*Arsenio Yudhistira*, CEO muda yang memimpin Yudhistira Group dengan tangan besi, mewarisi karisma dingin dan reputasi intimidatif sang ayah. Tumbuh dalam dinasti yang kaku, Arsenio meyakini bahwa dominasi adalah kunci mutlak untuk menaklukkan segala hal—termasuk wanita.
Namun, superioritasnya goyah saat berhadapan dengan *Kiera*, seorang gadis pragmatis yang kebal terhadap pesona gelap sang tiran. Alih-alih terintimidasi oleh taktik posesif kaum elite, Kiera dengan blak-blakan justru menuntut realitas: menyodorkan kertas tagihan sewa tempat tinggalnya yang menunggak. Keangkuhan sang pewaris pun runtuh, memaksanya bertekuk lutut menjadi sosok yang penuh obsesi jenaka demi menjinakkan sang pemberontak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8. Sumbu Pendek
Kiera melangkah masuk dengan mengentakkan kakinya sengaja agar terdengar oleh pria yang sedang duduk bersedekap di balik meja kebesarannya. Wajah cantiknya sudah kembali disetel ke mode datar tanpa ekspresi, siap menerima komplain absurd berikutnya.
Begitu Kiera berdiri di depan meja, ia langsung menatap sebuah pulpen emas yang tergeletak di atas tatakan. Kiera memiringkan kepalanya ke kiri dan ke kanan, mencoba mencari letak kesalahan "miring tiga derajat" yang digembar-gemborkan Arsenio lewat interkom tadi.
*“Miring tiga derajat dari Hongkong! Ini lurus sekurus-kurusnya penggaris, dasar bos dajjal!”* umpat Kiera dalam hati, sementara tangannya bergerak maju untuk menggeser pulpen itu sebanyak satu milimeter hanya demi memuaskan penyakit ego pria di depannya.
"Sudah lurus, Pak Bos. Ada lagi yang melukai estetika mata Bapak?" tanya Kiera dengan nada sesopan mungkin, meski terselip sedikit intonasi malas di ujung kalimatnya.
Arsenio tidak langsung menjawab. Ia tidak repot-repot menatap pulpen emasnya. Sepasang mata tajamnya justru menghujam langsung ke arah wajah Kiera, menguliti setiap jengkal ekspresi gadis itu dengan tatapan yang luar biasa dingin dan menyelidik. Aura di sekitar Arsenio terasa jauh lebih pekat dan menekan dibanding siang tadi.
"Kamu lancang sekali ya, Kiera," ucap Arsenio rendah, suaranya terdengar seperti geraman harimau yang sedang mengincar mangsa.
Kiera mengerutkan keningnya, benar-benar bingung. "Lancang kenapa lagi, Pak? Perasaan dari tadi saya cuma menuruti semua perintah Bapak sampai kaki saya mau copot karena mondar-mandir."
"Siapa yang mengizinkan kamu tertawa sekeras itu di luar ruangan saya?!" cecar Arsenio tiba-tiba, suaranya naik satu oktav. Ia menegakkan tubuhnya, menumpukan kedua tangannya di atas meja sambil condong ke depan, mengikis jarak di antara mereka. "Gedung ini adalah tempat kerja profesional, bukan pasar malam tempat kamu bisa menebar pesona dan tertawa kegirangan dengan sekretaris saya!"
Kiera melongo. Otaknya mendadak macet sesaat mendengar tuduhan yang luar biasa tidak masuk akal itu. Menebar pesona? Tertawa di pasar malam?
*“Ya Gusti, bapak-bapak gila hormat ini beneran cemburu atau emang hobi mengatur volume pita suara orang lain?!”* maki Kiera habis-habisan di dalam hati. Napasnya tertahan di tenggorokan, menahan kekesalan yang sudah mencapai ubun-ubun.
"Maaf, Pak Arsenio," sahut Kiera, mencoba menatap balik mata hitam pria itu dengan berani. "Saya cuma mengobrol sebentar dengan Mas Dani karena beliau memberikan saya minuman. Lagipula, saya tertawa karena Mas Dani memberikan saya tips kerja, bukan sedang main-main."
"Mas Dani?!" Arsenio membeo dengan nada yang sangat tidak bersahabat. Dadanya kembali bergemuruh panas mendengar Kiera memanggil sekretarisnya dengan sebutan akrab seperti itu. "Sejak kapan kamu punya hak memanggil karyawan senior di sini dengan sebutan 'Mas'? Kamu itu asisten pribadi saya, Kiera! Fokus kamu harus seratus persen ada pada saya, bukan tebar senyum ke sana kemari seolah kamu sedang cari jodoh di kantor ini!"
Arsenio benar-benar terlihat meradang. Sumbu pendeknya benar-benar terbakar habis hanya karena bayangan senyum tulus Kiera untuk Dani yang terus berputar di kepalanya. Rasa kesal, gengsi, dan ketidaksukaan yang tidak rasional itu bercampur menjadi satu, membuat sang CEO kehilangan kendali atas akal sehatnya sendiri.
Kiera yang sudah lelah lahir batin seharian ini akhirnya tidak bisa lagi menahan diri. Senyum palsunya luntur total. Ia berkicau dalam hati dengan sangat sarkas, *“Oh, jadi si iblis ini gak terima kalau ada orang lain yang dapet senyuman saya? Pengen banget diistimewain? Dasar bocah tantrum!”*
Kiera menarik napas dalam-dalam, menegakkan bahunya, lalu menatap Arsenio dengan senyuman miring yang menantang.
"Oh... jadi Bapak marah karena saya gak senyum ke Bapak? Bapak mau saya panggil 'Mas Arsen' juga biar adil?" goda Kiera dengan berani, sengaja memancing di air keruh.
Arsenio syok setengah mati. Wajah tampannya mendadak memerah sempurna—bukan hanya karena amarah yang memuncak, tapi juga karena jantungnya tiba-tiba melakukan lompatan aneh saat mendengar kata 'Mas Arsen' keluar dari bibir ranum gadis di hadapannya.
"K-kamu...! Berani-beraninya kamu!" gagap Arsenio, kehilangan kata-kata akibat serangan balik yang tidak terduga dari si rebel kecil.
"Kalau Bapak mau saya senyum, makanya Bapak jangan bertingkah kayak tiran kesurupan setiap lima belas menit sekali," lanjut Kiera santai, mengabaikan fakta bahwa ia bisa saja dipecat detik itu juga. "Saya permisi pulang dulu, Pak. Jam kerja saya sudah habis sepuluh menit yang lalu. Selamat sore, Pak Arsenio yang terhormat."
Kiera memberikan hormat asal-asalan, lalu berbalik dengan cepat dan melenggang pergi meninggalkan ruangan sebelum Arsenio sempat meledak menjadi serpihan.
*BLAM!*
Pintu tertutup, dan Arsenio kembali ditinggalkan sendirian dalam kondisi jantung yang berdegup kencang secara tidak normal. Pria itu menyentuh dadanya sendiri dengan ekspresi linglung sekaligus murka.
"Dia... dia benar-benar mengacaukan kewarasan saya!" teriak Arsenio frustrasi pada dinding-dinding bisu ruang kerjanya.