Kanaya Leticia Clarissa hanya ingin masa SMA-nya berjalan tenang tanpa gangguan. Namun, kecantikannya yang mencolok justru menjadikannya target perundungan oleh senior OSIS yang iri. Di tengah ketakutan itu, Alden Arsenio Malik—sang Ketua OSIS yang dikenal sempurna dan dingin—datang mengulurkan tangan. Letta mengira itu adalah sebuah perlindungan, tanpa menyadari bahwa di balik tatapan tegas Alden, ada obsesi gelap dan posesif yang siap mengurung seluruh hidupnya.
"Kamu aman di sini, Letta. Tapi ingat, kamu hanya milikku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nalara amora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kepedulian Marsha
Suara gesekan kunci yang perlahan diputar membangunkan Aleta dari tidurnya.
Jantungnya langsung berdegup kencang, napasnya tersengal karena ketakutan. Ia langsung meringkuk lebih dalam, menahan napas, yakin bahwa itu adalah Alden yang kembali untuk menagih "kepatuhannya".
Namun pintu itu tidak terbuka dengan sentakan kasar seperti biasanya. Pintu itu terbuka perlahan, diikuti dengan derit engsel yang pelan.
"Aleta? kamu di dalam, kan?"
Suara itu... suara itu bergetar dan sangat pelan. Aleta membuka matanya lebar-lebar. Itu bukan suara bariton Alden yang dingin. Itu suara Marsha.
"Marsha?" bisik Aleta parau, suaranya hampir tak terdengar karena tenggorokannya yang kering.
Mendengar sahutan Aleta, Marsha langsung menerobos masuk dan mengunci kembali pintu UKS dengan cepat, seolah takut ada yang melihatnya. Ia berlari kecil menghampiri brangkar, wajahnya pucat pasi dengan mata yang sembap karena menangis.
"Ya Tuhan, Aleta..." Marsha langsung memeluk tubuh Aleta yang masih gemetar.
"aku panik banget, aku nyuri kunci cadangan ini dari ruang guru pas panitia lain lagi sibuk di lapangan. Ada apa Aleta kenapa jadi gini?."
Aleta tidak membalas pelukan itu dengan hangat; ia justru semakin terkulai, air mata kembali mengalir di pipinya karena merasa akhirnya ada seseorang yang peduli.
"Marsha... jangan di sini. Dia bisa balik kapan aja. Dia... dia bakal tahu kalau kamu ke sini."
Marsha melepaskan pelukannya, menatap Aleta dengan sorot mata yang penuh tekad, meskipun tangannya sendiri gemetar hebat. "aku nggak peduli sama ka Alden! Aleta, kita harus pergi dari sini sekarang. aku udah siapin motor di parkiran belakang yang jarang dilewati orang. aku nggak bisa biarin ini semua."
Aleta menatap pintu UKS dengan tatapan ngeri. Bayangan Alden dan ancamannya tentang pekerjaan ibunya kembali menghantui pikirannya.
"Marsha, kamu nggak ngerti. mama aku... mama aku aja udah nggak mau nolong, Kalau aku lari, Alden bisa bikin mama ku kehilangan pekerjaannya. aku.... aku nggak punya pilihan lain."
Marsha tertegun mendengar pengakuan itu. Tangannya yang tadinya memegang bahu Aleta perlahan terjatuh ke sisi tubuhnya. Ruangan UKS itu kembali sunyi, hanya menyisakan deru napas mereka yang tidak teratur.
Di luar, sayup-sayup terdengar suara langkah sepatu yang semakin mendekat ke arah UKS. Langkah yang tenang, ritmis, dan sangat familiar. Langkah seseorang yang sedang bersiul kecil, seolah sedang menikmati waktu senggangnya.
"Dia datang, Marsha," bisik Aleta dengan wajah pucat pasi. "Dia balik."
🌍🌍🌍
Mendengar langkah kaki Alden yang makin dekat, Marsha mematung. Matanya melirik panik ke arah jendela UKS yang terlalu tinggi untuk dilompati.
"Al, dengar," bisik Marsha dengan suara tercekat, berusaha menarik lengan Aleta untuk turun dari brangkar.
"Kita nggak punya banyak waktu. Kalau dia masuk, kita tamat."
sebelum mereka sempat bergerak, pintu UKS terbuka lebar. Alden berdiri di sana dengan wajah yang masih tampak tenang, tapi tatapan matanya berubah tajam saat melihat keberadaan Marsha di dalam ruangan. Ia tidak terkejut; seolah dia sudah tahu sejak awal bahwa sahabat Aleta ini akan mencoba "bermain api".
Alden menutup pintu perlahan dan menguncinya kembali. Tanpa memedulikan kehadiran Marsha, ia melangkah mendekat, mengabaikan ketegangan yang merambat di antara dua gadis itu.
"Marsha," sapa Alden datar, suaranya dingin dan menusuk.
"Ternyata lo punya nyali juga buat nyuri kunci ruang guru."
Alden berhenti tepat di depan mereka, lalu tatapannya beralih pada Aleta. Senyum tipis yang mematikan muncul di bibirnya.
"Dan kamu, Aleta... sepertinya kamu belum cukup jera, ya? Masih mencoba mencari jalan keluar?"
Alden melepaskan jas OSIS-nya, lalu melemparnya sembarangan ke meja di dekatnya. Ia menatap Aleta dengan tatapan yang penuh obsesi, lalu berkata dengan nada dingin yang mutlak:
"Kita pulang sekarang ke rumah gue."
Aleta tersentak, mencoba mundur hingga punggungnya menabrak dinding UKS.
"Tapi... aku mau pulang ke rumah aku, ka Alden. Aku mau ketemu mama."
Alden tertawa kecil—tawa yang sama sekali tidak terdengar jenaka, melainkan sebuah intimidasi. Ia menunduk, mendekatkan wajahnya ke depan wajah Aleta hingga napas mereka terasa beradu.
"Rumah lo? Tempat itu udah bukan tujuan lo lagi, Aleta. Nyokap lo udah kasih izin buat lo tinggal di rumah gue selama yang gue mau. Jadi, pilihan lo cuma dua: lo jalan sendiri ke mobil gue dengan tenang, atau gue terpaksa bawa lo dalam kondisi yang nggak akan disukai oleh siapa pun di sekolah ini."
Alden kemudian menoleh sekilas ke arah Marsha yang masih gemetar di sudut ruangan.
"Dan lo, Marsha... kalau lo masih mau aman, jangan pernah coba-coba ikut campur urusan gue lagi. Keluar dari sini sekarang, atau lo bakal nanggung akibatnya di depan seluruh murid."
Alden kembali menatap Aleta, tangannya terulur, menanti jemari Aleta untuk ia genggam dengan paksa.
"Ayo. Kita harus keluar dari sekolah ini sekarang."
Marsha tidak bergerak seinci pun. Meskipun keringat dingin mulai membasahi pelipisnya dan kakinya terasa lemas melihat tatapan tajam Alden, ia tetap berdiri kokoh di samping Aleta, bahkan sengaja menggeser tubuhnya sedikit ke depan, mencoba memposisikan dirinya sebagai perisai bagi Aleta.
"aku nggak akan pergi, ka" ucap Marsha dengan suara yang dipaksakan stabil, meski getaran hebat tak bisa disembunyikan dari nada bicaranya.
"Aleta temen aku, dan aku nggak akan biarin kaka bawa dia pergi gitu aja kayak barang bawaan kaka"
Alden yang mendengar penolakan itu justru tertawa. Tawa yang sangat tenang, yang justru membuat atmosfer di ruang UKS semakin menyesakkan. Ia sama sekali tidak terlihat marah, justru ia terlihat seperti seseorang yang sedang menertawakan lelucon bodoh.
"Marsha, lo lucu ya," sahut Alden sembari melangkah maju, memangkas jarak hingga ia berdiri tepat di hadapan Marsha.
"Lo pikir lo pahlawan di sini? Lo pikir dengan berdiri di sana lo bisa ngelindungin dia?"
Alden menatap lurus ke mata Marsha, lalu dengan gerakan secepat kilat, ia mencengkeram lengan Marsha dan mendorong gadis itu sedikit kasar ke samping hingga tubuh Marsha membentur lemari obat. Suara benturan itu cukup keras, membuat Aleta menjerit kecil.
"Gue bilang keluar, itu perintah," suara Alden merendah, menjadi bisikan yang jauh lebih menakutkan daripada teriakan.
"Kalau lo masih mau sekolah di sini dengan tenang, kalau lo nggak mau Aleta dapet masalah lebih besar karena campur tangan lo, pergi sekarang."
Alden beralih menatap Aleta dengan tatapan yang kembali melembut secara manipulatif.
"Aleta, lihat sahabat lo. Semakin dia mencoba ikut campur, semakin sulit posisi nyokap lo di perusahaan nyokap gue. Apa lo mau biarin Marsha merusak hidup keluarga lo lebih jauh lagi?"
Aleta yang melihat Marsha terdesak merasa dunianya semakin hancur. Ia tahu Alden tidak sedang bercanda. Jika ia terus membiarkan Marsha bertahan, Alden benar-benar akan menghancurkan ibunya.
🌍🌍🌍
Dengan air mata yang kembali luruh, Aleta menarik ujung seragamnya sendiri dengan gemetar.
"Sha... please," bisik Aleta, suaranya parau karena putus asa.
"Keluar, Sha. aku mohon...."
Marsha menatap Aleta dengan mata berkaca-kaca, tak percaya sahabatnya menyerah secepat ini.
"Tapi Aleta—"
"Pergi, Marsha!" potong Aleta, kali ini suaranya lebih keras meski masih terbata-bata. Ia tidak ingin sahabatnya ikut terjerembab ke dalam lubang hitam yang sedang menggali kuburan baginya.
Alden tersenyum penuh kemenangan, memandangi kedua gadis itu dengan tatapan predator. Ia sudah memegang kendali penuh, dan ia sangat menikmati setiap detik kehancuran di antara mereka
Marsha berdiri mematung untuk beberapa saat, menatap Aleta dengan tatapan yang penuh permohonan maaf dan ketidakberdayaan. Hatinya seperti diremas melihat sahabatnya sendiri harus menyerah pada dominasi Alden demi melindunginya.
tapi ia juga sadar—Alden bukan orang yang bisa dilawan dengan keberanian nekat.
Dengan napas yang diatur sedemikian rupa, Marsha perlahan melangkah mundur menuju pintu. Ia merapikan rambutnya yang sedikit berantakan, menghapus sisa air mata yang sempat jatuh di pipinya, dan mencoba membangun kembali topeng ketenangan di wajahnya.
Klik.
Pintu UKS terbuka. Marsha melangkah keluar ke koridor yang kini mulai ramai oleh siswa yang bersiap untuk pulang. Ia memaksa bibirnya untuk membentuk garis wajah yang datar, sedatar mungkin, seolah ia baru saja keluar dari ruang UKS hanya untuk mengambil obat atau sekadar beristirahat.
Setiap langkahnya terasa begitu berat. Dadanya sesak, dan ia harus menahan gejolak untuk tidak menoleh ke belakang. Ia tahu, di balik pintu itu, Aleta sedang dibawa menuju mimpi buruk yang lebih panjang.
Marsha terus berjalan melewati gerombolan siswa lain, menyapa beberapa teman dengan anggukan singkat—sebuah kepura-puraan yang menyakitkan. Ia harus tetap bersikap normal, karena jika ia menunjukkan kecemasan berlebih, itu hanya akan memperkeruh situasi dan membuat Alden semakin merasa berkuasa.
🌍🌍🌍
Di dalam ruang UKS, Alden melihat pintu yang tertutup kembali dengan senyuman puas. Ia tidak lagi membuang waktu. Ia beralih menatap Aleta yang masih gemetar di atas brangkar.
"Lihat?" ucap Alden tenang, suaranya terdengar sangat lembut namun memiliki penekanan yang mutlak.
"Semuanya berjalan sesuai rencana. Gak ada lagi yang bisa ganggu kita."
Alden mendekat, lalu dengan gerakan tanpa permisi, ia menyambar tangan Aleta, memaksanya untuk berdiri.
"Sekarang, hapus air mata lo. Kita nggak mau ada orang yang bertanya-tanya kenapa ada gadis menangis di samping Ketua OSIS, kan?"
" kita juga punya agenda nanti malam, jadi siapin diri Lo."
Alden menarik Aleta dengan lembut namun tegas, menuntunnya keluar dari ruangan itu.
Di hadapan murid-murid lain di koridor, Alden memasang topengnya sebagai sosok pemimpin yang berwibawa, sementara tangannya yang berada di balik punggung Aleta terus mencengkeram lengan gadis itu, memastikan Aleta tidak memiliki kesempatan sedikit pun untuk melarikan diri dari sisi kirinya.
Hari itu, Aleta berjalan bagaikan bayang-bayang yang kehilangan jiwanya, mengikuti setiap langkah Alden menuju mobil yang terparkir di tempat tersembunyi.
🌍🌍🌍
yang penasaran nanti malem ada apa tunggu yaaaa 😶🌫️