Hari pertama bekerja seharusnya menjadi awal yang sempurna bagi Naira Putri Prameswari. Namun semua rencananya berantakan ketika tanpa sengaja ia menumpahkan segelas kopi ke jas seorang pria asing yang dingin dan menyebalkan. Masalahnya, pria itu ternyata adalah Arga Mahendra Wijaya—CEO perusahaan tempat Naira baru diterima bekerja. Sejak saat itu, setiap pertemuan mereka selalu diwarnai adu mulut, sindiran, dan kekacauan yang mengundang tawa. Naira menganggap Arga terlalu kaku dan perfeksionis, sementara Arga merasa Naira adalah sumber masalah yang tak pernah habis. Takdir rupanya punya selera humor. Sebuah proyek penting memaksa mereka bekerja dalam satu tim. Semakin sering bersama, semakin banyak sisi lain yang mereka temukan. Di balik sikap dingin Arga tersimpan perhatian yang tulus, sementara di balik kecerobohan Naira ada hati yang hangat dan selalu membawa warna. Saat kebencian perlahan berubah menjadi rasa nyaman, masa lalu Arga datang menguji hubungan mereka. Mampukah mereka mengalahkan ego, atau justru kembali menjadi dua orang yang saling menyakiti? Karena terkadang, orang yang paling membuat kita emosi adalah orang yang paling sulit kita lepaskan. ❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seranovelle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 15 - Satu Langkah Lebih Dekat
Senin pagi selalu identik dengan antrean panjang di depan mesin absensi.
Beberapa karyawan datang sambil membawa kopi, ada yang masih menguap, ada pula yang sibuk membalas pesan di ponsel.
Nadira baru saja menempelkan kartu akses ketika seseorang berdiri di sampingnya.
"Pagi."
Ia tidak perlu menoleh untuk tahu siapa pemilik suara itu.
"Pagi."
Arga tersenyum kecil.
"Nggak ngambek lagi?"
Nadira mengangkat sebelah alis.
"Memangnya aku pernah ngambek?"
"Sering."
"Aku cuma menjaga jarak."
"Nah, itu versi halus dari ngambek."
Nadira terkekeh pelan.
"Percaya diri banget."
"Boleh dong."
Mereka berjalan berdampingan menuju lift.
Entah sejak kapan, keheningan di antara mereka tidak lagi terasa canggung.
---
Begitu sampai di lantai tujuh, Pak Dimas langsung memanggil seluruh tim.
"Teman-teman, ada kabar baik."
Semua menghentikan pekerjaan.
"Klien sangat puas dengan hasil proyek kemarin."
Tepuk tangan langsung terdengar.
"Karena itu..."
Pak Dimas tersenyum bangga.
"...mereka menawarkan proyek lanjutan."
"Wah!"
"Serius, Pak?"
"Iya."
"Tapi kali ini ada syarat."
Ruangan kembali hening.
"Mereka meminta project leader dan strategist tetap orang yang sama."
Tatapan beberapa rekan langsung mengarah kepada Nadira dan Arga.
Rina bahkan langsung berbisik pelan,
"Nah, pasangan proyek lanjut."
Nadira melotot.
"Denger ya aku."
Rina hanya tertawa.
Pak Dimas melanjutkan,
"Kalau kalian berdua bersedia."
Arga menjawab lebih dulu.
"Saya siap."
Pak Dimas menoleh kepada Nadira.
"Nadira?"
Ia melirik sekilas ke arah Arga.
Pria itu tidak mendesak.
Hanya menunggu jawabannya.
Nadira akhirnya mengangguk.
"Saya juga siap."
Senyum Arga langsung mengembang.
Dan entah kenapa, melihat senyum itu membuat keputusan Nadira terasa benar.
---
Siang harinya, mereka pergi ke sebuah kafe untuk membahas konsep awal.
Berbeda dengan biasanya, kali ini suasana lebih santai.
Laptop tetap terbuka.
Proposal tetap dibahas.
Namun sesekali obrolan mereka melenceng ke hal-hal yang tidak ada hubungannya dengan pekerjaan.
"Kamu punya saudara?"
Arga bertanya sambil mengaduk kopinya.
"Adik perempuan."
"Sering berantem?"
"Dulu."
"Sekarang?"
"Kalau ketemu malah rebutan cerita."
Arga mengangguk.
"Aku anak tunggal."
"Pasti dimanja."
"Katanya sih."
"Kenyataannya?"
"Ayahku galak."
Nadira tersenyum.
"Aku bisa bayangin."
"Ayahmu?"
"Orangnya tenang."
"Tapi kalau kecewa..."
Ia menghela napas pelan.
"...lebih serem daripada dimarahin."
Arga mengangguk paham.
"Aku ngerti."
Percakapan itu mengalir begitu saja.
Tanpa dipaksa.
Tanpa topik yang dibuat-buat.
Untuk pertama kalinya, mereka mulai mengenal satu sama lain di luar pekerjaan.
---
Saat hendak kembali ke kantor, Nadira berdiri di depan kasir.
"Biar aku bayar."
Arga langsung menggeleng.
"Gantian."
"Kemarin kamu."
"Hari ini aku."
"Arga."
"Dir."
Kasir yang berdiri di depan mereka tersenyum geli.
"Kalau boleh usul..."
Mereka berdua menoleh bersamaan.
"...bayarnya dipisah aja."
Nadira langsung tertawa.
Arga ikut tertawa.
"Oke."
Mereka akhirnya membayar masing-masing.
Begitu keluar dari kafe, Arga menggeleng sambil tersenyum.
"Kita baru sadar ya."
"Apa?"
"Kita ribut cuma gara-gara siapa yang bayar."
"Itu namanya adil."
"Itu namanya keras kepala."
"Yang keras kepala kamu."
"Lho, kok aku?"
"Kamu nggak mau ngalah."
"Kamu juga."
Mereka saling menatap.
Lalu tertawa bersamaan.
Seorang ibu yang kebetulan lewat bahkan ikut tersenyum melihat mereka.
"Kalian pengantin baru ya?"
Seketika tawa mereka berhenti.
"Hah?"
"Nggak, Bu."
"Kami cuma teman kerja."
"Oh."
Ibu itu mengangguk pelan.
"Maaf ya. Soalnya kelihatannya akrab sekali."
Setelah wanita itu pergi, Nadira dan Arga saling berpandangan.
Lalu...
Mereka tertawa lebih keras dari sebelumnya.
---
Sore menjelang pulang.
Nadira menerima telepon dari ibunya.
"Dir."
"Iya, Ma?"
"Sabtu nanti jangan ada acara ya."
"Kenapa?"
"Tetangga sebelah mau datang makan siang."
Nadira mengernyit.
"Tetangga?"
"Iya."
"Mama Arga yang ngajak."
Nadira langsung berhenti melangkah.
"Ma... siapa?"
"Mama Arga."
"Kemarin ketemu di depan rumah."
"Orangnya baik sekali."
"Mereka mau main ke rumah."
Jantung Nadira mendadak berdegup lebih cepat.
"Arga tahu?"
"Ya tahu lah."
"Kan keluarganya."
Telepon ditutup.
Nadira masih berdiri mematung di koridor kantor.
"Kenapa?"
Suara Arga membuatnya tersadar.
"Nggak."
"Kamu kelihatan syok."
Nadira menatap pria di depannya.
"Mamaku ngajak keluargamu makan siang."
Arga membelalak.
"Hah?"
"Kamu nggak tahu?"
"Demi apa..."
Arga langsung meraih ponselnya dan menelepon ibunya.
"Ma?"
"Iya?"
"Mama ngajak keluarga Nadira makan?"
Suara Mama Arga terdengar cukup keras hingga Nadira yang berdiri di dekatnya ikut mendengar.
**"Iya dong. Kan tetangga harus saling kenal."**
"Ma..."
**"Sekalian siapa tahu cocok."**
"Ma!"
Telepon langsung ditutup oleh Arga.
Beberapa detik mereka hanya saling menatap.
Lalu...
Nadira lebih dulu tertawa.
Tawa yang begitu lepas hingga membuat Arga ikut tertawa.
"Kayaknya..."
Arga mengusap tengkuknya sambil tersenyum pasrah.
"...orang tua kita lebih cepat akrab daripada kita."
Nadira mengangguk kecil.
"Iya."
Namun di balik tawanya, ada satu pertanyaan yang diam-diam muncul di benaknya.
Kalau keluarga mereka semakin dekat...
Akankah hubungan mereka juga ikut berubah?
**Bersambung ke Episode 16...**