NovelToon NovelToon
Ayahku Memiliki Sistem

Ayahku Memiliki Sistem

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Transmigrasi
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Sistem One

Saat ia pikir hidupnya berakhir, seorang pria tiba-tiba mendapatkan sistem. Namun, bukannya menjadi kaya, ia justru terbangun di masa lalu... di dalam tubuh ayahnya saat masih muda.

Kini, dengan sistem di tangannya dan mengetahui masa depan, ia harus mengubah takdir keluarganya.

Mampukah ia menyelamatkan keluarganya... tanpa menghapus keberadaannya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sistem One, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2

​Beberapa jam kemudian, Reno akhirnya terbangun. Dia perlahan duduk sambil memegangi kepalanya yang terasa pening dan benjol.

​"Aduh, kepala gua... Sialan si bocah, sembarangan banget naruh mainan!" Reno menggerutu, tapi sedetik kemudian dia terdiam. "Eh, kalau anak kecil tadi itu gua... berarti gua baru aja ngehujat diri sendiri dong?"

​Reno menghela napas panjang. Logikanya jelas menolak situasi gila ini, tapi rasa sakit di kepalanya adalah bukti nyata kalau ini bukan mimpi.

​Baru saja dia hendak berdiri untuk melihat situasi di luar, kepalanya mendadak kembali berdenyut nyeri. Potongan ingatan milik ayahnya mulai membanjiri otaknya.

​Reno bersandar di tembok, wajahnya memucat menahan pusing. "Jadi... bokap sama nyokap aslinya orang desa yang merantau ke kota? Terus mereka nikah karena dijodohkan sama orang tua..."

​Reno memijat pelipisnya, kali ini bebannya terasa lebih berat. "Terus gunanya gua kesasar di tubuh bokap gua apa? Mana tadi layar biru yang sok tahu itu?"

​Ding!

​[Sudah saya jelaskan sebelumnya. Misi Anda adalah mengubah nasib buruk keluarga Anda.]

​Reno tersentak. Dia masih belum terbiasa dengan kemunculan sistem yang tiba-tiba ini.

​"Bisa nggak usah pakai ngagetin? Lu mau bikin gua mati muda dua kali, hah? Oh iya, biasanya sistem di cerita-cerita kayak gini bisa ngasih cheat kekayaan instant, kan? Mana punya gua?"

​Ding!

​[Tidak ada. Tugas saya hanya mengirim Anda ke masa ini. Sisanya, Anda harus menyelesaikannya sendiri.]

​"Sialan! Nggak guna banget!"

​Ding!

​[Bukannya ini impian Anda? Merasakan kehangatan keluarga. Sekarang, Anda bahkan punya kesempatan menjadi orang tua bagi diri Anda sendiri.]

​Reno mengibaskan tangannya di udara, berusaha membubarkan layar biru itu. "Terserah lu lah. Jadi sekarang umur bokap baru 25 tahun, dan nyokap 23 tahun."

​Reno menghela napas lelah. Tampaknya ingatan masa lalu yang dia dapatkan dari tubuh ini belum sepenuhnya pulih, baru sepotong-sepotong.

​Dengan langkah gontai, Reno berjalan keluar kamar. Suasana ruang tengah yang sederhana dan agak kuno itu mendadak memicu rasa nostalgia di benaknya.

​"Gara-gara bokap sama nyokap meninggal waktu gua kecil, gua akhirnya dirawat sama kerabat bajingan yang tega ngejual rumah ini, terus gua dibuang ke panti asuhan. Awas aja lu ya, gua kutuk mandul tahu rasa!" bisik Reno penuh dendam.

​Dia kemudian menoleh ke arah jendela yang menghadap ke halaman rumah.

Di luar sana, terlihat Nadia, ibunya sedang menyapu halaman, sementara Reno kecil sedang asyik duduk bermain tanah.

​Reno mematung memperhatikannya. "Hmm... ini kan tahun 2015. Saham... kripto..." Sebuah senyum lebar langsung terukir di wajahnya. "Gila! Pakai modal ingatan masa depan gua, gua bisa kaya mendadak tanpa harus kerja rodi! Hahaha!"

​Di luar rumah, Nadia yang mendengar suara tawa keras dari dalam seketika menoleh bingung. Reno kecil juga langsung menghentikan aktivitas main tanahnya.

​"Ibu, Ayah gila ya?" tanya Reno kecil polos.

​"Reno, nggak boleh ngomong gitu. Nggak sopan. Dari mana kamu belajar bahasa begitu?" tegur Nadia lembut.

​Nadia merasa suaminya, Raka hari ini aneh sekali. Tadi berteriak-teriak histeris, sekarang malah tertawa sendiri di dalam rumah. Padahal, Raka aslinya adalah sosok pria yang pendiam, kaku, dan cenderung cuek.

​(𝘾𝙖𝙩𝙖𝙩𝙖𝙣: 𝙈𝙪𝙡𝙖𝙞 𝙨𝙚𝙠𝙖𝙧𝙖𝙣𝙜, 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙢𝙚𝙢𝙥𝙚𝙧𝙢𝙪𝙙𝙖𝙝 𝙘𝙚𝙧𝙞𝙩𝙖, 𝙠𝙞𝙩𝙖 𝙨𝙚𝙗𝙪𝙩 𝙍𝙚𝙣𝙤 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙣𝙖𝙢𝙖 𝙩𝙪𝙗𝙪𝙝𝙣𝙮𝙖 𝙨𝙖𝙖𝙩 𝙞𝙣𝙞, 𝙮𝙖𝙞𝙩𝙪 𝙍𝙖𝙠𝙖).

​Kembali ke dalam rumah, Raka langsung membekap mulutnya sendiri untuk menghentikan tawa.

Namun, saat dia hendak mengeksplorasi bagian rumah yang lain, sebuah suara lantang memanggilnya dari arah depan.

​"Rak! Raka!"

​Nadia yang berada di halaman langsung bergegas menuju pagar. "Mas Budi? Ada apa, ya?"

​"Eh, Dek Nadia. Ini... saya mau nyari Raka. Kemarin dia bilang setuju mau ikut saya kerja lembur di proyek bangunan. Katanya buat tambahan uang belanja."

​Nadia cukup terkejut mendengar hal itu. Dia sama sekali tidak tahu suaminya mencari kerja sampingan.

Yah, lagipula hubungan mereka berdua memang dingin dan jarang mengobrol intim meski sudah menikah beberapa tahun.

​Tak berselang lama, Raka keluar dari pintu depan sambil mengucek matanya.

​"Nah, ini dia orangnya! Kamu belum siap-siap, Rak? Jadi berangkat nggak nih?" tanya Budi.

​"Jadi apaan? Siapa lu? Bentar..." Raka memicingkan mata, mencoba menggali ingatan di kepalanya. "Oh, lu temennya boka—maksud gua, lu Budi kan?"

​Budi dan Nadia langsung melongo. Gaya bicara Raka terdengar sangat asing dan tidak sopan di telinga mereka.

​Budi berbisik sambil menatap Nadia dengan cemas. "Dek, suamimu kenapa? Dia lagi sakit?"

​Nadia menggeleng kebingungan. "Saya juga nggak tahu, Mas. Dari pagi sikapnya memang agak aneh. Mungkin kecapekan."

​"Yaudah, bentar ya, Om. Gua siap-siap dulu di dalem," ujar Raka santai sebelum balik badan masuk ke rumah.

​Budi makin melongo. Sejak kapan Raka manggil dia 'Om' dan pakai bahasa 'Gua-Lu'?

​Di dalam kamar, Raka sibuk mengaduk-aduk lemari pakaian. "Baju apaan sih ini? Kuno banget kelihatannya. Dasar selera bapak-bapak."

​Setelah berganti pakaian dengan kaos hitam polos dan celana panjang seadanya, Raka kembali berjalan ke luar rumah. "Yuk, Om. Gua lagi butuh duit banget nih biar cepet kaya, hehe."

​Budi masih mematung di tempatnya. Setelah beberapa saat, dia berdehem canggung. "Aduh, Rak... kalau kamu emang lagi capek, mending istirahat aja deh di rumah. Jangan dipaksain."

​"Ah, nggak usah sok perhatian gitu, Om. Gua sehat walafiat kok!" Raka dengan santai merangkul pundak Budi layaknya teman tongkrongan sebaya. Dia kemudian menoleh ke arah Nadia. "Yaudah, gua pamit kerja dulu ya, Bu... eh!"

​Raka langsung menggigit bibirnya sendiri. "Aduh, refleks sialan! Kagok banget panggil nama asli ke ibu kandung sendiri, tapi kalau panggil Ibu kan aneh,' batinnya menjerit.

​"Maksudnya... Nadia. Kamu jangan lupa makan ya. Nanti kalau ada rezeki lebih, aku beliin sesuatu pas pulang," ralat Raka buru-buru, mencoba meniru gaya bicara 'suami' pada umumnya.

​Tanpa menunggu jawaban Nadia yang masih syok, Raka langsung menarik lengan Budi.

​"Lewat mana jalan ke proyeknya, Om? Ke arah sana kan?"

​Budi buru-buru menepis rangkulan Raka dengan wajah ngeri. "Bukan, Raka! Itu mah lapangan bola! Kamu ini kenapa sih hari ini? Aneh bener!"

1
Bryan
keren thor, banyakin ya update nya, 1 vote udh melayang 💪👍
Maul: terima kasih banyak kak😆
total 1 replies
Dewiendahsetiowati
Reno bocil bikin ngakak deh🤣🤣
Maul
/Blush/
Maul
duit 😘
Maul
/Hey/
Dewiendahsetiowati
hadir thor
Yuliana Tunru
knp verota x jd maju mundur sih kan yg baca bingung 🤭🤭
Maul: hehe, mungkin ke depannya gak akan maju mundur🙏
total 1 replies
Maul
Sistemnya plin-plan wkwk
Maul
waduh, yang ini gk cadel😅
Maul
ngasuh diri sendiri 🤭
Maul
women
Maul
Ayahku adalah diriku sendiri🤔
Maul: cuma bercanda kak, soalnya kan mc nya masuk ke tubuh ayahnya sendiri😅 🙏
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!