NovelToon NovelToon
Nona Kota Jodoh Anak Pak Kades

Nona Kota Jodoh Anak Pak Kades

Status: tamat
Genre:Romansa pedesaan / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:2.1M
Nilai: 5
Nama Author: Aisyah Alfatih

Kiara Valeska Pratama, desainer muda berbakat lulusan terbaik Jakarta tak pernah menyangka hidup glamornya akan runtuh hanya karena satu kata, perjodohan. Dijodohkan dengan anak Pak Kades dari desa pelosok, Kiara memilih kabur ke Bali dan mengabaikan hari pernikahannya sendiri.

Baginya, menikah dengan pria kampungan yang hidup di desa kumuh adalah mimpi buruk terbesar. Namun, Kiara tak tahu satu hal. Pria desa yang ia remehkan itu adalah Alvar Pramesa, dokter obgyn lulusan terbaik luar negeri yang meninggalkan karier gemilang demi kembali ke desa, merawat orang tuanya dan mengabdi pada tanah kelahirannya. Pernikahan tanpa kehadiran pengantin wanita menjadi awal dari konflik, gengsi, dan benturan dua dunia yang bertolak belakang. Gadis kota yang keras kepala dan pria desa yang tenang namun tegas, dipaksa hidup dalam satu atap.


Akankah cinta tumbuh dari perjodohan yang penuh luka dan salah paham?
Atau justru ego Kiara akan menghancurkan ikatan yang terlanjur terjalin?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 22

Keesokan paginya, Delia sudah berdiri di depan rumah Kiara sejak matahari belum sepenuhnya naik. Klakson mobil dibunyikan singkat. Tak lama, Kiara keluar dengan tas selempang di bahu dan wajah yang terlihat lebih tenang dibanding kemarin, meski lelahnya belum benar-benar hilang.

“Siap?” tanya Delia sambil membuka pintu.

Kiara mengangguk. “Ke rumah sakit dulu.”

Perjalanan mereka hening. Bukan canggung, hanya sama-sama tenggelam dalam pikiran masing-masing.

Di rumah sakit, Kiara melangkah pelan menuju ruang perawatan. Begitu melihat papanya duduk bersandar di ranjang dengan selang infus yang tinggal satu, dadanya terasa lebih lega.

“Papa…” panggil Kiara lirih.

Papanya menoleh, tersenyum lemah.

“Kamu datang lagi.”

Kiara menghampiri, menggenggam tangan itu erat. “Gimana rasanya hari ini?”

“Lebih enakan. Dokter bilang tinggal pemulihan,” jawab papanya. “Kamu nggak usah khawatir.”

Kiara mengangguk, matanya berkaca-kaca. Ia menahan diri agar tidak menangis lagi. Setelah berbincang sebentar dan memastikan kondisi papanya benar-benar membaik, Kiara pamit.

“Kiara mau pergi dulu, Pa. Nanti sore aku balik lagi.”

Papanya menatap putrinya dalam-dalam. “Hati-hati, jangan memaksakan diri.”

Di luar ruangan, Mama Kiara sudah menunggu. Begitu tahu Kiara akan pergi ke perusahaan paman Delia, raut wajah wanita itu langsung berubah.

“Kamu mau ke sana?” tanya mamanya.

“Iya, Ma. Aku mau coba melamar kerja,” jawab Kiara jujur.

“Kok nggak di perusahaan Papa saja?” nada mamanya terdengar menahan emosi. “Itu kan lebih jelas. Kamu tinggal masuk, belajar pelan-pelan.”

Kiara menggeleng. “Aku nggak cocok, Ma. Bidangnya bukan aku.”

“Kamu bisa belajar!”

“Aku tahu,” Kiara menarik napas. “Tapi aku pengin cari pengalaman di tempat lain dulu. Aku nggak mau langsung nyaman.”

Mamanya terdiam, lalu berkata pelan tapi tegas, “Kamu ini keras kepala.”

Kiara tersenyum tipis. “Mungkin.” Keduanya langsung pergi meninggalkan ibunya Kiara di depan ruangan rawat papanya.

Di mobil, Delia melirik Kiara sekilas. “Jadi kamu tetap ke perusahaan om aku?”

“Iya.” Kiara menyandarkan kepala ke sandaran kursi.

“Aku mau kerja sesuai mood aja. Nggak mau terikat. Kalau cocok, aku jalanin. Kalau nggak, aku pergi.”

Delia mendengus kecil, setengah geli setengah paham. “Kamu mau lari, ya.”

Kiara tersenyum miring. “Aku mau bernapas.

Tiba di perusahaan, Delia melangkah mantap memasuki lobi utama. Beberapa karyawan yang berpapasan langsung tersenyum ramah.

“Pagi, Mbak Delia.”

“Selamat pagi, Mbak. Ke ruangan Pak Darius, ya?”

Delia mengangguk santai. “Iya.”

Kiara yang berjalan di sampingnya hanya menunduk sopan. Ia bisa merasakan sorot mata penasaran para karyawan bukan pada dirinya, melainkan pada status Delia yang jelas sudah mereka kenal baik.

Begitu tiba di depan ruangan pimpinan, Delia mengetuk singkat lalu membuka pintu.

“Om.”

Seorang pria bangkit dari balik meja kerjanya. Darius, usia tiga puluh lima, postur tegap, wajah matang dengan rahang tegas dan sorot mata tenang. Kemeja kerjanya rapi, jam tangan mahal melingkar di pergelangan tangan. Aura pemimpin yang tidak dibuat-buat.

“Masuk, duduk, Del." Ucapnya sambil menunjuk sofa.

Mereka bertiga duduk berhadapan. Suasana langsung terasa cair. Delia seperti biasa cerewet, sesekali diselingi tawa kecil, sementara Kiara lebih banyak mendengarkan namun tidak kaku.

Setelah beberapa menit berbincang ringan, Darius akhirnya menatap Kiara lebih serius.

“Jadi,” katanya pelan, “kamu yakin mau kerja di sini?”

Kiara mengangguk mantap. “Iya, Pak. Saya mau belajar dari sini dulu … sebelum suatu hari menggantikan Papa.”

Jawaban itu membuat Darius sedikit terkejut. Alisnya terangkat tipis, lalu ia tersenyum samar. “Pemikiran yang bagus. Panggil Mas aja atau Om aja sama kayak Delia," katanya ramah.

Namun, tak lama, dahi Darius kembali berkerut. “Bukannya kamu tinggal di desa?”

Belum sempat Kiara menjawab, Delia sudah lebih dulu menyela, suaranya ringan tapi penuh makna.

“Itu kemarin, Om. Sekarang Kiara mau fokus kerja.”

Darius melirik keponakannya, lalu kembali ke Kiara.

Delia tersenyum lebar, lalu menambahkan, “Satu lagi, Om. Om harus bantu sahabatku ini.”

Kening Darius langsung berkerut lebih dalam. Rasa penasaran jelas terlihat di wajahnya. “Bantu … dalam hal apa?”

Delia tidak langsung menjawab. Ia justru menoleh ke Kiara, menatap sahabatnya itu dengan senyum penuh arti, seolah memberi isyarat bahwa cerita Kiara di tempat ini baru saja dimulai.

Sementara itu, Alvar sudah berada di dalam bus antarkota yang melaju meninggalkan desa. Ia memilih naik bus, tak mungkin membawa mobil bapaknya, dan meski ibunya sempat memintanya membeli mobil baru agar lebih leluasa, Alvar belum siap. Ada hal lain yang lebih penting untuk ia urus lebih dulu.

Ia duduk di dekat jendela, memandang jalanan yang terus berganti. Wajahnya terlihat jauh lebih cerah dibanding malam sebelumnya. Sesekali senyum kecil lolos begitu saja, tanpa sadar.

Alvar merogoh saku jaketnya, membuka ponsel. Layar menampilkan foto Kiara, foto yang diam-diam ia ambil saat Kiara sedang duduk di ruang tengah rumah, menatap kosong ke depan, rambutnya tergerai sederhana, tanpa riasan berlebihan. Foto itu selalu berhasil membuat dadanya terasa hangat sekaligus nyeri.

“Sebentar lagi … aku bakal jujur semuanya,” gumamnya pelan.

Ia menyandarkan kepala ke kursi, membiarkan bus berguncang pelan mengikuti jalan. Alvar tersenyum lagi, kali ini lebih yakin.

Bus yang ditumpangi Alvar akhirnya tiba di Jakarta menjelang sore. Hiruk-pikuk kota menyambutnya, tapi pikirannya hanya tertuju pada satu nama yaitu Kiara.

Alvar berdiri sejenak di trotoar, menatap ponselnya. Ia sadar satu hal, ia tidak tahu alamat rumah Kiara. Malam itu, ia hanya mengantar Kiara langsung ke rumah sakit, tanpa pernah bertanya lebih jauh. Menghela napas, Alvar akhirnya mengambil keputusan.

'Rumah sakit … pasti aku bisa menemuinya di sana.'

Ia segera memesan ojek online dan menyebutkan nama rumah sakit tempat Papa Kiara dirawat. Sepanjang perjalanan, jantungnya berdetak tak tenang, antara harap dan cemas bercampur jadi satu.

Sore mulai turun ketika Alvar tiba. Langit Jakarta berwarna jingga pucat, sementara lobi rumah sakit ramai oleh keluarga pasien dan pengunjung. Alvar memilih duduk di salah satu kursi panjang dekat pintu masuk utama.

Sesekali Alvar berdiri, melangkah beberapa langkah, lalu duduk kembali. Tangannya mengepal di atas lutut, keringat dingin mulai terasa meski pendingin ruangan cukup dingin.

“Kiara … kamu pasti ke sini,” bisiknya penuh harap.

Jam menunjukkan sore menjelang malam. Alvar tetap menunggu di lobi rumah sakit itu, dengan keyakinan sederhana namun kuat hari ini, ia harus bertemu Kiara. Entah untuk meminta maaf, menjelaskan, atau sekadar memastikan istrinya baik-baik saja.

Tepat pukul enam sore, pintu lobi rumah sakit kembali terbuka.

Kiara melangkah masuk lebih dulu, diikuti seorang pria di sampingnya, Darius. Setelan rapi pria itu tampak kontras dengan ekspresi Kiara yang sedikit lelah, tapi jauh lebih tenang dibanding malam sebelumnya.

Kiara menatap layar ponselnya sekilas, yang gelap.

“Pantesan dari tadi nggak ada pesan masuk,” gumamnya pelan, baterainya mati sejak semalam.

Ia memasukkan ponsel ke dalam tas, lalu menoleh pada Darius.

“Makasih ya, Mas, udah mau nganterin aku.”

Darius tersenyum tipis. “Sama-sama. Sekalian aku mau lihat kondisi Papa kamu. Bagaimanapun beliau sekarang partner kerjaku juga … secara nggak langsung.”

Kiara mengangguk kecil, wajahnya terlihat menghargai perhatian itu. Mereka berjalan berdampingan, mengobrol ringan tentang pekerjaan dan rencana ke depan. Sesekali Kiara tersenyum tanpa beban.

Di sudut lobi, Alvar yang sejak tadi duduk menunggu mendadak berdiri. Ponsel di tangannya masih menyala, layar menunjukkan panggilan tak terjawab berkali-kali.

Alvar hendak melangkah, tapi tubuhnya seketika membeku. Matanya menangkap sosok Kiara, bersama seorang pria.

Alvar berdiri terpaku, napasnya terasa berat. Tangannya perlahan mengepal, urat-urat di pelipisnya menegang. Tatapannya tak berkedip, mengikuti setiap langkah Kiara yang kini terlihat begitu dekat dengan pria itu, tertawa kecil, berbicara santai, seolah dunia di sekeliling mereka tak ada apa-apanya.

'Siapa dia…?'

Sementara itu, Kiara sama sekali tak menyadari keberadaan Alvar. Ia terus berjalan menuju lift bersama Darius, langkahnya ringan, jauh dari wanita yang semalam pergi dengan mata sembab dan hati remuk.

"Kiara," serunya saat pintu lift sudah tertutup sepenuhnya.

1
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
tapi emang harusnya gini ga sih kan logika nya yg makan adalah konsumen harusnya dikasihin yg sesuai pesanan konsumen kok jd nurutin orang lain tanpa konfirmasi 😌
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
naahhh wkwk
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
ini kagak ada cctv nya di ruangan kerja pribadi? harusnya kalo level manager yg nanganin proyek ada ya slnya buat jaga2 kalo ada kejadian begini hehe
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
orang stress nya ilang satu tumbuh satu lagi 🤣
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
ini jatohnya apa sih? stress? depresi atau apa? tapi aku bingung lho kok bisa orang dengan gangguan kejiwaan gini dia lolos sekolah jd dokter kandungan 🤔 emang selama proses belajar mengajar sampe sumpah dokter ga ada psikotes nya ya? kok bisa ngelolosin orang sakit jiwa 😌
Soleh Sudarna
tuu kaaannn.. beneran gillaa.. sedeng.. sableng.. sinting.. eddaann.. 😠😡😡
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
beneran stress ternyata, slnya patah hati nya sampe ngebunuh orang 😩
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
bukan apa ya tp kayak pantes aja si pradi akhir hidupnya ngenes, si bahrul juga wkwk ternyata makan hasil uang orang 🙂
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
inilah kalo siluman ular sm siluman lipan di satukan wkwk tp aku suka keributan ini, pengen tau di antara sesama siluman siapa yg menang 🤣
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
kaaan wkwk perempuan ini bikin repot, harusnya dr awal gausah segala acara ngeboncengin dan berusaha cari tau dr ini orang, salah strategi kan 🙂
Soleh Sudarna
dr hesti terbangsat.. iblizz gila 😡😡😡
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
kok bisa ga kepikiran ngabarin isteri nya, aku ga di kabarin suami ku dia udah sampe kantor apa belum ada tantrum 🙏🙂
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
better di bakar sih wkwk
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
kalo gua mah ga ridho gua tarik kalung nya 🤣😂
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
kok bisa hamil duluan jd kebanggaan sih wkwk padahal itu top tier aib bikin malu keluarga selain jd gundik/pelakor 😂 slnya di bahas nya sepanjang segala abad sm ibu2 satu kampung 😅
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
buset 10 ga bayar sewa tanah jatohnya gatau diri sih 🙂 bukan apa ya tp takutnya dia aja ga menuhin kewajiban dia, sama aja mencurangi hak orang lain trus gara2 ngasih makan keluarga nya dr cara begini si supradi jd begitu kelakuannya, suka KDRT 😅
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
mungkin aku jahat tp aku ga suka kalo situasi alvar terjadi di kenyataan, niat nya mungkin baik ya belain mantan dr kdrt atau apalah tp kalo bikin berantem sama pasangan kita sekarang aku mending di bilang jahat gapapa deh slnya kelakuan nya si hesti juga begini, niat alvar nolong tp di tanggap nya masih ada rasa jd ya repot sih kataku mending manggil warga aja kalo mau nolongin ramean 🙏🏻
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
penasaran banget sama pencetus mitos ini, pengen nanya slnya dia awalnya mencetuskan ini dr mana 🙏🙂 slnya bingung sm korelasi hamil sm ngelayat, nanti giliran ga ngelayat di omongin juga di bilang suami berduka kok isterinya ga ikut ☺️
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢: aku malah baru tau ada mitos ini kak 😅
total 2 replies
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
ini buat dokter hesti: wleeeeek 😛😛😛
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
ya kata gua juga lu aneh, kenal enggak deket apalagi tp nyeritain kisah cinta dokter (yg mungkin dia tau kiara isteri nya alvar) kayak buat apa coba? 🤷🏻‍♀️ gua kalo jd pasien biasa aja kayak hah lu stress tiba2 ngomong gini, mau itu mantan pacarnya kek mantan isteri nya kek bodo amat 🙏🙂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!