Hari pertama bekerja seharusnya menjadi awal yang sempurna bagi Naira Putri Prameswari. Namun semua rencananya berantakan ketika tanpa sengaja ia menumpahkan segelas kopi ke jas seorang pria asing yang dingin dan menyebalkan. Masalahnya, pria itu ternyata adalah Arga Mahendra Wijaya—CEO perusahaan tempat Naira baru diterima bekerja. Sejak saat itu, setiap pertemuan mereka selalu diwarnai adu mulut, sindiran, dan kekacauan yang mengundang tawa. Naira menganggap Arga terlalu kaku dan perfeksionis, sementara Arga merasa Naira adalah sumber masalah yang tak pernah habis. Takdir rupanya punya selera humor. Sebuah proyek penting memaksa mereka bekerja dalam satu tim. Semakin sering bersama, semakin banyak sisi lain yang mereka temukan. Di balik sikap dingin Arga tersimpan perhatian yang tulus, sementara di balik kecerobohan Naira ada hati yang hangat dan selalu membawa warna. Saat kebencian perlahan berubah menjadi rasa nyaman, masa lalu Arga datang menguji hubungan mereka. Mampukah mereka mengalahkan ego, atau justru kembali menjadi dua orang yang saling menyakiti? Karena terkadang, orang yang paling membuat kita emosi adalah orang yang paling sulit kita lepaskan. ❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seranovelle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 8 - Cemburu yang Tak Punya Nama
Keesokan paginya, Nadira datang lebih awal dari biasanya.
Ia berharap bisa menyelesaikan laporan sebelum Arga datang.
Atau lebih tepatnya...
Sebelum pikirannya kembali dipenuhi pertanyaan yang seharusnya tidak penting.
*"Celine itu benar mantannya?"*
*"Mereka putus kenapa?"*
*"Apa mereka masih saling suka?"*
Nadira menggeleng pelan.
"Fokus kerja."
Ia membuka laptop dan mulai mengetik.
Belum lima menit kemudian, sebuah kotak kecil diletakkan di mejanya.
"Nih."
Arga.
Seperti biasa.
"Apa lagi?"
"Roti."
"Kenapa?"
"Kamu tadi belum sarapan, kan?"
Nadira menatapnya heran.
"Kok tahu?"
"Tiap orang lapar itu beda-beda."
"Lalu?"
"Kalau kamu lapar..."
Arga menunjuk layar laptop.
"...cara ngetiknya lebih keras."
Nadira refleks menghentikan jemarinya.
Serius?
Dia sampai memperhatikan hal sekecil itu?
"Aku nggak minta dibeliin."
"Aku juga nggak nunggu diminta."
Arga tersenyum kecil sebelum kembali ke mejanya.
Nadira menatap kotak roti itu cukup lama.
Perasaan hangat mulai muncul.
Lalu, secepat itu pula menghilang saat suara langkah sepatu hak terdengar dari arah lobi.
"Morning."
Celine.
Perempuan itu kembali datang.
Hari ini ia mengenakan kemeja biru muda dan celana bahan putih.
Beberapa karyawan langsung menyapanya ramah.
"Celine, meeting lagi?"
"Iya."
Jawabannya singkat.
Namun pandangannya langsung mencari satu orang.
Arga.
"Gar."
"Hai."
"Aku cuma mau balikin ini."
Ia menyerahkan sebuah buku bersampul cokelat.
Arga tersenyum.
"Kamu masih simpan?"
"Ya iyalah."
"Cuma pinjam tiga tahun."
Mereka sama-sama tertawa.
Nadira berpura-pura sibuk membaca dokumen.
Padahal telinganya menangkap setiap kata.
Entah kenapa...
Ia tidak menyukai perasaan ini.
---
Siang harinya, Arga dan Nadira berangkat menemui klien.
Perjalanan hampir satu jam.
Biasanya mobil selalu dipenuhi obrolan ringan.
Hari ini berbeda.
Sepuluh menit.
Dua puluh menit.
Tidak ada yang berbicara.
Akhirnya Arga menyerah.
"Kamu marah?"
"Nggak."
"Yakin?"
"Iya."
"Terus kenapa diam?"
"Lagi pengin diam."
Arga melirik sekilas.
"Kamu kalau bohong gampang ketahuan."
Nadira menoleh.
"Siapa bilang aku bohong?"
"Soalnya..."
Arga tertawa kecil.
"...kalau lagi kesal, alismu ketemu."
Refleks Nadira memegang dahinya.
"Apaan sih."
"Nah."
"Tuh kan."
"Kamu sadar."
Nadira mendesah.
"Kamu memang kebanyakan memperhatikan orang."
"Bukan orang."
"Hah?"
"Kamu."
Mobil kembali hening.
Kalimat itu menggantung di udara.
Arga sendiri tampak baru menyadari apa yang baru saja ia ucapkan.
"Ehm... maksudku..."
Nadira buru-buru memotong.
"Fokus nyetir."
"Iya."
Wajah Arga sedikit memerah.
Begitu pula Nadira.
---
Pertemuan dengan klien berjalan lancar.
Saat mereka keluar dari gedung, hujan turun cukup deras.
Arga membuka payung.
"Sini."
"Aku bisa lari."
"Lima puluh meter."
"Bisa."
"Nanti masuk angin."
"Aku nggak selemah itu."
Belum selesai bicara, embusan angin membuat hujan menerpa mereka.
Nadira spontan mendekat ke bawah payung.
Jarak mereka kini sangat dekat.
Saking dekatnya, lengan mereka beberapa kali bersentuhan.
"Kamu wangi."
Kalimat itu keluar begitu saja dari mulut Arga.
Nadira langsung berhenti berjalan.
"Apa?"
"Bukan..."
Arga langsung panik.
"Maksudku parfum kamu."
"Arga."
"Iya?"
"Kalau nggak bisa ngomong, mending diam."
Arga menepuk dahinya sendiri.
"Aduh."
Nadira berusaha menahan senyum.
Pria ini benar-benar tidak bisa menjaga mulutnya.
---
Sesampainya di kantor, mereka berpapasan dengan Celine yang baru keluar dari ruang meeting.
"Wah, kalian kehujanan."
"Iya."
Jawab Arga.
Celine mengambil beberapa lembar tisu dari tasnya.
"Nih."
Ia hendak menyodorkannya kepada Arga.
Namun sebelum sempat diterima, Nadira lebih dulu mengeluarkan sapu tangan bersih dari tasnya.
"Nih."
Arga menatap kedua benda di depannya.
Tisu dari Celine.
Sapu tangan dari Nadira.
Suasana mendadak canggung.
"Eh..."
Arga akhirnya menerima sapu tangan Nadira.
"Makasih."
Celine menarik kembali tangannya sambil tersenyum tipis.
"Nggak apa."
Senyumnya masih ada.
Tetapi kali ini matanya menyiratkan sesuatu yang berbeda.
Ia menatap Nadira beberapa detik.
Lalu berpamitan.
"Duluan ya."
"Hati-hati."
Setelah Celine pergi, Nadira baru sadar apa yang baru saja dilakukannya.
*"Kenapa aku malah kasih sapu tangan?"*
*"Dia kan bisa pakai tisu."*
Arga mengusap rambutnya yang basah.
"Eh."
"Hm?"
"Aku cuci terus balikin ya."
"Itu cuma sapu tangan."
"Buat kamu mungkin."
Arga tersenyum hangat.
"Tapi tetap harus dibalikin."
---
Sore menjelang pulang.
Nadira menerima telepon dari ibunya.
"Dir, Papa besok sudah boleh pulang."
"Alhamdulillah."
"Nanti pulang kerja langsung ke rumah sakit ya."
"Iya, Ma."
Begitu telepon ditutup, Arga menghampiri.
"Om udah boleh pulang?"
Nadira menatapnya heran.
"Kamu tahu?"
"Tadi nggak sengaja kedengeran."
"Iya."
"Wah, kabar baik."
Arga tersenyum tulus.
Melihat ekspresi itu, rasa tidak nyaman yang sejak pagi memenuhi hati Nadira perlahan memudar.
Mungkin...
Yang membuatnya gelisah bukan karena Celine datang.
Melainkan karena ia mulai takut kehilangan perhatian seseorang yang bahkan belum pernah menjadi miliknya.
Dan pemikiran itu membuat Nadira semakin bingung pada perasaannya sendiri.
**Bersambung ke Episode 9...**