NovelToon NovelToon
Hanya Untuk Tuan Mafia

Hanya Untuk Tuan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:614
Nilai: 5
Nama Author: Yann_Story

Kirana, seorang gadis yatim-piatu yang berakhir di bekerja di tempat seorang Tuan Muda dunia bawah yang terkenal dingin dan kejam, Derandra Arseto. Namun begitu, sebuah obsesi di hati Kirana seakan terpancing oleh sebuah tantangan baru...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yann_Story, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menanti Kepulangan Sang Penguasa

Malam kembali turun mengepung Bukit Permai, membawa serta ketegangan yang semakin memuncak dari jam ke jam. Urusan Mawar telah diselesaikan secara internal oleh Ibu Maya setelah menerima bukti dari Kirana; gadis pengkhianat itu langsung dikurung di paviliun belakang bawah penjagaan ketat menunggu kepulangan tim keamanan utama.

Namun, fokus utama Kirana malam itu bukan lagi pada Mawar. Pikirannya sepenuhnya tersita oleh jam dinding digital di ruang kerja lantai tiga yang kini telah menunjukkan pukul sebelas malam. Belum ada tanda-tanda kepulangan rombongan Adrian.

Berita di televisi lokal sempat menyiarkan adanya kebakaran besar di kawasan gudang pelabuhan utara yang diduga akibat korsleting listrik, namun Kirana tahu itu adalah samaran dari pertempuran berdarah yang terjadi di sana.

Kirana tidak bisa tenang. Ia berjalan bolak-balik di koridor lantai tiga, sesekali meremas jemarinya sendiri. Sifat berani dan kuatnya diuji oleh ketidakpastian ini. Obsesinya pada Adrian membuat dadanya terasa sesak setiap kali memikirkan kemungkinan pria itu terluka.

Tepat pukul sebelas tiga puluh malam, suara deru mesin mobil yang berat akhirnya terdengar memasuki halaman depan.

Kirana langsung berlari kecil menuju ke arah balkon lantai tiga yang menghadap langsung ke lobi utama. Di bawah temaram lampu jalan, ia melihat tiga mobil SUV hitam masuk dengan kondisi yang memprihatinkan—beberapa kaca mobil retak terkena hantaman, dan bodi mobil dipenuhi goresan dalam.

Pintu mobil terbuka. Beberapa pengawal turun dengan pakaian yang acak-acakan, memapah dua rekan mereka yang terluka di bagian lengan dan bahu.

Kemudian, pintu mobil paling belakang terbuka. Adrian melangkah turun.

Kirana menahan napasnya di atas balkon. Adrian berjalan dengan langkah yang sedikit tidak stabil. Kemeja hitamnya robek di bagian bahu kanan, dan ada noda darah yang sangat banyak membasahi kain di sekitar dadanya. Wajah tampannya dipenuhi oleh guratan lelah dan sisa amarah yang pekat, sorot matanya begitu menyeramkan seperti iblis yang baru saja keluar dari neraka pertempuran.

Hendra berjalan di sampingnya dengan pakaian yang juga bersimbah darah. Rombongan itu langsung bergerak cepat masuk ke dalam rumah menuju ke arah lift internal yang terhubung langsung ke lantai tiga.

Kirana segera berlari kembali ke arah koridor utama lantai tiga, berdiri tepat di depan pintu lift dengan jantung yang berdegup kencang seperti genderang perang. Ia menolak untuk mundur, ia menolak untuk bersembunyi di kamarnya seperti pelayan lain yang ketakutan.

Ting.

Pintu lift terbuka. Adrian melangkah keluar terlebih dahulu, diikuti oleh Hendra. Saat melihat Kirana berdiri di sana dengan wajah yang dipenuhi kekhawatiran namun matanya tetap memancarkan keteguhan yang murni, langkah kaki Adrian terhenti sejenak.

"Tuan Muda..." bisik Kirana, suaranya bergetar tipis saat melihat banyaknya darah di kemeja Adrian.

"Aku sudah katakan padamu untuk tetap di kamarmu, Kirana," suara Adrian terdengar sangat serak, rendah, dan dingin, sarat akan sisa adrenalin pertempuran yang belum sepenuhnya turun. "Jangan mendekat. Tempat ini sedang kotor."

Namun, Kirana mengabaikan perintah itu. Ia justru melangkah maju dengan cepat, memotong jarak di antara mereka. Tanpa memedulikan noda darah yang mungkin akan mengotori apron putih bersih miliknya, Kirana mengulurkan kedua tangannya, dengan lembut namun pasti menopang lengan kiri Adrian yang tampak gemetar menahan sakit.

"Saya tidak peduli dengan kotor atau bersih, Tuan Adrian," ucap Kirana dengan tegas, matanya menatap langsung ke dalam manik mata hitam Adrian yang sedang dipenuhi bayang-bayang kegelapan. "Anda terluka. Tugas saya adalah merawat Anda, dan saya tidak akan pergi ke mana-mana sebelum memastikan Anda baik-baik saja."

Hendra yang berada di belakang mereka memberikan isyarat kecil pada Kirana. "Peluru menyerempet bahu kanannya dan ada luka sayatan di rusuk kiri, Kirana. Dokter keluarga sedang dalam perjalanan, tapi Tuan Muda menolak untuk dibawa ke ruang medis bawah tanah. Dia ingin ke ruang kerjanya."

"Bawa dia ke dalam, Pak Hendra. Saya yang akan menyiapkan air hangat dan peralatan pertama," instruksi Kirana dengan cepat dan cerdas, mengambil kendali situasi dengan ketenangan seorang profesional yang luar biasa.

Adrian tidak menolak lagi. Tubuhnya yang lelah dan menahan rasa sakit yang teramat sangat membiarkan Kirana menuntunnya masuk ke dalam ruang istirahat pribadinya di balik ruang kerja utama.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!