Demi uang, Asia menerima tawaran menikah kontrak dengan Kapten Hugo, seorang tentara yang mengalami kelumpuhan parsial karena cidera tugas. Baginya pernikahan itu hanyalah jalan tercepat untuk melunasi utang seratus juta rupiah yang ditinggalkan ayahnya setelah kabur karena kalah berjudi.
Namun ia harus menjadi ibu tiri bagi putra bungsu yang super aktif dan sulit dikendalikan. Serta putri kelas 3 SMP yang membencinya karena merasa Asia telah menggantikan posisi mendiang ibunya.
Asia tak berniat menjadi istri yang baik atau ibu yang penyayang. Targetnya hanya satu: mengumpulkan uang sebanyak mungkin, lalu pergi saat kontrak pernikahan berakhir.
Hanya saja, keluar dari keluarga itu ternyata jauh lebih sulit daripada masuk ke dalamnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 23
"Aku mau minum jus," kata Nero dengan nada bicara yang masih kentara kesalnya.
"Iya, ayo. Aku buatkan. Oma mau juga?" tawar Asia pada Nyonya Malinda.
"Boleh. Jus apel, ya," sahut Oma sambil bersandar rileks di sofa.
"Oke! Ayo Nero, kita eksekusi buahnya di dapur," seru Asia bersemangat.
"Aku mau buat sendiri jusnya!" cetus Nero menengadah, matanya menatap Asia penuh tantangan. Berusaha menunjukkan kalau dia sudah besar dan bisa mandiri.
"Oh, bagus itu! Ayo!" ajak Asia penuh semangat. Mendorong kedua bahu Nero untuk menuju ke dapur.
Meski masih ada sisa-sisa kejengkelan karena gagal berangkat sekarang, Nero tetap patuh. Nyonya Malinda tersenyum senang melihat keduanya. Beliau menghela napas lega.
Begitu sampai di area dapur, Asia mengambil bangku kecil agar Nero bisa berdiri cukup tinggi untuk mencapai meja dapur.
"Nah, berdiri di sini. Mau jus buah apa?" tanya Asia sambil membuka pintu kulkas. Membiarkan uap dingin menyapa wajah mereka.
"Buah naga sama apel!" sahut Nero sambil berusaha memanjat bangku mungilnya.
"Siap, Bos Kecil. Biar Tante yang kupas dan potong-potong, nanti kamu yang masukin ke blender dan tekan tombolnya, ya?"
Nero mengangguk mantap, lipatan di dadanya perlahan terlepas berganti raut serius. Keinginan membeli sugar glider untuk sementara waktu berhasil teralihkan oleh proyek pembuatan jus rahasia buatan Nero sendiri.
***
Sekitar jam 4 sore.
"Ayo mandi," ajak Asia melongok ke dalam kamar.
"Enggak," tolak Nero singkat, masih asyik dengan kegiatannya.
"Kan mau berangkat beli sugar glider," pancing Asia.
Mata Nero langsung berbinar. "Oh, iya! Iya, aku mandi deh!" serunya cepat-cepat bangkit.
Asia tersenyum puas lalu memberi acungan jempol.
Setelah usai mandi, Asia mengeringkan rambut Nero yang masih basah dengan handuk kecil. Nyonya Malinda yang kebetulan melintas di depan kamar bocah ini menoleh ke dalam.
"Mau ke mana?" tanya Nyonya Malinda.
"Beli sugar glider!" seru Nero bersemangat.
"Oh, hewan itu. Padahal di luar sana kan masih ada punyamu," tutur Nyonya Malinda mengingatkan hewan peliharaan yang sudah ada.
"Enggak apa-apa! Kan biar banyak," kelit Nero tak mau kalah.
Asia hanya tersenyum tipis mendengarnya. Ia memilih diam dan enggan membahas lebih jauh, karena sadar mungkin gara-gara usulan dialah bocah ini jadi merengek ingin tambah hewan peliharaan baru.
Setelah bersiap-siap, mereka berdua berjalan menuju pintu depan untuk berpamitan.
"Oma, aku berangkat!" seru Nero lantang dengan wajah berseri-seri.
"Iya, hati-hati di jalan," sahut Nyonya Malinda dari ruang tengah.
"Ibu, aku berangkat ya," pamit Asia sopan pada ibu mertuanya itu.
"Ya."
Tepat saat itu, Jenny yang hendak menuju ke dapur melintas tak jauh dari mereka. Bola matanya melirik sekilas ke arah Nero yang tampak begitu ceria di samping Asia. Gadis itu mendengus pelan, lalu berbalik dan terus melangkah masuk ke dalam dapur tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
****
Asia membawa motornya menuju toko hewan terdekat yang sudah ia cari tempatnya lewat Google Maps tadi. Di jok belakang, Nero duduk tegak dengan senyum sumringah yang tak lepas-lepas.
Setelah berkendara memutar-mutar akhirnya mereka menemukan toko itu.
Asia menggandeng tangan Nero memasuki toko hewan yang berpendingin udara. Aroma khas makanan hewan dan deretan kandang bersih langsung menyambut mereka. Nero, dengan mata berbinar, melangkah cepat menuju area mamalia kecil di pojok belakang.
"Coba lihat dulu, yang mana yang kamu suka," kata Asia tenang seraya berlutut di samping Nero, menunjuk ke sebuah kandang transparan berisi beberapa ekor Sugar Glider.
Nero menempelkan wajahnya di kaca. "Tante, aku mau yang itu! Yang mukanya agak putih!"
"Sebentar ya, Tante panggil penjualnya dulu," ucap Asia. Sebenarnya ia sangat geli. Namun ia menahan diri. "Mas, mas!" panggil Asia.
Seorang pegawai toko mendekat untuk membantu.
"Iya, Mbak?"
"Mau lihat yang ini Mas," tunjuk Asia ke hewan yang ada di dalam sangkar itu.
Pegawai toko itu tersenyum ramah, lalu perlahan membuka kunci kandang transparan tersebut. "Boleh, Mbak. Sugar glider yang ini jenis mosaic, karakternya cukup tenang dan cocok untuk dipelihara."
Asia mengangguk sambil senyum. Dia tidak paham, tapi mencoba mengapresiasi penjelasan penjual.
Nero berjingkrak pelan di samping Asia, matanya membelalak lebar menyimak penjelasan sang pegawai. "Om, aku mau pegang!" pintanya tak sabar.
"Sabar ya, Jagoan. Biar Omnya yang ambilkan dulu," ucap Asia lembut sambil mengelus bahu Nero, berusaha agar bocah itu tidak terlalu terburu-buru.
Sang pegawai mengenakan sarung tangan khusus, lalu dengan hati-hati mengeluarkan mahluk mungil bermuka agak putih itu.
"Ini Mbak," ujar pria itu menyodorkan hewan itu ke Asia begitu hewan mungil berbulu halus itu berada di atas telapak tangan pegawai toko.
"Jangan ke aku," tolak Asia kuat-kuat.
Pria itu paham Asia geli.
"Aku! Aku! Aku mau pegang!" Nero makin mendekatkan wajahnya dengan raut terkagum-kagum.
Dengan tersenyum maklum penjual lalu perlahan berlutut menyamakan tinggi badannya dengan Nero. Dengan sangat hati-hati, ia memindahkan mahluk mungil itu ke atas telapak tangan kecil Nero yang sudah menadah sabar.
"Tuh kan, Tante! Lucu banget! Ekornya panjang, mukanya putih!" bisik Nero heboh, matanya berbinar-binar memandangi sugar glider yang kini bergerak-gerak pelan di jemarinya.
Asia yang berdiri agak mundur satu langkah hanya bisa meringis sambil tersenyum canggung. Namun, baru saja Nero hendak mengelus punggung halus hewan itu, si sugar glider mendadak kaget oleh gerakan mendadak dari arah luar.
Dengan satu lompatan lincah dan tak terduga, hewan mungil itu meluncur turun dari tangan Nero, mendarat di lantai, dan melesat cepat menghilang ke bawah rak-rak makanan hewan!
"Loh! Kabur!" seru Asia panik.
"Nggak mau! Jangan kabur!" jerit Nero heboh. Wajahnya panik setengah mati takut hewan impiannya hilang begitu saja.
Nero mulai menghentakkan kakinya ke lantai, merengek-rengek sambil berlari kecil menuju bawah rak tinggi di sudut ruangan. "Tante! Itu di bawah situ! Om, cepat ambil! Nanti hewannya kabur ke luar!"
Asia panik melihat pergerakan cepat hewan itu sekaligus hebohnya Nero. Ia langsung menunduk, berusaha menahan tubuh Nero agar tidak nekat merangkak ke kolong rak yang sempit. "Nero, tenang dulu! Jangan didorong raknya, nanti hewannya kejepit!"
Penjual toko itu ikut panik. "Sebentar, saya tangkap dulu!" ujar penjual sambil berlutut dan ikut berburu menyusuri kolong rak.
"Tante! Di sana! Di sana! Om, di sana! Ada di rak sana!" Nero berteriak heboh sambil menunjuk-nunjuk antusias ke arah bawah rak makanan kucing. Penjual itu berdiri lalu berlutut lagi.