NovelToon NovelToon
The Lecturer'S Secret Wife

The Lecturer'S Secret Wife

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Nikahmuda
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: Elwa Zetri

​"Saya terima nikahnya Yuna bin Adnan..."




​Suara berat Labib saat mengucapkan kalimat itu tadi malam masih terngiang jelas di telinga Yuna. Pernikahan mendadak ini adalah wasiat terakhir almarhum ayahnya, sahabat karib Labib meskipun usia mereka terpaut jauh. Ayah Yuna tahu hidupnya tak lama lagi karena sakit, dan ia memercayakan putri tunggalnya pada satu-satunya pria yang ia tahu punya integritas tinggi: Labib.

​"Yuna Anindya."

​Suara berat itu memecah lamunan Yuna. Ia tersentak, mendongak, dan mendapati seisi kelas kini tengah berbalik menatapnya. Di depan sana, Labib sedang memegang daftar absensi, menatapnya lurus tanpa ekspresi ragu sedikit pun. Profesional. Seolah tadi malam ia tidak menyematkan cincin di jari manis Yuna.

​"Ya, Pak. Hadir," sahut Yuna pelan, mengangkat tangannya sedikit.

​Labib mengangguk sekilas, lalu beralih ke nama berikutnya tanpa jeda. Tidak ada perlakuan khusus. Memang itu yang Yuna inginkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sembilan Hari Setelah Gerimis

​Suasana kelas Arsitektur Digital siang itu mendadak senyap. Bukan karena pendingin ruangan yang mendadak mati, melainkan karena langkah kaki tegap seorang pria yang baru saja memasuki ruangan.

​Pak Labib.

​Dosen muda berusia 31 tahun itu meletakkan laptopnya di meja dengan ketukan tunggal yang tegas. Wajahnya tampan, tipe ketajaman simetris yang sering membuat mahasiswi semester awal sengaja mengambil baris depan. Namun, tatapan matanya yang dingin dan reputasinya sebagai dosen paling galak di fakultas cukup untuk membuat siapa pun mengurungkan niat untuk sekadar pamer senyum.

​Di barisan paling belakang, Yuna (21 tahun), menarik napas dalam-dalam. Ia sengaja menurunkan topi hoodie-nya rendah-rendah.

​Baru sembilan hari yang lalu, rumahnya dipenuhi karangan bunga duka cita. Sembilan hari yang lalu, ayahnya pergi untuk selamanya. Dan baru tadi malam... pria tegas di depan kelas itu menjabat tangan wali hakim, mengucapkan ijab kabul di hadapan penghulu dalam sebuah acara yang hanya dihadiri oleh lima orang.

​"Saya terima nikahnya Yuna bin Adnan..."

​Suara berat Labib saat mengucapkan kalimat itu tadi malam masih terngiang jelas di telinga Yuna. Pernikahan mendadak ini adalah wasiat terakhir almarhum ayahnya, sahabat karib Labib meskipun usia mereka terpaut jauh. Ayah Yuna tahu hidupnya tak lama lagi karena sakit, dan ia memercayakan putri tunggalnya pada satu-satunya pria yang ia tahu punya integritas tinggi: Labib.

​"Yuna Anindya."

​Suara berat itu memecah lamunan Yuna. Ia tersentak, mendongak, dan mendapati seisi kelas kini tengah berbalik menatapnya. Di depan sana, Labib sedang memegang daftar absensi, menatapnya lurus tanpa ekspresi ragu sedikit pun. Profesional. Seolah tadi malam ia tidak menyematkan cincin di jari manis Yuna.

​"Ya, Pak. Hadir," sahut Yuna pelan, mengangkat tangannya sedikit.

​Labib mengangguk sekilas, lalu beralih ke nama berikutnya tanpa jeda. Tidak ada perlakuan khusus. Memang itu yang Yuna inginkan.

​Satu jam kemudian, setelah kelas berakhir dan mahasiswa lain berhamburan keluar sambil berbisik memuji ketampanan Pak Labib, Yuna tetap diam di kursinya. Sesuai pesan singkat yang masuk ke ponselnya sepuluh menit lalu, ia harus menemui Labib di ruang dosen setelah jam kuliah usai.

​Yuna mengetuk pintu kubikel kerja Labib yang agak tertutup.

​"Masuk," terdengar suara dari dalam.

​Yuna melangkah masuk dan segera menutup pintu di belakangnya. Di ruang yang aromanya seperti campuran kopi hitam dan kertas baru itu, Labib sedang memeriksa beberapa cetakan cetak biru. Pria itu melepas kacamata bacanya, menatap Yuna dengan aura tegas yang biasa ia tunjukkan di kelas.

​"Duduk, Yuna."

​Yuna duduk di kursi kayu di hadapan meja kerja pria yang kini sah menjadi suaminya. Suasana mendadak menjadi sangat canggung.

​"Bagaimana keadaanmu? Sudah makan siang?" tanya Labib. Nada suaranya sedikit melunak dibanding saat mengajar, namun tetap terdengar kaku.

​"Sudah, Pak... eh, Mas," Yuna meralat ucapannya dengan gugup. "Soal yang tadi malam... terima kasih karena Mas Labib mau memenuhi keinginan Papa."

​Labib menyandarkan punggungnya ke kursi, melipat tangan di dada. "Sama-sama. Ayahmu adalah orang baik, Yuna. Menjagamu adalah tanggung jawab yang saya ambil dengan sadar. Tapi, kita perlu bicara tentang bagaimana kita menjalani ini ke depan."

​Yuna meremas ujung kemejanya. Ini adalah momen yang sejak tadi malam membuatnya tidak bisa tidur.

​"Mas Labib," panggil Yuna, memberanikan diri menatap mata elang suaminya. "Saya mau minta satu hal. Tolong... jangan ada satu orang pun di kampus ini yang tahu tentang pernikahan kita. Saya ingin pernikahan ini rahasia. Hanya kita berdua yang tahu."

​Labib menaikkan sebelah alisnya. "Alasannya?"

​"Mas tahu sendiri, Mas Labib itu... dosen yang ditaksir hampir setengah mahasiswi di kampus ini," ujar Yuna blak-blakan, membuat sudut bibir Labib berkedut tipis, entah karena geli atau heran. "Kalau mereka tahu saya, mahasiswi semester enam yang biasa-biasa saja ini, tiba-tiba menikah dengan Mas... saya tidak akan bisa kuliah dengan tenang sampai lulus. Lagipula, saya tidak mau orang-orang mengira nilai-nilai saya bagus karena jalur orang dalam."

​Labib diam sejenak, mengetukkan jemarinya di atas meja, menimbang permintaan gadis di depannya. Yuna masih terlalu muda, dunianya baru saja runtuh karena kehilangan ayah, dan Labib paham ego serta ketakutan mahasiswi di usia Yuna.

​"Baik," jawab Labib akhirnya, suaranya terdengar mutlak. "Pernikahan ini akan tetap rahasia dari publik. Di kampus, saya adalah dosenmu, dan kamu adalah mahasiswaku. Tidak ada pengecualian, tidak ada dispensasi tugas, dan tidak ada perlakuan khusus."

​Yuna menghela napas lega. "Terima kasih, Mas."

​"Tapi," Labib memotong kalimat Yuna, memajukan tubuhnya ke arah meja dengan tatapan yang mengunci pergerakan Yuna. "Ada satu syarat dari saya."

​"Apa, Mas?"

​"Sore ini, kamu harus sudah memindahkan semua barang-barangmu ke rumah saya. Kita tidak mungkin tinggal terpisah setelah menikah, Yuna. Dan satu lagi..." Labib memakai kembali kacamata bacanya, kembali ke mode dosennya yang dingin. "...pastikan kamu tidak terlambat mengumpulkan revisi tugas maket minggu depan. Saya tidak menerima alasan apa pun, bahkan dari istri saya sendiri."

​Yuna menelan ludah. Menikah diam-diam dengan dosen paling galak di kampus ternyata akan menjadi babak baru yang jauh lebih menantang daripada yang ia bayangkan.

1
Rian Moontero
mampiiirrrrR🤣
Sri Afrilinda
so sweet😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!