucas, suaminya yang seorang dokter, merasa malu memiliki istri sepertinya. Tak hanya itu, Marta, sang mertua, juga menganggap Astrid sebagai wanita tidak berguna karena tidak memiliki pekerjaan maupun prestasi yang bisa dibanggakan.

Puncaknya terjadi saat Lucas dan Marta mempermalukannya di depan banyak tamu undangan. Harga dirinya diinjak-injak tanpa belas kasihan, seolah seluruh pengorbanannya selama ini tidak pernah berarti. Hari itu, Astrid memutuskan untuk berhenti menangis.

Dengan bantuan Mateo, Astrid bangkit dan mengubah hidupnya. Saat satu per satu kesuksesan berhasil diraihnya, orang-orang yang dulu merendahkan mulai menyadari kesalahan mereka.

Kini giliran mereka yang memohon, sementara Astrid tak lagi peduli. Karena ada penghinaan yang bisa dimaafkan, tetapi tidak pernah bisa dilupakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

Selama ini Starla rela menunggu Lucas. Sering menerima berbagai janji yang terus diulang. Dia hidup dalam hubungan yang tidak pernah mendapat pengakuan. Akan tetapi, sekarang masa depannya ikut dipertaruhkan. Perlahan ia meraih ponselnya yang berada di samping kontrak.

Nama Lucas langsung muncul di layar. Tanpa ragu Starla menekan tombol panggil. Nada sambung terdengar beberapa kali. Lalu, panggilan itu terhubung.

"Halo?" Suara Lucas terdengar lelah dari seberang sana.

Starla berdiri dan berjalan mendekati jendela. "Kamu di mana?" tanyanya sambil memandang kerlip lampu kota di kejauhan.

"Masih di rumah sakit," jawab Lucas. "Ada apa?"

Starla menggenggam ponselnya lebih erat. "Aku mau ketemu."

Lucas terdiam beberapa saat. "Sekarang?"

"Iya."

"Apa ada yang penting?" tanya Lucas pelan.

Starla menarik napas panjang. Tatapannya tetap lurus ke luar jendela. "Iya. Cepat datang sekarang, Lucas!"

Nada suara Starla terdengar datar, tetapi cukup untuk menunjukkan bahwa ia tidak sedang meminta, tetapi sedang menuntut.

Lucas kembali diam beberapa detik. "Aku masih sibuk."

Starla memejamkan mata sejenak. Kesabarannya yang sejak tadi ia tahan mulai menipis.

"Aku bilang datang sekarang!" Kali ini Starla bicara dengan nada lebih tegas.

Lucas langsung memahami bahwa ada sesuatu yang serius sedang terjadi kepada kekasih gelapnya. Ia mengenal Starla cukup dalam untuk mengetahui kapan wanita itu sedang marah dan kapan ia sudah berada di batas kesabarannya.

Beberapa detik kemudian, Lucas mengembuskan napas panjang dari seberang telepon. "Oke. Aku ke sana sekarang."

Panggilan berakhir, Starla perlahan menurunkan ponselnya. Lalu kembali menatap kontrak Aurora Luxury yang tergeletak di atas meja. Malam ini, ia tidak ingin lagi mendengar janji. Ia menginginkan jawaban pasti.

Tiga puluh menit kemudian, suara bel apartemen terdengar memecah keheningan malam. Starla yang sejak tadi berdiri di dekat jendela tidak segera bergerak. Ia membiarkan bel itu berbunyi sekali lagi sebelum akhirnya berjalan menuju pintu dan membukanya.

Lucas berdiri di sana dengan jas yang masih melekat rapi di tubuhnya. Wajahnya tampak lelah setelah seharian bekerja. Namun, begitu masuk dan pintu tertutup di belakangnya, ia langsung menyadari ada sesuatu yang berbeda.

Biasanya Starla akan menyambutnya dengan senyum hangat. Kadang wanita itu langsung memeluknya sambil bercerita tentang hari yang baru saja dilalui, namun malam ini tidak.

"Kenapa pintunya kamu kunci rantai?" tanya Lucas. Tadi, pria itu tidak bisa langsung masuk, seperti biasanya.

Bukannya menjawab, Starla hanya berdiri beberapa langkah darinya dengan wajah dingin dan tatapan yang sulit dibaca.

Lucas mengerutkan dahi. "Ada masalah apa?" tanyanya pelan sambil meletakkan kunci mobil di atas meja.

Starla berbalik menghadapnya. Tatapannya tajam dan penuh tekanan.

"Kita perlu bicara." Nada suara Starla yang datar membuat Lucas langsung merasa tidak nyaman.

Tentang apa pun yang akan dibahas malam ini, jelas bukan sesuatu yang ringan. "Tentang apa?" tanya Lucas hati-hati.

Starla menatapnya beberapa detik sebelum menjawab. "Tentang hubungan kita."

Jantung Lucas seolah berdebar sedikit lebih cepat. Ia sudah bisa menebak ke mana arah pembicaraan ini.

Sementara itu, Starla mulai berjalan mendekat. Langkahnya pelan, tetapi penuh keyakinan. Hingga akhirnya ia berhenti tepat di depan Lucas. Wanita itu mengangkat wajahnya dan menatap lurus ke matanya.

"Aku capek, Lucas."

Lucas mengernyit. "Capek apa?" tanyanya bingung.

Starla tertawa kecil tanpa humor. Matanya tampak lelah. "Aku capek disembunyikan terus dari orang-orang."

Kalimat itu meluncur begitu saja dan membuat suasana apartemen langsung berubah dingin.

Lucas mengembuskan napas panjang sambil mengusap tengkuknya. "Starla ...."

"Sampai kapan, Lucas?" potong Starla cepat. Suaranya mulai bergetar karena emosi yang selama ini ia tahan.

Lucas terdiam.

Starla melangkah satu langkah lebih dekat. "Sampai kapan aku jadi wanita simpanan?" tanyanya dengan mata yang mulai memerah.

Lucas membuka mulut, tetapi tidak ada jawaban yang keluar. Karena ia sendiri tidak tahu harus berkata apa.

Starla tertawa lagi. Kali ini terdengar lebih pahit.

"Aneh, ya. Semua orang mengira aku wanita yang beruntung. Punya karier yang bagus. Penghasilan yang cukup besar. Wajah terpasang ada di mana-mana."

Starla menunjuk dirinya sendiri, menggelengkan kepala dan senyum sinis. Setelah itu ia menatap Lucas dengan sorot mata yang terluka.

"Tapi aku bahkan tidak bisa berjalan di samping laki-laki yang katanya mencintaiku."

Lucas memijat pelipisnya yang mulai terasa berdenyut. "Kamu tahu situasinya rumit."

"Rumit?" ulang Starla sambil tersenyum miring. Ia melipat kedua tangan di depan dada. "Sudah setahun kamu bilang rumit? Dan kamu bilang aku harus tunggu sampai waktunya tiba?"

Lucas diam. Tidak ada bantahan atau alasan baru.

Justru itulah yang membuat hati Starla semakin sakit. Wanita itu menggeleng perlahan. Ia menatap Lucas dengan mata berkaca-kaca. Lalu, dengan suara yang jauh lebih pelan.

"Lucas, aku bukan anak kecil. Aku tidak butuh janji manis lagi."

Lucas mengembuskan napas berat. "Kamu pikir aku tidak berusaha?" tanyanya dengan nada frustrasi.

Pria itu berjalan beberapa langkah sebelum berbalik lagi. "Astrid masih menahan rumah warisan itu. Perceraian belum bisa dilakukan sekarang."

Starla menatapnya tidak percaya. "Jadi, kamu mau urus perceraian setelah rumah itu jatuh ke tangan kamu?" tanyanya lirih.

Lucas mengatupkan rahang. "Kamu tahu kalau aku ingin membangun rumah sakit sendiri. Dan itu membutuhkan uang yang banyak."

"Apa kamu belum puas dengan klink itu? Padahal klinik itu sangat ramai."

Starla tertawa sinis. Tawa yang terdengar lebih menyakitkan daripada tangisan.

"Memangnya kamu tidak mau jadi nyonya pemilik rumah sakit?" tanya Lucas balik.

Starla menghela napas. Dia memang ingin mendapatkan kedudukan sosial yang tinggi di masyarakat. Kalau cuma level suami dokter punya klinik, kurang menjanjikan hidupnya di masa depan.

"Kenapa kamu tidak langsung ambil surat-surat kepemilikan tanah dan rumah itu? Lalu, jual. Katanya tempat itu strategi dan punya harga jual tinggi," gerutu Starla kesal.

"Tidak semudah itu," balas Lucas. "Astrid suka menyimpan barang-barang berharga di brankas bank."

Starla mengalihkan pandangan sebelum rasa kecewanya berubah menjadi air mata. Ia berjalan menuju meja ruang tamu dan mengambil map hitam yang sejak tadi tergeletak di sana. Dengan gerakan cepat, ia melemparkannya ke atas meja di depan Lucas.

"Kamu tahu ini apa?" tanya Starla.

Lucas menunduk melihat berkas tersebut. "Kontrak baru?"

"Kontrak yang bernilai terbesar dalam hidupku," jawab Starla tegas.

Lucas mengangguk dan tersenyum lebar. "Itu bagus, dong. Akhirnya ada brand internasional yang mempercayai kamu."

"Bukan hanya bagus." Starla kembali menatapnya. Kali ini sorot matanya penuh tekanan. "Ini kesempatan yang bisa mengubah masa depanku."

Lucas mulai memahami arah pembicaraan itu. "Lalu?"

Starla menarik napas panjang sebelum menjawab. "Mereka minta aku punya citra publik yang bersih."

Lucas langsung terdiam.

1
Wirly Pena
Semangat thor, karya yang bagus 👍

halo temen2, Jangan lupa mampir di " aku istrimu bukan babumu "

terimakasih 🙏
Punkpunk 234
larut dalam haru..aku tuh 🥺🥺
ikutan happy.. boleh ya.. 😍👍😍
Punkpunk 234
saammaa Juull.. aku juga kesel liat leletnya bang Teo.. gercep ngapa bang.. 💪👍💪
Punkpunk 234
apartemen mewah hadiah dr Lucas udah disita bloomm.. ?!? plus barang² mewahnya.. !?!
Punkpunk 234
semoga hukumullah segera menimpanya.. masuk hotel prodeo laa.. 😂👍😂
Punkpunk 234
jom Astrid.. jangan jadi cewek menye².. sadarlah.. c Lucas itu penipu ulung 😡 tinggalkan suami mental rusak keq c ibliz Lucas.. 😡😡😡
Punkpunk 234
dasar suami biadab.. mampoozz aja loe blizz 😡😡😡
Punkpunk 234
aku ikut mampir thoorr..
Yasinta Niken
ayo jawab Mateo
Yasinta Niken
Aduhhh Mateo Kamu kelamaan nembak Astrid hati2 diambil orang lho
Yasinta Niken
semangat Astrid 👍👍👍
niktut ugis
asli bagus banget ceritanya Thor
niktut ugis
memang tidak ada orang dewasa ya saat Astrid & Mateo kerja?
Yasinta Niken
aduh Lucas kamu memang manusia yang tak punya hati kehancuranmu sudah semakin dekat 😄😄😄
Yasinta Niken
bagus Astrid lawan mak lampir Marta 👍
Yasinta Niken
OOO Mak Lampir datang 🤭
Yasinta Niken
hati2 ya Astrid semoga berhasil dengan teman yang baik 💪
lyla lafiya
👍
Yasinta Niken
nah lho starla sebentar lagi hidupmu juga akan hancur
Yasinta Niken
sebentar lagi hidupmu diambang kehancuran Lucas
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!