NovelToon NovelToon
Obsesi Ketua OSIS

Obsesi Ketua OSIS

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Anak Genius / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Nalara amora

Kanaya Leticia Clarissa hanya ingin masa SMA-nya berjalan tenang tanpa gangguan. Namun, kecantikannya yang mencolok justru menjadikannya target perundungan oleh senior OSIS yang iri. Di tengah ketakutan itu, Alden Arsenio Malik—sang Ketua OSIS yang dikenal sempurna dan dingin—datang mengulurkan tangan. Letta mengira itu adalah sebuah perlindungan, tanpa menyadari bahwa di balik tatapan tegas Alden, ada obsesi gelap dan posesif yang siap mengurung seluruh hidupnya.

"Kamu aman di sini, Letta. Tapi ingat, kamu hanya milikku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nalara amora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

kerapuhan seorang Leticia Kanaya Clarisa

Alden tiba-tiba menghentikan pergerakannya. Keheningan langsung menyergap kamar itu, menyisakan suara napas Alden yang berat dan memburu. Perlahan, ia menjauhkan wajahnya beberapa senti, namun posisinya masih mengunci tubuh gadis itu.

Tatapannya jatuh dan tertuju lekat pada kedua mata Aleta yang terpejam rapat.

Di balik kelopak mata yang tertutup itu, Alden bisa melihat sisa-sisa air mata yang merembes keluar, membasahi bulu mata Aleta yang lentik dan bergetar hebat. Wajah gadis itu tampak begitu pias, pasrah, dan sama sekali tidak memberikan perlawanan lagi—bukan karena ia tunduk, melainkan karena ia telah kehilangan seluruh dayanya.

Melihat mata yang terpejam erat seolah enggan melihat sosoknya itu, ada sesuatu yang mendadak mengganjal di dalam dada Alden. Amarah dan ego yang sedari tadi membakar perlahan surut, digantikan oleh kesadaran yang menamparnya dingin. Gadis di bawahnya ini benar-benar telah berada di titik nadir.

Alden melepaskan cengkeraman tangannya dari pergelangan tangan Aleta dengan kasar, membiarkan tangan gadis itu jatuh lemas ke samping tubuhnya. Tidak ada kata-kata manis atau permintaan maaf; ia langsung meraih lengan Aleta, menariknya dengan sentakan yang kuat agar gadis itu segera bangkit dari posisinya di lantai.

"Berdiri," perintah Alden dengan nada dingin yang absolut.

Aleta tersentak saat tubuhnya dipaksa berdiri secara tiba-tiba. Karena kaki-kakinya masih lemas akibat syok dan tangis yang tak kunjung berhenti, keseimbangan Aleta goyah. Ia limbung ke depan, hampir saja menabrak dada bidang Alden jika cowok itu tidak segera menahan lengannya kembali dengan cengkeraman yang tetap tidak memberikan ruang untuk melarikan diri.

Aleta hanya bisa menunduk dalam, bahunya naik-turun menahan sesenggukan. Ia merasa seperti boneka yang digerakkan sesuai kehendak cowok itu, tanpa punya hak untuk sekadar meredakan gemetar di sekujur tubuhnya sendiri. Ia menunggu, dengan ketakutan yang masih mencengkeram jiwanya, apa lagi yang akan Alden perintahkan atau lakukan kepadanya setelah ini.

Alden menuntun Aleta dengan langkah lebar menuju ranjang, lalu mendorong bahu gadis itu dengan tekanan yang cukup kuat hingga Aleta terduduk di tepi kasur.

Aleta tidak lagi memberontak. Jangankan untuk melawan, untuk mendongakkan kepala saja ia sudah tidak memiliki tenaga.

Tubuhnya benar-benar terasa remuk, dan batinnya teramat lelah. Ia hanya duduk bergeming dengan kepala tertunduk dalam, membiarkan rambutnya yang berantakan menutupi sebagian wajahnya yang sembap. Isak tangisnya kini telah berubah menjadi helaan napas pendek yang putus-putus.

🌍🌍🌍

Melihat Aleta yang sudah sepenuhnya pasif, Alden berbalik tanpa suara. Langkah kakinya terdengar mendekati sudut kamar, di mana sebuah lemari obat kecil menempel di dinding.

klek.

Alden membuka pintu lemari tersebut, jemarinya bergerak cepat memilah-milah botol dan strip obat di dalamnya. Setelah beberapa saat, ia kembali dengan membawa satu butir obat demam, segelas air putih yang baru ia tuang, dan sebotol salep kecil di tangannya.

Langkah kakinya kembali mendekat, berhenti tepat di depan tempat Aleta duduk. Alden berjongkok di hadapan Aleta, membuat posisinya kini lebih rendah dari gadis itu. Ia memperhatikan leher Aleta—di mana bekas cengkeraman tangannya tadi mulai berubah warna menjadi kemerahan, kontras dengan kulit putih Aleta yang pucat.

"Minum ini," ujar Alden rendah, menyodorkan obat demam dan segelas air ke depan wajah Aleta, nadanya kini tak lagi seberingas tadi, namun tetap menyisakan ketegasan yang tak suka ditolak.

Didorong oleh rasa takut yang masih membekas dan keinginan kuat agar Alden tidak kembali menggunakan kekerasan, Aleta buru-buru menyambar obat demam dari tangan cowok itu. Jari-jarinya yang gemetar hebat hampir saja menjatuhkan tablet kecil tersebut, namun dengan cepat ia memasukkannya ke dalam mulut.

kemudian meraih segelas air yang disodorkan Alden, meneguknya dengan tergesa-gesa hingga air itu membasahi tenggorokannya yang sempat terasa kering dan tercekik.

Aleta minum beberapa teguk besar sampai obat itu benar-benar tertelan sepenuhnya.

Setelah selesai, ia segera menurunkan gelas tersebut dengan kedua tangan yang masih memeluk erat wadah kaca itu, seolah menjadikannya tameng kecil di depan dadanya. Aleta kembali menundukkan kepala dalam-dalam, menghindari kontak mata dengan Alden yang saat ini masih berjongkok di depannya sambil memegang salep.

Tubuhnya masih sedikit bergetar, bersiap dan pasrah menunggu apa yang akan dilakukan Alden dengan salep di tangannya itu.

Dengan gerakan yang jauh lebih pelan dari sebelumnya, satu tangan Alden terulur untuk memegang dagu Aleta. Jari-jarinya menjepit dagu gadis itu, memberikan tekanan lembut namun pasti untuk mengangkat wajah Aleta agar sedikit mendongak, memperlihatkan seluruh permukaan lehernya yang terluka.

Aleta sempat menegang, memejamkan mata erat-erat karena mengira Alden akan kembali melakukan tindakan kasar. Namun, yang ia rasakan berikutnya justru sensasi dingin yang kontras dengan suhu tubuhnya yang mulai menghangat akibat demam.

Satu tangan Alden yang bebas, yang sudah diolesi sedikit salep, mulai menyentuh kulit leher Aleta. Dengan ujung jarinya, Alden meratakan salep tersebut ke beberapa titik kemerahan dan bekas cengkeraman yang mulai mencuat di leher putih gadis itu.

Sentuhannya terasa konstan dan perlahan, seolah ia sedang berusaha menghapus jejak kekerasan yang beberapa menit lalu ia ciptakan sendiri.

Suasana kamar mendadak menjadi begitu hening, hanya menyisakan suara deru napas mereka berdua. Aleta tetap mematung, menahan napasnya dalam-dalam dengan air mata yang sesekali masih menetes perlahan, sementara Alden terus fokus mengoleskan salep itu dengan tatapan mata yang kini tampak lebih tenang namun tetap sulit diartikan.

Setelah semua kemerahan di leher Aleta tertutup rata oleh salep, Alden menjauhkan tangannya. Ia bangkit berdiri, lalu berjalan mendekati meja rias untuk mengambil sebuah sisir.

Kembali ke tepi ranjang, Alden tidak lagi mengambil posisi berjongkok. Ia berdiri di hadapan Aleta yang masih setia menunduk, lalu perlahan mulai menyentuh rambut gadis itu yang tampak kusut dan berantakan akibat pergulatan tadi.

Dengan gerakan yang sangat kontras dari kebrutalannya beberapa saat lalu, Alden mulai menyisir rambut Aleta. Ia menarik sisir itu dari pangkal hingga ke ujung rambut dengan teramat pelan, memastikan tidak ada helaian yang tersangkut atau membuat Aleta kesakitan.

Sret... sret...

Suara gesekan sisir di keheningan kamar itu terasa begitu janggal. Alden memperlakukan rambut Aleta dengan sangat hati-hati, seolah gadis di depannya ini adalah boneka porselen rapuh yang takut ia pecahkan lagi.

🌍🌍🌍

Aleta hanya bisa diam mematung, merasakan setiap tarikan lembut sisir di kepalanya. Perubahan sikap Alden yang mendadak menjadi begitu "perhatian" setelah menghancurkan harga dirinya justru membuat hati Aleta semakin terasa perih dan bingung. Di bawah perlakuan lembut yang terlambat ini, air mata Aleta kembali menetes perlahan, jatuh membasahi pangkuannya sendiri.

Setelah memastikan setiap helaian rambut Aleta kembali rapi dan tidak ada lagi yang kusut, Alden meletakkan sisir itu ke atas nakas di samping tempat tidur. Ia kemudian berbalik dan mengambil sehelai syal rajut tebal yang rupanya sudah ia siapkan sejak tadi di atas meja.

Alden mendekat kembali, lalu dengan gerakan perlahan, ia melingkarkan syal tersebut di leher Aleta. Ia mengaturnya sedemikian rupa agar kain hangat itu menutupi seluruh permukaan leher Aleta dengan sempurna, menyembunyikan setiap jengkal kulit yang memerah dan bekas salep yang baru saja ia oleskan dari pandangan orang lain.

"Pakai ini," ucap Alden rendah, suaranya terdengar datar namun tak terbantahkan saat ia merapikan ujung syal di dada Aleta. "Jangan dilepas sampai lo benar-benar sampai di rumah."

Aleta hanya bisa menatap ujung sepatu Alden dengan pandangan kosong. Kehangatan dari syal itu sama sekali tidak bisa menghalau rasa dingin yang telanjur menjalar di sekujur tubuhnya akibat trauma yang baru saja ia lewati. Ia tetap diam, menerima perlakuan Alden tanpa sepatah kata pun, merasa asing dengan perhatian yang diberikan oleh cowok yang beberapa menit lalu telah merenggut paksa kendali atas dirinya sendiri.

selesai merapikan syal di leher Aleta.

Aleta yang mendengar itu langsung mendongak kecil dengan tatapan cemas, namun ia terlalu lelah untuk melayangkan protes.

Alden berbalik, menyambar kunci mobilnya di atas meja, lalu kembali mendekati Aleta dan menarik lengan gadis itu agar kembali berdiri. Ia menuntun—atau lebih tepatnya menyeret pelan—Aleta keluar dari kamar, menuruni tangga, dan langsung memasukkannya ke dalam mobil yang terparkir di garasi.

Selama perjalanan, suasana di dalam mobil terasa begitu mencekam. Aleta hanya menyandarkan kepalanya pada kaca jendela, menatap jalanan yang buram oleh sisa air matanya. Pikirannya kosong, pasrah ke mana pun Alden akan membawanya pergi.

Hingga akhirnya, mobil Alden berhenti di depan sebuah bangunan klinik privat yang tampak tenang dan tertutup dari keramaian. Itu adalah klinik milik dokter pribadi keluarga Alden—tempat di mana rahasia medis dan privasi apa pun dijamin aman di bawah kekuasaan nama besar keluarganya.

Alden turun, memutari mobil, dan membukakan pintu untuk Aleta.

"Turun. Dokter harus periksa demam kamu"

perintahnya singkat, langsung mencengkeram lengan Aleta untuk menuntunnya masuk ke dalam.

Aleta tidak punya pilihan, tidak juga punya tenaga untuk mendebat ego cowok di sampingnya ini. Dengan tubuh yang masih lemas dan kesadaran yang kian menipis akibat pengaruh obat, ia hanya bisa pasrah saat Alden kembali membukakan pintu mobil dan menuntunnya masuk ke dalam rumah. Langkah kaki mereka menggema di koridor sepi, membawa Aleta kembali ke dalam sangkar emas yang dikendalikan penuh oleh Alden.

🌍🌍🌍

Koment komen dan like yaa, kasih saran dan masukan jugaaa🫠

tungguuu ke depan nya lagi ya.

semoga kalian sukaa

1
Putri Ayu/PqxxyZ
oh tidak bisa😭 sudah berkeliling pikiram
Nalara amora: di larang keras woy ka itulah 😭
total 1 replies
Putri Ayu/PqxxyZ
mama aku takut banget sama Alden 😭😭
Putri Ayu/PqxxyZ
obat itu... ngeri sih..😭 agak lain memang
Putri Ayu/PqxxyZ
wah ini nih.. oke lanjut baca lah.. 😭
Putri Ayu/PqxxyZ
gak bang.. aku gak bang😭😭
Putri Ayu/PqxxyZ
seperti ada kebanggaan ya😭
Putri Ayu/PqxxyZ
ayo bisa ayo kabur mbak😭 takut banget hidup kek gitu
Putri Ayu/PqxxyZ
mas yang bener aja lah... cinta memaksa gitu gak baik toh mas
Putri Ayu/PqxxyZ
Aleta.. run mbak.. run 😭😭
Putri Ayu/PqxxyZ
ini betulan gak dibawa ke RS gitu? kasian banget lemes gini
Enz99
menarik
Putri Ayu/PqxxyZ
langsung di hap aja deh🤭
Putri Ayu/PqxxyZ
no no ya.. gak boleh gitu ama cewek toh bang
Putri Ayu/PqxxyZ
lohh ini mah hukuman seumur hidup namanya
Putri Ayu/PqxxyZ
Sangat di rekomendasi baca ini.. Keren banget
Putri Ayu/PqxxyZ
enak tau teh di UKS tuh 🤣 kek beda gitu rasanya
Putri Ayu/PqxxyZ
aw gentle sekali... bungkus deh 😭🤭
Nalara amora
seruu bgt
Nalara amora
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!