Cerita ini bukan tentang siapa yang tercepat menjadi terkuat, melainkan tentang bagaimana seseorang yang dianggap paling lemah belajar memahami kekuatan yang sesungguhnya: kesabaran, ketahanan, kemampuan menahan badai tanpa tumbang, dan perlahan tumbuh melampaui batas yang dianggap mustahil oleh semua orang. Ia akan bertemu teman yang setia, menghadapi musuh yang meremehkannya, dan akhirnya mengungkap mengapa jalan kuno itu dihapus dari sejarah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cldazxx, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10: Kabar yang Mengejutkan
Saat Lin Mo kembali ke kawasan akademi lewat jalan tersembunyi yang ditemukannya di balik pagar, langit sudah berubah menjadi gelap gulita. Ia menyelinap masuk ke asrama tanpa terlihat siapa pun, lalu segera duduk bersila di atas tempat tidur untuk memeriksa perubahan dalam dirinya.
Lencana akar di dadanya kini berdenyut hangat setiap kali ia menarik napas. Ia bisa merasakan tulang-tulangnya jauh lebih padat dari sebelumnya—bukan terasa berat dan kaku, melainkan kokoh dan lentur seperti akar pohon tua yang menembus batu. Setiap kali ia menekan lantai kayu, serat-serat kayu di bawahnya tidak patah, melainkan sedikit melengkung lalu kembali semula, seolah tanah di bawahnya ikut bergerak bersamanya.
Ia sudah benar-benar sampai di tingkat Menguatkan Tulang Bumi tingkat awal. Dibandingkan dengan murid akademi lain yang baru sebatas tingkat Pelunasan Tubuh atau Pelatihan Energi, selisih kekuatannya kini sudah sangat jauh. Namun Lin Mo tidak merasa bangga berlebihan. Ia tahu, ini baru permulaan—seperti pohon yang baru saja tumbuh batang pertamanya. Masih banyak lapisan tanah keras yang harus ditembus sebelum ia bisa menjulang tinggi.
Keesokan paginya, berita besar menyebar ke seluruh akademi: di Hutan Batu Hitam ditemukan jejak pertempuran, dan tiga pengawal Keluarga Meng ditemukan terbaring pingsan di pinggir hutan dengan aliran energi yang kacau. Kabar ini membuat seluruh kota gempar.
Di aula utama, Kepala Sekolah dan Guru Yu sedang berdiskusi dengan wajah serius.
"Keluarga Meng menuduh ada murid akademi yang bersembunyi di hutan terlarang dan menyerang pengawal mereka," kata Kepala Sekolah pelan. "Mereka bersikeras memeriksa semua murid, bahkan mengancam akan menutup akademi jika pelakunya tidak diserahkan."
Guru Yu menghela napas panjang. "Saya yakin itu Lin Mo. Dia pasti masuk ke dalam kemarin. Tapi saya tidak percaya dia menyerang tanpa alasan. Pasti pengawal itu yang mengganggunya duluan."
Guru Gao yang berdiri di samping langsung menyahut dengan wajah puas. "Sudah kubilang dia bermasalah! Orang berinti kacau seperti dia pasti membawa bencana! Serahkan saja dia, agar akademi tidak kena imbasnya!"
Belum selesai ia berbicara, pintu aula terbuka lebar. Lin Mo berjalan masuk dengan tenang, diikuti tatapan semua orang.
"Aku yang masuk ke hutan kemarin," ucapnya lantang. "Dan aku hanya membela diri saat pengawal Keluarga Meng mencuri barang peninggalan di sana."
Kata-kata itu membuat ruangan hening seketika. Guru Gao terbelalak, lalu tertawa sinis. "Kau gila?! Mengaku sendiri? Sekarang lihat bagaimana kau berakhir!"
Namun tiba-tiba, langkah kaki berat terdengar dari luar. Meng Chao masuk bersama ayahnya—Kepala Keluarga Meng, Meng Tianxiong. Pria ini bertubuh tegap, matanya tajam seperti palu yang siap menghantam, dan aura kekuatan tingkat Pembentukan Benih yang kuat menyelimuti seluruh ruangan.
"Jadi kau anak yang berani menyakiti orangku?" tanya Meng Tianxiong pelan namun mengancam. Ia menatap Lin Mo dari atas ke bawah, lalu menyipitkan mata. "Aura tubuhmu... sangat mirip dengan jejak yang ada di altar kuno. Kau pewaris jalan yang kami hapus ribuan tahun lalu?"
Lin Mo menatapnya berani. "Jalan yang tidak menyakiti dunia tidak pantas dihapus. Kalianlah yang mencoba mengambil apa yang bukan milik kalian."
"Berani menantangku?" Meng Tianxiong mengepalkan tangan, udara di ruangan itu langsung menjadi berat seperti batu gantung. Murid dan pengajar di sana sulit bernapas, hanya Kepala Sekolah yang masih sanggup berdiri tegak menahan tekanan itu.
Namun Lin Mo tidak mundur satu langkah pun. Ia menyalurkan kekuatan Tulang Bumi, kakinya menancap kuat di lantai batu. Tekanan yang bisa meremukkan orang biasa justru terasa seperti pelukan tanah yang menopangnya.
"Tekanan sebesar ini belum cukup untuk menjatuhkanku," katanya tenang.
Meng Tianxiong terkejut. Ia tidak menyangka anak muda yang belum genap enam bulan berlatih sanggup menahan auranya. Rasa ingin tahunya bercampur dengan keserakahan muncul di hatinya.
"Menarik," gumamnya. "Daripada membunuhmu, lebih baik kau ikut aku. Aku akan membiarkanmu hidup, bahkan mengajarimu teknik yang benar—asal kau menyerahkan semua rahasia altar dan lencana akar itu padaku."
"Rahasia itu bukan milikku untuk diberikan," jawab Lin Mo tegas. "Dan aku tidak akan menjadi alat bagi orang yang hanya tahu merampas."
Wajah Meng Tianxiong berubah dingin. "Baiklah. Kau menolak tawaran hidup. Mulai hari ini, Keluarga Meng melarang siapa pun di wilayah ini berurusan denganmu. Siapa pun yang membantumu akan dianggap musuh kami. Aku ingin melihat seberapa lama kau bisa bertahan sendirian."
Ia berbalik pergi dengan kasar, Meng Chao menatap Lin Mo dengan tatapan penuh ancaman sebelum menyusul ayahnya.
Setelah mereka pergi, suasana di aula menjadi sangat berat. Kepala Sekolah menatap Lin Mo dengan tatapan rumit.
"Kau baru saja menantang kekuatan terkuat di wilayah ini," katanya pelan. "Mulai sekarang, akademi sulit melindungimu secara terang-terangan. Mereka akan menghalangi setiap langkahmu: tidak ada sumber daya, tidak ada misi, bahkan mungkin orang-orang akan disuruh menghindarimu."
Guru Gao mendengus kesal namun tidak berani bicara lagi—ia melihat dengan mata kepala sendiri betapa teguhnya Lin Mo menghadapi Meng Tianxiong.
"Aku tidak takut," jawab Lin Mo mantap. "Akar tumbuh paling cepat saat harus menembus batu yang keras. Semakin mereka menghalangi, semakin dalam aku akan menanam diriku."
Sore itu, berita tentang Lin Mo menyebar ke seluruh penjuru. Benar saja: pedagang menolak menjual makanan padanya, teman sekelas menjauh seolah dia wabah, dan pintu ruang latihan tertutup rapat saat dia datang. Bahkan Zhang Hao pun berani menunjuk hidungnya dan mengejek: "Sekarang kau tahu siapa yang berkuasa di sini? Kau akan mati kelaparan sendirian!"
Namun Lin Mo tidak berubah. Ia tetap bangun pagi-pagi, pergi ke pinggir hutan untuk berlatih, makan ubi liar dan air sungai jika perlu, dan terus menumbuhkan kekuatannya diam-diam.
Di balik kesendiriannya, ia justru merasakan keuntungan lain: tanpa gangguan orang lain, tanpa keinginan dipuji, dan tanpa perlu mengejar peringkat, hatinya menjadi semakin tenang. Kesadarannya semakin dalam, dan akar kekuatannya menyebar lebih luas dari sebelumnya.
Suatu malam, saat ia sedang duduk di atas bukit kecil di pinggir kota, lencana akar di dadanya berdenyut kencang. Di kejauhan, di dalam kediaman Keluarga Meng, cahaya merah gelap mulai menyala—sebuah ritual terlarang yang mulai dijalankan.
Lin Mo berdiri tegak. Ia tahu waktu kesendiriannya tinggal sedikit. Musuh tidak akan membiarkannya tumbuh tenang begitu lama. Dan saat badai itu datang, ia harus sudah cukup kuat untuk menahannya.